"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Masa Kecil Naya & Timy 04.
Aroma soto ayam dan minyak cabai dari stan pujasera sekolah langsung menyambut mereka begitu menginjakkan kaki di kantin yang riuh.
Timy berjalan di depan, membukakan jalan di antara kerumunan siswa yang kelaparan, sementara Nawang dan Kanaya mengekor di belakang.
"Neng, mau makan apa? Aa pesenin sekalian, biar kamu gak usah ikut antre," ujar Timy setengah berteriak, menoleh ke arah Nawang dengan tatapan penuh perhatian yang biasa ia berikan.
Sebelum Nawang sempat menjawab, Kanaya yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol lengan Timy. "Gak usah ditanya, Tim. Samain aja semua. Soto ayam yang itu, nasi setengah, koyanya dua sendok munjung, plus sate kulit yang garing. Gak pakai seledri, kuahnya agak banyakan. Ya, kan?" Kanaya mengedipkan sebelah matanya ke arah Timy, lalu beralih ke Nawang. "Lu juga suka soto kan, Wang?."
Nawang tersenyum tipis, mengangguk kecil. "Boleh, disamain aja."
"Sip! Minumnya es teh manis jumbo tiga ya, Tim. Pake duit lu dulu, ntar gue ganti pas pengen balik," cerocos Kanaya lancar, lalu menarik tangan Nawang menuju satu-satunya meja kosong di pojok kantin.
Nawang duduk di hadapan Kanaya, memperhatikan punggung Timy yang kini mengantre di depan stan soto.
Ada sengatan kecil yang aneh di dadanya. Bukan rasa cemburu yang meledak-ledak, melainkan perasaan asing yang ganjil.
Kanaya tahu persis detail porsi makanan Timy—bahkan hingga takaran koya dan antipati cowok itu terhadap seledri.
Sesuatu yang Nawang sendiri baru ketahui secara bertahap selama satu tahun berpacaran, namun sudah menjadi informasi luar kepala bagi Kanaya selama bertahun-tahun.
"Nawang, lu tahu gak?" Kanaya membuka obrolan sambil menata tisu di meja. "Si Timy itu dari dulu kalau makan soto porsinya kayak kuli. Dulu pas di kompleks lama, kita sering taruhan habis berapa mangkok. Rekor dia itu tiga mangkok pas kelas dua SMP, abis itu pulang-pulang mencret semalaman."
Nawang menahan tawa, mencoba menikmati cerita itu. "Oh ya? Aa gak pernah cerita kalau pernah se-rakus itu."
"Pasti jaim lah dia di depan lu," sahut Kanaya terbahak. "Dia kan gengsian parah kalau di depan cewek yang dia taksir. Dulu pas awal-awal mau deketin lu, dia heboh nanya ke gue gimana cara chat cewek yang kelihatan anggun biar gak dicap jamet."
Panggilan "Aa" yang barusan lolos dari bibir Nawang sempat membuat Kanaya menjeda kalimatnya sekejap, namun gadis itu dengan cepat menguasai keadaan dengan tawa renyahnya.
Di satu sisi, Nawang menghargai keterbukaan Kanaya yang tidak berusaha menutupi apa pun. Namun di sisi lain, pusaran memori masa kecil yang dibawa Kanaya seolah membangun dinding transparan yang memisahkan Nawang dari mereka berdua.
Tak lama, Timy datang membawa nampan berisi tiga mangkok soto yang mengepul dan tiga gelas es teh manis. Ia meletakkan mangkok pertama di depan Nawang dengan hati-hati.
"Ini buat Neng. Sambalnya sengit, jadi Aa cuma kasih setengah sendok. Kalau kurang, tambah sendiri ya," ucap Timy lembut, memastikan sendok dan garpu Nawang sudah bersih.
"Makasih, Aa," jawab Nawang lembut, memberikan senyum terbaiknya.
Kanaya yang sedang memisahkan sate kulitnya langsung mendongak, matanya berkedip-kedip jenaka. "Uhuk! Uhuk! Aduh, kantin tiba-tiba bau sirup ya, manis bener. Aa-Neng... boleh juga. Sejak kapan lu panggilannya berubah jadi Aa, Tim? Biasanya juga dipanggil 'Woi' sama anak-anak."
Wajah Timy agak memerah. Ia duduk di samping Nawang, sengaja merapatkan posisinya sebagai penanda wilayah, meski gestur itu terasa agak dipaksakan karena ia juga tidak enak pada Kanaya. "Suka-suka kita lah, Nay. Daripada lu, gak ada yang manggil."
