Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Nama yang Diberikan Sebelum Dunia Ada
Gu Chen menatap tulisan di balik halaman terakhir itu cukup lama hingga tinta hitamnya mulai meresap ke dalam kulit buku.
GU YUAN BUKAN NAMA PERTAMAMU.
Kalimat itu seharusnya sederhana. Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin banyak hal yang terasa salah. Jika Gu Yuan bukan nama pertama ayahnya, mengapa buku itu mencatatnya sebagai pencipta identitas pertama? Jika Gu Yuan memang penciptanya, mengapa pria itu sendiri berkali-kali mengaku tidak mengetahui asal-usul identitas asli Gu Chen?
Dan yang paling mengganggu, mengapa semua catatan tentang mereka seolah sengaja dibuat agar saling bertentangan?
“Jangan sentuh halaman itu lagi,” ujar Gu Yuan.
Gu Chen mengangkat wajah. “Kau takut aku menemukan sesuatu, atau takut aku menemukan bahwa kau berbohong?”
Gu Yuan tidak langsung menjawab.
Di belakang mereka, Bai berdiri dengan satu tangan menekan dadanya. Sejak identitas ketiga terbangun melalui tubuhnya, kondisi pria itu belum benar-benar pulih. Lin Yue tetap berada di dekatnya, satu tangan menggenggam busur, matanya sesekali memeriksa lorong di belakang mereka.
Pemuda tanpa nama yang mengaku menciptakan kehidupan Gu Chen menatap buku tersebut dengan ekspresi muram.
“Aku pernah melihat tulisan seperti itu,” katanya akhirnya. “Bukan di buku ini. Di tempat lain, jauh sebelum aku menemukan sisa kehendakmu.”
“Tempat apa?”
“Aku tidak ingat.”
Gu Chen mendengus. “Kalian semua punya kebiasaan buruk. Mengaku mengetahui sesuatu, lalu tiba-tiba kehilangan ingatan saat ditanya.”
“Aku tidak sedang bercanda.”
“Aku juga tidak.”
Pemuda itu menatap Gu Chen. Untuk sesaat, wajah mereka tampak seperti dua pantulan dari cermin yang berbeda. Garis wajah sama, tetapi sorot mata mereka tidak. Gu Chen memandang dunia seolah setiap orang menyimpan pisau di balik punggungnya. Sementara pemuda itu terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama mencari jawaban dan mulai takut menemukannya.
“Ada satu hal yang belum kukatakan,” ujar pemuda itu. “Ketika aku menemukan sisa kehendakmu, aku tidak menemukannya sendirian.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Siapa yang bersamamu?” tanya Lin Yue.
“Tidak ada siapa-siapa. Setidaknya, itulah yang kuingat.” Pemuda itu mengusap pelipisnya. “Namun, di samping sisa kehendak Gu Chen terdapat sebuah nama. Nama itu tertulis pada permukaan yang tidak bisa kuhancurkan.”
Gu Chen menutup buku perlahan. “Nama siapa?”
“Aku tidak bisa membacanya.”
“Kalau begitu, bagaimana kau tahu itu sebuah nama?”
“Karena benda itu bereaksi ketika aku mencoba menyebut nama Gu Chen.”
Lonceng hitam di tangan Gu Chen bergetar.
Bukan bunyi nyaring seperti sebelumnya. Hanya getaran kecil yang terasa sampai ke tulang jarinya. Retakan pada permukaan lonceng memancarkan cahaya keperakan, lalu padam kembali.
Sebuah tulisan muncul di halaman buku yang tadi sudah ditutup.
\[CATATAN TAMBAHAN TERDETEKSI.\]
\[AKSES DITOLAK.\]
\[ALASAN: PEMILIK NAMA BERADA DI LUAR RUANGAN.\]
Gu Chen segera menoleh ke pintu.
Lorong putih di luar masih kosong. Tidak ada langkah kaki, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada perubahan pada cahaya yang memenuhi tempat itu.
Namun, lonceng di tangannya bergetar lagi.
Kali ini, dari balik pintu terdengar suara seorang anak kecil.
“Gu Chen.”
Lin Yue mengangkat busurnya.
Bai mundur setengah langkah. Wajahnya yang pucat mendadak kehilangan warna.
Gu Chen memperhatikan reaksi mereka. “Kalian mengenal suara itu?”
“Tidak,” jawab Lin Yue.
Bai justru menggeleng pelan. “Aku mengenalnya.”
“Siapa?”
Bai membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar. Ia mencengkeram kepalanya, seolah ada sesuatu yang berusaha merobek ingatannya dari dalam.
