Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Sebuah Batas
Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, keheningan yang mencekam menyelimuti kami berdua. Rara melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke luar dari jendela mobil dengan rahang yang mengeras. Begitu taksi berhenti di depan pagar rumah kosku, kami turun dan melangkah masuk ke dalam kamar. Barulah bom emosi Rara itu meledak.
Brak!
Rara membanting tasnya ke atas kasur dengan kasar. Dia berbalik menatapku dengan mata yang menyala penuh amarah.
"Lo bener-bener udah gila ya, Via. Lo Kehilangan akal sehat, hah?!" bentak Rara, suaranya bergetar karena menahan rasa malu dan emosi yang membuncah.
"Bisa-bisanya lo mempermalukan diri lo sendiri, kayak tadi di kampus orang. Jongkok, menangis, meracau di pinggir jalan cuma gara-gara cowok yang gak peduli sama lo. Lo gak punya harga diri lagi, Via?!"
Mendengar bentakan Rara, pertahananku yang sudah rapuh karena lelah mendadak patah. Rasa bersalah yang bercampur dengan rasa frustrasi membuatku tidak bisa menahan diri lagi. Aku balas berteriak, meluapkan seluruh emosiku.
"Aku cuma capek, Rara. Aku capek!" air mataku kembali luruh, kali ini karena amarah yang memuncak.
"Kamu gak tahu rasanya jadi aku. Aku cuma ingin bisa segera dekat sama Arga. Aku cuma mau dia membalas pesanku, aku cuma mau dia melihatku, apa itu salah, Ra?!"
"Ya salah, Via. Cara lo itu salah total!" Rara maju satu langkah, menunjuk mukaku.
"Lo itu memaksa. Lo egois, lo mengejar bayangan khayalan lo, pada orang asing yang sekedar mirip. Lo pikir dengan cara menangis di depan kampusnya, dia bakal kasihan terus jatuh cinta sama lo? Enggak, Via. Yang ada dia makin ilfeel dan menganggap lo cewek aneh!"
"Aku gak peduli!" sahutku ketus, memalingkan wajah sambil terisak.
"Setidaknya aku udah jujur sama dia di mobil tadi. Aku gak berniat buruk!"
Rara menghembuskan napas panjang dengan kasar, lalu tertawa sumbang. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan tidak percaya.
"Lo tahu gak, kenapa gue bisa datang ke kampus elit itu dan tahu lo ada di sana?" tanya Rara dengan nada suara yang mendadak melunak, namun terdengar begitu dingin.
Aku mendongak, menatapnya dengan sisa air mata di pelupuk mata. "Kamu... tahu dari cowok jaket jins itu, kan?"
"Bukan!" Rara bersedekap, menatap lurus ke mataku.
"Arga yang menghubungi Danu, meminta nomor gue Via. Dia bingung dan jengkel ada cewek yang tiba-tiba menangis histeris di depan kampusnya. Pas gue tahu itu lo, rasanya muka gue kayak ditaruh di tempat sampah, Ra. Gue malu banget sama sepupu gue sendiri, gue malu sama Arga!"
Kata-kata Rara bagai hantaman gondam yang telak menghancurkan sisa pembelaanku.
"Aku... aku gak bermaksud membuat kamu malu, Ra..." bisikku parau, menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tangan.
Rara berjalan mendekat, lalu duduk di sampingku. Dia tidak lagi membentak, melainkan menghela napas panjang yang sarat akan rasa lelah. Dia merangkul bahuku yang berguncang hebat karena tangis yang kembali pecah.
"Gue menceramahi lo begini bukan karena gue benci sama lo, Via," ujar Rara lirih, mengusap punggungku lembut.
"Gue cuma gak mau lo makin tenggelam dalam ilusi ini. Berhenti mengejar Arga dengan cara begini. Kalau dia memang takdir lo, jalannya gak akan se-menyiksa ini, Via. Tolong... demi kebaikan lo sendiri, mundurlah pelan-pelan."
Aku tidak menjawab. Aku hanya terus menangis di dalam pelukan Rara, meratapi kebodohanku yang telah menghancurkan segalanya dalam satu sore yang impulsif.
