-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
****
Pendar keemasan sore baru saja meredup ketika Bagas tersentak dan terbangun di atas selasar rumah joglonya. Hembusan angin dingin beraroma melati perlahan memudar, menandai kepulangannya dari alam gaib Sendang Manten. Bagas mengelus dadanya yang masih terasa hangat oleh pusaka sisik emas, mencoba menata kembali napasnya yang tersengal.
Namun, ketenangan di rumah joglo itu tak bertahan lama. Suara jeritan histeris dari arah gerbang depan memecah keheningan desa.
"Ular! Ular banyak sekali! Tolong!"
"Awas! Jangan mendekat! Itu ular-ular dari Hutan Keramat!"
Bagas melompat berdiri dan berlari menuju pelataran depan. Matanya membelalak menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan. Dari arah perbatasan hutan, ratusan bahkan ribuan ekor ular berbagai ukuran—mayoritas bersisik hijau keemasan—merayap keluar secara bergelombang. Rombongan reptil itu bergerak secara teratur, membentuk lingkaran raksasa yang mengurung seluruh benteng rumah joglo milik Bagas.
Anehnya, ular-ular itu tidak menyerang. Mereka hanya berdiam diri di atas tanah, menegakkan kepala seolah-olah sedang berbaris menjaga istana tuan mereka. Namun, bagi warga Desa Lemah Wungu yang menyaksikan, fenomena itu tak ubahnya teror mistis yang membekukan darah.
"Bagas! Ada apa ini, Nak?!" Mbok Sumi keluar dari rumah dengan wajah pucat pasi, tubuhnya gemetar melihat ribuan mata reptil yang berkilat di sekeliling pelataran mereka.
Bagas segera merangkul ibunya, menyembunyikan rasa paniknya. "Ibu masuk ke dalam saja. Jangan takut, mereka tidak akan mematuk. Biar Bagas yang urus."
Di luar lingkaran ular, puluhan warga desa berkumpul dengan membawa obor, cangkul, dan pentungan kayu. Rasa kagum dan hormat yang selama ini mereka tunjukkan pada Bagas mendadak luntur, berganti menjadi ketakutan dan kecurigaan yang mendalam.
Tak lama kemudian, sebuah delman berhenti agak jauh dari kerumunan. Pak Kades turun bersama Mbah Dirjo dan beberapa tetua desa. Wajah Pak Kades terlihat sangat tegang dan berwibawa, sementara Mbah Dirjo menatap Bagas dengan pandangan sarat makna yang seolah sudah menduga segalanya.
"Bagas! Keluar kamu, Bagas!" teriak Pak Kades dengan suara menggelegar dari balik barisan warga.
Bagas menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu melangkah perlahan menembus barisan ular hijau yang secara ajaib langsung merunduk memberi jalan padanya. Tindakan itu semakin membuat warga bergidik ngeri.
"Ada apa ini, Pak Kades? Kenapa warga berkumpul membawa senjata?" tanya Bagas berusaha tetap tenang dan berwibawa.
Pak Kades menunjuk ke arah ribuan ular yang mengepung rumah joglo dengan tangan bergetar. "Kamu masih bertanya ada apa, Bagas?! Lihat sekelilingmu! Fenomena aneh apa ini?! Sejak desa ini berdiri, tidak pernah ada ribuan ular keluar dari Hutan Keramat dan mengepung rumah warga seperti ini!"
"Ini pasti ada hubungannya dengan kekayaanmu yang mendadak itu!" sahut Pak Krama dari balik kerumunan warga, suaranya lantang memprovokasi. "Dulu kamu cuma buruh miskin! Sekarang dalam hitungan bulan kamu bisa beli tanah setengah desa! Jangan-jangan kamu memelihara pesugihan di rumahmu!"
"Iya! Benar! Itu ular-ular pesugihan!" teriak warga lainnya bersahutan.
Suasana semakin panas. Bagas memutar otak dengan cepat. Jika ia salah mengarang cerita, warga yang ketakutan bisa saja mengamuk atau membakar rumahnya. Ia harus memanfaatkan pengaruh sosial dan kepandaiannya menyusun alasan yang logis sekaligus memanfaatkan kepatuhan ular-ular tersebut.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tolong tenang dulu!" seru Bagas menenangkan massa. Ia menatap Pak Kades dengan mata yang tajam namun penuh penghormatan. "Pak Kades dan warga sekalian tahu betul, dari mana hasil kekayaan saya selama ini. Saya membeli lahan, mempekerjakan panjenengan semua dengan upah layak, dan hasil panen kita melimpah karena pengelolaan tanah yang benar. Apakah ada satu pun warga yang dirugikan atau ditumbal di desa ini?"
Warga terdiam sejenak, saling pandang. Kata-kata Bagas memang masuk akal—tidak ada korban jiwa atau kejadian aneh menimpa warga sejak Bagas kaya raya.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan keberadaan ribuan ular ini, Bagas?!" potong Pak Kades tegas. "Kenapa mereka mengelilingi rumahmu dan tunduk padamu?!"
