Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Perasaanku padamu adalah nyata
Suara ketukan tuts keyboard dari ruang kerja pribadi Ayden terdengar monoton, memecah kesunyian penthouse mewah yang terasa semakin hampa dari hari ke hari. Di dalam kamar utama, Aisyah duduk terpekur di atas sofa panjang berlapis velvet abu-abu. Jemarinya tanpa sengaja menyentuh permukaan bantal sofa, merasakan sebuah benda keras terselip di balik lipatannya.
Aisyah mengerutkan kening, lalu merogoh ke dalam celah tersebut. Sebuah kunci kecil berwarna perak dengan ukiran inisial klasik tergenggam di telapak tangannya. Matanya menatap kunci itu lekat-lekat, lalu beralih menatap pintu brankas tersembunyi di balik lukisan besar yang kemarin sempat ia buka separuh.
"Kunci cadangan..." bisik Aisyah pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru AC central yang berembus dingin.
Tanpa keraguan yang berarti, rasa penasaran yang selama ini ditekan akhirnya mengambil alih kendali. Aisyah melangkah pelan tanpa suara menuju lukisan besar di sudut ruangan. Ia menggesernya perlahan, menampakkan pintu besi brankas yang kokoh. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia memasukkan kunci perak itu ke dalam lubang kunci dan memutarnya.
Klik.
Pintu brankas terbuka lebar. Di dalamnya, tersusun rapi berbagai dokumen rahasia, sertifikat perusahaan, serta beberapa kotak beludru kecil. Perhatian Aisyah langsung terpaku pada sebuah kotak kayu tua yang terletak di paling dasar brankas—sebuah kotak yang belum sempat ia periksa pada hari-hari sebelumnya.
Aisyah menarik kotak itu keluar, membukanya perlahan, dan mendapati sebuah diari bersampul kulit hitam legam yang sudah terlihat usang termakan usia. Di sampul depannya tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang mulai memudar: Elena Khana
Jantung Aisyah berdegup sedikit lebih cepat. Itu adalah diari milik mendiang ibu Ayden.
Dengan tangan gemetar, Aisyah membuka halaman demi halaman buku harian tersebut. Tulisan tangan yang elegan namun sarat akan keputusasaan menyapa pandangannya.
"Hari ini, surat penyitaan dari bank datang lagi," baca Aisyah dengan suara berbisik lirih. "Ayden melihat semuanya. Ia menangis di balik pintu kamarmu, suamiku. Aku takut... aku takut dendam dan keputusasaan ini akan menghancurkan jiwa anak kami kelak. Perusahaan suamiku runtuh bukan karena kebodohannya, melainkan karena tikaman dari orang yang paling ia percaya..."
Aisyah terus membalik halaman berikutnya, membaca bait demi bait yang menceritakan betapa hancurnya keluarga Ayden sebelum tragedi bunuh diri itu terjadi. Air mata yang selama ini mengering di pelupuk matanya tiba-tiba terasa menghangat, meskipun ia tidak menangis. Setiap baris kalimat di dalam diari itu memancarkan rasa sakit, ketakutan, dan kepedihan yang persis sama dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini di bawah atap yang sama.
"Jadi... kita berdua terjebak dalam lingkaran kutukan yang sama, Ayden," ucap Aisyah pada udara kosong, menatap nanar tulisan tangan ibu mertuanya. "Keluargamu dihancurkan oleh kebohongan, dan kau menghancurkanku untuk membalas dendam atas abu yang sudah dingin."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah luar kamar. Aisyah terperanjat. Ia buru-buru menutup diari tersebut, memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu, dan mendorong pintu brankas hingga tertutup rapat, meski ia lupa menguncinya kembali.
Pintu kamar utama terbuka dengan sentakan kuat. Ayden berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu setelah menyelesaikan panggilan telepon penting dengan klien bisnisnya di luar negeri. Pria itu menyipitkan mata, langsung menangkap sosok Aisyah yang berdiri terlalu dekat dengan area brankas.
"Apa yang sedang kau lakukan di dekat brankas itu, Aisyah?" tanya Ayden lisan dengan nada suara yang meninggi, sarat akan kecurigaan dan kepanikan instan.
