💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tiga bulan berlalu sejak malam di mana klan Adhitama membumihanguskan Sindikat Bayangan dari peta dunia bawah tanah. Dua bulan setelahnya, Elvano tak ingin menunda lagi. Ia akhirnya meresmikan hubungannya dengan sang ratu dalam ikatan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.
Dan mulai saat itu juga, Kael dan Kai resmi mengubah panggilan mereka. Keduanya sepakat mengganti panggilan "Bunda" menjadi "Mama", dan "Paman El" menjadi "Papa El".
Pagi itu, Mansion Adhitama dilanda jenis kepanikan yang sama sekali baru: Career Day atau Hari Karier di Rosewood Academy.
Di ruang keluarga, Alana berdiri merapikan kerah seragam Kael. Ia mengenakan setelan blazer wanita berwarna navy gelap yang memancarkan aura profesional namun tetap tajam.
Di sebelahnya, Elvano berdiri di depan cermin besar, memasang jam tangan Patek Philippe-nya dengan wajah yang jauh lebih tegang daripada saat ia menghadapi penembak jitu. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang tanpa dasi, mencoba terlihat santai, meski bahu lebarnya dan tatapan matanya tetap memancarkan wibawa yang mengintimidasi.
"Mama, apakah Papa El benar-benar harus ikut?" Kai mengeluh, menendang pelan ujung karpet Persia.
"Ini Hari Karier, bukan Hari Eksekusi. Terakhir kali Papa El datang ke sekolah kepala sekolah sampai tersedak tehnya karena ketakutan."
Elvano mendengus keras. "Itu karena wali kelasmu mengeluh kau membongkar komputer sekolah untuk merakit perangkat penyadap, Kai. Kepala sekolah tersedak karena aku menawarkan untuk membelikan sekolah ini sepuluh komputer baru agar kau bisa membongkarnya dengan bebas."
"Tepat. Papa terlalu intimidatif," sahut Kael santai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Bastian, yang baru saja masuk sambil mengunyah apel, tertawa terbahak-bahak.
"Anak itu benar, El. Kalian berdua terlihat seperti pembunuh bayaran tingkat dewa yang sedang menyamar menjadi orang tua murid. Cobalah tersenyum sedikit. Anak-anak SD bisa menangis jika kau menatap mereka seperti kau menatap musuh.
Alana memutar bola matanya, mengambil tas tangannya dan menatap suaminya itu.
"Abaikan dia. Kau terlihat tampan, Tuan Adhitama. Ingat saja kesepakatan kita hari ini: kau adalah pengusaha logistik dan ekspor-impor, dan aku adalah konsultan keamanan siber. Tidak ada kata 'mafia', 'senjata', atau 'meretas rekening' di depan anak-anak sekolah dasar. Mengerti?"
Elvano menghampiri istrinya, melingkarkan satu lengan kekarnya di pinggang Alana dan mengecup pelipis wanita itu kilat.
"Sesuai perintahmu, Ratuku. Ayo berangkat sebelum kepala sekolah menelpon dan memohon ampun padaku lagi."
___________
Aula utama Rosewood Academy dihiasi oleh balon warna-warni dan stan-stan kecil tempat para orang tua memamerkan profesi mereka. Udara dipenuhi oleh tawa anak-anak dan obrolan para orang tua kaya raya yang sibuk memamerkan kekayaan dan jabatan.
Namun, seketika, suasana aula yang riuh itu mendadak hening selama beberapa detik ketika pintu utama terbuka.
Elvano dan Alana melangkah masuk berdampingan, diapit oleh Kael dan Kai. Jace dan dua pengawal yang menyamar berjaga dari kejauhan, membaur di sudut ruangan. Kombinasi ketampanan Elvano yang arogan dan kecantikan Alana yang dingin serta mematikan sukses membuat setiap pasang mata di aula itu terpaku.
Para ibu berbisik-bisik kagum sekaligus iri, sementara para bapak-bapak mendadak memperbaiki postur tubuh mereka, merasa terintimidasi.
"Paman El! Aunty Al!" Lea, yang berdiri di dekat stan melukis, melambaikan tangannya dengan riang. Sonia tersenyum dari belakang putrinya, mengangkat cangkir kopi plastiknya ke arah adiknya.
Mereka berjalan menuju stan yang telah disiapkan untuk keluarga Adhitama. Di meja mereka, Alana telah menyiapkan sebuah laptop dan beberapa perangkat keras komputer untuk mendemonstrasikan cara kerja firewall sederhana, sementara Elvano membawa maket kapal kargo besar—representasi bisnis legal klan mereka.
"Wah, wah. Lihat siapa yang akhirnya bergabung dengan acara sekolah," sebuah suara melengking dan dibuat-buat menyela kedamaian mereka.
Nyonya Clarissa, ketua komite orang tua murid sekaligus istri dari seorang anggota dewan kota, melangkah menghampiri meja mereka. Ia mengenakan gaun desainer mencolok, menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang disembunyikan di balik senyum palsu.
Clarissa selalu merasa menjadi ratu di sekolah ini, dan kehadiran Alana yang mendadak menjadi Nyonya Adhitama—menyingkirkan deretan sosialita yang selama ini mengantre untuk Elvano—jelas mengusik egonya.
