NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENTUHAN PERTAMA

Hujan deras malam itu terasa seperti jarum es yang menusuk-nusuk kulit. Mereka berdua berjalan tertatih menembus gang-gang gelap, menghindari jalan raya utama yang kini dipenuhi raungan sirine polisi. Setelah hampir setengah jam menyeret langkah, Elena akhirnya menemukan sebuah motel kumuh berlantai dua yang letaknya terjepit di antara toko onderdil bekas dan bengkel las yang sudah tutup.

Lampu neon motel itu berkedip-kedip redup menampilkan tulisan "Kamar Kosong" berwarna merah. Penjaga di meja resepsionis hanya seorang kakek tua yang lebih sibuk menonton TV tabung kecil daripada peduli melihat dua orang basah kuyup menyewa kamar dengan uang tunai pecahan seratus dolar.

Begitu pintu kamar bernomor 12 itu tertutup rapat dan dikunci ganda dari dalam, Elena langsung melemparkan tas kanvas raksasa dari punggungnya ke lantai. Tiga juta dolar di dalamnya membentur lantai kayu lapuk dengan suara berdebum berat.

Gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Rambutnya berantakan, gaun merah marunnya basah kuyup dan kotor oleh lumpur serta noda darah yang bukan miliknya.

Di tengah ruangan, Leo berjalan gontai menuju kasur berseprai pudar. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tubuhnya langsung ambruk ke atas kasur dengan posisi tengkurap. Erangan pelan lolos dari sela bibirnya saat punggungnya yang memar parah menyentuh permukaan kasur, meskipun kasur itu tidak empuk sama sekali.

"Jangan mati dulu, kita belum selesai membagi uangnya," tegur Elena mencoba terdengar sinis, tapi suaranya bergetar karena kelelahan dan sedikit panik.

Leo hanya merespons dengan gumaman tidak jelas. Topeng silikon Rafael Rossi di wajahnya sudah hancur setengah, mengelupas di bagian rahang dan dahi akibat panas ledakan serta gesekan aspal, membuatnya terlihat seperti monster mengerikan.

Elena menghela napas panjang. Ia berjalan ke arah kamar mandi kecil yang bau kapur barus, menyalakan keran wastafel, dan membasahi sebuah handuk kecil yang terlihat agak kasar. Dari tas kecilnya sendiri yang entah bagaimana masih selamat, ia mengeluarkan kotak P3K darurat berisi antiseptik, perban, dan salep pereda memar.

Gadis itu kembali ke dekat kasur, berdiri di samping tubuh Leo yang masih tengkurap. Ia menatap punggung pria itu yang jasnya sudah hangus dan robek di mana-mana. Darah segar merembes keluar dari area bahu kanan, menandakan jahitan kasarnya siang tadi sudah terbuka sepenuhnya.

"Duduklah. Aku harus melepas baju rongsokanmu itu," perintah Elena menepuk lengan kiri Leo pelan.

Leo mendengus pelan, memaksakan dirinya untuk bangkit dan duduk di tepi kasur. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Kau kelihatan mengerikan," komentar Elena menarik kursi kayu reyot dari dekat meja rias lalu duduk tepat di depan Leo.

"Kau juga tidak terlihat seperti model majalah lagi," balas Leo tersenyum miring, menahan ringisan saat Elena mulai menarik kerah jas abunya.

Dengan sangat hati-hati, Elena membantu Leo melepaskan sisa-sisa jas sutra mahal yang sudah hancur lebur itu, melemparnya ke sudut ruangan. Kemeja putih di baliknya lebih parah lagi, lengket oleh darah setengah mengering dan lumpur.

"Kemejanya harus dirobek, menempel di lukamu," ucap Elena mengambil gunting medis dari kotak P3K.

Tanpa menunggu persetujuan, Elena memotong kemeja itu dari bagian bawah ke atas, membelahnya menjadi dua. Bau amis darah dan mesiu langsung menyengat hidung. Saat kain kemeja itu tersingkap, Elena menahan napasnya sesaat.

