Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pagi ini, Alya bersama arus pergi ke yayasan karena ini adalah hari di mana putri menyumbang ke yayasan.
Hari itu sangat sibuk, tak hanya kepada murid bahkan putri juga membagikan sembako ke beberapa warga yang membutuhkan.
"cantik banget..."kagum Alya saat melihat putri.
"bener gak kak.... " tanya Alya kepada arus..
"biasa aja." jawab arus singkat.
Hal ini langsung membuat arus mendapatkan cubitan dari Alya.
"aw.... "
"makanya lihat dulu...."
arus berbalik, lalu mendorong jidat Alya dengan ujung jarinya.
"aw... Apa apaan si kak.."
"kamu si, lagian kenapa malah nyuruh suami sendiri liat cewek lain"
Alya masih mengelus keningnya .
"ya kalok cuma lihat kan gak masalah, lagian kalok berani macem macem bakalan ku sunat lagi" bisik Alya.
perdebatan ini, di saksikan langsung oleh putri dan Bagas. Mereka malah menganggap ini bukan adegan perdebatan, mereka malah menganggap ini sebagai adegan romantis.
bahkan tangan putri sudah mengepal di balik tas mewahnya.
"permisi" ungkap putri setelah menghadiri Alya dan arus.
Keduanya menoleh, Alya langsung menampilkan senyum manisnya.
Sedangkan arus kembali ke tampang datarnya.
"maaf mengganggu, aku ngeliat kalian kayak asik banget. Jadi aku Dateng, tapi maaf kalok ganggu."
Alya langsung menggeleng....
"enggak kok kak, kamu cuma ngobrol biasa aja. Cuma suamiku memang orangnya keras kepala banget."
putri tersenyum....
"oh ia, kakak ini namanya siapa....?"
putri menjulurkan tangan, tentu Alya langsung menyatu dengan bersemangat.
"aku Alya kak, salah satu guru di yayasan."
"eh kak, kok tangan kakak luka...?" tanya Alya saat melihat ada goresan di telapak tangan putri.
Putri menggeleng....
"tadi gak sengaja kenak kuku".
Putri tak bohong, karena luka ini memang terkena kuku saat mengepal.
Alya tersenyum.....
"ia si kak, kayaknya kukunya tajem banget. Tapi juga sangat bagus"
putri menatap tangannya....
"terkadang memang gitu, ingin bersama dengan apa yang di inginkan memang harus rela kalau terluka".
"memang bagus, aku juga pengen punya kuku kayak gitu. Tapi pasti mahal.."
saat itu pandangan putri beralih ke arah gurun...
"ini suaminya ya kak.."
"oh iya aku lupa ngenalin, ini suamiku. Namanya arus, mukanya memang kayak gitu jadi maaf kalok gak nyaman ya kak, tapi sebenarnya dia baik kok. yak kan..." Alya menyenggol lengan arus.
"gak juga..." jawab arus.
"apa apan si kak, yang ramah sedikit. Lagian kak putri ini kan donatur yayasan" bisik Alya.
Arus tak menjawab, tatapannya tertuju ke arah putri.
"ki harap tak ada niat lain.." ucapnya lalu pergi begitu saja.
"eh kak, mau kemana" panggil Alya.
Namun arus sama sekali tak berbalik, Alya tersenyum malu ke arah putri.
"maaf kak, mungkin dia lagi Dateng bulan makanya kayak gitu"
"gak papa, aku ngerti. Oh ya rencananya aku mau ngajak guru guru sama murid jalan jalan, gimana kalok kamu ikut sekalian ajak suami."
"beneran boleh...." semangat Alya.
"tentu, lagian ini bukan acara resmi. Jadi bebas bawa siapa aja"
Alya tampak sangat bersemangat, setelah berbincang bincang sedikit. Alya pamit menyusul suaminya.
putri menatap kepergian Alya, raut ramah di wajah sudah menghilang sepenuhnya.
"Alya..... seharusnya aku yang ada di posisi itu, harusnya aku yang di beri sifat ramah oleh arus. padahal aku yang selalu ada di sisinya saat dia terpuruk sejak kecil, tapi kenapa dia memilihmu yang jelas hampir membunuhnya dulu." gumannya.
Putri benar benar hampir kehilangan kendali, beruntung ada satu pengawalnya yang mendatangi.
