Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Lupa Rumus 33.
Sore berikutnya, suasana perpustakaan jauh lebih tenang karena hujan rintik-rintik di luar menyaring sebagian besar murid untuk langsung pulang.
Di sudut dekat jendela besar, Dafa sudah duduk manis dengan buku matematika yang terbuka lebar. Ranselnya digantung sembarangan di sandaran kursi, sementara Lilis baru saja datang setelah menyelesaikan piket kelasnya.
"Gue kira lo bakal bolos," komentar Lilis sambil menarik kursi di sebelah Dafa, bukan di depannya seperti kemarin. Ruang gerak mereka mendadak terasa lebih sempit.
"Gila apa. Dahi gue udah sengaja gue asuransikan hari ini demi sentilan lo," sahut Dafa, memamerkan cengiran khasnya.
Lilis mendengus, mengeluarkan kotak pensil dan beberapa lembar kertas binder. "Bagus kalau lo udah punya mental siap disentil. Hari ini kita masuk ke bab aljabar linear. Masih nyambung sama matriks kemarin, tapi variabelnya lebih banyak."
Dafa mengerang dramatis, menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Lis, otak gue ini tipenya ram satu giga bites, kalau misalnya Lo instal aplikasi seberat ini berturut-turut bisa overheat."
"Makanya dibersihin dulu sampah-sampah di otak nya. Jangan cuma isinya taktik Mobile Legends sama cara ngeles dari guru piket," balas Lilis ketus, tapi jemarinya bergerak lembut menarik kerah seragam Dafa agar cowok itu kembali duduk tegak. "Ayo mulai. Kerjain tiga soal dasar ini dulu. Gue mau lihat seberapa banyak yang nyangkut di otak lu dari materi kelas sepuluh."
Dafa mengembuskan napas panjang, meraih pulpennya dengan malas. Lembar pertama berjalan cukup lancar. Dia berhasil menyamakan variabel (x) dan (y). Namun, begitu masuk ke soal ketiga yang memiliki tiga variabel dengan pecahan di dalamnya, dahi Dafa kembali berkerut dalam. Ujung pulpennya mengetuk-ngetuk kertas, meninggalkan noda-noda tinta hitam kecil yang berantakan.
Lilis yang sedang merapikan catatan rumusnya melirik ke arah kertas Dafa. Alis gadis itu bertaut. "Daf, itu tandanya kenapa berubah jadi positif? Kan pindah ruas dari kiri ke kanan."
"Hah? Kan kalau nyebrang sama dengan, tandanya jadi kebalik kan?" Dafa membela diri, menunjuk angka (-4) yang dia ubah menjadi (+4) di baris bawah.
"Iya, kalau dia operasi penjumlahan atau pengurangan. Tapi itu kan perkalian melekat sama variabel (z), Dafa! Yang pindah itu satu paket, bukan tandanya yang dibalik jadi plus!" Lilis gemas sendiri. Tanpa sadar, dia memajukan duduknya, menggeser kursinya hingga hampir menempel dengan kursi Dafa.
Lilis merebut pulpen dari tangan Dafa, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan kertas cowok itu. "Sini, liat bener-bener!"
Karena posisi mereka yang searah dan Lilis mencoba menunjukkan letak kesalahan secara detail, jarak di antara wajah mereka terpangkas drastis. Lilis fokus menatap baris angka di kertas, sementara Dafa yang mendadak kehilangan kata-kata, reflek menoleh ke samping.
Wajah Lilis hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Dafa bisa melihat dengan sangat jelas bulu mata Lilis yang lentik, struktur hidungnya yang kecil, hingga sebutir jerawat baru yang samar di dekat pelipisnya. Saat Lilis berbicara, bibirnya bergerak cepat, memancarkan antusiasme seorang tutor yang frustrasi sekaligus peduli.
"Jadi, lo harus bagi kedua ruas dengan angka minus empat itu. Jangan lo tambah—" Kata-kata Lilis mendadak terhenti di udara.
Dia merasakan hembusan napas hangat Dafa yang menerpa kulit pipinya secara berkala. Napas yang teratur, namun entah mengapa terasa begitu intens. Lilis perlahan memalingkan wajahnya dari kertas, bermaksud untuk menegur Dafa agar memperhatikan coretannya.
Namun, keputusannya untuk menoleh adalah sebuah kesalahan fatal bagi fokusnya sendiri.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Dafa tidak sedang melihat kertas. Cowok itu sedang menatapnya, lurus, dengan binar mata yang tidak lagi menyembunyikan apa pun. Keheningan perpustakaan mendadak terasa begitu pekat, menyisakan suara detak jarum jam dinding di kejauhan yang mendadak terdengar seperti dentuman keras.