Bahu kanan Leo kembali berlubang dan menganga, darahnya terus menetes. Namun yang membuat Elena terdiam adalah kondisi dada pria itu. Permukaan dada bidang Leo dipenuhi ruam merah gelap yang perlahan berubah menjadi biru keunguan. Lebam raksasa itu membentang dari tulang selangka hingga ke perut atasnya. Itu adalah efek dari gelombang kejut granat yang ditahan Leo dengan tubuhnya sendiri demi melindungi Elena. Kalau saja Leo tidak punya fisik sekeras baja, tulang rusuknya pasti sudah hancur berkeping-keping.

"Kenapa diam?" tanya Leo menatap Elena dengan sisa sebelah matanya yang tidak tertutup topeng silikon melorot.

"Tampang palsumu ini mengganggu pemandangan," elak Elena mengalihkan pembicaraan.

Gadis itu mendekatkan wajahnya, meraih ujung topeng silikon di bagian leher Leo. Jari-jari Elena yang dingin menyentuh kulit asli Leo yang panas.

"Tahan sedikit, lemnya mungkin agak menarik kulitmu," bisik Elena pelan.

Leo hanya diam. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa mencium aroma hujan dan parfum samar dari tubuh Elena. Mata cokelat gelap gadis itu menatap serius ke arah rahang Leo, fokus melepaskan topeng silikon itu perlahan-lahan. Sentuhan jari Elena di wajahnya terasa sangat kontras dengan malam yang brutal ini. Lembut, hati-hati, dan anehnya, membuat detak jantung Leo sedikit lebih cepat dari seharusnya.

Krek.

Topeng silikon itu akhirnya terlepas sepenuhnya, memunculkan kembali wajah asli Leonardo Valenti. Wajah yang lelah, kotor, tapi tetap memiliki garis rahang tegas dan tatapan tajam yang khas.

Elena melempar topeng itu ke meja. Ia kemudian mengambil kapas yang sudah dibasahi alkohol.

"Ini bakal perih. Jangan menjerit seperti anak kecil," peringat Elena mulai membersihkan area bahu Leo yang berdarah.

Leo mendesis keras saat cairan alkohol itu menyentuh luka terbukanya. Otot rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram tepi kasur kuat-kuat. Elena bekerja dalam diam. Tangannya sangat cekatan membersihkan darah, menjahit kembali luka yang terbuka dengan tiga jahitan cepat, lalu menutupnya dengan perban baru. Ia sudah terbiasa mengurus luka semacam ini, tapi biasanya ia melakukannya dengan emosi datar.

Malam ini, entah kenapa, tangan Elena sedikit gemetar.

Setelah urusan bahu selesai, Elena mengambil sebuah *tube* salep pereda nyeri otot dan memar dari kotaknya. Ia memencet salep berwarna putih itu ke telapak tangannya.

"Sekarang dadamu," ucap Elena suaranya terdengar sedikit ragu.

"Kau tidak perlu mengoleskannya. Biar aku sendiri," tolak Leo mencoba mengambil *tube* salep dari tangan Elena, merasa ada atmosfer aneh yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

"Tangan kananmu baru saja kujahit ulang, dan tangan kirimu masih berdarah karena kau sayat sendiri di atap tadi. Diam saja," potong Elena menepis tangan Leo.

Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Perlahan, ia menempelkan kedua telapak tangannya yang sudah dilumuri salep ke dada Leo.

Kulit pria itu terasa sangat panas, sementara tangan Elena sedingin es. Kontak fisik itu membuat keduanya sedikit tersentak, seolah ada aliran listrik statis yang mengalir di antara mereka. Elena menelan ludah, matanya terpaku pada memar biru keunguan di dada pria itu. Ia mulai mengusapkan salep itu dengan gerakan memutar yang pelan dan hati-hati.

Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu hening. Hanya ada suara rintik hujan yang menabrak kaca jendela motel.

Elena terus mengusap dada Leo, mencoba meratakan salepnya agar meresap ke dalam kulit. Jari-jarinya merasakan kekerasan otot di balik kulit pria itu. Canggung. Benar-benar canggung. Elena belum pernah berada sedekat ini dengan pria mana pun, apalagi menyentuhnya dengan cara seperti ini. Wajahnya mulai terasa memanas. Ia tidak berani menatap mata Leo, terus menunduk melihat apa yang sedang dikerjakan tangannya.

