“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Keserakahan yang Tak Mengenal Malu
Penolakan Qin Xuan membuat para pengurus Keluarga Qin kehilangan senyum mereka. Beberapa orang saling berpandangan, seolah tidak menyangka pemuda itu akan menolak tawaran menjadi pemimpin keluarga.
Seorang tetua berambut putih akhirnya maju dengan wajah tidak senang.
“Qin Xuan, jangan lupa siapa yang membesarkanmu. Tanpa Keluarga Qin, kau tidak mungkin memiliki kedudukan seperti sekarang. Setelah berhasil, kau malah ingin meninggalkan kami?”
Qin Xuan menatap lelaki tua itu tanpa menjawab.
Tetua lainnya ikut angkat bicara. “Kau sudah menghancurkan Dantian tiga orang terkuat keluarga ini. Kalau kau tidak mau kembali, setidaknya kau harus mengganti kerugian kami.”
“Benar,” sahut seorang pengurus.
“Kau boleh kembali menjadi pemimpin keluarga, tetapi semua hadiah yang kau dapatkan dari Menara Pertarungan harus diserahkan ke kas keluarga.”
Ucapan itu segera mendapat dukungan.
Para tetua yang biasanya jarang terlihat kini mulai bermunculan. Mereka berbicara seolah Qin Xuan telah melakukan kesalahan besar dan harus bertanggung jawab atas kehancuran Keluarga Qin.
“Kau sudah menjadi pemegang peringkat pertama dalam Peringkat Manusia. Hadiahmu pasti sangat banyak.”
“Kalau Batu Energi itu dibagikan kepada anggota keluarga, kita bisa menghasilkan beberapa pendekar Alam Bintang Langit.”
“Kau harus memikirkan masa depan keluarga, Qin Xuan. Jangan hanya mementingkan dirimu sendiri.”
Mereka terus berbicara, saling menguatkan tuntutan satu sama lain.
Di mata para tamu, tindakan tersebut sungguh memalukan.
Setengah bulan lalu, Keluarga Qin mengusir Qin Xuan setelah menganggapnya tidak berguna. Sekarang, mereka bukan hanya memintanya kembali, tetapi juga berusaha mengambil seluruh hadiah yang diperolehnya.
Wei Wuxiu mengepalkan tangan dengan kesal.
“Guru Liu, mereka keterlaluan! Bagaimana bisa orang-orang itu masih berani meminta hartanya?”
Beberapa murid Akademi Bela Diri Tianyuan mengangguk setuju. Mereka telah menyaksikan sendiri kemampuan Qin Xuan di Menara Pertarungan dan sangat menghormatinya.
Namun, ketika Wei Wuxiu hendak maju, Liu Yunshi mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Biarkan Qin Xuan menyelesaikannya sendiri.”
Wei Wuxiu menoleh dengan bingung, tetapi akhirnya menurut.
Liu Yunshi ingin mengetahui bagaimana Qin Xuan menghadapi orang-orang yang berusaha menekannya dengan alasan hubungan keluarga.
Bakat luar biasa saja tidak cukup untuk mencapai puncak dunia bela diri. Jika Qin Xuan mudah menyerah terhadap tekanan seperti ini, orang lain akan terus memanfaatkannya.
Liu Chengfeng juga memperhatikan dari tempat duduknya.
Ia sebenarnya bersedia membantu jika diperlukan. Namun, melihat ketenangan Qin Xuan, ia memilih menunggu.
Sementara itu, seorang tetua yang paling keras berbicara mulai kehilangan kesabaran.
“Qin Xuan! Kau dengar perkataanku? Cepat serahkan hadiahmu ke kas keluarga!”
Qin Xuan perlahan menoleh.
Sejak tadi ia membiarkan mereka berbicara karena ingin melihat sampai sejauh mana keserakahan orang-orang tersebut.
Ternyata mereka sama sekali tidak berubah.