"Dih, gue mah mandiri. Panggilan gue bisa cegil," balas Kanaya cuek, lalu mulai menyendok sotonya. "Eh, Tim, lu inget gak soto Pak Min yang di dekat lapangan dekat rumah lama kita? Ini rasanya mirip banget ya? Koya-nya pas."
"Iya, emang mirip. Tapi yang di sana koyanya lebih gurih karena pake kerupuk udang asli," sahut Timy tanpa sadar, langsung masuk ke dalam mode nostalgia. "Inget gak pas sepeda lu kecebur selokan gara-gara lu makan soto sambil sepedaan?"
"Heh! Itu karena lu yang nyenggol stang gue ya!" Kanaya protes dengan mulut setengah penuh. "Nawang, bayangin ya, gue pulang-pulang belepotan kuah soto sama air got. Si Timy bukannya nolongin malah ketawa sampai guling-guling di aspal."
Timy tertawa lepas, jenis tawa yang lepas dan tanpa beban. "Ya lagian lu aneh-aneh aja, makan soto di mangkok plastik sambil gowes."
Nawang mendengarkan. Ia menyendok kuah sotonya perlahan.
Rasanya memang enak, hangat dan gurih. Namun, interaksi di depannya membuat soto itu terasa sedikit hambar di lidahnya. Ia melihat bagaimana Timy merespons Kanaya dengan kedipan mata remeh khas sahabat lama, dan bagaimana Kanaya membalasnya dengan pukulan ringan di bahu Timy.
Ada ruang emosional yang sangat besar di antara Timy dan Kanaya, ruang yang dibangun oleh waktu, tawa masa kecil, dan rahasia-rahasia konyol yang tidak bisa dibeli oleh Nawang dalam waktu enam bulan.
Nawang tahu Kanaya tidak bermaksud pamer atau merebut Timy. Kanaya tulus. Justru ketulusan Kanaya itulah yang membuat Nawang tidak punya alasan untuk marah, yang tersisa hanyalah rasa terasing yang sunyi.
Timy, yang di tengah tawanya tiba-tiba melirik ke arah Nawang, menyadari kediaman pacarnya. Tawa cowok itu perlahan mereda. Ia meletakkan sendoknya, lalu tangan kirinya bergerak di bawah meja, meraih jemari Nawang dan menggenggamnya erat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Nawang dengan lembut—sebuah gestur penenang yang biasa ia lakukan jika tahu Nawang sedang tidak nyaman.
Nawang menoleh, menatap mata Timy. Di sana ada kilat rasa bersalah sekaligus penegasan bahwa bagi Timy, Nawang adalah prioritasnya sekarang.
"Neng, sotonya kurang asin gak? Mau Aa mintain garam lagi?" tanya Timy, suaranya melunak dua oktav, mengabaikan Kanaya sejenak.
Nawang menggeleng, tersenyum kecil sambil membalas genggaman tangan Timy di bawah meja. "Gak kok, ini pas. Enak banget."
Kanaya, yang ternyata cukup peka melihat perubahan atmosfer dan arah pandangan Timy yang intens ke Nawang, langsung menurunkan tensi bicaranya. Ia meletakkan sendoknya, meneguk es teh manisnya, lalu tersenyum tulus ke arah Nawang.
"Eh iya, Wang. Maaf ya, gue kalau udah ketemu Timy emang suka keterusan bahas zaman purba. Maklum, di sekolah lama gue gak ada temen gila kayak dia," ujar Kanaya dengan nada yang jauh lebih tenang, seolah meminta izin untuk masuk ke dalam radar kehidupan mereka.
Nawang melepaskan genggaman tangan Timy perlahan, lalu menopang dagunya, menatap Kanaya tanpa ada rasa benci. "Gak apa-apa banget, Kanaya. Aku malah seneng dengarnya. Jadi aku tahu kalau Aa Timy yang keren di lapangan basket ini ternyata aslinya penakut dan hobi ngetawain orang tercebur got."
Timy mendesah pasrah. "Yah, jatuh deh pasaran gue di depan pacar sendiri."
Kantin siang itu tetap bising, namun di meja pojok tersebut, sebuah ritme baru mulai terbentuk. Nawang memilih untuk tidak membiarkan rasa amannya terkikis oleh masa lalu yang tidak bisa ia ubah. Ia memilih untuk berjalan bersama masa kini, di mana tangan Timy—meski sekarang sudah melepas genggamannya untuk lanjut makan—tetap berada dekat dengan sisinya.
......................
...****************...
Tbc,