NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Muntah

Malam makin larut di studio. Devan akhirnya terkulai lemas di atas sofa, racauannya perlahan berubah jadi dengkuran halus bercampur napas berat. Alkohol benar-benar mematikan kesadarannya.

Raka menatap Devan yang tertidur pulas dengan muka kusam. Ia menghembuskan napas panjang, lalu melirik jam dinding studio yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Dion, Miko, bantu gue angkat nih orang ke motor," perintah Raka tegas. "Gue yang bakal nyetir motornya Devan, anter dia pulang."

"Bisa, Ka? Rumahnya lumayan jauh kan?" tanya Miko merasa bersalah.

"Bisa. Kagak tega gue ngebiarin ini orang terlunta-lunta di studio," balas Raka pendek.

Teo yang sejak tadi diam mendadak beranjak berdiri dari sudut ruangan. Cowok itu menyambar jaketnya. "Gue ikut, Bang. Gue bonceng di belakang Devan biar dia kagak jatuh."

Raka menatap Teo sejenak, lalu mengangguk pelan. "Yaudah, ayo."

Sementara itu, di rumah tua yang sepi, Bellona duduk di sudut sofa ruang tamu. Lampu utama sengaja tak ia matikan. Pembatas buku Sejarah yang sedang ia baca tak berpindah halaman sejak satu jam lalu.

Jam dinding berdetak nyaring. Tik... tik... tik...

Pukul setengah sepuluh malam. Devan belum juga pulang.

Bellona mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak peduli. Pria itu mau kelayapan sampai subuh atau tidak pulang sekalian pun bukan urusannya. Namun, bayangan bentakan Devan tadi pagi dan punggung pria itu yang meredup di kosen pintu terus membayangi pikirannya.

Brummm...

Suara deru motor tua yang sangat dihafalnya mendadak terdengar dari depan gang, lalu berhenti tepat di teras. Bellona refleks menegakkan tubuhnya.

Brak!

Pintu depan terdorong pelan. Raka masuk duluan sambil merangkul tubuh Devan yang terkulai pasrah, disusul Teo yang menahan tubuh Devan dari sisi lainnya. Bau menyengat alkohol pekat langsung membasuh ruang tamu yang sempit itu.

Bellona membelalakkan matanya, berdiri dari sofa. "Bang Raka? Ini... kenapa?"

"Bell," panggil Raka dengan wajah lelah dan penuh penyesalan. "Sorry ya udah malam baru anter Devan. Anak ini... mabok parah di studio."

Bellona membeku di tempatnya. Bau miras yang tajam menyengat hidungnya. Rasa benci dan kecewa yang baru saja mereda mendadak meluap kembali, memukul dadanya dengan telak. Pria ini... malah pergi mabuk-mabukan setelah membentaknya tadi pagi.

Raka dan Teo merebahkan tubuh Devan yang tak berdaya ke atas sofa. Devan bergumam tak jelas, matanya terpejam rapat dengan wajah memerah.

"Dia kagak apa-apa, cuma ketiduran gara-gara alkoholnya keras banget," ujar Raka sambil menyapu keringat di dahinya. Ia menatap Bellona. "Gue sama Teo pamit dulu ya, Bell. Kalau ada apa-apa, telepon gue aja."

Bellona hanya mengangguk kaku, suaranya tercekat di tenggorokan.

Setelah Raka dan Teo pamit melangkah keluar, pintu depan kembali tertutup. Hening malam menyisakan Bellona sendirian di ruang tamu bersama Devan yang terbaring mabuk di sofa.

Bellona melangkah pelan mendekati sofa. Ia menatap Devan dari atas—menatap pria yang mengaku sebagai ayahnya itu terpuruk dalam keadaan paling menyedihkan. Air mata panas kembali menetes di pipi Bellona, bercampur antara amarah, rasa benci, dan kehampaan yang luar biasa parah.

Bellona berdiri mematung di samping sofa, menatap Devan yang terbaring lemah dengan napas memburu dan bau alkohol yang menyengat. Air mata gadis itu menetes makin deras, jatuh menimpa lantai semen yang dingin.

"Dasar pria brengsek..." gumam Bellona sesak di sela tangisnya, suaranya gemetar parah. "Katanya mau tanggung jawab... tapi kelakuan lo cuma bisa mabok-mabokan kayak gini..."

Rasa amarah, Kecewa, dan kepedihan yang menumpuk sejak pagi mendadak meledak. Bellona mengepalkan tangannya, lalu melayangkan tamparan ke pipi Devan.

PLAK!

"Bangun lo, Bego!" bentak Bellona melengking, air matanya makin deras. Devan hanya meringis pelan, matanya masih terpejam rapat dalam mabuknya.

PLAK!

"Bangun! Jangan cuma bisa kabur kayak gini!" tampar Bellona lagi untuk kedua kalinya.

Amarahnya makin tak terkendali. Dengan sisa tenaganya, Bellona melayangkan tamparan ketiga yang paling keras tepat di wajah Devan.

PLAK!

Tamparan keras itu akhirnya memecah kesadaran Devan. Pria itu mendadak membelalakkan matanya, napasnya tersengal-sengal kaget. Pipi kanannya merah padam.

"Ugh..." Devan memegangi perutnya yang mendadak melilit hebat.