Aisyah berbalik perlahan, menatap lurus ke arah suaminya tanpa menunjukkan secercah rasa takut atau panik di wajah puncaknya. "Aku sedang mencari kebenaran, Ayden. Sesuatu yang selama ini kau sembunyikan rapat-rapat di balik dinding besi ini."
Ayden melangkah cepat mendekati istrinya, rahangnya mengeras hingga otot di lehernya menonjol. "Kau membuka brankas itu? Apa saja yang kau lihat, Aisyah?!"
"Aku membaca diari ibumu," jawab Aisyah datar, suaranya mengalun sangat tenang namun menusuk telak ke jantung Ayden. "Aku membaca bagaimana ketakutannya sebelum ia merenggut nyawanya sendiri. Aku membaca kepedihan keluargamu."
Ayden tertegun seketika. Langkah kakinya terhenti seolah ada beban tak kasat mata yang menahan tubuhnya. "Kau... dari mana kau tahu tentang diari itu?"
"Ia ada di dalam kotak kayu di brankasmu," lanjut Aisyah, melangkah maju mendekati Ayden perlahan. "Dan sekarang aku mengerti, Ayden. Kau tidak sedang mencari keadilan. Kau hanya meneruskan rantai dendam busuk yang menghancurkan hidup keluargamu, dan sekarang kau ingin menghancurkan hidupku untuk kepuasan semu itu."
"Bukan begitu!" sangkal Ayden dengan suara parau, tangannya terulur hendak mencengkeram bahu istrinya. "Kau tidak mengerti seluruh cerita yang sebenarnya, Aisyah!"
Aisyah menepis tangan Ayden dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh ketegasan mutlak. "Apa lagi yang harus kumengerti, Ayden? Ayahku salah, keluargamu hancur, lalu kau menghancurkanku. Apakah ini akan berhenti jika aku mati?"
"Jangan bicara seperti itu!" bentak Ayden, frustrasi meluap-luap di dalam dadanya hingga napasnya berantakan. "Aku melakukan semua itu karena aku dikuasai amarah masa lalu! Tapi seiring berjalannya waktu, perasaanku padamu adalah nyata!"
"Cinta di atas reruntuhan dendam bukanlah cinta, Ayden," sahut Aisyah tanpa ekspresi, menatap lurus menembus manik mata suaminya. "Itu adalah bentuk kepemilikan seorang algojo terhadap mangsanya. Kau berhasil mengurung ragaku, tapi membaca diari ibumu membuatku sadar bahwa kau pun sebenarnya adalah tahanan di dalam penjara yang kau bangun sendiri."
Ayden terhuyung mundur selangkah, seolah kalimat itu adalah hantaman palu besi yang meremukkan seluruh pertahanannya. Matanya memerah, menatap wanita di hadapannya dengan sejuta rasa sakit dan ketakutan yang mendalam.
"Apakah setelah membaca diari itu, kebencianmu kepadaku semakin besar, Aisyah?" tanya Ayden dengan suara berbisik lemah, nyaris tak terdengar. "Apakah kau ingin memaki aku sekarang?"
"Tidak, Ayden," jawab Aisyah pelan, menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak membencimu. Aku hanya merasa kasihan pada kita berdua. Kita adalah korban dari dosa orang-orang masa lalu yang saling menghancurkan."
"Aisyah..." panggil Ayden, mencoba mendekat lagi dengan putus asa.
"Jangan mendekat," cegah Aisyah, mengangkat telapak tangannya untuk memberi jarak. Ia berbalik dan melangkah pelan menuju sisi tempat tidur, meninggalkan Ayden yang terpaku seorang diri di dekat brankas yang terbuka.
Ayden menatap punggung istrinya dengan tangan terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam keheningan kamar utama yang temaram, ia menyadari bahwa terbukanya kotak dan diari lama itu bukan sekadar membuka rahasia masa lalu, melainkan meruntuhkan benteng terakhir dari ilusinya tentang kemenangan balas dendam.
"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa melihatku bukan sebagai pembunuh keluargamu, Aisyah?" rintih Ayden dalam hati, membiarkan kebisuan istrinya menjadi jawaban paling menyiksa yang pernah ia terima seumur hidupnya.