Sebelum tetua itu sempat melanjutkan ucapannya, Qin Xuan bergerak.
Dalam sekejap, ia sudah berdiri di hadapan lelaki tua tersebut.
Tangan kanannya mencengkeram leher sang tetua, lalu mengangkat tubuhnya dari tanah.
“Akh!”
Tetua itu meronta dengan wajah memerah. Kedua tangannya berusaha menarik jari Qin Xuan, tetapi cengkeraman tersebut terlalu kuat.
Qin Xuan memandangnya dengan dingin.
“Aku paling muak dengan orang yang suka mengatur hidup orang lain. Kau pikir hanya karena lebih tua, kau bisa memaksaku melakukan apa saja?”
Wajah sang tetua langsung pucat.
“Qin Xuan... lepaskan aku! Aku tetua keluarga ini. Kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini!”
Beberapa tetua lain segera berteriak.
“Qin Xuan, turunkan dia!”
“Beraninya kau menyerang tetua sendiri! Lepaskan dia sekarang!”
Meskipun ketakutan, mereka masih mencoba menggunakan kedudukan sebagai orang yang lebih tua untuk menekan Qin Xuan.
Pemuda itu justru tersenyum tipis.
“Kalian ingin aku menurunkannya?”
Para tetua segera mengangguk.
“Tentu saja! Cepat turunkan dia!”
“Baik.”
Qin Xuan mempererat cengkeramannya.
Terdengar suara tulang leher patah.
Tubuh sang tetua langsung berhenti bergerak. Matanya masih terbuka lebar ketika Qin Xuan melepaskan cengkeraman dan menjatuhkannya ke tanah.
Lelaki tua itu tewas seketika.
Seluruh halaman latihan mendadak sunyi.
Tidak seorang pun menyangka Qin Xuan akan membunuh seorang tetua di hadapan begitu banyak orang.
Seorang tetua lainnya akhirnya berseru dengan suara gemetar.
“Qin Xuan! Kau sudah keterlaluan! Beraninya kau membunuh tetua keluarga!”
Qin Xuan menoleh kepadanya.
“Bukankah kalian tadi menyuruhku menurunkannya?” tanyanya tenang. “Sekarang dia sudah di bawah. Atau kau juga ingin merasakannya?”
Wajah lelaki tua itu langsung kehilangan warna.
Ia buru-buru mundur dan tidak berani berbicara lagi.
Para anggota Keluarga Qin yang sebelumnya berani menuntut kini mulai menjauh dari Qin Xuan.
Mereka baru menyadari bahwa pemuda tersebut tidak lagi bisa diperlakukan seperti dulu.
Qin Xuan menyapu seluruh halaman dengan tatapan dingin.
“Tadi siapa yang meminta seluruh hartaku diserahkan ke keluarga?”
Tidak seorang pun menjawab.
Qin Xuan melangkah mendekati beberapa pengurus yang sebelumnya paling keras berbicara.
“Aku ingin tahu, kalau semua hadiah itu kuserahkan, kalian mau menggunakannya untuk apa?”
Para pengurus langsung gemetar.
Salah seorang memaksakan senyum.
“Qin Xuan, sepertinya ada kesalahpahaman. Kami tidak pernah berniat mengambil hartamu.”
“Benar!” sahut yang lain. “Kalau kau tidak ingin menjadi pemimpin keluarga, kami juga tidak akan memaksamu.”
Qin Xuan mengangkat alis.
“Tidak ada lagi yang meminta hadiahku?”
“Tidak! Tentu saja tidak!”
Mereka menjawab hampir bersamaan.
Qin Xuan menghela napas seolah kecewa.
“Sayang sekali. Kukira masih ada yang ingin berdebat. Aku bahkan belum merasa lelah.”
Ucapan itu membuat para pengurus semakin ketakutan.
Mereka tahu apa yang mungkin terjadi jika masih berani membantah.
