NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyinya Kontrakan tanpa Suami

Malam yang merayap di Kota Solo terasa bertambah larut. Suara jangkrik di luar jendela kamar yang pudar menyelimuti ruang-ruang kontrakan sempit itu dengan keheningan yang tak biasa. Di luar kamar Eda, riuh rendah perdebatan kecil yang sempat meletus saat Agus mengemas bajunya telah lama meredup. Yang tersisa hanyalah bisik-bisik samar dari kamar sebelah dan suara derit pintu depan yang terkunci dari dalam.

Eda berbaring miring di atas kasur busa yang sudah menipis. Lengannya yang berbalut kaos lengan panjang bertumpu di bawah bantal, sementara matanya menatap pendar redup dari lampu tidur di sudut meja. Untuk pertama kalinya selama lima belas tahun usia pernikahannya dengan Agus, Eda melewati malam tanpa embusan napas suaminya di sampingnya. Tak ada rasa sepi yang menggigit, tak ada pula kepedihan yang menyayat. Yang merayap di dalam dadanya justru seumpama telaga tenang usai badai besar berlalu—sebuah kedamaian yang teramat asing, namun terasa begitu menyejukkan.

Ia teringat tahun-tahun pertama pernikahannya. Betapa ia dahulu akan langsung terjaga sepanjang malam, menangis sesenggukan di sudut kamar hanya karena Agus menatapnya dengan raut dingin atau melontarkan perkataan pedas. Dulu, bayangan akan ditinggalkan atau menjadi wanita yang dipuji-puji di luar namun ditinggal suami di rumah adalah ketakutan terbesarnya. Namun malam ini, saat gertakan itu benar-beingar diwujudkan oleh Agus, Eda menyadari bahwa ketakutan itu hanyalah benteng ilusi yang dibangun oleh ketergantungannya sendiri. Ketika benteng itu diruntuhkan oleh ketegasan, tidak ada jurang membahayakan di baliknya—yang ada hanyalah kebebasan bernapas tanpa tekanan.

...****************...

Keesokan harinya, pendar matahari pagi menerobos celah ventilasi kayu di ruang tengah. Eda bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Usai merapikan tempat tidur dan menunaikan kewajibannya, Eda melangkah keluar kamar membawa handuk dan pakaian ganti.

Suasana ruang tengah begitu sunyi. Sofa panjang tempat Agus biasa selonjoran sambil merokok tampak kosong melompong. Bantal busa di sana tertata rapi tanpa cela. Di atas meja kayu, tak ada asbak yang penuh oleh puntung rokok kretek, tak ada pula gelas bekas kopi hitam yang mengering. Rumah itu terasa lebih bersih, lebih teratur, dan jauh lebih lapang meski ukurannya tak berubah satu senti pun.

Di dapur, Eda menyalakan kompor gas kecil untuk merebus air dan menanak nasi secukupnya untuk dirinya sendiri. Ketika air di panci mulai mendidih, pintu kamar Ibu Ratna berdecit terbuka. Wanita tua itu melangkah keluar menggunakan bantuan tongkatnya. Langkah kakinya tampak agak ragu, raut wajahnya yang penuh kerutan menyimpulkan rasa canggung yang luar biasa.

Ibu Ratna menghentikan langkah di ambang pintu dapur, matanya menyapu sekeliling ruangan yang lengang. Pandangannya lalu tertuju pada Eda yang sedang menuang air panas ke dalam gelas mug miliknya.

"Agus... beneran tidak pulang semalaman?" tanya Ibu Ratna dengan suara parau yang agak memelan, kehilangan nada melengking yang biasa ia pamerkan saat membela anak laki-lakinya.

Eda memutar badan perlahan, menatap ibunya dengan wajar dan tenang. "Kan Mama lihat sendiri, Agus bawa tas baju kemarin malam dan pamit mau ke Klaten."

