Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Wajah yang Tak Boleh Kulihat
Cahaya pagi perlahan menyusup melalui celah tirai.
Alisha bergerak kecil dalam tidurnya. Keningnya mengernyit ketika menyadari ada sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya. Tubuhnya tidak terasa tegang seperti semalam, bahkan terlalu nyaman hingga enggan untuk segera bergerak.
Ia mengingat malam sebelumnya. Kemudian ia menyadari sesuatu. Pelukan. Alisha perlahan membuka matanya, tetapi yang terlihat hanya gelap karena penutup mata masih terpasang.
Tangannya bergerak sedikit dan menyentuh lengan seseorang. Alisha langsung membeku. Ares. Ia berada dalam pelukan pria itu.
Alat bantu dengar yang semalam tidak ia lepas menangkap suara napas Ares yang teratur. Dan di balik dada tempat pipinya bersandar, detak jantung itu pelan tetapi mantap. Suara-suara kecil itu terdengar terlalu dekat.
Aneh. Seharusnya ia merasa tidak tenang. Namun tubuhnya justru terasa rileks.
Pipi Alisha perlahan memanas ketika menyadari satu hal lagi. Ia masih mengenakan gaun pengantin semalam. Sementara Ares hanya mengenakan boxer.
“Ya ampun...” gumamnya nyaris tanpa suara.
Gerakan kecil itu membuat Ares ikut terbangun. Pria itu membuka mata. Hal pertama yang dirasakannya adalah tubuh yang berada dalam pelukannya. Alisha.
Ares tidak langsung bergerak. Kepalanya terasa jauh lebih ringan. Tubuhnya benar-benar rileks. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali tidur tanpa terbangun berkali-kali.
Tatapannya jatuh pada rambut Alisha yang berada begitu dekat dengan wajahnya. Aroma tubuh perempuan itu tercium jelas. Tidak ada rasa mual. Tidak ada dorongan untuk menjauh. Justru aroma itu terasa menenangkan.
Selama bertahun-tahun, kedekatan dengan perempuan selalu membuat tubuhnya menolak. Tetapi sekarang?
Ketika Alisha bergerak sedikit, lengan Ares justru refleks mengencang di pinggangnya. Baru sedetik kemudian ia sadar dan perlahan mengendurkannya.
Alisha menangkap perubahan napas pria itu, yang tertahan sesaat.
Keduanya diam. Tidak ada yang tahu harus mengatakan apa.
Alisha akhirnya memecah kecanggungan. “Tuan Ares...”
“Hmm?”
“Boleh saya...” Alisha berhenti.
“Boleh apa?”
Alisha menelan ludah. “Boleh saya duduk dulu?”
Ares terdiam beberapa detik. “Silakan.”
Pelukan Ares akhirnya terlepas. Alisha segera bergeser menjauh, lalu duduk di tepi ranjang sambil merapikan gaunnya. Di belakangnya, Ares juga bangkit.
Alisha masih duduk di tepi ranjang ketika akhirnya memberanikan diri bertanya. “Kalo begitu... sekarang saya boleh pergi?”
Ares yang sedang mengenakan pakaiannya menoleh. “Ini hari libur. Kamu mau ke mana?”
“Nemenin adik saya.” Alisha terdiam sebentar. “Tapi kalo Tuan memang mau saya tetep di sini, saya bisa—”
“Kamu boleh pergi.” Jawaban Ares memotong kalimatnya.
Alisha sedikit terkejut.
Ares melanjutkan, “Kalo aku butuh kamu, ntar aku hubungi.”
Alisha mengangguk. “Baik.”
Ares mengambil jam tangannya. “Dan soal adikmu, akan kuatur agar dipindah ke kamar VIP.”
“Jangan.” Jawaban Alisha terdengar spontan.
Ares menoleh. “Kenapa?”
“Kamar VIP mahal.”
“Aku yang bayar.”
“Bukan soal itu.” Alisha menggeleng. “Adik saya gak tau kalo saya udah nikah. Dia juga gak tau biaya pengobatannya sekarang dari Tuan.”
Ares terdiam.
“Kalo tiba-tiba dipindahin ke kamar VIP, saya harus jelasin dari mana uangnya. Saya gak mau dia curiga.”
Beberapa saat Ares memerhatikannya. “Oke. Tetep di kamar yang sekarang.”
Alisha mengangguk lega.
“Tapi obat, perawatan, dan dokternya akan aku atur. Dia bakal dapet penanganan terbaik.”
Alisha mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Ares hendak mengambil jasnya ketika Alisha kembali teringat sesuatu.
“Tuan Ares.”
“Hmm?”
“Surat pernikahan kita dari penghulu... bolehkah saya simpan?”
