Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Orang Aneh
Hari pertama bekerja di Warung Makan Bu Asih berjalan sangat cepat. Galih mencurahkan seluruh tenaganya tanpa mengeluh sedikit pun. Mulai dari mengelap meja, menyapu lantai, membuang sampah, hingga mencuci tumpukan piring dan kuali bekas memasak. Koni yang bekerja di sisinya kerap melemparkan senyum apresiasi melihat kesigapan pemuda dua puluh tahun tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu hingga malam menjelang, Galih mulai menyadari satu hal yang cukup memprihatinkan. Warung makan itu tergolong sangat sepi. Dari sore hingga waktu tutup menjelang pukul sembilan malam, pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar meja kayu di bagian depan tetap kosong melompong.
Melihat sepinya pembeli, rasa iba perlahan menyusup ke dalam hati Galih. Ia kerap memperhatikan Pak Susilo dan istrinya, Bu Asih, yang duduk berdua di dekat etalase kaca. Bu Asih adalah sosok wanita paruh baya yang lembut dan keibuan. Meski wajah Pak Susilo selalu tampak cemberut dan bicaranya bernada ketus jika menegur pelanggan atau Koni, sikap pria tua itu pada istrinya justru sangat bertolak belakang.
Beberapa kali Galih mencuri pandang saat Pak Susilo dengan telaten menyendokkan es teh manis untuk istrinya, atau ketika tangan kekarnya mengusap pelan bahu Bu Asih yang tampak kelelahan. Nada bicara Pak Susilo saat mengobrol dengan Bu Asih begitu lembut, sangat jauh dari kesan gertakan yang tadi siang sempat membuat Galih gemetar.
Pemandangan sederhana itu menghangatkan dada Galih. Di tengah trauma mendalam atas perlakuan kasar ayahnya di rumah, melihat Pak Susilo memperlakukan Bu Asih dengan begitu penuh kasih sayang membuat sudut pandang Galih perlahan bergeser. Rasa ragunya mulai terkikis. Ternyata tidak semua laki-laki di dunia ini berotak kasar dan suka menggunakan kekerasan seperti Hilman. Masih ada pria sejati yang tahu cara menghormati dan menyayangi wanitanya dengan tulus.
Saat jam operasional berakhir dan seluruh gulungan tirai bambu di depan warung diturunkan, Pak Susilo memanggil Galih dan Koni ke meja kasir. Pria tua itu membuka laci kayu, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, lalu menyodorkannya pada mereka berdua.
"Ini jatah uang harian kalian. Terima kasih buat hari ini," ujar Pak Susilo singkat dengan nada datar khasnya.
Galih menerima selembar uang lima puluh ribu rupiah. Matanya membelalak pelan. Ia merasa belum memberikan kontribusi yang maksimal mengingat warung sangat sepi sepanjang sore, tetapi Pak Susilo tetap memberinya upah yang sangat layak untuk ukuran pekerja baru di hari pertama.
Koni menggamit lengan Galih, mengajak pemuda itu berjalan beriringan keluar dari warung menuju jalan raya setelah berpamitan pada Pak Susilo dan Bu Asih.
"Masing-masing lima puluh ribu ya, Lih?" tanya Koni membuka obrolan seraya menyalakan sebatang rokok.
"Iya, Mas Koni. Padahal warung sepi banget ya hari ini, tapi Pak Susilo tetap kasih segini. Jujur aku agak sungkan," jawab Galih polos.
Koni tertawa renyah, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Nggak usah sungkan, Lih! Memang sistem di sini dibayar harian. Lima puluh ribu itu tarif standar kalau warung lagi lengang. Tapi percaya deh sama aku, kalau pas hari-hari tertentu warung lagi ramai-ramainya, Pak Susilo tuh nggak pelit. Dia bisa kasih kita bonus sampai seratus ribu sehari."
"Wah, hebat ya Pak Susilo..." komentar Galih kagum.
Sembari menelusuri trotoar malam yang dingin, Galih dan Koni terus saling bertukar cerita. Dari percakapan itu, Galih baru tahu kalau Koni ternyata juga seorang perantau dari daerah lain yang mengadu nasib di kota demi memperbaiki taraf hidup keluarganya.