Qin Xuan akhirnya tidak mempedulikan mereka lagi.
Ia berjalan menghampiri Liu Chengfeng dan Liu Yunshi, lalu membungkuk hormat.
“Terima kasih sudah membantuku tadi.”
Liu Chengfeng tersenyum. “Tidak perlu sungkan. Dengan kemampuanmu, sebenarnya kau tidak membutuhkan bantuan kami.”
Liu Yunshi juga mengangguk.
Qin Xuan kemudian melirik halaman latihan yang telah hancur akibat pertarungan.
“Tempat ini sudah berantakan. Bagaimana kalau kita berbicara di ruang tamu saja?”
“Tentu,” jawab Liu Chengfeng.
Rombongan Akademi Bela Diri Tianyuan juga menyambut ajakan tersebut dengan gembira. Mereka akhirnya mendapat kesempatan berbicara lebih dekat dengan pemuda yang telah mengejutkan seluruh Menara Pertarungan.
Sebelum pergi, Qin Xuan menghampiri para tamu dari tiga keluarga besar.
“Maaf, kalian harus menyaksikan keributan ini.”
Para pemimpin keluarga segera membalas dengan sikap hormat.
“Tidak masalah, Tuan Muda Qin.”
“Kami juga sudah cukup lama berada di sini. Sebaiknya kami pamit.”
Mereka tidak ingin terlibat lebih jauh dalam persoalan Keluarga Qin.
Bahkan Sun Yangde, yang sebelumnya datang untuk menuntut balas, kini hanya tersenyum kaku kepada Qin Xuan.
Setelah menyaksikan kekuatannya, ia tidak lagi berani mengungkit kematian tetua ketiga Keluarga Sun.
Tetua Zhu dari Sekte Di Yuan sempat berhenti sebelum meninggalkan halaman.
Ia memandang Qin Xuan dengan penuh arti.
“Sekte Bintang Langit pasti akan menyesali keputusan mereka.”
Qin Xuan hanya tersenyum tanpa menjawab.
Setelah para tamu pergi, Qin Shan, Qin Cangming, dan Qin Xingqiong perlahan berusaha bangkit dari reruntuhan panggung.
Meskipun Dantian mereka telah hancur, ketiganya masih merasa lega karena Qin Xuan tidak membunuh mereka.
Namun, kelegaan itu segera berubah menjadi kepedihan.
Para anggota Keluarga Qin mulai menunjuk mereka sambil melontarkan kemarahan.
“Semua ini gara-gara mereka bertiga!”
“Kalau Qin Xuan tidak diusir, keluarga kita pasti sudah jauh lebih kuat!”
“Dulu Qin Xuan selalu membantu keluarga. Sekarang semuanya hancur karena keserakahan mereka!”
Qin Shan menatap orang-orang yang dahulu selalu mematuhinya.
Tidak ada lagi penghormatan dalam tatapan mereka.
Qin Cangming memejamkan mata, sementara Qin Xingqiong menggertakkan gigi dengan wajah penuh kebencian.
Untuk pertama kalinya, mereka merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan ketika sudah tidak memiliki kekuatan.
Upacara Besar Klan yang seharusnya menjadi hari kejayaan Keluarga Qin, kini berakhir dengan kehancuran.
Berita mengenai kejadian tersebut tentu akan segera menyebar ke seluruh Kota Qingquan, bahkan hingga Kota Tianfeng.
Sementara itu, beberapa pelayan bergegas membersihkan ruang tamu atas perintah para pengurus keluarga.
Tidak seorang pun berani menolak ketika Qin Xuan meminta menggunakan ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, Qin Xuan memasuki ruang tamu bersama Liu Chengfeng dan rombongan Akademi Bela Diri Tianyuan.
Ia langsung duduk di kursi utama, sedangkan para tamunya menempati kursi di kedua sisi.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Keluarga Qin, tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakan kedudukannya.
......................
Bersambung...