NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Benang Pengendali Darah dan Rahasia Sang Pembunuh Bayangan

Di dalam kediaman keluarga Han yang sunyi, Jin So Hwa duduk terpaku di depan meja kayu. Matanya menatap tajam ke arah lentera giok Jinyowon yang kini tampak mati total. Hatinya masih dipenuhi gejolak ketidakpercayaan. Bagaimana bisa ia memadamkan api abadi itu di hadapan Raja dan para penyihir semalam?

"Jika aku bisa memadamkannya... apakah aku juga bisa menghidupkannya kembali?" gumam So Hwa pada kesunyian kamar.

Ia mengulurkan tangannya, mencoba memusatkan sisa-sisa energi spiritual yang ia rasakan. Namun, nihil. Lentera itu tetap gelap, dingin, dan membisu. So Hwa menghela napas pasrah. Matanya kemudian beralih pada sebilah pedang panjang berukir kuno yang tergeletak di atas meja—pedang milik Han Seol.

Tanpa berpikir panjang, So Hwa mengulurkan tangan untuk menggeser pedang itu agar tidak menghalangi pandangannya. Namun, begitu jemarinya menyentuh sarung pedang, tubuhnya sontak tersentak hebat.

Wusss!

Sebuah gelombang kekuatan spiritual yang teramat masif, pekat, sekaligus familier mendadak menyengat telapak tangannya, merambat cepat ke seluruh aliran darahnya. Detik itu juga, lentera giok di hadapannya mendadak memercikkan api biru terang dan menyala kembali dengan begitu berkobar.

So Hwa menarik tangannya dengan napas terengah-engah, menatap pedang itu dengan tatapan horor. Ada ikatan batin yang aneh antara dirinya dan senjata tersebut. Ia tidak tahu bahwa pedang itu adalah peninggalan milik Nara—sang pembunuh bayangan yang tak lain adalah jiwa aslinya sendiri di masa lalu. Senjata kelam itulah yang kini sering digunakan oleh Han Seol untuk memburu dan menebas para pemindah jiwa.

Di tengah lamunan So Hwa yang kebingungan, pintu kamar berderit terbuka. Han Seol melangkah masuk. Pandangan matanya langsung tertuju pada lentera yang kembali menyala terang. Alis sang Penyihir Agung bertaut tajam.

"Kau menghidupkannya lagi?" tanya Han Seol, suaranya terdengar menyelidik. "Siapa yang datang ke ruangan ini?"

So Hwa mendongak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Tidak ada siapa-siapa, Han Seol. Hanya ada aku di sini sejak tadi. Seharusnya... memang akulah yang menghidupkan lampu ini kembali."

So Hwa menyentuh pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Saat aku menyentuh pedangmu... ada sesuatu yang aneh. Sebuah kilasan memori, ingatan yang sangat samar, sempat terlintas begitu saja di kepalaku untuk sesaat."

Han Seol menatap So Hwa dengan pandangan yang sulit diartikan. Dari fenomena ini, keduanya akhirnya menarik sebuah kesimpulan mutlak: kekuatan spiritual agung di dalam diri Jin So Hwa benar-benar akan kembali seutuhnya seiring dengan kembalinya ingatan masa lalunya yang hilang.

Namun, belum sempat mereka membahas hal itu lebih dalam, wajah So Hwa mendadak memucat.

"AAAKHHH!"

So Hwa menjerit kesakitan sembari mencengkeram pundak kirinya. Tubuhnya merosot ke lantai, menggigil hebat menahan rasa sakit yang luar biasa. Warna merah darah mendadak merembes dari balik pakaiannya. Benang sihir mistis yang ditanamkan dan dijahitkan oleh Jin Hwa Young ke dalam kulit pundaknya kini mulai bereaksi hebat, mengencang dan mencabik dagingnya dari dalam.

