Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Tunjukkan Performance
Hari yang paling ditunggu-tunggu sekaligus paling mendebarkan itu akhirnya tiba. Hari H di mana Danu, Rio, Zahra, dan Kak Rizki harus naik ke atas panggung utama dan menunjukkan penampilan mereka di tengah lapangan SMA Garuda.
Sepanjang lorong menuju kelas, langkah Rio terasa sangat berat. Bahunya merosot, dan raut wajahnya sepucat kertas.
"Duh... Dan, gue akuin deh, kayaknya gue beneran gabisa ngelewatin ini..." keluh Rio, suaranya bergetar menahan gejolak panik di dadanya.
Danu yang berjalan di sebelahnya menepuk pundak sahabatnya itu pelan. "Ya... gue juga awalnya gugup setengah mati, Yo. Tapi kali ini, biarin aku yang gantian nyemangatin kamu. Kamu pasti bisa."
Mendengar nada bicara Danu yang mendadak puitis dan kelewat lembut itu, Rio malah merinding. "Duh, gaya ngomong sama panggilan lu kok gitu sih, Dan? Geli gue dengernya."
Danu menggaruk kepalanya sambil tertawa canggung. "Emm... maaf, hehe. Keceplosan mode serius."
Zahra yang sejak tadi berjalan di sisi kanan Danu akhirnya ikut bersuara. Ia menatap Rio dengan sorot mata tajam namun penuh kepedulian. "Buang masa lalu lu, Rio! Hadapin masa sekarang! Jangan biarin diri lu terus-terusan terlarut sama bayang-bayang yang udah lewat!" tegas Zahra tak terbantahkan.
Rio menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak menatap ujung sepatunya. "Hmm... oke. Gue coba deh."
Sesampainya di kelas, suasana ternyata cukup santai. Karena ini adalah puncak perayaan ulang tahun sekolah, Kepala Sekolah memberikan waktu jeda bebas yang cukup panjang bagi para murid untuk menikmati suasana dan berbelanja jajanan di stan-stan yang sudah didirikan memenuhi lapangan.
Dari balik jendela kelas, Danu menunjuk ke arah lapangan yang mulai ramai. "Wah... lihat tuh, Yo. Stan makanannya banyak banget hari ini. Lu gak mau turun beli camilan? Biar pikiran lu agak rileks," bujuk Danu, berusaha mengalihkan kecemasan sahabatnya.
Rio yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja hanya melambaikan tangan dengan lemah. "Lu aja deh, Dan. Gue lagi sibuk nyusun sisa-sisa emosi gue nih biar gak hancur di panggung nanti."
Danu terdiam sejenak. Ia tidak memaksa. Ia berjalan perlahan menuju ambang pintu kelas. Namun, sebelum benar-benar melangkah keluar, Danu membalikkan badannya dan memanggil pelan, "Ok... Rio..."
Rio mengangkat kepalanya sedikit dari atas meja. "Iya?"
Danu menatap mata Rio lekat-lekat, memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Tenang saja. Apa pun yang terjadi nanti di atas panggung, kita hadapi bersama. Kita kan teman."
Deg.
Satu kata terakhir itu—teman—tiba-tiba terngiang-ngiang dengan hebat di telinga Rio. Kata sederhana itu menembus benteng pertahanan hatinya yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Tanpa bisa dicegah, pelupuk mata Rio memanas, dan setetes air mata meluncur bebas membasahi pipinya tepat di hadapan Danu.
Danu terkesiap, buru-buru melangkah maju. "Loh, lu kenapa, Yo? Kok nangis?!"
Rio gelagapan. Ia buru-buru mengusap kasar pipinya dengan punggung tangan, berusaha menutupi jejak air matanya dengan tawa yang dipaksakan. "Hah? Siapa yang nangis?! Oh, ini... gue kelilipan debu kipas angin, hehe! Udah yuk, gas ke stan makanan! Mumpung gue mendadak pengin jajan nih!"
Tanpa menunggu balasan Danu, Rio segera bangkit dari kursinya dan berjalan setengah berlari melewati pintu kelas, meninggalkan Danu yang masih mematung kebingungan.
"Eh, iya! Tunggu bentar, Yo!" sahut Danu yang akhirnya tersadar dan bergegas mengejar sahabatnya itu.
Di balik langkahnya yang terburu-buru menyusuri koridor, Rio mengusap sisa air matanya, namun kali ini diiringi dengan sebuah senyum tipis yang tulus. Kata 'teman' dari Danu tadi seolah meniupkan kelegaan yang luar biasa di dadanya. Ia merasa ada secercah harapan yang kembali hidup. Sebuah janji tak terucap yang meyakinkan Rio bahwa pada saat yang tepat di atas panggung nanti, ia tidak akan pernah berjuang sendirian lagi.
Lapangan SMA Garuda telah disulap menjadi lautan manusia. Berbagai tenda stan berjejer rapi, mengepulkan asap beraroma menggugah selera dari sosis bakar, takoyaki, hingga seblak pedas. Alunan musik dari band ekstrakurikuler lain yang sedang tampil di panggung utama terdengar menghentak, membuat suasana semakin semarak.
