Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Menghapus Jejak dan Menguji Takdir
Hujan badai masih mengamuk, menutupi suara apa pun dari dalam klinik kecil itu. Bagi Li Yun, cuaca buruk ini adalah berkah yang menyamarkan segala tindakannya.
Hal pertama yang ia lakukan bukanlah membedah barang bawaan mayat itu, melainkan mengamankan lokasi. Sebagai seorang tabib, ia sangat memahami betapa mudahnya setetes darah atau sehelai rambut menjadi bumerang. Terlebih lagi, darah seorang kultivator mengandung fluktuasi energi spiritual yang bisa dilacak oleh anjing roh atau mantra pencari jejak.
Li Yun segera menuju ruang penyimpanannya dan mengambil sebuah guci tanah liat berisi Bubuk Pelarut Teratai Hitam—campuran kimia keras yang biasanya ia gunakan dalam dosis sangat kecil untuk membakar jaringan daging busuk pada pasien penderita kusta parah. Ia menaburkan bubuk itu secara merata di atas genangan darah, menetralkan bau amis dan menghancurkan sisa-sisa energi spiritual yang menempel di lantai kayunya.
Setelah itu, ia membungkus mayat kultivator tersebut berlapis-lapis. Lapis pertama adalah kain rami yang telah direndam dalam cuka pekat. Lapis kedua adalah terpal kulit minyak. Lapis terakhir, ia memasukkan tubuh kaku itu ke dalam tong kayu besar yang biasa ia gunakan untuk membuang ampas rebusan obat herbal yang berbau sangat menyengat. Patahan pedang perak yang bersinar redup itu ia bungkus dengan kain berlapis timah sebelum memasukkannya ke dasar tong yang sama.
Menjelang pukul dua dini hari, Li Yun mendorong gerobak kayunya menembus hujan deras menuju pinggiran Hutan Tulang Berduri. Hutan itu dikenal memiliki rawa berlumpur hisap yang mengeluarkan gas beracun (miasma) sepanjang tahun. Binatang buas pun enggan mendekat, apalagi manusia fana.
Dengan tenang dan tanpa emosi, Li Yun menenggelamkan tong kayu itu ke bagian rawa yang paling dalam. Ia berdiri dalam diam selama seperempat jam, memastikan lumpur hisap itu menelan tong tersebut sepenuhnya tanpa sisa gelembung. Gas beracun rawa itu secara alami akan mengacaukan pelacakan spiritual apa pun dari sekte pemburu kultivator tersebut.
Saat fajar menyingsing, Klinik Tabib Li buka seperti biasa.
Lantai kayunya berbau menyengat campuran cuka dan dupa gaharu, namun penduduk kota yang datang berobat menganggapnya wajar. Musim hujan selalu membawa penyakit lembap, dan membakar gaharu adalah praktik medis umum untuk mengusir udara kotor. Li Yun tersenyum tipis, memeriksa denyut nadi Bibi Chen yang menderita rematik, dan meresepkan sup penghangat tubuh seolah-olah ia tidak baru saja mengubur seorang kultivator sakti semalam.
Malam kembali turun. Setelah memastikan seluruh pintu dan jendela terkunci berlapis, Li Yun turun ke ruang bawah tanah rahasianya. Ruangan itu hanya diterangi satu lilin kecil.
Di atas meja batunya, tergeletak batu giok hijau lumut yang retak.
Sebagian besar pemuda fana seusianya mungkin akan langsung meneteskan darah mereka ke atas artefak tersebut, didorong oleh fantasi menjadi dewa yang terbang menembus awan. Namun, Li Yun adalah pria yang terbiasa melihat manusia mati karena salah meminum akar obat. Baginya, artefak tak dikenal sama berbahayanya dengan racun bisa ular tingkat tinggi.
Ia tidak langsung menyentuhnya dengan kulit terbuka. Dengan sarung tangan kulit tipis, ia pertama-tama meneteskan darah ayam di atas permukaan giok tersebut. Tidak ada reaksi. Darah itu hanya menggenang.
"Bukan haus darah," gumam Li Yun pelan.
Ia kemudian mengambil jarum peraknya, menusuk ujung jari telunjuknya sendiri, dan memeras satu tetes darah. Namun, ia tidak langsung meneteskannya ke batu giok. Tetesan darahnya ia campur dengan Cairan Penawar Racun Seratus Bunga, sebuah tindakan pencegahan andai kata giok itu memiliki mantra kutukan penghisap jiwa.
Baru setelah itu, ia membiarkan campuran darahnya menyentuh permukaan giok.
Ssssh.
Darah itu terserap ke dalam retakan giok bak air yang jatuh ke padang pasir. Sesaat kemudian, cahaya hijau yang sangat redup dan hangat memancar. Bukan ledakan energi yang menghancurkan langit, melainkan pendaran lembut yang perlahan mengalir memasuki pikiran Li Yun melalui kontak visual.
Ratusan aksara kuno emas mengalir di benaknya, menyusun sebuah gulungan usang.
Sutra Pernapasan Kayu Mati.
Li Yun memejamkan mata, membiarkan pikirannya membaca deretan aksara tersebut. Ini bukanlah teknik kultivasi untuk membelah gunung atau memanggil petir. Justru, ini adalah teknik dasar yang sangat aneh.
Sutra Pernapasan Kayu Mati berfokus pada penyembunyian esensi kehidupan. Teknik ini mengajarkan bagaimana seorang kultivator meniru pohon mati di musim dingin—memperlambat detak jantung, menyembunyikan fluktuasi Qi hingga ke tingkat manusia fana biasa, dan menyerap energi spiritual langit dan bumi dengan kecepatan yang sangat, sangat lambat melalui pori-pori kulit, bukan menelannya secara rakus.
Kelemahan teknik ini sangat fatal bagi mereka yang mencari kekuatan instan: kecepatan terobosannya sepuluh kali lebih lambat dari teknik kultivasi normal mana pun. Itulah mengapa kultivator yang memberikannya menyebut batu giok ini sebagai sesuatu yang "membuatnya mati jika terlalu cepat mencari kekuatan". Teknik ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa, tidak cocok untuk bertarung dan berebut sumber daya di dunia kultivasi yang brutal.
Namun, saat Li Yun membuka matanya, senyum tipis yang jarang terlihat kini terbentuk di sudut bibirnya.
Bagi para jenius sekte besar, ini adalah teknik sampah yang membuang-buang waktu. Tetapi bagi seorang tabib sekuler yang harus menyembunyikan identitasnya dari pandangan para kultivator kejam, ini adalah teknik dewa. Teknik ini sempurna untuk bertahan hidup dalam bayang-bayang.
"Pohon yang tumbuh terlalu cepat akan mudah patah diterjang badai," gumam Li Yun, memandang nyala lilin. "Sedangkan kayu mati di dasar hutan sering kali tak tersentuh hingga ribuan tahun."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Li Yun duduk bersila. Ia mulai mengatur napasnya sesuai dengan petunjuk sutra tersebut. Tarik napas tiga detik, tahan sembilan detik, hembuskan perlahan selama dua belas detik. Perlahan-lahan, ritme jantungnya melambat. Kehadirannya di ruangan itu seolah membaur dengan meja batu dan dinding tanah di sekitarnya.