...----------------...
Malamnya, setelah Rara pulang ke rumahnya sendiri, kamarku terasa begitu luas dan dingin. Kata-kata Rara terus berputar di otakku bagai kaset rusak. Dada ini rasanya sesak bukan main. Aku tahu aku sudah mempermalukan diriku sendiri. Aku tahu aku dicap sebagai cewek tidak jelas.
Namun, di tengah rasa hancur itu, ego dan keras kepalaku kembali berbisik. Aku tidak mau pencarian ini berakhir dengan kesan seburuk itu. Aku tidak mau dia mengingatku hanya sebagai "cewek gila" yang menangis di trotoar.
Aku mulai meraih ponsel dengan gemetar karena gugup. Aku membuka ruang obrolan dengan Arga. Masa bodoh jika pesan ini akan kembali diabaikan atau bahkan diblokir. Aku hanya ingin menuangkan apa yang ada di kepalaku. Jemariku mulai mengetik sebuah pesan yang sangat panjang.
“Arga, aku minta maaf atas kekacauan di depan kampusmu tadi sore. Aku tahu, aku kekanak-kanakan dan membuat kamu tidak nyaman di depan teman-temanmu. Mungkin ini terdengar seperti pesan dari sekian banyak cewek yang sering meneror akun sosial mediamu. Tapi aku mengejarmu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, aku tidak pernah melirik laki-laki mana pun di dunia ini. Hidupku punya duniaku sendiri yang sangat tertutup. Tapi sejak aku melihatmu di trotoar waktu itu, ada sesuatu yang membuatku merasa... aku harus keluar dan hidup nyata bersama kamu.”
Napas dadaku terasa berat saat mengetik bagian selanjutnya. Aku harus menurunkan seluruh egoku kali ini.
“Tapi ternyata aku salah bersikap. Maafkan aku. Aku tidak berniat menjadi penguntit yang menakutkan. Aku hanya mau meminta satu hal... tolong beri aku kesempatan selama 1 bulan ini saja untuk bisa dekat dan mengenalmu sebagai teman. Tapi, jika dalam waktu 1 bulan itu kamu merasa aku tetap menyebalkan dan mengganggu hidupmu... aku berjanji, aku akan mundur. Aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi untuk selamanya.”
Klik.
Tombol kirim kutekan. Begitu pesan itu terkirim, aku langsung membalikkan ponsel itu ke atas kasur, menutup wajahku dengan bantal, dan menangis sejadi-jadinya. Aku baru saja mempertaruhkan sisa harga diriku yang terakhir di hadapan gunung es itu.
Satu jam berlalu dalam kesunyian yang menyiksa. Aku tidak berani menyentuh ponselku sama sekali lagi. Hingga tepat pada pukul sepuluh malam, ponsel di atas kasur bergetar pendek.
Ting.
Jantungku rasanya mau copot, dengan sisa keberanian yang ada, aku mengambil ponsel dan membalik layarnya. Mataku terbelalak, ada notifikasi balasan dari Arga. Pesan panjangku ternyata dibaca olehnya, aku buru-buru membukanya. Balasannya tidak sepanjang pesanku, namun sukses membuat napasku tertahan.
“1 bulan. Jangan bikin drama atau nangis lagi di kampus gue. Kalau lu langgar, gue blokir dan jangan harap bisa muncul dihadapan gue lagi.”
Aku menatap layar itu tidak percaya. Mulutku setengah terbuka. Dia... dia menyetujuinya? Meskipun kalimatnya tetap ketus, dingin, dan penuh ancaman, Arga Wijaya baru saja memberiku waktu tiga puluh hari.
"Satu bulan..." bisikku parau, perlahan sebuah senyuman tipis muncul di sela-sela mataku yang masih sembap.
Kesempatan itu akhirnya datang juga. Jalanku memang tidak akan mudah, dan aku harus memutar otak bagaimana cara mendekatinya dengan normal tanpa memicu kemarahannya lagi. Waktu satu bulan ini akan menjadi penentu, apakah aku bisa mencairkan es batu di dunia nyata ini, atau aku memang harus merelakan dia tetap menjadi sekadar pangeran di dalam mimpiku.