Lilis terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat penjelasan tentang eliminasi dan substitusi yang sudah tertata rapi di kepalanya mendadak buyar, menguap seperti tetesan air di atas wajan panas.
"Lis," bisik Dafa. Suaranya yang berat terdengar begitu dekat di telinga Lilis, membuat bulu kuduk cewek itu meremang samar.
"A-apa?" Lilis terbata, merutuki dirinya sendiri karena gagal terdengar galak seperti biasanya. Dia ingin mundur, memundurkan kepalanya untuk menciptakan jarak yang aman, tapi tubuhnya seolah menolak untuk patuh.
"Napas lo... bau permen mint," ujar Dafa dengan nada polos yang sangat menyebalkan, tapi matanya sama sekali tidak menunjukkan candaan. Ada senyum tipis yang tertahan di sudut bibir cowok itu saat melihat kepanikan yang nyata di mata Lilis.
Semburat merah langsung menjalar cepat dari leher hingga ke seluruh permukaan pipi Lilis. Dia buru-buru menarik tubuhnya ke belakang, bersandar kuat-kuat pada kursi hingga kursinya mencicit nyaring di atas lantai keramik perpustakaan.
Beberapa murid di meja seberang sempat menoleh akibat suara itu, membuat Lilis semakin salah tingkah.
"Dafa! Lo bisa fokus gak, sih?!" seru Lilis dengan suara setengah berbisik yang tertahan di tenggorokan. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sejenak, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak bekerja dua kali lipat lebih cepat. "Gue lagi jelasin aljabar, kenapa lo malah bahas permen HAH?!"
Dafa tertawa pelan, suara tawanya terdengar renyah dan sangat menikmati kemenangan kecilnya. Dia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Lilis yang kini sibuk mengipasi wajahnya sendiri dengan buku saku.
"Lagian lo jelasinnya deket banget. Gimana gue bisa fokus sama angka-angka mati itu kalau ada yang lebih menarik di depan mata?" goda Dafa lagi, menopang dagunya dengan sebelah tangan. Sifat usilnya kembali, tapi kali ini ada intensitas berbeda yang membuat Lilis tidak berkutik.
"Tau ah! Lo kerjain sendiri! Gue mogok ngajar!" Lilis membuang muka, berpura-pura sibuk memeriksa ponselnya yang sebenarnya tidak menampilkan notifikasi apa pun. Jarinya gemetar pelan saat mengusap layar. 'Sialan' batin Lilis. 'kenapa rumus aljabar tadi bisa hilang semua dari otak gue?'
Dafa tahu dia sudah kelewat batas menggoda tutor galaknya. Dia berdeham kecil, lalu meraih kembali pulpen yang tadi dijatuhkan Lilis.
Kali ini, dia menarik kertasnya mendekat ke arah nya sendiri, memberikan Lilis ruang untuk bernapas.
"Iya, maaf. Janji, kali ini serius," kata Dafa pelan. Dia mulai membaca ulang baris soal nomor tiga. "Jadi... ini dibagi minus empat ya? Berarti hasilnya (z \= -2)?"
Lilis melirik dari sudut matanya. Melihat Dafa yang kembali fokus mencoret-coret dengan dahi yang berkerut serius, perlahan kekesalan samar di dadanya mencair, digantikan oleh kehangatan yang asing. Lilis menurunkan ponselnya, lalu berdeham untuk membersihkan suaranya yang sempat serak.
"Nah, itu tahu. Kenapa tadi harus pakai drama segala?" ketus Lilis, meski volume suaranya sudah jauh lebih lembut.
"Kan biar ada variasinya, Lis. Biar lo gak bosen ngeliat muka bego gue terus," sahut Dafa tanpa menoleh dari kertas. Tangannya bergerak menuliskan langkah berikutnya dengan lebih rapi dari sebelumnya.
Di bawah pencahayaan lampu perpustakaan yang mulai redup karena hari beranjak malam, keduanya kembali larut dalam dunia angka.
Tidak ada lagi godaan fisik yang intim, namun ketegangan yang tertinggal di antara mereka justru membuat interaksi selanjutnya terasa lebih hidup. Setiap kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat berebut penghapus, atau saat mata mereka beradu ketika menyamakan jawaban, ada riak emosi tersembunyi yang perlahan-lahan mulai mengubah esensi dari kata "taruhan" yang pria itu sepakati.
Dafa tidak lagi belajar hanya untuk memenangkan duel melawan Azril. Dan Lilis tidak lagi mengajar hanya untuk menyelamatkan reputasinya.
......................
...****************...
Tbc,