NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Prahara di Pelataran Yunjiang

Gumpalan asap mesiu kehitaman membubung tinggi dari balik tiga moncong meriam tembaga di sudut timur pelataran utama Kota Yunjiang. Dentuman dahsyat meledak bersamaan. Tiga bola besi membara meluncur deras membelah kabut subuh, menghantam barisan pilar batu di gerbang utama hingga hancur berkeping-keping.

Pecahan batu granit dan serpihan kayu terbakar terbang menyapu udara. Dua prajurit zirah berat Serigala Hitam terlempar lima langkah ke belakang. Tubuh mereka menghantam ubin pualam, meneteskan darah segar yang membasahi tanah perbatasan.

Tuan Kota Jian berdiri kaku di atas panggung batu pelataran. Jubah keemasannya melambai kencang ditiup angin panas sisa ledakan. Tangan kanannya menggenggam Pedang Inti Emas berukir naga, sementara dua ratus prajurit pengawal pribadi bersenjata tombak raksasa merapatkan barisan di sekeliling panggung.

"Kalian pikir bisa merebut kota ini hanya dengan tiga ribu prajurit perbatasan?" tawa Tuan Kota Jian membahana keras memotong deru angin subuh. "Pelataran ini akan menjadi kuburan massal untuk kalian semua!"

Ma Huang melompat turun dari puncak menara gerbang. Tubuhnya meluncur mendatar bagaikan bayangan hitam, mendarat mulus tiga depa di hadapan barisan tombak pengawal. Pijakan kakinya membuat ubin pualam pelataran retak melingkar.

Pedang Tulang Hitam di tangan kiri Ma Huang terangkat miring. Uap racun Ular Hijau berdesis kental dari bilah pedang hitamnya, melelehkan sisa embun subuh di sekitarnya menjadi buaian asap asam.

"Isi ulang meriam!" teriak perwira pengawal dari balik barisan perisai tembaga. "Ratakan seluruh barisan perbatasan!"

Tiga prajurit penembak meriam bergerak cepat memasukkan gumpalan bubuk mesiu ke dalam moncong tembaga. Sebelum sumbu mesiu sempat disulut oleh percikan batu api, lima anak panah berujung bulu burung hantu meluncur deras dari atap kediaman warga.

Anak panah Feng Ni menembus tenggorokan tiga penembak meriam secara bersamaan. Darah kental menyembur basah membasahi roda kayu meriam, menghentikan proses pengisian mesiu secara mendadak.

Tie Shan menggeram nyaring dari arah lorong barat. Ia melompat maju memimpin tiga ratus prajurit zirah berat Serigala Hitam. Kampak kembar baja hitam di kedua tangannya diayunkan memutar melingkar, menghantam perisai tembaga prajurit pengawal hingga pecah terbelah.

Brak! Duaggg!

Dentangan logam dan derak tulang patah membahana kencang di seluruh pelataran. Pasukan Serigala Hitam merangsek masuk membendung barisan pengawal pribadi Tuan Kota Jian, menciptakan medan pertarungan berdarah di atas ubin pualam.

Ma Huang tidak memedulikan pertempuran jarak dekat di sekelilingnya. Sepasang matanya yang berkilat merah mengunci rapat sosok Tuan Kota Jian yang berdiri kaku di atas panggung batu.

Ma Huang menjejakkan kaki kirinya kencang. Ubin pualam hancur berkeping-keping saat tubuhnya melesat deras menaiki sepuluh anak tangga panggung. Pedang Tulang Hitam diayunkannya miring dari kiri ke kanan, mengincar leher Tuan Kota Jian.

Tuan Kota Jian menyipitkan matanya. Ia menyalurkan seluruh sisa tenaga dalam keemasan ke dalam lengan kanannya. Pedang Inti Emas diayunkannya menangkis sabetan Ma Huang dari samping.

Tinggg!

Benturan keras dua senjata pusaka memercikkan gelombang bunga api kebiruan di udara. Daya dorong energi emas Tuan Kota Jian membuat Ma Huang terdorong mundur setengah langkah.