"Tuan Adhitama, suatu kehormatan melihat Anda di sini," sapa Clarissa dengan nada semanis madu pada Elvano, sebelum memutar matanya menatap Alana.
"Dan... Nyonya Adhitama. Saya dengar Anda dulunya hanya... siapa? Pengasuh anak-anak ini sebelum Anda menikah? Pasti sangat menyenangkan bisa melompat dari kelas pekerja ke dalam keluarga Adhitama."
Urat di leher Elvano seketika menonjol. Suhu di sekitar meja itu merosot tajam. Mata elangnya menggelap, bersiap untuk menguliti wanita berisik itu hidup-hidup.
Namun, sebelum Elvano sempat membuka mulut dan memicu insiden internasional di sekolah dasar, sebuah tangan lembut namun tegas menahan lengan jasnya.
Alana menatap suaminya sejenak, mengisyaratkan agar pria itu mundur. Sang Singa Betina tidak butuh perlindungan dari cibiran sosialita kelas teri.
Alana mengalihkan pandangannya pada Nyonya Clarissa. Senyum tipis yang sangat anggun dan luar biasa membekukan terukir di bibirnya. Ia bertumpu dengan anggun di tepi mejanya.
"Nyonya Clarissa, bukan?" sapa Alana lembut. Sangat lembut.
"Anda salah informasi. Saya bukan pengasuh. Saya adalah konsultan keamanan siber. Pekerjaan saya adalah mencari... celah. Celah keamanan di dunia digital yang sering kali disembunyikan oleh orang-orang yang terlihat sempurna dari luar."
Clarissa mendengus pelan, melipat tangan di dada. "Oh, benarkah? Terdengar seperti pekerjaan teknisi biasa bagiku."
Alana memiringkan kepalanya. "Benar sekali. Teknisi yang sangat teliti. Sama telitinya saat saya tanpa sengaja melihat lalu lintas data dari yayasan amal milik suami Anda pagi ini. Mengejutkan sekali melihat bagaimana dana bantuan sosial untuk panti asuhan bisa 'tanpa sengaja' dialihkan ke sebuah rekening offshore di Bahama. Nama perusahaannya... Sunset Boulevard Holdings, jika saya tidak salah ingat?"
Wajah Nyonya Clarissa yang penuh riasan seketika pucat pasi bak kertas. Matanya terbelalak ngeri. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah rahasia terbesar suaminya yang bisa menjebloskan mereka ke penjara dalam hitungan menit.
"B-bagaimana kau..." suara Clarissa tercekat, gemetar ketakutan.
Alana tersenyum lebih lebar, mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik dengan nada mematikan yang hanya bisa didengar oleh wanita itu.
"Di dunia saya, Nyonya Clarissa, mulut yang terlalu berisik biasanya menutupi rahasia yang sangat kotor. Jangan pernah mencoba merendahkan keluarga saya lagi, atau besok pagi, seluruh media di negara ini akan menerima salinan mutasi rekening suami Anda."
Clarissa mundur selangkah, napasnya tersengal. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu memutar tubuhnya dan bergegas pergi menjauh dari area stan Adhitama layaknya melihat hantu, nyaris menabrak meja orang lain saking paniknya.
Elvano, yang sejak tadi mendengarkan setiap ancaman halus istrinya, mendengus pelan. Ia menyilangkan lengannya di dada, menatap Alana dengan kilat pemujaan yang mutlak dan berbahaya.
"Mengingatkan wanita itu pada penggelapan pajak suaminya di tengah acara sekolah? Menggunakan data intelijen untuk urusan ibu-ibu PKK?" Elvano menggelengkan kepalanya perlahan, tawa seraknya mengalun rendah.
"Kau benar-benar menakutkan, Sayang."
Alana mengangkat bahunya santai, merapikan letak laptop di atas mejanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku hanya sedang mendemonstrasikan pekerjaanku sebagai konsultan siber, El. Sesuai kesepakatan, kan?"
Kael dan Kai yang berdiri di bawah meja saling bertatapan, lalu melakukan high-five tanpa suara.
"Papa El," bisik Kai sambil menarik ujung jas Elvano.
"Satu hal yang harus Papa pelajari. Jangan pernah memancing amarah Mama saat dia sedang memegang laptop atau akses WiFi gratis."
Elvano berlutut, menyejajarkan dirinya dengan si kembar, lalu melirik ke arah Alana yang sedang tersenyum meladeni beberapa murid yang penasaran dengan peralatan komputernya.
"Aku tahu, Jagoan," bisik Elvano pada sang putra, matanya tak lepas dari sosok istrinya.
"Itulah alasan mengapa Papa lebih memilih menikahinya daripada menjadi musuhnya. Papa lebih suka dia meretas hidup Papa setiap hari daripada meretas musuh kita."
Di tengah keriuhan aula sekolah dasar dengan ornamen warna-warni yang jauh dari bau mesiu, bau darah, dan bahaya maut, Elvano Adhitama menemukan kebahagiaan paling nyata yang tak pernah ia sangka akan ia miliki.
Bersama si kembar yang jenius nan mematikan, serta ratu peretas yang kini menyandang nama belakangnya, keluarga mafia itu berdiri kokoh. Bukan sekadar penguasa bawah tanah, namun juga sebagai keluarga yang tak akan pernah bisa dihancurkan.
Bersambung...