NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:516
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

reza menawarkan bantuan

Ancaman dingin dari seberang telepon itu menyisakan keheningan mencekam di dalam kamar kos Maya yang berantakan.

Tiga pria berbadan tegap di hadapannya berdiri diam, menatap Maya dengan pandangan tanpa emosi.

Pria jangkung dengan luka parut di pelipisnya menarik kembali ponsel pintar itu dan memasukkannya ke dalam saku jas.

​"Nona Maya sudah mendengar sendiri perintah Tuan Reza," ucap pria berparut itu dengan suara rendah. "Tolong kemasi barang-barang yang sekiranya penting. Kami beri waktu lima menit."

​Maya terduduk di tepi kasurnya. Air mata mengalir deras meniti pipinya yang pucat.

Tubuhnya gemetaran hebat. Ia merasa seperti kelinci kecil yang masuk ke dalam perangkap serigala tanpa ada celah untuk meloloskan diri.

Lari? Pintu kamar sudah jebol dan tiga pria raksasa menutup jalan keluar satu-satunya.

Berteriak? Tidak akan ada tetangga yang berani menolongnya melawan pria-pria bersenjata ini.

​Dengan tangan gemetar dan napas tersengal-sengal, Maya meraih tas ransel lusuh di bawah kasur. Ia memasukkan beberapa potong baju, dompet, dan dokumen penting seadanya.

Pikiran Maya benar-benar kosong. Ia hanya menuruti perintah karena rasa takut mati yang teramat sangat.

​"Waktu habis, Nona," tegur pria berparut tegas.

​Maya menggendong ranselnya dengan lemas. Salah satu anak buah Reza melangkah mendekat dan memegang lengan Maya secara perlahan namun kuat, menuntunnya keluar dari kamar kos.

Tetangga kamar yang sempat mengintip dari balik tirai jendela langsung menutup rapat-rapar gorden mereka begitu rombongan itu lewat.

​Di luar gang, sebuah mobil sedan hitam mewah ber-kaca gelap sudah menunggu dalam kondisi mesin menyala.

Maya dipaksa masuk ke kursi belakang, diapit oleh dua orang pengawal. Pria berparut duduk di kursi depan samping kemudi. Sedan mewah itu langsung melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai.

​Selama perjalanan, Maya hanya bisa menatap keluar jendela dengan pandangan hampa.

Ia tidak tahu mau dibawa ke mana. Apakah ia akan dihilangkan jejaknya di tengah hutan? Atau disekap di dalam gudang tua? Berbagai pikiran buruk terus menari-nari di kepalanya.

​Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mobil berbelok memasuki area perumahan elite di pinggir kota.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen pencakar langit berdesain sangat modern dan mewah. Pos penjagaan ketat melambaikan tangan memberi jalan begitu mengenali sedan hitam tersebut.

​Maya dituntun naik menggunakan lift khusus menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka langsung menyajikan sebuah penthouse megah yang sangat luas.

Lantai marmernya mengkilap, dinding kaca raksasa memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian.

​Di sudut ruangan dekat jendela besar, Reza tampak berdiri santai. Pria itu sudah memegang segelas minuman dengan es batu yang gemerincing. Setelan jas mahalnya masih tampak rapi sempurna.

​"Tinggalkan kami," perintah Reza singkat begitu mendengar langkah kaki anak buahnya.

​Ketiga pengawal itu membungkuk hormat lalu melangkah mundur, meninggalkan Maya sendirian di dalam ruangan luas itu bersama sang bos mafia.

​Keheningan melingkupi mereka selama beberapa saat. Suara detak jarum jam dinding berdesing pelan di telinga Maya.

Reza membalikkan badan, melangkah perlahan mendekati Maya yang berdiri kaku memeluk ranselnya di depan pintu.

​"Duduklah, Maya," kata Reza lembut, namun ada nada perintah yang tidak bisa dibantah dalam suaranya.

​Maya memalingkan wajah, enggan menatap mata tajam pria itu. "Aku tidak mau duduk. Tolong katakan sebenarnya Tuan mau apa dari aku? Aku cuma orang kecil, aku tidak punya harta atau apa pun..."