Bagas melirik Mbah Dirjo yang berdiri tenang di samping Pak Kades. Pemuda itu kemudian menegakkan dadanya dan tersenyum tipis.
"Pak Kades ingat kayu manis dan tanaman herbal raksasa yang saya tanam di kebun belakang beberapa minggu lalu?" tanya Bagas menyusun kebohongan dengan rapi. "Saya menggunakan pupuk ramuan herbal khusus dari akar pohon hutan untuk menyuburkan tanah. Rupanya, aroma minyak dari ramuan itu menarik reptil-reptil ini dari hutan."
"Hah? Cuma karena ramuan pupuk?" Pak Kades mengernyitkan dahi, tampak ragu.
"Benar, Pak Kades. Ular-ular ini tidak berbisa dan tidak ganas. Mereka hanya berkumpul karena mencari kehangatan dari tanah yang disiram ramuan tersebut," lanjut Bagas dengan nada meyakinkan. Ia lalu memutar tubuhnya menghadap ribuan ular di pelataran, lalu menghentakkan kakinya ke tanah secara perlahan sembari menyalurkan sedikit pendar energi dari pusaka sisik emas di dadanya.
“Pergilah... Kembali ke istana kalian...” bisik Bagas dalam batinnya.
Seketika itu pula, bagaikan mendapat perintah gaib, ribuan ular hijau itu berbalik arah secara serentak. Mereka merayap cepat meninggalkan pelataran rumah joglo, menyusup ke dalam kegelapan malam menuju Hutan Sendang Manten tanpa menyenggol satu pun warga.
Kejadian yang berlangsung hanya dalam beberapa detik itu membuat seluruh warga terperanjat kaku. Suasana menjadi hening seketika.
"Lihat sendiri, Pak Kades, warga sekalian," ujar Bagas tenang. "Ular-ular itu sudah kembali ke hutan dan tidak menyakiti siapa pun. Saya mohon maaf jika keberadaan mereka sempat membuat warga terkejut dan ketakutan."
Pak Kades mengusap keringat dingin di dahinya. Meski hatinya masih diliputi sedikit ganjalan, bukti di depan mata menunjukkan bahwa tidak ada bahaya yang mengancam desanya.
"Ehm... Baiklah kalau begitu, Bagas," ucap Pak Kades, suaranya sedikit merendah. "Tapi bagaimanapun juga, kejadian ini sangat meresahkan. Saya minta kamu bersihkan ramuan itu agar ular-ular tersebut tidak datang lagi ke pemukiman warga."
"Pasti, Pak Kades. Besok pagi saya akan suruh pekerja membersihkannya," jawab Bagas penuh kesopanan.
"Ya sudah. Warga sekalian, bubar! Kembali ke rumah masing-masing! Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi!" perintah Pak Kades seraya membubarkan kerumunan massa yang mulai berbisik-bisik lega.
Satu per satu warga berjalan pulang meninggalkan pelataran. Namun, Mbah Dirjo tidak segera pergi. Pria tua itu melangkah mendekati selasar tempat Bagas berdiri. Pandangan mata raburnya menatap lurus ke dada kiri Bagas.
"Aroma melati itu... makin pekat saja, Le," bisik Mbah Dirjo dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Bagas.
Bagas tersentak, menatap Mbah Dirjo dengan raut tegang. "Mbah..."
Mbah Dirjo menggelengkan kepala perlahan, tersenyum getir. "Kamu berhasil mengelabui Pak Kades dan warga dengan alasan pupuk ramuanmu. Tapi kamu tidak bisa mengelabuiku, Bagas. Ular-ular tadi bukan sekadar berkumpul... mereka datang untuk memberikan penghormatan pada tuan mereka."
Bagas menelan ludah, suaranya tertahan di tenggorokan. "Saya cuma melakukan apa yang harus saya lakukan demi Ibu, Mbah."
Mbah Dirjo menepuk bahu Bagas dengan lemas. "Mbah paham. Tapi ingat, Bagas... semakin tinggi takdirmu di alam gaib sana, semakin tebal pula tembok yang memisahkanmu dari dunia nyata. Ratu Ular tidak pernah mengirimkan pasukannya tanpa alasan. Ada sesuatu yang besar sedang terjadi di Sendang Manten."
Usai membisikkan peringatan itu, Mbah Dirjo memutar badannya dan berjalan gontai menembus kegelapan malam.
Bagas berdiri mematung di selasar rumah joglonya. Ia mengusap dada kirinya yang kembali berdenyut lembut, menyalurkan rasa hangat yang asing namun makin mengikat. Ucapan Mbah Dirjo dan ingatan akan bisikan Ratu Ular tentang rahim gaibnya membuat dada Bagas bergejolak. Ia sadar, teror ular malam ini barulah awal dari batas dua dunia yang makin mengikis kehidupannya.
Bersambung...