Lantai granit panggung batu retak ambles di bawah telapak kaki Ma Huang. Hawa panas dari pedang emas Tuan Kota Jian bergesekan kencang dengan racun pekat Inti Bencana, membakar sisa kain jubah biru di lengan kiri Ma Huang.

"Bocah ingusan!" bentak Tuan Kota Jian kencang. Tangannya memutar pergelangan untuk mengubah arah tebasan pedang. "Ayahmu mati di tangan sekte kami lima belas tahun lalu! Hari ini aku akan mengirim kepalamu untuk menyusul jasadnya!"

Tuan Kota Jian melancarkan tiga tebasan beruntun yang sangat cepat. Pedang Inti Emas meluncur membendung udara subuh, membentuk jaring cahaya emas yang membungkus seluruh sudut pelarian Ma Huang.

Ma Huang merendahkan badannya dua jengkal. Ia menggeser tumpuan kakinya ke kanan, membiarkan tebasan pertama dan kedua menyapu tipis tiga mili dari bahunya. Tebasan ketiga ditangkisnya menggunakan bagian samping Pedang Tulang Hitam.

Duaggg!

Hantaman tenaga dalam keemasan menyengat paha kanan Ma Huang. Darah segar menyembur basah dari luka bakar lama yang kembali terbuka. Namun, raut wajah Ma Huang tetap kaku tanpa meringis sedikit pun.

Ma Huang memutar lingkaran energi Inti Bencana Hitam-Keemasan di Dantiannya. Ia menyuntikkan aliran racun korosif pekat lurus ke dalam bilah Pedang Tulang Hitam.

Bilah pedang hitam itu memancar kelam. Ma Huang membalas serangan dengan tebasan mendatar dari bawah, mengincar rusuk kanan Tuan Kota Jian.

Tuan Kota Jian terperanjat. Ia menangkis tebasan Ma Huang menggunakan bagian tengah pedang emasnya.

Srettt!

Asam racun Ular Hijau merembes cepat saat kedua bilah pedang beradu kaku. Lapisan emas di pedang Tuan Kota Jian meleleh kehitaman, terkikis kasar oleh hawa korosif dari racun Ma Huang.

Tuan Kota Jian meresapi getaran racun dingin yang merambat menembus genggaman tangannya. Pembuluh darah di pergelangan tangan kanannya menegang kaku, memancarkan warna kehitaman yang menjalar cepat menuju siku.

"Racun busuk ini..." desis Tuan Kota Jian dengan napas memburu.

Ia memutar badannya kencang, menendang dada Ma Huang menggunakan tumit kakinya yang dilapisi zirah besi.

Ma Huang menahan tendangan itu dengan siku kanannya. Dampak benturan membuat Ma Huang terdorong tiga langkah ke belakang di atas panggung batu.

Tuan Kota Jian tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Tangan kirinya bergerak cepat ke balik lengan jubah keemasannya. Sebuah belati rahasia tiga jarum berlapis racun kelabang disemburkannya lurus ke arah mata Ma Huang dari jarak lima depa.

Jarum-jarum beracun meluncur nyaring membelah udara subuh.

Ma Huang mengangkat tangan kirinya melintang. Telapak tangannya yang terbungkus kristal racun Inti Bencana menyambar ketiga jarum beracun itu secara langsung di udara.

Cring!

Tiga jarum tembaga patah remuk di dalam cengkeraman telapak tangan Ma Huang. Racun kelabang yang melapisi jarum meresap masuk ke pori-pori kulitnya. Namun, alih-alih melumpuhkan sarafnya, racun busuk itu justru diserap total oleh Jalur Darah Pemakan Bencana di dalam tubuh Ma Huang.

Dantian Hitam-Keemasan milik Ma Huang bergetar kencang. Energi racun tambahan itu diubah menjadi leburan tenaga dalam pekat yang memompa sirkulasi darah di seluruh dada Ma Huang.

Sepasang mata Ma Huang memancarkan kilatan merah yang kian tajam dan bening.

"Kau membuang racunmu pada orang yang salah," kata Ma Huang dingin.

