NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Labirin Hukuman dan Siasat Baru

Cengkeraman tangan Angkasa di pergelangan tangan Eca tidak terasa menyakitkan, namun begitu kokoh layaknya borgol besi yang mustahil dilepaskan. Eca terpaksa menyamakan langkah kakinya yang pendek dan lemas dengan langkah lebar Angkasa yang menuruni anak tangga lantai tiga menuju lantai satu. Beberapa murid yang baru datang dan mulai memadati koridor langsung menepi. Mereka menatap pemandangan itu dengan bisik-bisik riuh yang tertahan. Di mata mereka, Eca hanyalah si cewek cupu yang kembali melakukan kesalahan fatal hingga harus diseret paksa oleh sang Ketua OSIS.

Klik. Cklek. BRAK!

Pintu ruang OSIS ditutup dengan sentakan keras oleh Angkasa begitu tubuh Eca didorong masuk dengan perlahan namun tegas. Suara kunci pintu yang diputar dari dalam bergaung nyaring di ruangan yang luas dan sunyi itu, memberikan efek horor yang sangat nyata bagi pendengaran Eca. Ruangan ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya, dengan aroma kopi mahal milik Angkasa dan wangi parfum maskulinnya yang langsung mengepung indra penciuman Eca, membuat otaknya kembali mengalami macet total.

Angkasa tidak langsung berbicara. Dia berjalan dengan tenang ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke lapangan utama sekolah, menutup tirai vertikalnya rapat-rapat hingga intensitas cahaya di dalam ruangan meredup drastis, menyisakan atmosfer remang-remang yang sangat intimidatif. Setelah itu, dia berbalik perlahan, melepaskan jas almamater OSIS-nya dengan gerakan lambat yang terkesan sangat tenang namun memancarkan aura dominasi yang mutlak, lalu menyampirkannya di sandaran sofa kulit hitam.

Setiap langkah sepatu pantofel Angkasa di atas lantai keramik saat dia berjalan mendekati Eca terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi ketenangan hidup cewek itu.

Angkasa berhenti tepat satu langkah di depan Eca. Dia menjulang tinggi, menatap lekat-lekat ke arah wajah Eca dari balik lensa kacamata bulat tebal cewek itu. Sebuah seringai licik sekaligus misterius yang dipenuhi kilatan ketertarikan serta kemarahan yang tertahan terukir di bibir tipisnya.

"Lo tahu apa kesalahan terbesar lo pagi ini, Alesya?" ucap Angkasa dengan suara baritonnya yang sangat rendah, berat, dan terdengar begitu seksi sekaligus berbahaya di keheningan ruangan yang tertutup.

Eca memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada, berusaha mati-matian mengumpulkan sisa-sian keberaniannya. Dia menolak menggunakan suara cicit lugunya di ruangan ini karena dia tahu penyamarannya sudah tidak ada gunanya lagi di depan cowok ini. "Gue cuma nyari alternatif perlindungan, Angkasa! Lo selalu ngancem beasiswa gue, wajar kalau gue nyari bantuan dari Reno!"

"Perlindungan?" Angkasa terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang bergetar di dadanya dan sukses membuat seluruh tubuh Eca merinding kaku seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Dia tiba-tiba maju satu langkah besar, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga tubuh Eca refleks terundur ke belakang dan punggungnya membentur tepian meja kerja kaca yang dingin.

Angkasa menumpukan kedua telapak tangan kekarnya di meja kaca tepat di sisi kiri dan kanan pinggul Eca, mengurung pergerakan cewek itu sepenuhnya dalam jarak yang sangat sempit. Wajah tampan Angkasa menunduk dalam, mendekat hingga jarak di antara hidung mereka berdua bener-bener tipis banget, hanya tersisa sekitar tiga sentimeter saja. Eca bisa merasakan hembusan napas hangat Angkasa yang beraroma mint segar menyapu permukaan kulit wajahnya yang sensitif.

"Gue nggak suka milik gue disentuh orang lain. Dan gue jauh lebih benci lagi saat milik gue mencoba berkhianat dengan menyerahkan data gue ke rival gue," desis Angkasa dengan rahang yang mengeras tegang, sepasang mata elangnya mengunci lekat-lekat manik mata Eca. "Hukuman lo karena udah bermain gerilya di belakang gue... Masa kontrak lo sebagai asisten pribadi gue resmi bertambah. Bukan lagi tiga bulan, tapi sampai lo lulus dari sekolah ini."

"Apa?! Nggak bisa gitu dong! Ini pemerasan namanya!" protes Eca dengan wajah yang mendadak kembali memerah padam seperti tomat matang, debar jantungnya di dalam rongga dada langsung berdentum brutal secara gila-gilaan karena jarak mereka yang terlalu intim.

"Gue nggak menerima bantahan, Alesya," potong Angkasa mutlak. Perlahan, Angkasa melepaskan satu tangannya dari meja kaca. Jemari tangannya yang hangat bergerak naik dengan sangat lembut, menyentuh ujung bingkai kacamata tebal Eca. Dengan gerakan yang sangat telaten, Angkasa menarik kacamata itu lepas dari hidung Eca, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kerja tanpa mengalihkan pandangan mata elangnya sedikit pun.

Begitu kacamata itu lepas, sepasang mata asli Eca yang indah, bulat, dengan bulu mata lentik alami kini terpampang nyata. Angkasa sempat tertegun selama beberapa detik memandangi wajah asli Eca yang tanpa kacamata. Sorot mata elang cowok itu mendadak berubah menjadi sangat dalam, hangat, dan dipenuhi oleh rasa kagum tersembunyi yang begitu besar.

"Gue udah pernah bilang, kan? Jangan pernah pakai kacamata bodoh ini lagi kalau lo lagi berduaan sama gue di ruangan ini. Gue mau liat sosok asli lo yang berani dan cantik ini murni cuma buat gue," bisik Angkasa pelan tepat di depan wajah Eca. Suaranya yang serak-serak basah sukses bikin lutut Eca mendadak lemas luar biasa kayak jeli.

Angkasa mengambil ponsel milik Eca dari saku tas ransel yang terbuka, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri. "Ponsel lo gue sita sampai jam pulang sekolah nanti untuk memastikan lo nggak berhubungan lagi sama Reno. Sekarang, pakai kacamata lo, rapikan berkas fisik di meja itu, dan kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi."

Angkasa perlahan menarik kembali tubuh jangkungnya dengan lambat, memberikan Eca ruang untuk menghirup oksigen banyak-banyak dengan napas terengah-engah menahan debar gila di dadanya. Eca berdiri mematung sambil buru-buru memakai kacamatanya kembali dengan tangan yang masih gemetar hebat, mukanya masih memerah sempurna. Sialan... cowok itu bener-bener makhluk paling berbahaya buat kesehatan iman dan jantungnya di sekolah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!