NovelToon NovelToon
Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mafia / Penyelamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Wusss.

Pisau lipat di tangan pria muda itu berayun ke arah perut Jarot dengan kecepatan penuh.

Pria bertato naga itu berteriak keras untuk menutupi rasa takutnya sendiri melihat Jarot.

"Mati kamu!" teriaknya sambil memejamkan mata menahan ngeri.

Jarot hanya menggeser pinggulnya ke kiri sekitar lima sentimeter saja.

Syut.

Ujung pisau itu hanya membelah udara kosong tanpa menyentuh sehelai pun benang dari baju kaus Jarot.

Pria muda itu kehilangan keseimbangan karena tenaga dorongannya sendiri tidak mengenai sasaran.

Bruk.

Jarot menepuk tengkuk pria itu dari atas dengan telapak tangannya yang terbuka lebar.

Pria itu langsung tersungkur mencium lantai garasi yang terbuat dari beton keras.

"Aduh, hidungku," ringis pria itu sambil memegangi wajahnya yang membentur lantai.

Pisau lipatnya terlempar jauh ke bawah kolong mobil SUV mewah yang terparkir.

Jarot berjongkok santai di samping pria yang sedang mengerang kesakitan itu.

"Kamu ini niat jadi penjahat atau mau ikut audisi pelawak sih?" tanya Jarot dengan nada yang sangat mengejek.

Pria muda itu berusaha bangun tapi Jarot menempelkan dua jarinya di belakang leher pria tersebut.

Hanya dua jari, tapi pria itu merasa seperti ada balok besi seberat seratus kilogram menekan urat lehernya.

"Jangan bergerak dulu, aku mau tanya beberapa hal sama kamu," ucap Jarot dengan suara pelan yang tiba-tiba berubah sangat dingin.

Hawa membunuh dari mantan penguasa dunia bawah itu langsung merayap masuk ke dalam pori-pori kulit pria muda tersebut.

Tubuh pria bertato naga itu seketika bergetar hebat bagaikan tersengat aliran listrik tegangan tinggi.

"A-Ampun Mas, aku cuma disuruh potong kabel kamera rumah ini saja," mohon pria itu dengan suara nyaris menangis.

Di balik celah pintu penghubung dapur, tiga pasang mata sedang mengintip kejadian itu dengan jantung berdebar kencang.

Lyly, Tata, dan Melly saling berhimpitan melihat bagaimana Jarot menundukkan penjahat bersenjata tajam hanya dengan dua jari.

"Dia benar-benar monster," bisik Tata tanpa sadar memuji teknik kuncian Jarot yang sangat efisien dan mematikan.

Di dalam garasi, Jarot masih memandang rendah pria di bawah tangannya itu.

"Aku tahu kamu cuma pesuruh kecil di kelompokmu," kata Jarot masih menekan leher pria itu.

"Sekarang beri tahu aku, jam berapa Bos Naga bodohmu itu mau menyerang rumah ini?" tanya Jarot langsung pada intinya.

Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah karena tenggorokannya terasa tercekik.

"Aku tidak tahu Mas, sumpah aku tidak tahu rencana pastinya!" jawab pria itu mencoba berbohong demi keselamatan dirinya.

Krek.

Jarot menekan jarinya sedikit lebih dalam hingga tulang leher pria itu mengeluarkan bunyi retakan kecil yang mengerikan.

"Aaaakh! Ampun! Iya aku bicara sekarang!" jerit pria itu ketakutan setengah mati merasa nyawanya di ujung tanduk.

"Bagus, anak pintar. Cepat bicara sebelum aku tidak sengaja mematahkan lehermu ini," ucap Jarot tersenyum ramah yang justru terlihat seperti iblis.

"Bos Naga mengumpulkan semua anak buahnya di gudang pelabuhan utara malam ini," jawab pria itu terburu-buru dengan nafas tersengal.

"Mereka berencana menyerbu rumah ini besok dini hari saat semua orang sedang tidur lelap," lanjut pria itu membocorkan semua rahasia kelompoknya tanpa sisa.

Jarot mengangguk-angguk pelan mencerna informasi berharga tersebut dengan tenang.

"Berapa banyak orang yang dia bawa untuk menyerbu ke sini?" tanya Jarot lagi memastikan jumlah pasukan musuh.

"Sekitar lima puluh orang, Mas. Semuanya membawa senjata tajam dan ada lima orang yang memegang senjata api rakitan," jawab pria itu dengan sangat jujur.

Jarot perlahan mengangkat jari tangannya dari belakang leher pria tersebut.

"Terima kasih informasinya, kamu boleh tidur sekarang," kata Jarot sambil menjentikkan jarinya tepat ke dahi pria itu.

