NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:653
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 23

BAB 23

Pria berjaket kulit hitam itu menurunkan kameranya sejenak, menggeser jemarinya untuk memeriksa hasil jepretan di layar LCD digital. Gambar-gambar itu merekam secara sempurna interaksi antara Maya dan sosok berkemeja gelap di selasar galeri yang remang—memperlihatkan gestur sang pria yang mendekat dan ekspresi tersentak Maya saat bertatapan dengannya.

Pria berjaket kulit itu merogoh ponsel dari saku celananya, lalu menekan tombol panggil cepat.

"Pak Baskoro," bisik pria itu serak sambil matanya tetap terikat pada lorong galeri. "Saya dapat tangkapan sangat menarik. Maya baru saja melakukan pertemuan rahasia dengan REN di pelataran Galeri Kebudayaan."

"Apa?" suara Baskoro terdengar terkejut dari balik speaker telepon. "Kau yakin itu REN?"

"Seratus persen yakin, Pak. Foto-fotonya sangat jelas memperlihatkan mereka bicara berdua secara intens. Saya kirimkan berkas foto resolusi tingginya ke surel Anda sekarang juga."

Pria itu menekan tombol send di layar ponselnya. Foto-foto perjumpaan dua kontestan teratas itu meluncur kilat melalui jaringan digital, siap menjadi amunisi liar di tangan Victor dan Clarissa untuk merancang jebakan konspirasi baru pada peragaan final mendatang.

Di selasar galeri yang sunyi, Maya yang menyadari derap langkah kaku berirama mendekat, menoleh perlahan. Pandangan mata mereka bertaut. Ada getaran psikologis yang aneh dan begitu masif menyergap dada Maya saat menatap sosok pria berwibawa di hadapannya. Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura ketenangan dingin kelas atas yang berjarak, namun anehnya... postur tubuh dan gestur berdirinya terasa begitu familier di dalam ingatan Maya.

"Area pameran sudah ditutup setengah jam lalu, Nona," ujar pria itu memecah keheningan. Suaranya rendah, berat, dan tertata dengan artikulasi yang amat presisi—bergema dingin di selasar yang sepi.

Maya mengusap lengan gaunnya, mencoba menguasai diri dari rasa kaget bertemu pria tersebut secara tidak terduga.

"Saya tahu. Saya hanya mencari inspirasi dari pencahayaan luar untuk menguji kejatuhan serat kain ini." Jawab Maya, berusaha tetap tenang.

Pria itu melangkah satu tapak mendekat, menatap sampel sutra organza di tangan Maya tanpa kedipan.

"Sutra yang indah," ucap REN datar, tatapannya menghujam tajam. "Tapi Anda memegangnya terlalu kencang, sampai seratnya terdistorsi. Sama seperti cara Anda menghadapi kompetisi ini—Anda terlalu ketakutan karya Anda dirusak orang lain, hingga Anda sendiri yang mencekik karakter asli desain Anda."

Maya tersentak. Dadanya berdesir hebat. Kalimat itu terucap begitu lugas, tanpa basa-basi, dan secara mengerikan tepat sasaran menembus kecemasan terdalamnya. Maya menatap sosok di depannya dengan tatapan menajam, menyadari siapa pemegang otoritas seni tempa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

"Anda... REN?" desis Maya, suaranya bergetar antara keterkejutan dan rasa segan yang mendalam. "Pemilik nilai 94,8 yang memuncaki papan skor? Bagaimana bisa seorang maestro seperti Anda mengamati detail kecil dari cara saya memegang kain?"

Bibir REN membentuk garis lurus yang dingin. Ia tidak menjawab sanjungan terselubung itu.

"Sutra itu lembut, tetapi rapuh jika berdiri sendirian di bawah tekanan panggung utama," lanjut REN, mengabaikan pertanyaan Maya dengan dominasi verbal yang mutlak. "Ia butuh penopang yang lebih keras... sesuatu yang ditempa oleh api, bukan sekadar dipoles oleh pameran kemewahan."

