NovelToon NovelToon
Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: IRISVEL

SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Tentara Cinta dan?

BAB 14: "TENTARA CINTA DAN BUS MENUJU HUTAN"

Pukul 06.00 WIB, halaman depan SMA Nusantara Mandiri sudah dipadati oleh lima armada bus pariwisata berukuran besar. Ratusan murid kelas 11 berbaris dengan tas kerir jumbo, jaket tebal, dan perlengkapan kemping yang menumpuk di area lapangan. Suara gelak tawa, candaan, dan obrolan berisik memenuhi udara pagi yang sejuk.

Aira berjalan santai membelah kerumunan murid. Penampilannya sangat ringkas dibanding murid-murid cewek lain yang membawa koper beroda atau tas berlebih. Dia cuma menyampirkan satu tas kerir hitam berukuran sedang di bahu kanannya, mengenakan celana kargo hitam, kaus polos warna senada terbalut jaket denim longgar, serta sepatu boots kulit yang kokoh.

"Ra! Sini, Ra!" teriak Bimo dari dekat barisan Bus 1. Cowok itu kerepotan membawa tas ransel raksasa yang tampak lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. "Gue dapet tempat duduk di barisan tengah nih!"

Aira melangkah mendekat, mengunyah permen karetnya seperti biasa. "Santai aja, Bim. Lu kayak mau pindahan rumah aja membawa tas segede gitu."

"Aduh, Ra, ini peralatan darurat! Ada obat nyamuk, mi instan, senter tiga biji, sampai penangkal bisikan setan di hutan!" cerocos Bimo panik sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aira terkekeh pelan. Namun, sebelum Aira sempat naik ke tangga Bus 1 menyusul Bimo, sebuah tangan berkulit bersih dengan cengkeraman kuat menahan tali tas kerirnya dari belakang.

Sret.

Aira terhenti, berbalik dengan kening berkerut.

"Siapa sih yang berani—"

Kalimat Aira terputus begitu melihat sosok Langit berdiri tepat di belakangnya. Ketua OSIS itu tampil beda hari ini. Meninggalkan seragam rapinya, Langit mengenakan kaus polos hitam ketat yang mencetak tegas dada bidangnya, dibalut jaket lapangan warna navy, dan celana taktis. Aura dominannya makin pekat, membuat beberapa siswi di sekitar mereka menjerit pelan penuh pesona.

"Kelompok 1 masuk di Bus Khusus Panitia dan Tim Medis," kata Langit datar, suaranya tenang tanpa bantahan.

Aira mendengkus kasar, menepis tangan Langit dari tali tasnya. "Heh, Kanebo! Gue maunya naik Bus 1 bareng Bimo! Lagian panitia ya panitia, peserta ya peserta. Lu ngapain nyampur-nyampur sih?!"

"Panitia butuh mengawasi peserta berisiko tinggi," balas Langit santai. Dia meraih tas kerir dari bahu Aira dengan satu gerakan luwes, lalu menyampirkan tas milik Aira itu ke bahunya sendiri tanpa meminta izin. "Tas lu gue yang bawa. Sekarang naik ke Bus Panitia."

"LANGIT! BALIKIN TAS GUE, ANJIR!" bentak Aira dengan wajah memerah menahan kekesalan.

Namun, Langit membelakangi Aira dan melangkah menuju bus paling depan—bus khusus panitia yang sepi dan ber-AC dingin. Mau tidak mau, demi mengambil kembali tas kerirnya yang berisi stok permen karet dan pisau lipat kesayangannya, Aira terpaksa mengekor di belakang Langit sambil terus mengompal-ngampirkan sumpah serapah.

Murid-murid yang menyaksikan adegan itu di lapangan cuma bisa melotot iri dan takjub.

"Gila, tasnya Aira dibawain sama Langit!"

"Bener-bener diratukan anjir si Aira!"

"Ketua OSIS kita berubah jadi budak cinta, woi!"

