NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Final

Suasana ruang tengah kontrakan mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menegangkan. Isak tangis Ibu Ratna yang meratap sambil memegang dada berpadu dengan suara napas memburu Doni yang berdiri pucat di dekat petugas penagih utang.

Pihak penagih berbadan tegap itu melipat tangannya di dada, menatap seisi ruangan dengan pandangan sinis. "Bagaimana, Pak Doni? Jadi bayar sekarang atau kunci mobil ini saya bawa?"

Dalam kepanikan yang mencapai puncak, Rini kembali mencengkeram lengan Eda dengan erat. Air mata wanita itu meleleh, memohon-mohon tanpa harga diri.

"Mbak Eda... Tolonglah, Mbak! Bayar dulu pakai uang tabunganmu atau pinjaman di sekolah. Cuma satu juta rupiah! Kalau mobil ini disita, Mas Doni tidak bisa kerja, keluarga kita mau makan apa?" ratap Rini histeris di hadapan Eda.

Eda menatap iparnya itu dengan tatapan mata yang begitu datar. Tidak ada kilat amarah, tidak ada pula rasa iba yang biasanya langsung melunak tiap kali melihat keluarganya menangis. Dengan gerakan yang sangat tenang, Eda melepaskan cengkeraman tangan Rini dari lengannya.

Eda melangkah maju ke tengah ruangan, tepat di hadapan petugas penagih dan keluarganya sendiri. Suasana mendadak hening. Doni menengadah, menatap adiknya dengan secercah harapan palsu.

"Mas," panggil Eda dengan suara yang sangat jernih dan tenang, memecah kesunyian ruang tengah. Eda menoleh ke arah Doni. "Uang satu juta rupiah untuk membayar tunggakan itu tidak ada padaku."

"Bohong kamu, Ed!" teriak Doni langsung panik, urat lehernya menonjol keluar. "Kamu guru PPPK! Masak pegang uang satu juta saja tidak punya?! Jangan egois jadi orang!"

"Betul kata kakakmu, Eda!" sahut Ibu Ratna dari sofa, suaranya parau menahan tangis dan amarah. "Kamu itu tega banget ya! Lihat mamamu sakit-sakitan, kakakmu mau hancur hidupnya, tapi kamu malah pura-pura miskin! Di mana nurani kamu sebagai anak dan adik?!"

Eda menoleh pelan menatap ibu kandungnya sendiri. Perkataan itu—kata-kata yang sama yang selalu diulang-ulang selama belasan tahun untuk meruntuhkan pertahanannya—kini terdengar begitu hampa di telinga Eda.

"Nurani, Ma?" ulang Eda dengan senyum masam yang dingin. "Selama lima belas tahun ini, nuraniku sudah habis terkuras untuk menanggung utang-utang Mas Doni, untuk membiayai hidup rumah tangga kalian, sampai gajiku sendiri tiap bulan bersih dipotong bank sebelum aku sempat memegang fisiknya."

Eda kemudian mengalihkan pandangannya kepada Agus yang sejak tadi menyandarkan badan di dinding dapur, diam membisu tanpa berniat membela istrinya di hadapan orang banyak.

"Dan kamu, Agus," lanjut Eda dengan suara tertuju lurus pada suaminya. "Sebagai suamiku, kamu bahkan berdiri di sana seperti penonton asing, membiarkan keluargamu terus-menerus menghisap darahku sampai kering."

Agus merengut, wajahnya memerah karena tersinggung berat harga dirinya. "Jangan bawa-bawa aku dalam urusan utang si Doni, Ed! Kenapa jadi aku yang kamu serang?!"

"Karena kalian semua sama," jawab Eda tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Kalian menganggap aku bukan manusia, melainkan mesin ATM berjalan yang wajib mendanai semua kecerobohan dan kemalasan kalian."

Petugas penagih utang yang berdiri di sudut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak canggung menyaksikan pertengkaran keluarga tersebut. "Jadi... bagaimana ini, Pak Doni? Mau dibayar atau kuncinya saya sita sekarang?"

Doni menoleh panik ke arah petugas, lalu kembali menatap Eda dengan mata melotot. "Ed! Tolong aku, Ed! Ini terakhir kalinya!"

Eda menggeleng perlahan. Ia merogoh tas kerjanya, lalu menarik keluar amplop cokelat bersih yang sejak kemarin ia simpan di dalamnya. Tanpa membuka amplop tersebut, Eda meletakkannya di atas meja kayu di hadapan Agus dan ibunya.

"Di dalam amplop ini tidak ada uang satu juta rupiah yang kalian minta," ucap Eda dengan suara yang begitu tenang namun menggema di seluruh ruangan. "Yang ada di dalam amplop ini adalah surat gugatan dan keputusan finalku."

Seketika seluruh orang di ruangan itu tertegun. Ibu Ratna menghentikan tangisannya, Doni melongo, dan Rini membelalakkan mata menatap amplop cokelat di atas meja.

"Surat... surat apa itu, Ed?" tanya Agus dengan suara bergetar curiga, melangkah mendekati meja.

Eda menarik napas panjang, merapikan letak jilbab marunnya. Keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang selama berminggu-minggu kini akhirnya diucapkan dengan lantang.

"Aku sudah lelah," ucap Eda, menatap satu per satu wajah orang-orang yang selama ini membelenggunya. "Mulai hari ini, aku lepaskan semua tanggung jawab finansial untuk kalian. Dan untukmu, Agus... surat di atas meja itu adalah awal mula jalan kita masing-masing."

Suasana ruang tengah seketika berubah menjadi sunyi mencekam. Badai yang selama ini Eda tahan di dalam dadanya akhirnya meledak, bukan untuk menghancurkan dirinya, melainkan untuk meruntuhkan seluruh sangkar penderitaan yang selama ini mengurungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!