NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Kegelapan luar jendela merayap makin pekat, menenggelamkan ruangan dalam nuansa remang dan sepi.

Gladys masih terbaring kaku di atas tempat tidur dengan matanya yang sembap menatap kosong ke langit-langit kamar.

Sisa isak tangisnya dari sore tadi masih menyisakan denyut nyeri di kepalanya.

Ceklek!

Suara engsel pintu yang berputar memecah kesunyian. Gladys tersentak pelan, mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Sosok Raka melangkah masuk. Pria itu sudah mengganti kemeja serba hitamnya, namun guratan duka dan keletihan ekstrem masih tercetak jelas di wajah tampannya.

Raka berjalan mendekat, lalu berdiri kaku tepat di hadapan tempat tidur Gladys.

Posturnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan dingin yang mengintimidasi.

"Aku sangat mencintai istriku," ucap Raka membuka suara.

Suaranya terdengar begitu datar, dingin, dan menusuk, seolah digoreskan langsung dari kehampaan hatinya.

Gladys perlahan mendudukkan dirinya, menatap Raka tanpa sanggup membalas sepatah kata pun.

"Aku tidak tahu bagaimana Dewi bisa memintamu untuk menikah denganku."

Raka menghela napas panjang, tatapannya menerawang kencang menembus dinding di belakang Gladys.

"Tapi, aku menikahimu hanya untuk kebahagiaan mendiang istriku. Hanya demi memenuhi janji terakhir padanya."

Pria itu merundukkan pandangannya, mengunci manik mata Gladys dengan tatapan tegas yang tanpa kompromi.

"Kamu jangan salah paham denganku. Kamu akan mendapatkan seluruh kehormatan di rumah ini sebagai seorang istri. Hak-hakmu tidak akan aku kurangi. Namun dalam hubungan ini, hanya akan ada rasa hormat, bukan cinta."

Setitik rasa perih menyeruak di dada Gladys, menembus dinding hatinya yang sudah remak sejak pagi.

"Semakin sedikit yang kamu harapkan padaku, semakin sedikit penderitaanmu," lanjut Raka dingin.

"Aku harap kamu bisa lebih berbesar hati, dan seiring berjalannya waktu, kamu akan memaafkan aku atas ketidakmampuanku ini."

Raka terdiam sebentar, menatap Gladys dengan raut wajah yang tak tersentuh emosi sebelum memberikan satu perintah akhir.

"Dan besok, keluarlah dari pekerjaanmu."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Gladys untuk merespons atau sekadar mencerna perintah itu, Raka memutar tubuhnya.

Ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkahkan kaki beratnya menyusuri koridor menuju kamar utama—kamar yang dulu ia huni bersama almarhumah Dewi.

Gladys termenung sendirian di atas tempat tidur yang dingin.

Perkataan Raka bergema berulang kali di benaknya bagai vonis hukuman mati.

Di rumah ini, ia dihadiahi status dan kehormatan, namun harus mengubur rapat-rapat harapan akan sebuah cinta.

Sementara itu di tempat lain, ketegangan berhembus di sebuah arena latihan boxing berkonsep industrial.

Suara dentuman keras bergema berulang kali memecah riuh ruangan.

BAM! BAM! BAM!

Seorang pria bertubuh atletis dengan peluh membasahi kulitnya melayangkan kombinasi pukulan mematikan ke arah samsak gantung.

Setiap ayunan lengannya begitu presisi, bertenaga, dan syarat akan teknik tinggi.

Pukulan demi pukulan yang ia lepaskan membuat beberapa orang yang sedang berlatih di sekitarnya terpukau, menghentikan aktivitas mereka sekadar untuk menyaksikan aksi memukau tersebut.

Namun, di balik sorot mata tajam nan menggoda itu, ada gemuruh amarah yang membakar hebat.

Suara-suara bisikan dari masa lalu bergaung nyaring di dalam kepalanya, terus menerus terngiang bagai kaset rusak yang memutar luka lama:

“Dasar anak haram! Kamu dibuang oleh ibumu!”

“Ayahmu bahkan tidak pernah sudi menerimamu!”

BAM!

Satu pukulan pamungkas menghantam samsak dengan sangat keras hingga rantai pengikatnya berderit kencang.

Bayangan masa lalu itu sukses memancing amarah Praduta hingga ke puncaknya.

"Praduta, sudah! Tanganmu nanti sakit," ucap Nayla yang mendadak muncul di sampingnya, berusaha menghentikan aksi brutal Praduta sembari menyerahkan selembar handuk kecil dan botol air mineral.

Praduta menghentikan gerakannya. Napasnya memburu, dada bidangnya naik turun teratur.

Pria berparas tampan khas playboy itu menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang tak tersentuh emosi asli di hatinya.

Ia mengambil handuk dan menyeka keringat di lehernya tanpa bersuara.

"Praduta, aku baru saja mendengar kabar terbaru," lanjut Nayla, merapatkan jarak dan memelankan suaranya.

"Istri Raka, putra Devandra meninggal dunia tadi pagi. Dan yang membuat geger, hari ini juga Raka langsung menikah lagi dengan Gladys, sahabat almarhumah istrinya."

Mendengar nama Devandra, jemari Praduta yang terbalut hand wrap mendadak mencengkeram erat sarung tinjunya.

Urat-urat di tangannya mencuat tebal, menyalurkan kebencian mendalam yang selama ini terpendam rapat.

Nayla menatap ekspresi pria di hadapannya dengan cermat.

"Apakah kamu tidak mau pergi melihat wajah Raka? Setidaknya melihat bagaimana hancurnya dia sekarang?"

Praduta perlahan menggelengkan kepalanya secara tegas.