Rupanya, jauh di dalam benteng sakral Jinyowon, Jin Hwa Young sedang duduk di depan sebuah altar dengan sebuah alat kendali sihir di tangannya. Senyum kejam terukir di wajah sang ibu pemimpin. Ia belum rela melepaskan putri sulungnya begitu saja ke tangan Han Seol. Melalui alat kendali itu, ia mempermainkan ikatan benang mistis tersebut untuk terus-menerus menyiksa tubuh So Hwa. Tujuannya hanya satu: membuat Jin So Hwa menyerah kalah dan kembali pulang ke Jinyowon dengan sukarela akibat tak tahan menahan rasa sakit.

"Ibu... ini sakit sekali..." rintih So Hwa dengan air mata yang menetes deras, kuku-kukunya mencengkeram lantai batu kamar Han Seol.

Han Seol yang berdiri di sampingnya tidak bisa lagi menahan amarah batinnya. Melihat wanita yang kini berstatus sebagai istrinya disiksa dengan cara sehina itu, hawa membunuh (dark gichul) mendadak meledak dari tubuh sang Penyihir Agung. Kamar itu seketika bergetar dan suhunya anjlok drastis menjadi sedingin es.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Han Seol menyambar pedangnya. Dengan langkah lebar penuh amarah, ia pergi meninggalkan rumah dan langsung melesat menuju benteng Jinyowon untuk melabrak sang ibu mertua.

BLAMMM!

Gerbang dalam Jinyowon jebol seketika oleh sekali hentakan kaki Han Seol. Tanpa basa-basi atau memedulikan teriakan para pengawal wanita yang mencoba menghalaunya, Han Seol menerobos masuk ke dalam aula utama. Matanya menangkap sosok Jin Hwa Young yang terkejut di depan altar kendalinya.

"Han Seol! Beraninya kau—"

Sebelum Jin Hwa Young sempat menyelesaikan kalimat makiannya, Han Seol sudah berkelebat secepat kilat. Dengan kibasan jubah hitamnya, ia merapalkan mantra tingkat tinggi yang langsung merebut paksa alat kendali benang hitam dari tangan Jin Hwa Young menggunakan aliran sihir pembalik miliknya.

Brak!

Han Seol melemparkan alat kendali mistis itu ke atas lantai batu tepat di bawah kakinya.

Sringgg... KRAK!

Dengan satu gerakan tebasan yang presisi, Han Seol menghujamkan pedang pembunuh bayangannya ke tengah-tengah alat kendali tersebut hingga remuk menjadi serpihan debu dan lenyap seketika tak bersisa di udara. Bersamaan dengan hancurnya benda tersebut, di kediaman keluarga Han, benang mistis yang mengikat pundak Jin So Hwa seketika terputus dan lenyap dari bawah kulitnya, mengakhiri seluruh penderitaan dan rasa sakit yang menyiksanya sejak kemarin.

Jin Hwa Young melangkah mundur dengan napas memburu, wajahnya pucat menahan kombinasi rasa syok, takut, dan murka melihat kedatangan Han Seol yang begitu intimidatif.

"Kau... kau berani menghancurkan relik keluargaku?!" desis Jin Hwa Young dengan tangan gemetar.

Han Seol menarik kembali pedangnya, menyarungkannya dengan gerakan tenang namun sarat akan ancaman mutlak. Mata dinginnya mengunci wajah sang ibu mertua.

"Aku datang ke sini hanya untuk memastikan bahwa aku melindungi istriku dengan baik," ucap Han Seol datar, suaranya terdengar begitu dingin menembus dada Jin Hwa Young. "Terlebih... dari rasa sakit yang ternyata dibuat dengan sengaja oleh ibu kandungnya sendiri. Jangan pernah menyentuhnya lagi, Nyonya Jin."

Jin Hwa Young hanya bisa terdiam membeku, lidahnya kelu dan tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun untuk membalas argumen tersebut. Belum sempat ia menenangkan diri, Han Seol sudah membalikkan tubuhnya dan kembali melengos pergi menembus kegelapan malam Jinyowon, meninggalkan aula yang kini sunyi senyap.

****

Keesokan paginya, di belahan lain Kota Niskala...