“Jangan biarkan dia menyebut nama itu,” desisnya.
“Nama siapa, Bai?”
“Nama yang pernah diberikan kepadamu sebelum Gu Yuan menemukanmu.”
Suara anak kecil di luar pintu terdengar lagi.
“Gu Chen, kau masih ingat janjimu?”
Untuk pertama kalinya sejak memasuki tempat itu, Gu Chen tidak segera membalas dengan sindiran.
Ada sesuatu pada suara tersebut. Bukan karena terdengar akrab, melainkan karena bagian terdalam dirinya seolah sudah menunggu panggilan itu selama waktu yang sangat panjang.
Ia melangkah menuju pintu.
Gu Yuan langsung mencengkeram lengannya.
“Jangan keluar.”
Gu Chen menatap tangan yang menggenggamnya, kemudian wajah pria yang selama ini ia panggil ayah.
“Kalau kau memang ingin melindungiku, berhentilah memperlakukanku seperti benda yang bisa disimpan di dalam kotak.”
“Aku tidak sedang melindungimu dari anak itu.”
“Lalu dari apa?”
Gu Yuan menatap lorong di balik pintu.
“Dari kemungkinan bahwa anak itu adalah dirimu yang sebenarnya.”
Tak seorang pun bergerak.
Gu Chen perlahan melepaskan tangan Gu Yuan.
“Kalau begitu, sudah saatnya aku bertemu dengannya.”
Ia membuka pintu.
Di luar, seorang anak laki-laki berdiri membelakangi mereka. Rambutnya hitam, pakaiannya sederhana, dan tubuhnya tampak tidak lebih dari tujuh tahun. Di tangan kirinya tergenggam sebuah lonceng hitam yang bentuknya sama persis dengan milik Gu Chen.
Namun, lonceng itu tidak retak.
Anak tersebut berbalik.
Wajahnya adalah wajah Gu Chen.
Bukan wajahnya saat ini, melainkan wajah yang mungkin dimilikinya seandainya ia tidak pernah tumbuh dewasa.
Anak itu tersenyum kecil.
“Kau terlambat,” katanya.
Gu Chen tidak menghunus senjata. Ia hanya menatap anak tersebut dengan hati-hati.
“Siapa kau?”
Anak itu mengangkat loncengnya.
“Aku adalah orang yang memberimu nama.”
Tulisan muncul di udara di antara mereka.
\[PEMILIK NAMA PERTAMA TELAH DITEMUKAN.\]
\[IDENTITAS: TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI.\]
\[STATUS: SUDAH MATI.\]
Senyum anak itu tidak berubah.
“Jangan percaya tulisan itu, Gu Chen. Mereka sudah membunuhku berkali-kali.”
Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat lorong putih berubah menjadi hitam, seolah warna dunia sedang ditelan oleh bayangannya.
“Dan setiap kali aku mati, seseorang mengambil bagian dari dirimu untuk menggantikanku.”
Gu Chen merasakan lonceng di tangannya semakin berat.
“Siapa yang membunuhmu?”
Anak itu berhenti tepat di hadapannya.
Di balik mata hitamnya, Gu Chen melihat bayangan sebuah kota yang terbakar. Sembilan papan raksasa melayang di atas langit. Para pemain berdiri mengelilingi sebuah meja, sementara seorang pria berambut putih berlutut di tengah lingkaran.
Pria itu mengangkat kepala.
Wajahnya adalah wajah Gu Chen.
Namun, kali ini tidak ada keraguan tentang siapa yang sedang dilihatnya.
Itu adalah dirinya sendiri.
Anak kecil di hadapannya berbisik, “Kau yang membunuhku.”
Gu Chen membeku.
“Tidak mungkin.”
“Aku tahu. Kau selalu mengatakan itu setiap kali mengingatnya.”
Anak itu mengulurkan tangan, menyentuh dada Gu Chen tepat di atas jantungnya.
“Namun, ada satu hal yang tidak pernah mereka ceritakan kepadamu.”
Retakan tipis muncul di udara.
Jauh di luar Ruang Sebelum Ada, sesuatu yang tidak tercatat dalam sembilan papan membuka matanya.
Anak itu menatap Gu Chen dengan kesedihan yang terlalu tua untuk wajah sekecil itu.
“Orang yang membunuhku bukanlah orang yang ingin mengambil namamu. Bukan pula Gu Yuan, bukan Bai, dan bukan Pemain Pertama.”
“Lalu siapa?”
Anak itu mendekatkan bibirnya ke telinga Gu Chen.
“Orang yang membunuhku adalah orang yang menciptakan dunia tempat kau dilahirkan.”
