Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zara Mulai Curiga 14.
Layar ponsel pintar di atas meja belajar Zara menyala untuk kesekian kalinya, menampilkan angka 21.05.
Tidak ada notifikasi pesan baru. Hanya ada pantulan wajah Zara yang tampak kusam di permukaan kaca yang gelap.
Di sudut meja, sebuah novel fiksi remaja yang terbuka di halaman empat puluh dua sudah kehilangan daya tariknya sejak dua jam lalu.
Zara menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak oleh kombinasi antara rasa kecewa dan firasat buruk yang mulai mengakar.
Hari ini seharusnya menjadi hari perayaan hari jadi mereka yang keenam bulan—sebuah pencapaian kecil yang cukup berarti bagi anak SMA.
Mereka sudah berencana untuk pergi ke sebuah galeri seni di pusat kota. Namun, rencana itu hancur berantakan lewat satu pesan singkat yang dikirim Langit pukul tujuh pagi tadi.
Zara, sori banget. Hari ini aku nggak bisa pergi. Ada urusan keluarga mendadak yang nggak bisa ditinggal. Nanti aku ganti hari lain ya. Hari minggu.
Kalimat itu pendek, formal, dan dingin. Sangat berbeda dengan gaya mengetik Langit yang biasanya gemar menyisipkan emoji bodoh atau panggilan sayang yang khas.
Zara meraih ponselnya, jemarinya ragu-ragu di atas papan ketik virtual. Ia membuka kolom obrolan dengan Langit. Status cowok itu offline. Panggilan telepon terakhir yang Zara lakukan pada pukul delapan malam tadi berakhir di mesin penjawab otomatis.
“Urusan keluarga,” bisik Zara pada kamar yang sepi. Suaranya terdengar getir.
Bagi orang lain, alasan itu mungkin terdengar sangat logis dan tidak perlu diperdebatkan. Keluarga adalah prioritas.
Namun bagi Zara yang sudah mengenal Langit sejak awal masuk SMA, alasan itu justru memicu alarm waspada di kepalanya. Langit adalah tipe anak yang sangat terbuka tentang keluarganya. Jika ibunya sakit, Langit pasti akan mengeluh panik. Jika ayahnya mengajaknya pergi, Langit pasti akan pamer dengan nada malas. Kata "urusan keluarga" tanpa rincian jelas adalah masker yang digunakan Langit untuk menutupi sesuatu.
Yang membuat Zara semakin resah adalah pola yang mulai terbentuk akhir-akhir ini. Ini bukan pertama kalinya Langit menghilang. Dalam tiga minggu terakhir, Langit jarang sekali bisa dihubungi saat malam tiba.
Setiap kali jam menunjukkan pukul delapan malam ke atas, sosok Langit seolah menguap ditelan bumi.
Ponselnya mati, pesan-pesannya hanya bercentang satu, dan dia baru akan membalas keesokan paginya dengan alasan "ketiduran" atau "tugas menumpuk".
Zara mencoba berpikir. Mungkin Langit memang sedang lelah karena tekanan ujian semester yang makin dekat. Mungkin Langit sedang membantu orang tua nya.
Namun, intuisi seorang perempuan jarang berbohong, dan intuisi Zara mengatakan ada jarak yang sengaja dibentangkan di antara mereka. Karena emang pada saat-saat tiga minggu sebelum menikah— Langit dan Ulfa dipaksa kencan buta oleh kedua keluarga.
**
Keesokan paginya di SMA Bhineka, atmosfer koridor terasa bising seperti biasa.
Suara gesekan sepatu, tawa sekelompok siswa di depan mading, dan aroma minyak wangi remaja memenuhi udara. Zara berjalan dengan langkah lambat menuju kelas Langit.
Matanya menyisir koridor, mencari siluet tinggi dengan rambut sedikit berantakan yang sangat ia hafal.
Tepat di dekat persimpangan menuju laboratorium fisika, ia melihatnya. Langit sedang bersandar di dinding, berbicara dengan salah satu teman sekelasnya, ringan dan tanpa beban. Tidak ada raut wajah bersalah atau kelelahan di sana.
“Sayang,” panggil Zara lembut, namun tegas.
Langit menoleh. Senyumnya langsung mengembang, tipe senyum ramah yang dulu selalu berhasil membuat jantung Zara berdesir. “Iya Ra?,” sapanya, melangkah mendekat.
Zara tidak membalas senyuman itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Langit lurus-lurus. “Gimana urusan semalam? lancar?”
Ekspresi Langit berubah sesaat. Ada kedutan tipis di sudut matanya— sebuah detail kecil yang hanya disadari oleh orang yang memperhatikannya dengan saksama. “Ah... iya. Lancar kok. Cuma urusan internal rumah aja. Sorry ya buat yang kemarin.”
“Urusan internal apa Lang? Sampai telepon aku gak diangkat dan kamu gak bisa dihubungi sama sekali?” tanya Zara, menuntut penjelasan. Nada suaranya sengaja diturunkan agar tidak memancing perhatian siswa lain yang lalu lalang, namun sarat akan penekanan.
Langit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, gestur klasik saat dia merasa terpojok. “Kan Aku udah bilang, Ra. Urusan keluarga. Aku gak enak kalau main HP di depan saudara-saudara yang lagi datang. Tolong ngertiin aku dikit lah.”
Mendengar kalimat terakhir Langit, rasa kecewa di dada Zara mendadak berubah menjadi percikan amarah. Ngertiin? Selama ini dialah yang selalu mengerti. Dialah yang memaklumi saat Langit membatalkan janji kerja kelompok, dialah yang diam saja saat Langit mendadak pasif di WhatsApp setiap malam.
“Aku kurang ngertiin kamu gimana lagi, Lang?” Zara menatap Langit dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun ia menolak untuk menangis di koridor sekolah. “Tiap malam, kamu hilang. Kamu jarang bisa dihubungi kalau udah lewat jam delapan. Aku selalu percaya waktu kamu bilang kamu tidur awal atau ngerjain tugas. Tapi lama-lama ini gak masuk akal. Kamu kayak punya kehidupan lain yang sengaja kamu sembunyiin dari aku.”
“Ra, kamu berlebihan,” potong Langit, suaranya naik satu oktav, memicu satu-dua orang di dekat mereka menoleh. Langit menghela napas, mencoba meredam emosinya sendiri. “Aku cuma butuh waktu istirahat malam. Kenapa sih hal kayak gini harus didebatin di sekolah? Kamu mulai curigaan yang enggak-enggak ya?”
“Aku gak akan curiga kalau kamu jujur dari awal!” balas Zara, suaranya bergetar menahan amarah yang membuncah. “Kamu berubah, Langit. Kamu bukan Langit yang aku kenal beberapa bulan lalu. Ada yang kamu sembunyiin dari aku, dan alasan 'urusan keluarga' semalam itu... aku tahu kamu bohong.”
Langit tertegun mendengar Zara memanggilnya dengan nama 'Langit'—nama yang biasanya hanya Zara gunakan saat mereka sedang berbicara serius dari hati ke hati atau saat Zara benar-benar marah.
Sorot mata Langit yang tadinya defensif perlahan berubah menjadi dingin dan tertutup. Sebuah tembok tak kasat mata mendadak berdiri kokoh di antara mereka.
“Kalau kamu gak bisa percaya lagi sama omongan saya, terserah,” kata Langit pelan, namun kata-kata itu terasa seperti hantaman besi berat di hati Zara. “Aku masuk kelas dulu. Bel udah mau bunyi.”
Langit berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Zara yang terpaku di tengah koridor yang mendadak terasa begitu sunyi bagi dirinya sendiri.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