Maya membeku. Kata penopang yang ditempa oleh api menghantam pikirannya bagai kilat. Itu adalah prinsip gabungan logam dan kain—konsep dasar yang saat ini sedang ia kerjakan bersama Rendra di bengkel!

"Anda... Anda tahu arah struktur karya saya?" tanya Maya, suaranya makin tertahan seraya mengambil selangkah maju menuntut kejelasan. "Mengapa Anda membicarakan elemen tempaan itu pada saya?"

REN menatap Maya dengan binar mata yang pekat—sebuah tatapan yang menyimpan lapisanperlindungan terselubung di balik keangkuhan seorang maestro.

"Fokus saja menyatukan benangmu, saudari Maya," sebut REN pelan, membocorkan kenyataan bahwa ia tahu pasti siapa wanita di hadapannya tanpa perlu diperkenalkan. "Musuhmu di luar sana membawa tumpukan uang dan dokumen hukum untuk mematikan langkahmu. Jangan biarkan dirimu sibuk menoleh ke belakang... atau kau akan membiarkan logam yang menopangmu bertarung sendirian."

Sebelum Maya sempat pulih dari rasa terkejutnya yang luar biasa, REN memberikan penghormatan kecil yang amat dingin dengan anggukan kepala, lalu berbalik. Langkah kakinya yang mantap perlahan melebur menghilang di balik kegelapan lorong galeri.

Maya berdiri terpaku di selasar, napasnya memburu dan jemarinya gemetar meremas ujung sutra. Pria yang selama ini ia anggap saingan terberat sekaligus kiblat presisi di kompetisi ini tidak hanya membaca kecemasannya, tetapi juga paham betul skema karyanya dan menyuarakan bahaya yang sedang mengintainya.

Angin malam bertiup makin kencang, menggoyangkan dedaunan di sekitar selasar dan menebarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan degup jantungnya yang belum juga mereda. Peringatan misterius dari REN terus berputar di kepalanya bagai dentang lonceng peringatan.

Namun, sebelum Maya sempat menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh, bayangan seseorang melintas cepat di balik pilar taman seberang, meninggalkan aroma asap rokok murah dan bunyi gesekan kain jaket kulit yang mencurigakan.

Maya menyipitkan matanya tajam, menatap lurus ke arah rerimbunan semak yang baru saja dilewati bayangan itu. Ada firasat ancaman yang ditinggalkan sosok mata-mata itu, dan terasa begitu nyata.

Dada Maya berdebar makin kencang. Ia menggeser kakinya selangkah mundur, merapatkan buku sketsa tua dan lembaran sampel sutra organza ke dalam pelukannya. Langkah kaki misterius di balik semak itu mendadak berhenti total, menciptakan hening mencekam yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Dalam temaram pendar lampu taman yang berkedip pelan, Maya menangkap pantulan pendar redup dari balik bayangan pilar—seperti kilatan pendar lensa kecil yang sedang mengarah tepat ke posisinya. Siapa pun orang yang bersembunyi di balik kegelapan itu, ia jelas tidak sekadar melintas, melainkan sedang mengintai dan mengawasi setiap gerak-geriknya sejak tadi.

Perlahan Maya merasakan dari tengkuk hingga ke jemari tangannya, ada rasa dingin yang merayap perlahan. Jantungnya berdegup semakin kencang, memicu rasa cemas mendalam yang membuat tenggorokannya mendadak terasa kering dan kaku.

Pikirannya bertanya-tanya siapa sosok berjaket kulit itu? Apakah ada pihak lawan dari kompetisi yang sedang mengincarnya, ataukah ini bagian dari perangkap gelap yang baru saja diperingatkan oleh REN? Rasa penasaran dan ketakutan bergulat hebat di dalam dadanya.

Napas Maya tertahan di udara malam yang dingin. Ia berusaha memberanikan diri untuk melangkah satu tapak lebih dekat, mencoba menembus tirai kegelapan yang mengepung area taman tersebut. Namun, belum sempat Maya menuntaskan tanyanya, saat Maya menyipitkan matanya, fokus menatap kegelapan di seberang taman, bayangan misterius itu telah menghilang sepenuhnya ditelan malam, menyisakan kesunyian yang membuat dadanya kian berdebar kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!