“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
"Pak Surya, tunggu!" seru Wina menghentikan langkah sang sopir.
Pak Surya yang sudah tertunduk lesu menuju gerbang langsung terhenti. Ia berbalik perlahan dengan bahu masih merosot. "Iya, Nyonya?"
"Jangan pergi dari rumah ini," ucap Wina menghampirinya dengan dagu terangkat angkuh, kedua tangannya bertolak pinggang menatap sinis.
Pak Surya tampak bingung dan serba salah. "Tapi, nyonya Arunika barusan sudah memecat saya secara tidak hormat."
Wina mendengus sinis, melambaikan tangan meremehkan.
"Memangnya siapa Arunika sampai berani memecatmu, hah? Dia itu baru sehari tinggal di rumah ini, tapi sudah berani bertingkah sok jadi majikan besar."
Ratna yang sejak tadi berdiri di teras rumah ikut menyeringai penuh kemenangan.
"Benar kata Wina, Pak Surya. Jangan terlalu mendengarkan omongan perempuan asing itu."
Wina tersenyum miring penuh ambisi. "Dia itu belum tahu siapa yang berkuasa di sini. Kalau Arjuna pulang nanti, justru perempuan gendut itulah yang akan kami usir dari rumah ini."
Pak Surya menelan ludah dengan susah payah.
"Tapi, saya memang melakukan kesalahan besar, Nyonya. Saya meninggalkan tuan muda Nakula sendirian di sekolah dalam keadaan terluka parah. Semua karena saya takut pada tuan muda Damar."
Wina langsung memotong ucapannya dengan nada membela diri. "Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Kau sudah bekerja setia di rumah ini belasan tahun. Masa iya hanya gara-gara kesalahan kecil begitu langsung dipecat? Tenang saja, Pak. Nanti kalau Arjuna pulang, biar aku sendiri yang bicara langsung dengannya."
Ratna mengangguk mantap memperkuat ucapan putrinya. "Arjuna itu anak yang paling menghormati keluarganya. Dia pasti akan lebih mendengarkan kami daripada perempuan itu."
Pak Surya hanya mampu mengangguk pelan karena terjepit situasi. "Baik, Nyonya..."
Meski begitu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, muncul perasaan tidak tenang yang teramat sangat. Ia sadar sepenuhnya, apa yang dilakukannya hari ini bukanlah sekadar kesalahan kecil. Ia telah meninggalkan seorang anak kecil yang sedang terluka, sendirian di tengah amukan badai hujan. Kesalahan itu terlalu besar.
Di sisi lain halaman, Damar berlari kecil menghampiri ibunya dengan wajah penuh kebanggaan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ma! Apa tadi aku keren banget?" tanya Damar girang.
Wina tersenyum sangat lebar menyambut putranya. Ia mengusap kepala Damar dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja sayang. Kamu adalah anak Mama yang paling pintar dan hebat."
Damar terkekeh senang. "Tadi Nakula benar-benar tidak bisa pulang karena kutinggal. Dia pasti basah kuyup kedinginan di sana."
"Biar saja," sahut Wina dingin tanpa secuil pun rasa bersalah. "Sesekali anak pembawa sial itu memang harus kena batunya biar tahu rasa."
Ratna ikut tertawa pelan di samping mereka. "Bagus sekali. Biar dia sadar kalau di rumah ini, dia bukan siapa-siapa dan tidak ada yang melindunginya."
Damar mengangguk penuh semangat. "Besok-besok aku kerjain dia lagi ya, Ma, biar kapok?"
"Boleh saja, tapi ingat, jangan sampai ketahuan Paman Arjuna," pesan Wina mengingatkan.
Damar menyeringai jahat. "Tenang saja, Ma. Paman tidak akan pernah percaya pada anak cengeng itu."
Ratna mengangguk puas. "Itulah untungnya anak itu terlalu penakut. Dia tidak akan pernah punya nyali untuk mengadu pada ayahnya."