​Reza menghela napas pelan. Pria itu berjalan menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan lalu mendudukkan dirinya dengan santai. Matanya kembali mengunci sosok Maya.

​"Kamu pikir aku membawa kamu ke sini untuk menyiksa kamu?" tanya Reza sambil meletakkan gelasnya di atas meja kaca.

​"Lalu apa?!" suara Maya meninggi, emosi dan rasa takutnya bercampur aduk. "Tuan menyuruh anak buah Tuan mendobrak pintu rumahku! Menakut-nakutiku! Itu bukan menyiksa namanya?!"

​"Itu cara saya memastikan kamu tetap hidup," balas Reza datar tanpa mengubah nada bicaranya.

​Maya mengerutkan keningnya, bingung dan marah. "Maksud Tuan apa?"

​Reza menyilangkan kakinya, menatap Maya dengan raut wajah sangat serius.

"Malam itu, di lorong belakang restoran, kamu bukan cuma tidak sengaja melintas. Kamu sudah melihat wajah-wajah orang dari kelompok lawan yang mencoba membunuh salah satu informan saya. Kamu pikir mereka akan membiarkan saksi mata berkeliaran bebas di luar sana?"

​Darah Maya rasanya membeku mendengarnya.

​"Mereka sudah tahu identitas kamu, Maya," lanjut Reza dingin.

"Mereka tahu kamu bekerja di mana dan di mana kamu tinggal. Anak buah saya yang mendobrak kamar kamu tadi sebenarnya terlambat lima menit dari kelompok lawan yang sengaja dikirim untuk membungkam kamu."

​Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak tak percaya. "G-gak mungkin... Tuan bohong kan? Tuan cuma takut aku adukan ke polisi!"

​"Polisi?" Reza terkekeh sinis. "Di dunia bawah, polisi cuma formalitas pembersih lapangan. Orang-orang yang kamu lihat malam itu tidak peduli pada hukum. Kalau kamu tetap tinggal di kamar kos sempit itu, malam ini dipastikan nama kamu sudah ada di berita duka."

​Air mata Maya kembali menetes. Lututnya melemah hingga ia hampir terjatuh, tapi dengan cepat ia menahan tubuhnya di sandaran kursi dekat pintu.

"Lalu... aku harus bagaimana? Kenapa Tuan harus peduli padaku?"

​Reza berdiri dari sofanya. Langkah kakinya yang tenang mendekati Maya.

Pria itu berhenti persis di depan Maya, menundukkan kepalanya sedikit agar matanya sejajar dengan pandangan mata Maya yang basah oleh air mata.

​"Karena malam itu kamu terseret gara-gara kamu ada di dekat saya," ucap Reza pelan.

"Dan saya tidak pernah membiarkan orang luar menjadi korban akibat urusan saya. Jadi, saya menawarkan sebuah kesepakatan. Perlindungan."

​"Perlindungan?" bisik Maya bingung.

​"Ya. Kamu tinggal di sini, di bawah pengawasan dan perlindungan saya. Semua kebutuhan kamu akan dipenuhi. Tidak ada seorang pun dari musuh saya yang bisa menyentuh kamu di tempat ini," jawab Reza mantap.

​Maya menggelengkan kepala cepat. "Tidak! Ini sama saja penjara! Aku tidak bisa hidup terkunci di sini bersama Tuan!"

​"Pilihannya cuma dua, Maya," potong Reza tegas dengan suara beratnya.

"Kamu menerima perlindungan dari saya dan tetap bernapas, atau kamu keluar dari pintu rumah ini sekarang juga dan menjadi target tembak musuh-musuh saya sebelum kamu sampai di jalan raya."

​Maya terpaku. Bibirnya gemetaran, menatap mata hitam kelam milik Reza yang sama sekali tidak memperlihatkan kebohongan.

Di tengah kepanikan dan kebingungan yang membakar pikirannya, tiba-tiba pintu utama rumah terbuka secara kasar.

​Seorang wanita cantik berparas anggun dengan gaun bermerek dan perhiasan mewah melangkah masuk dengan raut wajah penuh kemarahan.

​"Reza! Siapa wanita lusuh yang kamu bawa ke tempat ini?!" bentak wanita itu dengan suara melengking tajam.

​Bersambung...

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!