Di dalam Bus Panitia, suasananya jauh lebih tenang. Hanya ada beberapa pengurus OSIS inti dan guru pendamping. Aira mengambil tempat duduk di dekat jendela barisan belakang. Begitu dia duduk, Langit menaruh tas Aira di bagasi atas, lalu tanpa ragu langsung duduk di kursi sebelah Aira—mengunci posisi cewek itu agar tidak bisa kabur.

"Lu gak ada kerjaan lain selain nempel ke gue apa gimana, Sih?" gerutu Aira seraya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menyilangkan kedua tangannya di dada.

Langit mengeluarkan sebuah headphones nirkabel berwarna hitam dari dalam tasnya.

Tanpa bicara, dia memasangkan salah satu earphone-nya ke telinga kanan Aira. Dari speaker kecil itu, terdengar lantunan lagu rock klasik kesukaan Aira.

Aira tertegun sejenak. "Lu... tahu lagu favorit gue?"

mLangit tidak menjawab. Dia memasang earphone sebelahnya ke telinganya sendiri, lalu bersandar rileks di kursinya. "Tidur aja. Perjalanan ke Hutan Giri Kusuma makan waktu empat jam. Jangan buang energi buat ngomel."

Aira menatap profil samping wajah Langit dari dekat. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan bulu matanya yang panjang kelihatan begitu sempurna dari jarak belasan sentimeter. Ada rasa hangat asing yang perlahan merayap di dada Aira, menggantikan kekesalan yang tadi membakar otaknya.

Aira mendengkus pelan, memalingkan wajahnya kembali ke luar jendela. Gila... ni cowok kalau diem begini cakepnya gak masuk akal, batin Aira pasrah, melipat tangannya makin rapat sambil membiarkan alunan musik menemani rasa kantuknya.

Sementara itu, di dalam Bus 3.

Valerie duduk sendirian di barisan paling belakang. Wajahnya yang cantik tampak muram, matanya menatap tajam ke arah bus panitia di depan melalui kaca jendela yang buram.

Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah telepon genggam murah burner phone—HP tanpa kartu identitas resmi yang sengaja dia beli secara gelap.

Sebuah pesan singkat masuk ke layar HP tersebut:

Bagas - Black Cobra]:

Pasukan gue udah siap di koordinat Sektor 4 Hutan Giri Kusuma. Pastiin lu bisa bikin Aira terpisah dari si Langit pas permainan survival esok hari.

Valerie mengetik balasannya dengan jemari gemetaran, senyum beracun yang penuh dendam terukir di bibirnya:

[Valerie]:

Gampang. Gue udah siapin racun perangsang penciuman di kompas jalan mereka. Dia bakal tersesat ke arah jurang Sektor 4. Pastiin kalian habisi dia sampai gak tersisa.

Valerie menghapus pesan tersebut, lalu melempar kartu SIM-card HP itu keluar jendela bus yang terbuka sedikit.

Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, membayangkan pemandangan Aira yang menjerit ketakutan saat dikeroyok puluhan anggota geng Black Cobra di dalam hutan yang gelap tanpa ada Langit yang menyelamatkannya.

"Nikmati perjalanan terakhir lu, Aira," bisik Valerie dingin dengan mata memancar kebencian yang amat pekat. "Hutan Giri Kusuma bakal jadi kuburan massal buat lu!"

see you next bab 15

jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini

1
PengGeng EN SifHa
kenapa si shamena shena nanana di juluki CEWEK TRANSMIGRAN thoor ?

dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?
PengGeng EN SifHa
alur cerita yg sulit dijabarkan,akan tetapi sangat seru dimana jiwa muda yg penuh tantangan...dimana dunia nyata saja sudah seru & ini dunia fana + seru lagi dengan logika yg begitu badas.
PengGeng EN SifHa
gedebak gedebig dar der dor kembang api to raa ??🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!