"Sebenarnya, bulan depan aku mau pindah kerja, Lih," ujar Koni tiba-tiba, membuat Galih menoleh heran. "Aku dapat tawaran jadi pelayan di sebuah kafe modern dekat area kampus. Gajinya lumayan, plus ada tips harian dari pengunjung."
"Wah, selamat ya, Mas Koni! Boleh dong aku diajak kalau ada lowongan lagi di sana?" sahut Galih penuh harap.
Koni menepuk bahu Galih dengan raut wajah agak menyesal. "Nah, itu dia masalahnya, Lih. Sebenarnya kemarin pas aku diterima, aku sempat nanya ke manajernya apa masih butuh orang lagi. Tapi katanya slot pegawainya udah pas banget, udah penuh. Tapi tenang aja, kalau nanti ada yang keluar atau ada posisi kosong, orang pertama yang bakal aku hubungi itu kamu."
"Makasih banyak ya, Mas Koni. Semoga sukses di tempat baru nanti," ucap Galih tulus.
Di persimpangan jalan, Koni berpisah jalur dengan Galih karena tempat tinggal mereka berbeda arah. Galih melangkah pulang sendirian menyusuri gang sempit menuju rumah kosannya. Rasa lelah di badannya terbayar tuntas oleh selembar uang lima puluh ribu rupiah di kantongnya. Ditambah sisa uang pemberian Aldi, kini Galih memiliki pegangan uang tunai yang cukup untuk menyambung hidup beberapa hari ke depan.
Sekitar pukul sepuluh malam, Galih memasuki pelataran rumah kostan campuran yang dinaungi pohon mangga besar itu. Suasana kosan sudah sangat lengang. Lampu-lampu koridor yang agak temaram memancarkan bayangan samar di sepanjang dinding papan kayu.
Galih melangkah pelan melintasi lorong menuju kamarnya di ujung bawah. Namun, saat berjalan melewati salah satu kamar yang berjarak dua pintu sebelum kamarnya, bukan kamar Indri maupun kamar Fika, langkah kaki Galih mendadak melambat.
Pintu kamar tersebut tampak sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup lebar. Di ambang pintu, duduk seorang lelaki bertubuh jangkung yang mengenakan kaos polos hitam. Lelaki itu tidak sedang memainkan ponsel atau merokok. Ia hanya duduk diam di atas kursi kayu kecil.
Begitu Galih melintas, mata lelaki itu langsung tertuju lurus pada Galih.
Galih yang merasa canggung berada di bawah tatapan intens itu mencoba tetap bersikap sopan sebagai penghuni baru. Ia menghentikan langkahnya sejenak, mengukir senyum ramah, lalu menganggukkan kepala sedikit. "Malam, Mas..."
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia terdiam selama dua detik sebelum bibirnya perlahan melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Malam..." balas lelaki itu dengan suara rendah dan terkesan sangat berat.
Meskipun lelaki itu akhirnya tersenyum dan membalas sapaannya, Galih justru merasakan sensasi aneh yang menjalar di tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri. Senyuman lelaki itu terasa terpaksa dan misterius, ditambah pandangan matanya yang tajam sama sekali tidak beralih dari wajah Galih, bahkan tidak berkedip. Ada aura ganjil yang terpancar dari cara pria itu menatapnya, seolah-olah sedang mengamati atau menilai sesuatu dari diri Galih.
Merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang mendadak mencekam itu, Galih bergegas melanjutkan langkahnya. Ia mempercepat ayunan kakinya hingga sampai di depan kamar, cepat-cepat merogoh kunci dari saku, dan memutar gagang pintu.
Sebelum benar-benar menginjakkan kaki masuk ke dalam ruangan, Galih sempat mencuri pandang melirik ke arah belakang melalui sudut matanya.
Dugaannya benar. Dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, lelaki berkaos hitam itu masih berdiri di ambang pintunya sendiri, memiringkan kepala, dan terus memperhatikan setiap gerak-gerik Galih dengan tatapan tanpa ekspresi yang tak lepas sedikit pun.
Srett... Blek!
Galih mendorong pintu kamarnya rapat-rapat lalu segera memutar kunci dari dalam. Ia menghela napas panjang, bersandar pada pintu kayu yang dingin seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.