"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kerumunan di lapangan basket terbelah ketika seorang pemuda tinggi melangkah maju dari tengah barisan, tubuhnya tegap dengan otot yang terbentuk sempurna, mengenakan jaket merah dengan lambang khusus yang membedakannya dari anggota biasa.
"Jadi kamu Juna Adiwiyata," suaranya berat dan berwibawa, matanya menatap Juna dari ujung kepala hingga kaki dengan penuh penilaian. "Namaku Rangga. Mungkin kamu udah denger soal aku."
"Raja Olahraga," Juna menjawab singkat, tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun meski tahu reputasi pemuda di hadapannya ini sudah lama menjadi buah bibir di seluruh sekolah.
Rangga tersenyum tipis, tampak puas mendengar jawaban itu. "Pertandingan kamu lawan Ben sama Kaisar Dirgantara, aku denger langsung dari beberapa saksi mata. Berani juga kamu ngelawan dua orang kuat sekaligus dalam waktu berdekatan."
"Mereka yang nyariin aku duluan," Juna membalas santai, "aku cuma nanggepin apa yang mereka kasih."
"Aku suka gaya bicara kamu," Rangga tertawa pelan, nadanya terdengar tulus, jauh berbeda dari nada mengejek yang biasa Juna dengar dari anggota faksi lain. "Tenang, cuacanya lagi bagus. Gimana kalau kita duduk dulu, aku pengen tau cerita lengkapnya."
Mereka berdua duduk di bangku tribun pinggir lapangan, beberapa anggota Olahraga berdiri menjaga jarak sopan, memberi ruang bagi kedua orang yang kini menjadi pusat perhatian itu. Rangga bercerita sedikit tentang sejarah faksinya, tentang bagaimana ia membangun reputasi lewat kerja keras di lapangan, bukan lewat kelicikan seperti yang biasa dipakai faksi lain.
"Aku udah di sini sejak kelas satu," Rangga melanjutkan, matanya menerawang mengingat masa lalunya sendiri. "Latihan tiap hari, kadang sampai badan rasanya mau remuk. Tapi itu yang bikin aku dihormati sekarang, bukan karena aku licik atau punya koneksi keluarga kaya."
"Terus kenapa kamu cerita ini semua ke aku?" Juna bertanya, menyandarkan punggungnya ke bangku kayu tribun.
"Karena aku pengen kamu ngerti," Rangga menjawab, "faksi ini bukan cuma soal kekuatan. Ini soal kehormatan yang dibangun dari kerja keras, bukan dari trik kayak yang dipakai Bully atau Konglomerat."
"Aku percaya kehormatan," Rangga melanjutkan, menatap lurus ke arah lapangan tempat beberapa anak berlatih sepak bola. "Menang harus lewat usaha, bukan lewat trik murahan."
Juna mendengarkan dengan seksama, menyimpan setiap informasi itu dalam benaknya, meski ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berujung.
'Dia beneran percaya omongannya sendiri,' batin Juna, mengamati sorot mata Rangga yang penuh keyakinan. 'Menarik juga tipe orang kayak gini, tapi naif kalau pikir dunia ini seadil itu.'
"Jadi," Rangga akhirnya berkata, menoleh menatap Juna lurus-lurus, "aku mau kamu gabung ke faksi Olahraga. Kekuatan kamu, ditambah disiplin yang kami punya, bisa jadi kombinasi yang kuat banget."
"Kamu nawarin itu ke semua orang," Juna bertanya, "atau cuma ke aku?"
"Cuma ke orang yang pantas," Rangga menjawab tegas, "dan aku rasa kamu salah satunya. Jarang ada yang bisa ngalahin dua petarung kuat Bully dalam waktu berdekatan kayak kamu."
"Kalau aku gabung," Juna bertanya lagi, nada suaranya masih datar, "aku bakal dapet apa?"
"Perlindungan dari seluruh faksi," Rangga menjawab mantap, "pelatihan fisik yang jauh lebih sistematis, dan tempat di antara orang-orang yang beneran dihormati di sekolah ini, bukan ditakuti kayak Bully."
"Dihormati gimana maksudnya?" Juna bertanya lagi, menatap Rangga dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Orang-orang Olahraga nggak pernah bikin orang takut," Rangga menjelaskan dengan nada bangga, "mereka ngagumin kita karena usaha, bukan karena ancaman. Itu bedanya kehormatan sama rasa takut."
Juna mendengarkan penjelasan itu sambil memperhatikan ekspresi wajah Rangga yang begitu yakin dengan setiap kata yang ia ucapkan, seolah seluruh hidupnya memang dibangun di atas prinsip itu tanpa cela sedikit pun.
'Dia beneran percaya sama idealismenya sendiri,' batin Juna, mengamati bagaimana Rangga berbicara tanpa sedikit pun keraguan. 'Orang kayak gini biasanya gampang dimanfaatin, karena mereka terlalu sibuk ngejaga citra buat ngeliat kenyataan yang sebenarnya.'
Beberapa anggota Olahraga yang berdiri mengelilingi mereka mulai tidak sabar, bisik-bisik kecil terdengar di antara mereka, penasaran kapan sang raja akan menyelesaikan pembicaraan panjang itu dan kembali ke rutinitas latihan mereka.
"Jadi gimana?" Rangga akhirnya bertanya, menatap Juna dengan ekspektasi yang jelas terpancar di wajahnya, seolah sudah yakin jawaban yang akan ia terima adalah persetujuan.
Juna terdiam sejenak, menatap wajah Rangga yang penuh keyakinan itu, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang jauh dari kesan tertarik.