"nona muda, lebih baik minum obat penenang dulu" ungkap pengawal itu.
mendengar ini, putri melirik tajam seakan ingin membunuh pengawal itu sekarang.
"nona... Ingat, tujuan anda datang ke sini. Jika ada kesalahan bisa bisa anda tak bisa datang ke sini lagi."
Akhirnya putri mengikuti pengawalnya itu untuk masuk ke mobil.
"kak tunggu"
arus menoleh, melihat sang istri yang tergopoh-gopoh ke arahnya.
"udah selesai..." tanya arus dengan ekspresi yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Alya mengangguk...
"oh ia kak, putri itu sangat baik ya.. Sudah cantik baik lagi, ngebuat orang yang ngeliatnya minder.
Arus tak menjawab, dia hanya sedikit senyum dan melanjutkan perjalanan bersama istrinya.
"oh ia kak, kakak ada waktu kan besok...?"
"waktu...? Kayaknya gak ada."
"ya padahal aku mau ngajak jalan jalan..."
"besok gak bisa, tapi lain kali mungkin bisa"
"ya udah kalok gitu, kayaknya aku memang harus pergi sama guru lain aja".
"pergi bersama guru lain...?"
Alya mengangguk....
"ia, kata putri.... Besok dia juga ngajak para murid dan para guru pergi jalan jalan. Katanya si dia mau ngajak ke tempat wisata."
mendengar ini arus langsung terdiam.
"putri.... sebenarnya apa yang kau rencanakan." batin arus.
"Kak..."
Alya melambaikan tangannya di depan wajah arus.
arus menoleh ke sang istri..
"ada apa...?"
"kakak yang ada apa, ngapain tiba tiba ngelamun."
"enggak, aku cuma mikirin tentang pekerjaan besok. Kayaknya masih bisa di tunda, lagi pula aku memang harus cari referensi di tempat wisata."
"beneran...?" semangat Alya.
arus mengangguk....
Saking senangnya Alya sampai berjalan dengan sedikit melompat.
Walau terkesan seperti anak kecil, tapi di mata arus. Ini terlihat lucu.
Setelah sampai di rumah, arus pergi ke balkon lantai 3 rumahnya.
Tak lupa ia menutup pintu balkon itu.
Setelah yakin kalau aman, arus mengambil ponsel dari sakunya.
Terlihat ada 9 panggilan tak terjawab.
Ia memilih menelfon orang itu.
"ada apa ...?"
"begini tuan, pemimpin perusahaan Neo di jepang ingin bertemu 1 bulan lagi. Apa anda bisa datang....?"
"satu bulan lagi...?"
"benar tuan, dia ingin mengadakan Meeting di perusahaannya. Katanya kalau bisa anda ikut agar lebih jelas.".
"aku akan melihat dulu, jika istriku tak ada kesibukan dan dia sehat. Aku akan berangkat, jika tidak maka batalkan saja.".
"apa anda yakin tuan..."
"tentu..."
"baiklah..."
"tentang putri... Bagaimana, apa ada informasi tentang alasan dia bergerak di desaku."
"kalau soal itu aku masih belum bisa mendapatkan informasi dengan jelas tuan, penjagaan nona putri sangat ketat. Anda tentu tau sendiri jika nona putri adalah anak tunggal keluarga bangsawan, jadi sangat sulit mencari informasi mendetail tentangnya, jika bisa beri saya waktu"
"baiklah, aku serahkan masalah ini kepadamu."
setelah menutup panggilan, arus mengambil rokok dari sakunya.
Ia menyesap cukup dalam...
"apakah keputusanku ini salah...?" batinnya.
Setelah kembali ke kamar, arus menatap ke arah Alya yang sedang sedikit menggerakkan tubuh di depan cermin sambil mengeringkan rambut.
"kenapa wanita sebaik ini harus memiliki nasip yang begitu buruk... " batin arus.
"eh kak arus.... Dari mana saja" sapa Alya saat menoleh ke pintu.
"dari balkon untuk merokok..."
Alya mengangguk....
"ya sudah, mandi dulu. Tadi kan udah keringetan"
arus meng iyakan permintaan sang istri, bahkan arus sempat mengacak acak rambut Alya saat melewatinya.
"ih kak....!"