Danu dan Rio menyusuri keramaian itu dengan susah payah. Rio yang sudah kembali pada mode aslinya—tengil dan banyak bicara—berjalan memimpin di depan, matanya sibuk memindai deretan makanan. Sesekali ia berhenti untuk membeli minuman dingin dan dua bungkus kentang goreng porsi besar untuk menenangkan perutnya yang keroncongan akibat stres.
Di tengah lautan siswa, mereka tak sengaja berpapasan dengan Zahra dan Kak Rizki yang ternyata sudah lebih dulu memborong banyak makanan. Tangan Zahra penuh dengan tusukan telur gulung, sementara Kak Rizki tampak kewalahan membawa empat gelas es teh manis berukuran jumbo.
"Wah, pucuk dicinta gorengan pun tiba! Kebetulan banget kita ketemu di sini," seru Rio sambil menyomot satu telur gulung dari tangan Zahra tanpa izin.
"Heh! Enak aja lu main comot! Beli sendiri sana!" omel Zahra seraya menjauhkan sisa makanannya.
Rio hanya terkekeh puas. "Bagi dikit elah, pelit amat lu, Ra. Anggap aja ini DP buat pijatan gue besok-besok."
Kak Rizki yang melihat tingkah laku adik-adik kelasnya itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum. Ia membagikan es teh manis itu kepada mereka bertiga. "Udah, jangan berantem. Ini diminum dulu esnya biar tenggorokan kalian seger. Kita butuh tenaga dan pikiran yang rileks sebelum naik ke atas sana."
Mereka berempat akhirnya menepi di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, duduk melingkar sambil menghabiskan jajanan mereka. Sembari mengunyah kentang goreng, mata Rio sesekali mencuri pandang ke arah panggung besar di kejauhan. Gemuruh tepuk tangan penonton sempat membuat detak jantungnya kembali berpacu. Namun, melihat Danu yang tertawa mendengar lelucon garing Kak Rizki, dan Zahra yang masih sibuk mengomelinya, rasa takut Rio perlahan terkikis. Hangatnya kebersamaan di bawah pohon rindang itu ternyata jauh lebih ampuh menenangkan sarafnya daripada kata-kata motivasi mana pun.
Matahari perlahan mulai condong ke arah barat, mengubah warna langit menjadi jingga keemasan yang menaungi lapangan sekolah. Seiring dengan habisnya jajanan di tangan mereka, suasana di atas panggung utama sejenak menjadi hening. Sang pembawa acara, seorang kakak kelas dari ekskul teater, melangkah ke tengah panggung dengan mikrofon di tangan. Suaranya menggema ke seluruh penjuru sekolah.
"Baiklah, Garuda! Kalian masih semangat?!" teriak MC yang langsung disambut sorakan riuh ribuan siswa. "Setelah rentetan penampilan luar biasa sejak pagi tadi, kini kita sampai di penghujung acara! Penampilan terakhir ini sekaligus menjadi puncak perayaan ulang tahun sekolah kita tercinta!"
Di bawah pohon rindang, Kak Rizki langsung berdiri dan menepuk tangannya sekali dengan keras. "Oke, tim. Waktu main-mainnya udah habis. Sekarang giliran kita."
Danu menelan ludah dengan susah payah. Telapak tangannya mendadak kembali dingin. Rio, yang berdiri di sebelahnya, menyadari hal itu. Tanpa berkata apa-apa, Rio menyenggol bahu Danu dengan sikunya dan memberikan anggukan mantap. Sebuah isyarat tanpa suara: Kita hadapi ini sama-sama.
Mereka berempat melangkah beriringan membelah keramaian menuju area belakang panggung. Jantung mereka berdegup kencang seirama dengan langkah kaki yang menaiki tangga besi panggung.
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang paling meriah... Penampilan dari ekstrakurikuler musik!" seru sang MC.
Sorotan lampu panggung yang terang benderang langsung menyambut wajah mereka begitu mereka melangkah keluar dari balik tirai. Gemuruh tepuk tangan dan sorakan penonton terdengar memekakkan telinga. Hamparan lautan manusia yang menatap ke arah panggung sempat membuat Danu membeku sejenak di balik set drumnya.
Namun, saat ia melihat Kak Rizki yang sudah menyandang gitarnya dengan gaya penuh percaya diri, Zahra yang tersenyum cerah menggenggam tiang mikrofon, dan Rio yang duduk tegap di hadapan tuts piano tanpa keraguan sedikit pun di matanya, keberanian Danu meledak seketika.
Danu mengangkat kedua stik drumnya tinggi-tinggi. Ia menatap teman-temannya satu per satu, lalu menyatukan stik kayu itu di udara dengan ketukan yang berirama tegas.
Trak! Trak! Trak! Trak!
"Satu, dua, tiga, empat!"
Dan nada pertama pun akhirnya menggema, mengudara dengan lantang dan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar anak-anak klub yang diremehkan, melainkan secercah cahaya yang siap menyilaukan panggung itu.