Ares menoleh. “Buat apa?”
“Saya ingin pegang bukti kalo kita benar-benar nikah.” Alisha menarik napas. “Raka udah remaja dan cukup cerdas. Kalo biaya pengobatannya lancar tapi saya hanya kerja jadi staf, cepat atau lambat dia bakalan curiga. Saya gak mau dia mikir kalo saya melanggar prinsip saya demi dia. Kalo nanti semuanya gak bisa disembunyikan lagi, setidaknya saya punya bukti.”
Ares menatapnya beberapa saat. “Oke.”
Ia mengambil map dari meja. Namun sebelum menyerahkannya, Ares membukanya terlebih dahulu. Di salah satu lembar terdapat foto kedua mempelai yang ditempel berdampingan.
Ares menatap foto dirinya sendiri. Jarinya sempat berhenti di tepi foto itu sebelum akhirnya mengelupasnya tanpa mengatakan apa pun, seolah sudah dipikirkannya sejak awal. Setelah memastikan tidak ada bagian dirinya yang tersisa, ia menyerahkan map tersebut kepada Alisha.
Alisha menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih.”
Ares tidak menjawab. Ia hanya mengambil jasnya. “Kalo aku manggil kamu, kamu langsung datang ke sini.”
“Iya.”
Ares berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti. “Dan satu lagi.”
Alisha menoleh ke arah suaranya.
“Jangan buka matamu kalo aku belum pergi.”
Alisha mengangguk. “Saya mengerti.”
Langkah Ares menjauh, lalu berhenti di dekat pintu. Sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Alisha menahan napas, menunggu. Kemudian pintu dibuka, lalu ditutup kembali.
Baru setelah yakin tidak ada suara langkah di luar, Alisha mengembuskan napas panjang. Tangannya perlahan meraih penutup mata dan membukanya.
Cahaya pagi langsung menyambut pandangannya. Ia berkedip beberapa kali, lalu menyentuh alat bantu dengarnya yang terasa hangat setelah semalaman terpasang, menggesernya agar lebih nyaman.
Pandangan Alisha jatuh pada map di tangannya. Ia membukanya. Dahinya berkerut. Hanya ada foto dirinya, dengan mata tertutup kain hitam. Di sisi yang seharusnya terdapat foto Ares, hanya tersisa bekas potongan yang terlihat jelas.
Alisha menyentuh bagian kosong itu. “Dia benar-benar gak mau aku tau wajahnya.”
Ia mengernyit. “Kenapa? Apa dia jelek? Atau udah tua?”
Tapi dari suaranya, pria itu terdengar masih muda. Dan tubuhnya...
Pipi Alisha seketika memanas. Ia teringat bagaimana semalam dirinya sempat memegang lengan Ares ketika memastikan pria itu benar-benar suaminya. Belum lagi saat tanpa sadar ia tidur dalam pelukannya dan bersandar pada dada pria itu. Bidang, keras, sepertinya cukup berotot.
Alisha cepat-cepat menggeleng. “Kenapa malah mikirin itu sih?”
Tok. Tok.
Lamunannya langsung buyar. Alisha buru-buru menutup map itu dan menoleh ke arah pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Pria yang kemarin menyambutnya berdiri di ambang pintu. Alisha bergeser sedikit agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya Darto, pengurus rumah ini."
Nyonya. Alisha nyaris menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang dimaksud.
"Selamat pagi, Pak Darto."
Pak Darto mendekat, menyerahkan sebuah kartu akses. "Ini untuk pintu rumah. Pakaian di lemari sudah disiapkan untuk Nyonya, termasuk perlengkapan mandi dan makeup. Tuan Ares yang memerintahkan."
Alisha menatap lemari itu. "Semuanya... untuk saya?"
"Kalo Nyonya gak datang tiap hari, barang-barangnya boleh dibawa pulang. Dan kalo Nyonya mau pulang sekarang, saya siapkan sopir."
"Gak perlu, Pak. Saya naik ojek online aja."
Pak Darto terdiam. Alis kirinya terangkat sedikit sebelum buru-buru ia turunkan. "Ojek... online, Nyonya?"
"Iya. Lebih praktis." Alisha tersenyum. "Saya bersiap dulu ya, Pak."
Pak Darto menunduk sopan, lalu menutup pintu. Dari balik pintu, samar terdengar ia bergumam pada dirinya sendiri. "Sederhana sekali..."
...✨“Kadang, seseorang tidak perlu menunjukkan wajahnya untuk membuat kita merasa aman. Cukup dengan caranya menjaga, memenuhi janji, dan menghormati batas yang kita miliki.”✨...
.
To be continued
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