Suasana bising dan kepulan asap tembakau memenuhi sebuah tempat perjudian terselubung di pasar bawah. Di sebuah sudut meja yang agak sepi, Soi sedang duduk santai sembari menghitung kepingan uangnya. Namun, ketenangannya terusik saat sesosok pria berbadan tegap melangkah mendekat. Pria itu adalah Jung Min, salah satu anak buah kepercayaan Jin Wu di Cheonbugwan.

Seperti biasanya, Jung Min meletakkan sebuah botol kecil berisi cairan penawar khusus di atas meja. Itu adalah obat penawar untuk parasit cacing darah yang ditanamkan ke dalam tubuh Soi. Jin Wu sengaja melakukan metode kejam ini agar Soi tetap setia dan mau menuruti setiap perintah kotornya tanpa bantahan.

Namun, yang tidak diketahui oleh Jin Wu dan anak buahnya adalah sebuah fakta rahasia: parasit cacing darah tersebut sebenarnya sudah dikeluarkan oleh Soi sejak tiga tahun lalu! Demi menyelamatkan nyawa Baek Seo Jun yang saat itu sedang kritis di ambang kematian, Soi nekat memindahkan cacing darah itu ke dalam tubuh Seo Jun agar energinya tetap terjaga.

Dan satu-satunya alasan mengapa sampai hari ini Soi masih berpura-pura kesakitan dan mau disuruh-suruh melakukan misi berbahaya oleh Jin Wu... adalah demi melindungi keselamatan Baek Seo Jun, pria yang teramat sangat dicintainya.

Melalui skema ini, Soi bisa mendapatkan obat penawar asli dari Jin Wu secara berkala, lalu mengirimkannya secara diam-diam kepada Seo Jun melalui perantara Kim Yeon Hong, sang pemilik Rumah Mawar tempat Seo Jun menginap.

Meskipun pada awalnya Kim Yeon Hong berusaha keras merahasiakan tentang siapa sosok misterius yang selalu mengirimkan obat penawar tersebut, kecerdasan Baek Seo Jun akhirnya membuat pemuda itu tahu kebenarannya. Seo Jun kini sadar sepenuhnya bahwa obat yang menyelamatkan hidupnya selama ini berasal dari Soi—wanita yang pernah ia selamatkan dari kejaran penjahat di masa lalu.

Jung Min mengetuk meja, memecah lamunan Soi. "Tugasmu kali ini adalah tentang wanita yang sedang menghebohkan kota, Jin So Hwa."

Jung Min kemudian meletakkan selembar kertas sayembara di atas meja. Soi menatap lukisan wajah Jin So Hwa yang tertera di sana—lukisan yang sama dengan yang ia lihat di pasar beberapa waktu lalu.

"Apa yang diinginkan tuanmu?" tanya Soi dengan nada malas, menyembunyikan ketertarikannya.

"Tuan Jin Wu memerintahkanmu untuk menculik Jin So Hwa dari rumah Han Seol, lalu membawanya secara diam-diam ke ruang bawah tanah rahasia Cheonbugwan," bisik Jung Min dengan raut serius.

Soi menaikkan satu alisnya, menatap tajam ke arah pengawal tersebut. "Untuk apa? Bukankah dia sudah resmi menjadi istri Penyihir Agung? Menculiknya sama saja dengan memancing amukan Han Seol."

Jung Min condong ke depan, suaranya kian mengecil. "Tuan Jin Wu mencium ada yang tidak beres dari sayembara ini. Wajah di lukisan ini terlalu identik dengan seseorang di masa lalu. Beliau ingin memastikan dengan matanya sendiri... apakah wanita di rumah Han Seol itu benar-benar Jin So Hwa yang asli dari Jinyowon, ataukah dia adalah sosok Nara yang bangkit kembali dari kematian."

Mendengar nama "Nara" disebut, kilatan dingin seketika melintas di sepasang mata Soi. Badai baru yang jauh lebih besar kini tengah mengintai kedamaian yang baru saja dicicipi oleh Han Seol dan Jin So Hwa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!