Di sisi lain, Leo menahan napasnya. Sentuhan lembut tangan Elena di dadanya memberikan sensasi aneh yang mengalahkan rasa ngilu dari memarnya. Jarak mereka begitu dekat sampai-sampai Leo bisa merasakan embusan napas Elena di tulang selangkanya. Pandangan Leo tertuju pada puncak kepala gadis itu, melihat beberapa tetes air hujan yang masih menempel di rambutnya.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Elena tiba-tiba memecah keheningan, meski tangannya tidak berhenti bergerak. Suaranya sangat pelan, nyaris seperti bisikan.

"Melakukan apa?" tanya Leo balik suaranya ikut merendah.

"Melompat ke arahku. Melindungiku dari granat itu," Elena akhirnya mendongak, mempertemukan mata cokelatnya dengan mata hitam tajam milik Leo. "Kau nyaris mati malam ini, Valenti. Hanya untuk melindungi seorang peretas yang baru kau kenal dua hari."

Leo balas menatap gadis itu lekat-lekat. Ia bisa melihat raut kebingungan dan rasa bersalah yang terpancar jelas dari mata Elena.

"Kau bukan sekadar peretas lagi buatku," jawab Leo jujur tanpa melepaskan kontak mata mereka. "Kita satu tim. Dan aku tidak punya kebiasaan membiarkan orang di timku mati berantakan di jalanan."

"Alasan yang klise," balas Elena mendengus pelan, tapi ia tidak memalingkan wajahnya. Tangan gadis itu berhenti mengusap, namun masih menempel di dada Leo.

"Mungkin," Leo tersenyum tipis. "Atau mungkin karena aku tahu kau satu-satunya orang di kota ini yang tidak berniat menusuk punggungku. Aku butuh kau tetap hidup, Elena."

Itu adalah pertama kalinya Leo memanggil nama aslinya dengan nada senormal itu, bukan dengan nada perintah atau sindiran. Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Leo, terdengar sangat pas.

Elena terdiam. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya. Tatapan mata Leo membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi, bukan secara fisik, melainkan segala tembok pertahanan emosinya diruntuhkan begitu saja. Tangan Elena perlahan turun dari dada Leo, menarik diri dari kontak fisik yang memabukkan itu.

"Lukamu sudah kuurus semua," ucap Elena buru-buru berdiri dari kursinya, menghindari tatapan Leo. Ia berbalik dan berjalan cepat ke arah wastafel kamar mandi untuk mencuci tangannya yang lengket oleh salep.

"Terima kasih," kata Leo dari arah kasur, nadanya tulus.

"Jangan berterima kasih. Kau sendiri yang bilang kita satu tim," balas Elena dari dalam kamar mandi, menyalakan keran air lebih besar dari biasanya untuk menyamarkan rasa canggung yang masih tersisa di dadanya.

Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin wastafel yang retak. Pipinya memerah. Ia buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin, menyadarkan dirinya sendiri kembali ke realitas. Ini bukan waktunya untuk terjebak perasaan aneh pada buronan mafia. Mereka baru saja merampok jutaan dolar dan Marco pasti sedang mengerahkan seluruh preman di kota untuk memburu mereka.

Elena mengelap tangannya dengan handuk, menarik napas panjang, lalu kembali ke ruangan utama dengan ekspresi datar andalannya yang sudah terpasang rapi.

Leo sudah berbaring menyamping di atas kasur, setengah tubuhnya ditutupi selimut tipis yang bau apek. Pria itu menatap Elena yang baru keluar dari kamar mandi.

"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Leo menggeser posisi tidurnya.

"Kita tidur beberapa jam," jawab Elena berjalan menuju tas uang di lantai, menarik sebuah ponsel pintar sitaan dari kantong bajunya. "Tapi sebelum itu, aku harus mengirim sebuah pesan singkat untuk Marco. Sesuatu yang akan membuat sisa malamnya terasa sangat panjang."

Elena menyalakan ponsel itu, jari-jarinya siap mengetikkan teror digital pertama mereka. Malam ini, mereka bukan lagi sekadar buronan. Mereka adalah ancaman nyata yang baru saja menampar wajah sang pengkhianat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!