Tuk.

Pria muda itu langsung kehilangan kesadarannya dan pingsan seketika di atas lantai garasi yang dingin.

Jarot berdiri lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel butut kesayangannya.

Ia menekan satu nomor panggilan cepat lalu menempelkan ponsel itu ke telinga kirinya.

"Kirim dua orang untuk mengangkut satu paket sampah di garasi rumah tempatku bekerja sekarang," perintah Jarot dengan nada datar ke seseorang di seberang telepon.

"Bawa dia ke markas bawah tanah dan pastikan dia tidak bangun selama tiga hari ke depan," tambah Jarot sebelum mematikan panggilan secara sepihak.

Jarot kemudian berbalik badan dan berjalan santai menuju arah pintu dapur.

Cklek.

Ia membuka pintu dan langsung mendapati tiga majikannya sedang berdiri kaku menempel di dinding balik pintu.

"Kalian ngapain numpuk di depan pintu begini? Mau minta uang saku harian?" sapa Jarot berpura-pura terkejut melihat mereka.

Lyly membetulkan letak kacamatanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat mendengar ancaman tadi.

"Kami mendengar semuanya dari celah pintu ini," ucap Lyly mencoba terdengar tetap tenang layaknya bos.

"Lima puluh orang bersenjata akan menyerang rumah ini besok pagi, kan?" tanya Lyly memastikan pendengarannya tidak salah.

Jarot berjalan santai melewati mereka dan mengambil gelas air putih di atas meja makan.

"Iya, begitulah rencananya menurut pengakuan anak buahnya barusan," jawab Jarot sambil meminum airnya sampai habis.

Melly langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan karena panik yang luar biasa.

"Lima puluh orang?! Kita pasti akan mati semua! Kita harus telepon polisi sekarang juga!" teriak Melly histeris membayangkan hal buruk.

"Polisi tidak akan sempat datang kalau mereka menyerbu dari segala arah secara bersamaan besok pagi," potong Tata menganalisis secara taktis dari sudut pandang pertahanan.

"Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak mungkin melawan lima puluh preman bersenjata dengan tangan kosong," keluh Lyly yang otaknya mulai buntu mencari solusi.

Jarot meletakkan gelasnya ke atas meja lalu menatap ketiga gadis itu dengan tatapan menilai.

"Siapa bilang kita yang akan menunggu dan melawan mereka di sini?" tanya Jarot dengan nada yang sangat misterius.

Lyly mengerutkan dahi tidak mengerti arah ucapan pengawalnya yang selalu sulit ditebak itu.

"Maksudmu kita akan kabur dari rumah ini malam ini juga ke hotel atau luar kota?" tanya Lyly mencoba menebak.

"Kabur itu cuma untuk orang pengecut, Mbak Lyly. Dan aku paling benci lari dari masalah," jawab Jarot menyandarkan punggungnya ke meja makan.

"Lalu apa rencanamu sebenarnya?" desak Tata yang mulai penasaran dengan jalan pikiran nekat Jarot.

"Pertahanan terbaik adalah serangan pertama yang paling mematikan," ucap Jarot mengutip pepatah perang dunia bawah tanah.

"Aku akan datang ke gudang pelabuhan utara itu malam ini dan menghancurkan mereka semua sebelum mereka sempat berangkat," jelas Jarot dengan sangat santai seolah ia hanya mau pergi belanja ke minimarket.

Ruang makan itu mendadak menjadi hening selama beberapa detik tanpa ada suara nafas yang terdengar.

1
Eko🍤
cerdik 👍😀
Eko🍤
hehehehe...aroma pembantaian nih
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii kasih paham mereka🤣🤣👍
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hehehehe... bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hahahahaha🤣🤣
Eko🍤
🤣🤣🤣👍
Eko🍤
hehehehe...baru datang udh pemanasan 👍🤣🤣
Eko🍤
bermain petak umpet semua nya😀🤣👍
Eko🍤
alur ceritanya bagus
Eko🍤: insya Allah suka Thor ..lanjut terus semangat 👍👍
total 2 replies
Hendra Saja
semangat thor
kiyoe: Terimakasih kak Hendra Saja atas dukungan 🥰
total 1 replies
Inez Putri
critanya lama² membosankan thour. maaf seblmnya🙏🙏 dr awal kanyak nya menarik. tp smpe sni mlh kurang menarik.
kiyoe: sekali lagi othor ucapkan terimakasih banyak kak dan semoga kaka selalu 🥰
total 3 replies
lili Permatasari
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
kiyoe: wah terimakasih kaka atas Bintang Lima nya semoga sehat selalu yaa kak 🙏
total 1 replies
Hendra Saja
gazzzzzz 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!