Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Umur 25 , Liga Jepang, dan Anak Kecil Di Tikala Yg Minta Sepatu No 40
Umur 25 tahun. Tahun 2033.
Bima Arka Pradipta sudah 6 tahun berada di Jepang.
Ventforet Kofu , Yokohama F Marinos. Sekarang berada di Celtic Glasgow , Skotlandia , pinjaman dari Marinos. Main di liga champions. Lawan Barcelona pernah. Tendangan bebas 28 meter lawan Barca , masuk. Masuk highlight UEFA.
Gaji : 1,2 Miliar per bulan. Sudah tidak dihitung pakai rupiah Tuminting lagi. Dihitung pakai Yen dan Pound.
Rumah di Tuminting sudah tingkat 2. Bapak sudah tidak pakai tongkat lagi , operasi kedua berhasil dibiayai oleh Bima. Ibu sudah membuka warung tinutuan tetap , tidak lagi jualan keliling.
Sinar Bima masih ada di depan rumah. Jadi tempat foto turis. Manado Post tulis "Museum Perahu Janji Anak Nelayan yang main di Liga Champions."
Libur musim dingin di Skotlandia. Desember. Bima pulang. Bukan naik Lion Air transit Manado seperti dulu. Sekarang naik Singapore Airlines Business.
Dia pulang pakai jaket tebal Celtic. Dingin Manado tidak seberapa dibanding Glasgow.
Dia ke lapangan Tikala sore - sore. Lapangan tempat pertama kali dia bermain dengan bola jelek.
Lapangan masih sama. Rumput liar , lumpur kalau hujan , dan gawang kayu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada karpet sintetis Sawangan.
Di sana ada anak - anak kecil bermain bola. Umur 9 - 10 tahun. Tidak pakai sepatu.
Satu anak , bertubuh kurus , berkulit hitam , rambut keriting , pakai celana pendek sobek , tidak pakai baju , dan lagi tendang bola plastik.
Bima duduk di pinggir lapangan. Tidak ada yang kenal dia pakai jaket tebal. Karena anak - anak itu tidak menonton Liga Champions. Mereka nonton Liga Tarkam.
Bima panggil anak itu.
"Eh , namamu siapa ?"
Anak itu menjawab "Ronald , Kak."
"Umur ?"
"10 tahun."
"Posisi apa ?"
"Sayap kiri , Kak. Sama seperti Kakak waktu main di Tikala."
Bima kaget. "Kau tahu tentang saya ?"
Ronald mengangguk. "Tahu. Bapak saya Joshua. Joshua yang dulu no 10 di Manado United."
Bima terdiam. 15 tahun yang lalu , dia dan Joshua berantem rebutan bola jelek. Sekarang anak Joshua main di lapangan yang sama.
Bima melihat kaki Ronald. Tidak pakai sepatu. Kaki pecah - pecah karena terkena lumpur Tikala.
"Sepatumu ukuran berapa , Ronald ?"
"40 , Kak. Tapi tidak punya."
Bima membuka tasnya. Di tasnya , dia selalu bawa satu barang sejak umur 18 tahun , yaitu sepatu Specs Lightspeed pertama pemberian toko Megamas. Sepatu yang sudah tipis solnya , yang dipakai di trial Sawangan , yang dipakai di debut Liga 1. Ukuran 40. Kebesaran waktu umur 16 tahun , sekarang kekecilan untuk umur 25 tahun.
Sepatu itu tidak pernah dia buang. Selalu dibawa kemanapun dia pergi.
Bima kasih sepatu itu ke Ronald.
"Ini untukmu. Ukuran 40. Dulu punyaku kebesaran. Sekarang untukmu pas."
Ronald pakai. Kebesaran sedikit. Sama seperti Bima dulu waktu pakai sepatu no 39 kebesaran pada umur 12 tahun.
Ronald berlari. Tendang bola plastik. Gol.
Bima melihat dari pinggir lapangan.
Dia ambil bola jelek dari Sinar Bima. Bola yang sudah tidak bisa dipompa sejak 10 tahun lalu. Dia bawa ke Tikala.
Dia taruh di tengah lapangan.
Dia panggil semua anak Tikala sebanyak 12 anak.
Dia berkata
"Dulu , waktu umur 8 tahun , saya pernah janji di atas perahu yang bocor sama Bapak. Saya mau menjadi pemain timnas dan beli perahu baru."
"Janji itu sudah lunas."
"Sekarang saya mau bikin janji baru sama kalian. Siapa yang bisa tendang bola ini dari jarak 15 meter dan kena tiang gawang kayu itu , saya akan belikan sepatu baru dan saya bayar sekolah bolanya sampai ke Manado United."
12 anak mencoba. 11 gagal.
Ronald , anak Joshua , yang terakhir. Pakai sepatu Specs Lightspeed kebesaran pemberian Bima.
Dia mundur 4 langkah. Seperti Bima dulu mundur 4 langkah di Sawangan.
Dia tendang. Bukan tendangan pisang raja. Tapi tendangan lurus.
Kena tiang. Masuk.
Bima tertawa. Tertawa keras. Sama seperti Bapak tertawa pada waktu perahu yang bocor ditambal.
Bima peluk Ronald.
"Besok kau ikut saya ke Manado United. Saya yang bayar."
Di atas lapangan Tikala yang berlumpur itu , Bima melihat ke langit. Tidak ada lampu stadion GBK. Tidak ada salju Glasgow. Cuma langit Manado yang mau hujan.
Di langit itu , dia melihat Sinar Mira yang sudah tenggelam di Bitung , Sinar Bima yang ada di depan rumah , dan perahu - perahu bagang yang sorot lampunya jauh bergerak di atas laut.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya
Happy reading