Ketiganya tertawa bersama di teras, merasa seolah-olah telah memenangkan sebuah permainan kejam.
*
*
*
Sementara di luar sana, hujan tak kunjung mereda, bahkan semakin lebat mengguyur jalanan kota. Mobil yang dikemudikan Arunika membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali matanya menyapu tajam setiap halte bus, taman kota, dan sudut-sudut jalan yang mungkin dijadikan tempat berteduh oleh Nakula.
"Nakula, di mana kamu sebenarnya, Sayang?" gumam Arunika.
Semakin lama waktu berjalan, dadanya terasa semakin sesak. Bayangan wajah bocah kecil itu yang penuh luka lebam dan darah kering terus menghantui kepalanya.
"Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya... Jangan sampai aku terlambat menemukannya."
Matahari telah tenggelam sepenuhnya. Langit berubah gelap gulita, hanya diterangi oleh pendar lampu jalan yang memantulkan cahaya di genangan air hujan.
Tiba-tiba di kejauhan, Arunika melihat ada kerumunan orang berkerumun di sebuah halte bus yang sepi. Entah mengapa, firasat buruk langsung menghujam jantungnya. Tanpa pikir panjang, ia menginjak pedal rem mendadak.
Mobil berhenti melintang tepat di pinggir jalan. Arunika bahkan tidak sempat mematikan mesin kendaraannya. Ia membuka pintu dan langsung berlari menerobos derasnya hujan menuju kerumunan orang tersebut.
"Tolong minggir... beri jalan!" teriak Arunika panik setengah mati.
Orang-orang yang berkerumun langsung terkesiap dan memberinya jalan. Dan detik berikutnya, dunia Arunika seolah berhenti berputar.
Di atas bangku halte yang terbaring tubuh kecil Nakula. Wajah bocah itu tampak sangat pucat pasi tanpa sisa warna. Seragam sekolahnya basah kuyup. Pelipisnya membiru lebam, sudut bibirnya masih menyisakan jejak darah kering, sementara tubuh mungilnya menggigil hebat meski kini sudah terkulai tak sadarkan diri.
"Nakula!" pekik Arunika histeris. Ia langsung menjatuhkan diri berlutut di genangan air, memeluk tubuh kaku itu erat-erat ke dalam dekapannya. Tubuh Nakula terasa sangat dingin seperti es. Air mata Arunika luruh seketika tanpa mampu ia tahan lagi.
Seorang wanita paruh baya yang tadi ikut menunggui menatap Arunika dengan wajah penuh prihatin.
"Ibu, lain kali anaknya dijaga yang benar. Kasihan sekali dari tadi dia pingsan sendirian di sini."
"Iya, benar kata Ibu ini," sahut seorang pria di sampingnya. "Dari tadi sore dia sudah duduk sendirian di sini dalam keadaan terluka. Mana hujannya deras sekali. Tadi sempat berdiri sebentar sebelum akhirnya jatuh pingsan."
Setiap kalimat penuturan itu terasa bagaikan ribuan jarum tajam yang menusuk jantung Arunika. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas kepala bocah itu.
"Iya, maafkan saya. Terima kasih banyak... terima kasih karena sudah menolong anak saya."
Tak ada niat sedikit pun dari Arunika untuk membela diri atau mencari alasan. Baginya, penjelasan apa pun di dunia ini tak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa Nakula telah menderita sendirian dalam kesakitan.
Arunika perlahan mengangkat tubuh Nakula ke dalam gendongannya. Meski tubuhnya sendiri basah kuyup, ia mendekap bocah itu dengan sangat hati-hati, seolah tengah memegang harta paling berharga di muka bumi.
"Nakula, bertahanlah, Nak. Mama sudah di sini bersamamu." Ia berlari tergopoh-gopoh kembali menuju mobilnya. "Mama janji, orang-orang yang sudah membuatmu seperti ini akan Mama buat mempertanggungjawabkan perbuatan mereka satu per satu."