Belum sempat Devan mengumpulkan kesadarannya atau melihat siapa yang ada di depannya, rasa mual yang luar biasa membakar tenggorokannya. Devan membungkuk kasar ke depan sofa dan langsung muntah melimpah ke lantai semen.

HOEEEEK!

Cairan pahit sisa alkohol dan makanan menyembur keluar, memenuhi ruang tamu dengan bau menyengat yang menusuk hidung. Devan terbatuk-batuk hebat, dadanya kempas-kempis dengan tubuh gemetar kaku di atas sofa.

Bellona melangkah mundur dua tindak, membelalakkan matanya terkejut melihat Devan yang bersandar payah sambil memegangi perutnya yang mual parah. Tangis Bellona seketika terhenti, menyisakan hening di antara bau muntah dan napas Devan yang memburu.

Devan menyapu bibirnya kusam memakai punggung tangan. Tubuhnya masih gemetar, napasnya memburu berbau alkohol dan asam. Matanya yang merah dan teler berat mengerjap kaku, menatap lurus ke arah Bellona yang berdiri menegang di depannya.

Namun pandangan Devan jelas belum sadar penuh. Otaknya yang masih terpengaruh mimpi sewaktu pingsan tadi malah meracau tanpa filter.

"Anjir..." gumam Devan, suaranya serak-serak teler sambil terkekeh konyol. "...cewek yang tadi... montok banget buset..."

Mendengarnya, Bellona yang tadinya sempat merasa kaget dan kasihan seketika membeku. Matanya membelalak lebar, memahami bahwa pria brengsek di hadapannya ini bukannya menyesali perbuatannya, tapi malah memikirkan cewek tidak jelas saat mabuk parah.

Muka Bellona langsung memerah padam oleh amarah yang meledak sepuluh kali lipat.

"DEVAN BRENGSEK! ANJING LO YA!" teriak Bellona melengking keras hingga suaranya pecah, mengguncang seluruh rumah tua itu.

"Gue di sini nangis-nangis mikirin kelakuan lo, lo malah mikirin cewek montok, Bego?!" amuk Bellona tanpa ampun. Ia menyambar bantal sofa di dekatnya lalu memukulkannya bertubi-tubi ke kepala Devan yang masih teler.

BUK! BUK! BUK!

"Aduh! Aduh! Ampun, Bocah!" Devan meringis kesakitan sambil mencoba menutupi kepalanya dengan kedua lengan, kesadarannya mendadak tertarik paksa kembali ke dunia nyata gara-gara amukan maut Bellona.

"DASAR PRIA MESUM GATAL! MATI AJA LO SANA!" jerit Bellona sekali lagi, menyapu air matanya kasar lalu berbalik berlari menuju kamarnya dan membanting pintu sekuat tenaga.

BRAK!

Devan terduduk kaku di sofa dengan kepala pening dan bau muntah di sekelilingnya. Pria itu mengusap mukanya yang perih bekas tamparan dan pukulan bantal, mendadak sadar sepenuhnya kalau racauan miringnya barusan makin memperparah bencana di rumah itu.

Devan memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Kesadarannya kini terkumpul seratus persen, bertabrakan langsung dengan bau muntah di lantai dan sisa rasa perih di pipinya.

"Duh, mampus gue..." rintih Devan pelan, merutuki mulutnya sendiri yang tidak disaring pas baru bangun tadi.

Pria itu menghembuskan napas panjang yang amat lelah. Meski dadanya terasa sesak dan kepalanya mau pecah, Devan memaksa tubuhnya berdiri. Ia melangkah kaku ke belakang, mengambil kain lap, ember berisi air, dan pembersih lantai.

Di tengah malam yang makin dingin, Devan mengepel muntahannya sendiri sampai bersih, lalu menyemprotkan pengharum ruangan murah agar baunya hilang. Setelah semuanya beres, ia membasuh mukanya di kamar mandi dan mengganti kausnya yang kotor.

Langkahnya kembali membawanya berdiri di depan pintu kamar Bellona.

Devan mengetuk pintu kayu itu pelan sekali—hampir mirip usapan.

"Bell..." panggil Devan dari luar, suaranya serak dan teramat pelan. "Gue... gue beneran minta maaf. Yang tadi itu gue salah, gue cuma orang mabok yang kagak jelas. Gue kagak bermaksud ngomong gitu."

Hening. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.

Devan menyandarkan dahinya di pintunya. "Gue tahu lo benci banget sama gue. Tapi makasih ya... udah ngetok kesadaran gue tadi, walaupun pake tabokan keras lo itu."

Devan tertawa kecil—sebuah tawa kaku yang getir—sebelum akhirnya menghela napas pasrah.

"Minyak kayu putih sama air hangat gue taruh di meja depan ya. Kalau perut lo mual gara-gara bau tadi, diminum airnya. Gue tidur di sofa."

Devan melangkah mundur, lalu merebahkan badannya di atas sofa ruang tamu yang kini sudah bersih. Pria itu menatap langit-langit rumahnya yang gelap, membiarkan rasa penyesalan dan kepalanya yang pening menuntunnya tertidur perlahan.

Di balik pintu kamar, Bellona masih duduk meringkuk di balik selimut. Isakannya sudah berhenti. Mendengar langkah kaki Devan yang sibuk membersihkan lantai tadi dan bisikan maafnya yang terdengar pasrah, ada perasaan aneh yang pelan-pelan menyusup di dada Bellona—rasa kesal yang masih membara, tapi tak lagi sepekat tadi.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!