Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PONSEL NAYA YANG TERTINGGAL
Pria berbadan tinggi kekar memakai setelan jas cokelat yang senada dengan sepatunya, keluar dari mobil sport menandakan dari kalangan menengah ke atas. Dia adalah Vanka Wijaya.
Alex yang melihat itu terkejut karena siapa yang tidak kenal dengan Vanka Wijaya, CEO perusahaan kecantikan.
Alex memanggil Puri dengan suara yang kecil, "Puri, sini kau kenal dia."
"Tidak," jawab Puri menggelengkan kepala.
"Cari siapa dia kemari, Lex?" Puri bertanya pada alex
"Akupun tidak tahu," alex yang masih berdiri di pinggir jendela.
Aku yang melihat mereka merasa bingung.
"Siapa yang datang?" seraya membawa piring meletakkannya di atas wastafel.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, tok..tok..tok,
"Permisi," ujar Vanka seraya mengetuk pintu.
Puri membuka pintu.
"Iya, cari siapa?" tanya Puri yang berdiri di depan pintu.
"Apa ada pemilik HP ini?" seraya Vanka memperlihatkan HP milik Naya.
Aku melangkah menuju Vanka dan Puri, Alex yang berdiri di belakang Puri.
"Iya, ada apa ya?" aku menjawab dengan cuek.
"Aku hanya ingin mengembalikan HP-mu yang tertinggal di mobilku kemarin," Vanka memberikan HP kepadaku
"Terima kasih," ujarku seraya menutup pintu.
Puri dan Alex diam mematung dengan ekspresi wajah seolah memberi isyarat mata padaku, tapi aku tidak paham maksudnya dan langsung duduk di sofa.
Seketika Puri melangkah cepat membuka pintu, krek.. pintu dibuka.
Puri teriak memanggil dari depan pintu, "Heyyy, tunggu!"
Vanka yang hendak masuk ke dalam mobil sportnya pun berhenti.
Puri melangkah menuju Vanka.
"Mampir dulu masuk ke dalam, terima kasih sudah menolong temanku Naya."
Vanka tersenyum, "Tidak banyak yang bisa aku bantu," ujar Vanka.
Puri menyodorkan tangannya kepada Vanka, "Perkenalkan namaku Puri."
"Aku Vanka," membalas tangan Puri.
Alex yang berdiri di depan pintu dari dalam rumah hatinya seperti terbakar terlihat dari raut wajah yang sedang cemburu.
Puri mengajak Vanka untuk masuk ke dalam rumah.
Aku masih di atas sofa sibuk dengan ponsel genggamku yang mati akibat terkena hujan kemarin.
"Silakan duduk," ujar Puri seraya menarikku pergi ke kamar .
"Naya, kenapa kamu tidak bilang dia yang menolongmu, kamu dulu sangat mengaguminya stalking media sosialnya."
Aku yang dengar pernyataan Puri, apa itu stalking? Naya pemilik tubuh ini mengaguminya.
"Itu dulu, sekarang tidak, waktu sudah berubah Puri," ujarku terhadap Puri yang duduk di atas tempat tidur.
"Naya, sepertinya dia tertarik kepadamu," ujar Puri.
Aku hanya diam beranjak melangkah menuju ruang tamu, Puri mengikuti dari belakang.
Vanka langsung nyeletuk, "Aku belum tahu namamu."
"Namaku Naya, maaf sudah menuduh mencuri anjingku, dan melukai keningmu, satu lagi menuduhmu mesum," tertunduk malu.
Alex dan Puri yang duduk di kursi mandiri sedang mengamati kami berdua.
"Jadi kalian sudah saling kenal dan bertemu," ujar Alex.
"Tu.. tunggu dulu, Naya, jadi Vanka yang kau ceritakan ingin mencuri Choco dan mesum padamu?" tanya Puri memajukan kursinya mendekatiku.
Aku mengangguk tertunduk malu menandakan jawabannya "iya".
Puri dan Alex terkejut bagaimana bisa aku menuduh pria kalangan elit, wajah tampan dunia industri, seorang CEO produk kecantikan ternama.
Vanka tersenyum, "Tidak apa-apa, tidak semua harus atau wajib mengenalku."
"Oh iya, aku harus pergi, aku masih ada urusan," Vanka beranjak dari sofa melangkah pergi keluar.
Aku mengantarnya sampai depan pintu rumah.
Vanka masuk ke dalam mobil sportnya.. berrmm.. suara mobil dan pergi meninggalkan halaman rumahku.
Puri dan Alex sedang libur, kami harus melanjutkan rencana kami mengungkap kebenaran dan kejahatan Hans. Alex membuka laptop dan mengecek sambungan penyadap suara.
Terdengar suara desahan, kami mengernyitkan dahi.
"Ohhh, Mely, aku sangat mencintaimu, aahh, ahhh," seperti suara Hans.
"Aahhh, aahhh, faster, faster," terdengar suara Mely berteriak.
Mereka sepertinya sudah sampai puncak kenikmatan.
Kami diam saksama menunggu obrolan Hans dan Mely. Suara Mely mulai terdengar.
"Hans, kau apakan mayatnya Alea?"
"Aku memutilasinya dan menyuruh mereka (anak buah Hans atau algojo Hans) menjadikannya makanan buaya," ucap Hans dengan santai.
Puri menutup mulutnya mendengarnya, membuat Puri mual. Bagaimana bisa Hans menjadi manusia biadab, lebih buas layaknya binatang.
Aku mengepalkan tangan dengan kuat, darahku mendidih.
Masih terdengar suara Hans dan Mely.
"Jika publik menanyakan keberadaan Alea bagaimana dan bagaimana dengan putrimu Velyn?" Mely bertanya kepada Hans.
"Aku sudah membuat Velyn bungkam, dia menjadi istri muda Tuan Farhan," ujar Hans.
"Kau harus menyingkirkan Naya, Hans, sebelum dia mengetahui semuanya. Aku rasa Naya bukan Naya yang dulu bisa kita setir, kenapa kau tidak sekalian membunuh ayah Naya?" perintah Mely kepada Hans.
"Perusahaan itu belum menjadi atas namaku, Mely, bersabarlah, aku masih harus membuatnya hidup untuk sesaat," ujar Hans.
"Malam ini aku harus bertemu seseorang di luar kota, aku mohon kepadamu, Mely, urus Tuan Ajimo (ayah Naya)."
Aku langsung menutup layar laptop.
"Alex, apa kau bisa mencari lokasi Mely nanti malam?" Aku bertanya pada Alex.
"Iya, aku bisa, Naya," jawab Alex.
Kami berencana untuk mencari ayahku (ayah Naya), kami mempersiapkan semuanya dan mencari-cari informasi dan file yang akan menjadi bukti menghancurkan Hans.
Roda waktu terus berputar, senja akan tiba dan mentari akan kembali menyembunyikan cahayanya. Jarum jam menunjuk jam 7 malam, Alex yang masih di depan layar laptop melacak lokasi Mely.
Alex mendapatkan lokasi Mely tempat ayah naya di kurung.
*Bersambung..