Ibu Ratna mengusap dadanya, mendesah berat sambil menyandarkan bahunya pada kusen pintu. "Kamu itu bagaimanan toh, Ed... Kenapa tidak ditelepon atau dibujuk suruh pulang? Nanti kalau keluarga besar di Klaten tahu Agus menginap di sana gara-gara pertengkaran rumah tangga, mau ditaruh di mana muka Mama? Mereka pasti menyalahkan Mama karena dianggap tidak bisa menasihati menantu."

Eda meletakkan sendoknya di samping mug. Ia memandangi ibunya dengan mata jernih tanpa ada rasa marah.

"Ma, Agus yang mengambil keputusan sendiri untuk pergi membawa tas bajunya," tutur Eda lembut, namun setiap suku katanya sarat akan ketegasan yang tak bisa ditawar. "Dia pergi bukan karena ditolak atau diusir, tapi karena gertakannya agar Eda tunduk dan memberikan uang ganti rugi tidak mempan lagi. Agus itu pria dewasa umur tiga puluh delapan tahun, Ma. Masa setiap kali keinginannya tidak dituruti, dia lari dan kita yang harus memohon-mohon suruh dia kembali?"

Ibu Ratna tertegun, mulutnya agak terbuka namun tak satu pun kalimat sanggahan keluar dari lidahnya. Ia menatap Eda seolah-olah sedang melihat sosok asing yang tak pernah ia kenal selama ini. Gertakan Agus yang selama ini menjadi senjata pamungkas untuk menakut-nakuti Eda kini mentah sepenuhnya.

Pintu kamar Doni berderit terbuka selang beberapa saat kemudian. Doni keluar dengan mata sembap dan wajah lesu. Tanpa mobil sewaan yang biasanya ia tarik untuk mencari penghasilan harian, Doni kini benar-benar kehilangan pegangan. Ia melirik Eda yang sedang mengoleskan mentega pada selembar roti tawar, lalu buru-buru memalingkan muka ke arah lain usai teringat rincian utang puluhan juta yang dibeberkan Eda di meja makan kemarin malam.

Tak ada lagi bentakan kasar dari Doni, tak ada pula sindiran pedas dari Rini yang hari itu memilih mengurung diri di dalam kamar bersama anak-anaknya. Keberanian palsu yang selama ini mereka bangun di atas uang gaji Eda runtuh seketika saat Eda menarik kembali seluruh sokongan finansialnya.

---

Pukul enam lewat lima belas menit, Eda telah siap dengan seragam cokelat mudanya yang rapi. Tas kerja terpasang anggun di pundaknya, dan sepatu pantofelnya mengkilap bersih.

Sebelum melangkah keluar rumah, Eda menyapa ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tengah. "Eda berangkat mengajar dulu ya, Ma. Beras dan minyak goreng di dapur masih cukup untuk dua minggu. Kalau Mama butuh belanja sayur, uang kembalian kemarin Eda taruh di bawah tempat sendok."

Ibu Ratna hanya mengangguk pelan, matanya menatap punggung Eda dengan sorot mata yang campur aduh—antara rasa kehilangan kendali, rasa heran, dan kebingungan mendalam atas perubahan anak perempuannya.

*Klek.*

Eda memutar kunci pintu depan, melangkah keluar menyusuri teras dan membuka pagar besi kontrakan. Udara pagi Kota Solo menyambutnya dengan embusan angin sejuk yang membelai pipinya. Langit di atas sana membiaskan warna biru keemasan yang begitu bersih.

Langkah kaki Eda menapak mantap di atas aspal gang. Di dalam hatinya, Eda menyadari satu hal penting: kepergian Agus sementara waktu bukanlah musibah yang harus ia ratapi, melainkan sebuah jeda berharga yang diberikan Tuhan agar ia bisa merasakan betapa indahnya hidup tanpa bayang-bayang tekanan dan rasa takut. Dan di atas jalan yang ia tapaki pagi ini, Eda tahu ia tidak akan pernah mau mundur kembali ke masa-masa kelam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!