Tatapan matanya berubah membeku bagai es, dipenuhi ambisi dendam yang pekat.

"Buat apa melihat wajah orang yang sudah menghancurkan hidupku?" bisik Praduta dengan suara berat dan dingin.

"Aku tidak akan pernah mau melihat mereka, sampai Devandra bertekuk lutut dan tunduk di hadapanku."

Setelah menyelesaikan latihannya, Praduta melangkah meninggalkan arena latihan menuju kamar mandi.

Kucuran air dingin dari shower membasahi tubuh atletisnya, menyapu sisa-sisa peluh sekaligus meredakan gejolak amarah yang sempat membakar dadanya.

Di dalam kamar mandi yang dingin, tatapan mata pria itu kembali tenang, meski ambisi dendam di hatinya sama sekali tak padam.

Beberapa saat kemudian, Praduta keluar dengan penampilan yang sudah rapi dan segar.

Kaos polos yang melekat pas di tubuhnya dipadukan dengan jaket kasual, memancarkan pesona khas pria playboy yang selalu mampu menarik perhatian.

Ia menghampiri Nayla yang sedang mengusap layar ponselnya di area tunggu.

"Ayo, kita makan malam," ajak Praduta seraya mengibaskan rambutnya yang masih sedikit basah, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan daya pikat.

Nayla mengalihkan pandangannya dari ponsel, menyambut ajakan itu dengan senyuman.

"Boleh. Mau makan di mana malam ini?"

"Di tempat biasa saja," sahut Praduta santai, menyambar kunci mobil di atas meja sebelum menyusuri pintu keluar bersama Nayla menuju dinginnya malam.

Praduta melajukan mobil sport mewahnya membelah keramaian jalanan malam.

Di balik kemudi, ia tampak tenang, menikmati kilauan lampu kota yang memantul di kaca mobil.

Tak butuh waktu lama, kendaraan itu melipir dan terparkir mulus di pinggir jalan, tepat di depan warung tenda nasi goreng langganannya yang selalu ramai pengunjung.

Suara dentingan wajan dan aroma rempah gulai serta gurihnya lemak kulit ayam yang digoreng garing menyambut kedatangan mereka begitu keluar dari mobil.

Tempat ini sederhana, namun racikan bumbunya tak pernah gagal memanjakan lidah Praduta.

Mereka mengambil tempat duduk di sudut tenda yang sedikit lebih tenang.

Seorang pelayan dengan sigap menghampiri meja mereka sambil membawa catatan kecil.

"Nasi goreng kulit dua, sama es teh tawar dua ya, Mas," panggil Praduta santai tanpa perlu melihat lembaran menu, sebab pesanan itu sudah menjadi favoritnya setiap kali berkunjung.

"Siap, Mas Praduta. Ditunggu sebentar ya," sahut pelayan itu ramah sebelum berbalik menuju area memasak.

Nayla menyandarkan punggungnya ke kursi plastik, menatap Praduta dengan senyum tipis.

"Gaya hidupmu memang selalu penuh kontradiksi, ya. Bawa mobil mahal, tapi makan malamnya tetap nyari nasi goreng kulit pinggir jalan."

Praduta terkekeh pelan, menyunggingkan senyum khasnya yang menawan.

"Makanan enak tidak punya batasan tempat, Nay. Lagipula, di sini aku bisa meretas kepenatan tanpa harus berpura-pura."

Setelah menghabiskan nasi goreng kulit favorit mereka, Praduta kembali menyusuri jalanan malam untuk mengantarkan Nayla pulang.

Mobilnya berhenti mulus di depan gerbang rumah wanita itu.

"Tidak mampir dulu?" tanya Nayla seraya melepas sabuk pengamannya, menatap Praduta dengan tatapan berharap.

Praduta menyunggingkan senyum tipis—senyuman manis nan menggoda khas dirinya yang selalu sanggup meluluhkan hati wanita, namun di baliknya tersimpan batasan tegas yang tak bisa diterobos siapa pun.

Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku langsung pulang dulu, ya. Udah lumayan malam."

Nayla tersenyum maklum lalu menganggukkan kepalanya.

"Ya sudah, hati-hati di jalan."

Begitu Nayla menutup pintu mobil dan melangkah masuk ke pekarangan rumahnya, raut ramah di wajah Praduta seketika menguap.

Datar, dingin, dan penuh perhitungan. Pria itu langsung menancap gas, melajukan kendaraan mewahnya menuju sebuah gedung apartemen eksklusif di pusat kota.

Sesampainya di apartemen ia segera masuk kedalam.

Ceklek.

Praduta melangkah masuk ke dalam unit apartemennya yang bernuansa modern minimalis.

Tanpa repot-repot menyalakan lampu utama—hanya menyisakan pendar redup dari lampu sudut—ia melempar kunci mobil ke atas meja konsol, lalu berjalan menuju area kerja.

Ia langsung duduk di kursi kulit yang nyaman, meraih laptopnya, dan membukanya.

Jemari Praduta bergerak lincah menari di atas papan ketik.

Di kolom pencarian layar kaca yang menyala terang, ia mengetikkan sebuah nama yang baru saja ia dengar hari ini.

Hanya dalam hitungan detik, berbagai informasi, profil media sosial, hingga rekam jejak digital mengenai wanita bernama Gladys Anastasia bermunculan di layarnya.

Praduta menyandarkan punggungnya, menatap lekat foto wanita bermata teduh di layar komputer tersebut.

Sebuah ulasan senyum dingin terukir di bibirnya. Gladys bukan sekadar sahabat almarhumah istri Raka, melainkan catur baru yang siap ia gerakkan dalam permainan dendamnya untuk menghancurkan keluarga Devandra.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!