Seketika, seluruh ruangan bergetar.
Buku hitam di belakang mereka terbuka sendiri. Halaman-halamannya terbalik dengan cepat, berhenti pada sebuah lembar kosong yang perlahan dipenuhi tulisan merah.
\[PERINGATAN MUTLAK.\]
\[PENCIPTA DUNIA TELAH MENGETAHUI LOKASI SUBJEK.\]
\[SEMUA JALUR KELUAR DITUTUP.\]
Dari kejauhan terdengar suara sembilan pintu dibanting serentak.
Bai jatuh berlutut. Lin Yue berusaha menariknya menjauh, sementara Gu Yuan berdiri di ambang pintu dengan wajah yang belum pernah Gu Chen lihat sebelumnya.
Wajah seorang pria yang akhirnya menyadari bahwa rencana panjangnya telah gagal.
“Tidak,” gumam Gu Yuan. “Seharusnya dia belum bisa menemukan tempat ini.”
Gu Chen menoleh tajam. “Kau tahu siapa yang datang?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki.
Satu langkah.
Kemudian langkah kedua.
Seseorang berjalan mendekati mereka tanpa tergesa-gesa. Bayangannya belum terlihat, tetapi setiap kali langkahnya terdengar, satu pintu di sepanjang lorong menghilang seolah tidak pernah ada.
Anak kecil di hadapan Gu Chen menggenggam loncengnya erat-erat.
“Sekarang kau harus memilih,” katanya.
“Memilih apa?”
“Mempercayai orang yang memberimu kehidupan, atau orang yang memberimu nama.”
Gu Chen menatap anak itu, lalu menoleh kepada Gu Yuan.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kedua pilihan itu mungkin sama-sama merupakan jebakan.
Langkah kaki semakin dekat.
Anak kecil itu mulai memudar. Sebelum lenyap sepenuhnya, ia menyelipkan sesuatu ke telapak tangan Gu Chen: sepotong papan hitam seukuran kuku, dengan satu ukiran kecil di permukaannya.
Bukan lambang sembilan garis.
Bukan lingkaran kosong.
Melainkan sebuah mata yang dicoret hingga tak lagi bisa melihat.
“Jangan biarkan dia menyebut namamu,” bisik anak itu. “Kalau dia berhasil, semua kehidupanmu akan menjadi miliknya.”
Anak itu lenyap.
Pada saat yang sama, sosok di ujung lorong akhirnya muncul.
Ia mengenakan jubah putih sederhana. Rambutnya hitam, wajahnya biasa saja, dan matanya tampak begitu tenang hingga sulit dipercaya bahwa kehadirannya baru saja menghapus sembilan pintu dari keberadaan.
Gu Chen mengenal wajah itu.
Ia pernah melihatnya di dalam arsip, di balik cermin, dan pada halaman terakhir buku tentang penciptaan identitas.
Namun, kali ini pria tersebut tidak menyembunyikan wajahnya.
Ia tersenyum kepada Gu Chen.
“Sudah lama sekali, Nak.”
Gu Yuan segera berdiri di depan Gu Chen.
“Jangan panggil dia begitu.”
Pria berjubah putih itu mengabaikannya. Tatapannya tetap tertuju kepada Gu Chen.
“Aku datang untuk mengambil kembali sesuatu yang sejak awal bukan milikmu.”
Gu Chen menggenggam lonceng hitam dan potongan papan di tangannya.
“Kalau kau datang untuk mengambil namaku, antre saja. Sudah banyak orang mencobanya.”
Pria itu tertawa pelan.
“Aku tidak menginginkan namamu.”
Senyumnya menghilang.
“Aku menginginkan hak untuk menentukan siapa dirimu.”
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pesan muncul bukan di udara, bukan di buku, melainkan langsung di dalam kesadaran Gu Chen.
\[PEMAIN TELAH MEMASUKI PAPAN KESEPULUH.\]
\[PENGAMAT TIDAK DAPAT MENARIK DIRI.\]
\[PERMAINAN TERAKHIR DIMULAI.\]
Gu Chen mengangkat pandangannya.
Di balik pria berjubah putih itu, ia melihat bayangan sebuah papan catur yang jauh lebih besar daripada seluruh papan yang pernah ia temui.
Papan itu tidak memiliki sembilan garis.
Tidak memiliki petak.
Tidak memiliki bidak.
Hanya ada satu ruang kosong di tengahnya.
Dan di ruang kosong itu, tertulis sebuah nama yang membuat lonceng di tangannya berhenti bergetar.
GU CHEN.