Ma Huang menjejakkan kakinya kencang ke atas panggung batu. Langkah kakinya tak terdengar saat tubuhnya meluncur deras memotong jarak berdiri Tuan Kota Jian dalam sekedip mata.

Pedang Tulang Hitam diayunkannya miring dalam satu sabetan lurus yang membawa seluruh bobot tenaga dalam Inti Bencana.

Tuan Kota Jian mengangkat pedang emasnya yang terkikis untuk menahan tebasan tersebut.

Brak! Krak!

Pedang Inti Emas milik Tuan Kota Jian patah terbelah dua. Bilah Pedang Tulang Hitam melanjutkan lintasannya tanpa hambatan, menebas bahu kanan Tuan Kota Jian hingga tembus ke rusuk dalamnya.

Zirah keemasan Tuan Kota Jian hancur berkerutup. Darah kental menyembur deras membasahi lantai panggung batu. Tuan Kota Jian meraung histeris saat lengan kanannya terkulai putus, jatuh berdenting di atas ubin pualam bersama patahan pedangnya.

Tubuh Tuan Kota Jian roboh telentang di atas tanah. Napasnya tersedat-sedat parau oleh gumpalan darah hitam yang membanjiri tenggorokannya.

Ma Huang melangkah mendekat. Ujung Pedang Tulang Hitam ditancapkannya kaku di samping leher Tuan Kota Jian.

"Ampun..." desis Tuan Kota Jian dengan bibir gemetar kehitaman. "Jangan... jangan bunuh aku..."

Ma Huang merendahkan badannya. Tangan kanannya merogoh lipatan jubah keemasan Tuan Kota Jian, menarik keluar sebuah kotak perunggu kecil dan surat stempel rahasia.

"Siapa yang memerintahkanmu membantai Keluarga Ma lima belas tahun lalu?" tanya Ma Huang kaku. Suaranya membekukan udara di panggung batu.

Tuan Kota Jian terbatuk keras, memuntahkan darah kental ke jubah keemasannya. Matanya melotot liar menatap wajah Ma Huang.

"Sekte... Sekte Cakar Iblis..." bisik Tuan Kota Jian parau. "Tetua Agung Sekte Cakar Iblis... sudah bergerak ke Desa Qingshan... Tiga ribu prajurit di sana..."

Tuan Kota Jian terkekeh dingin dengan sisa tenaganya. "Benteng belakangmu... sudah dihancurkan oleh peledak mesiu hitam..."

Ma Huang tidak memberikan kesempatan bagi Tuan Kota Jian untuk melanjutkan kalimatnya. Pedang Tulang Hitam digerakkannya miring, memotong leher Tuan Kota Jian secara bersih tanpa ragu.

Srettt!

Darah segar menyembur basah membasahi panggung batu. Penguasa Kota Yunjiang itu tewas seketika di atas ubin pualam pelataran.

Prajurit pengawal pribadi yang menyaksikan tewasnya pimpinan mereka langsung membuang senjata tembaga mereka ke tanah. Mereka lari berhamburan ke lorong-lorong kota dalam kepanikan total.

Tie Shan menghentakkan kampak besinya ke tanah, menyapu sisa darah perwira musuh di wajahnya. "Kota ini milik kita, Tuan Muda!"

Namun, sebelum sorak kemenangan pecah di pelataran, seekor burung merpati pos hitam meluncur turun dari langit subuh, mendarat di atas lengan baju Feng Ni.

Feng Ni mencabut gulungan kertas kecil berdinding kain sutra dari kaki merpati tersebut. Wajah cantiknya berubah pucat pasi saat membaca deretan huruf bertinta darah di atas kertas.

"Tuan Muda!" teriak Feng Ni dengan suara gemetar. "Pesan dari Master Han! Qingshan dalam bahaya besar! Benteng belakang telah ditembus oleh pasukan mesiu Sekte Cakar Iblis!"

Ma Huang mencengkeram gagang Pedang Tulang Hitam di tangannya kencang-kencang. Tatapannya membeku menatap gumpalan asap hitam yang membubung dari arah pegunungan selatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!