Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bau bunga dan kemenyan
dalam perjalanan kembali ke Surabaya.
Olivia menghubungi kembali dimas
"halo mas"
"via... kamu dimana?"
"aku pulang ke kampung mas"
"ndak bisa gini donk via. kamu belum boleh libur lho"
"tapi mas. sekarang tepat 100 hari meninggalnya kedua orang tua ku mas" Olivia berbohong tentang itu
"kedua orang tuamu?" tanya dimas bingung
"iya mas, makanya kemarin aku ijin ke mas dimas untuk libur hari ini"
"kenapa kamu ndak bilang kalau 100 hari orang tuamu vi. trus kamu sekarang dimana?"
"maaf mas. ini baru aja cabut. mungkin sampai di surabaya tengah malam"
"oke" dimas menutup percakapan mereka
"mas dimas pasti marah... pak agak cepat ya pak"
"iya mbk"
Olivia mencoba menghubungi kakok
"mas kakok"
"hay Olivia... kamu kemana aja? dicariin mas dimas lho"
"iya mas, aku baru aja hubungi mas dimas. sepertinya marah mas"
"ya jelas vi... kamu baru kerja 2 hari sudah libur"
"ya gimana lagi mas. aku harus pulang. aku langsung ke cafe ya"
"terserah kamu vi... Siap-siap di damprat Mely"
"aduhhh"
Olivia membayangkan Mely semakin membenci dia
******
3jam kurang Olivia sampai di cafe senja
Dengan berlarian kecil menghampiri dimas di meja kasir
"malam mas" sapa Olivia seperti tidak punya salah
"kamu... jam berapa ini" ucap dimas tegas
"maaf mas... aku harus pulang. ndak bisa di tunda"
"ikut aku" ucap dimas dan di ikuti Olivia dibelakangnya
"duduk" dimas masuk kedalam ruang kerjanya "bau apa ini??" dimas mengendus antara bau wangi dan bau kemenyan. Olivia mencoba mencium aroma tubuhnya. ya benar. bau kembang dan kemenyan
"maaf mas, tadi ndak sengaja ketumpahan air sandingan"
"mandi dulu vi... ganti baju"
"tapi mas. aku ndak bawa baju ganti"
"pakai bajuku" ucap dimas mengambil baju cadangan di dalam lemari kecil di ruangannya
Olivia mengambil baju itu, membersihkan tubuhnya sampai dirasa bau itu sudah hilang
dimas meninggalkan Olivia di kamar mandi ruangannya
"Olivia baru datang mas?" tanya Mely
"iya, kenapa?"
"enak sekali dia. baru juga kerja sudah libur seenaknya aja"
"hari ini 100 hari meninggal orang tuanya Mel"
"alasan" ucap Mely ketus dan pergi meninggalkan dimas.
dimas memerintahkan salah satu karyawannya untuk membeli celana untuk Olivia. tengah malam semua toko baju sudah tutup, yang tersisa toko olahraga
"mas... toko tutup semua. tinggal toko olahraga aja. bagaimana?"
"belikan celana seadanya bi"
tak lama kemudian abi datang membawa bungkusan berisi celana pendek dan kembali lagi ke ruangannya
"belum selesai vi?" ujar dimas masih mendapati Olivia di dalam kamar mandi
"bentar lagi mas"
"celananya aku taruh di depan"
"iya mas"
dimas duduk membelakangi pintu kamar mandi.
Tak lama kemudian Olivia keluar mengenakan celana pendek berserta baju milik dimas, kemeja motif kotak berwarna biru menjulur panjang sampai hampir lutut Olivia, menutupi celana pendeknya
"sudah selesai vi?"
"sudah mas" Olivia masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi itu
"ngapain kamu disitu?"
"malu mas"
"malu kenapa? kamu belum pakai baju?" dimas belum melihat Olivia
"sudah mas... tapi ini"
dimas membalikkan tubuhnya melihat ke arah Olivia. melihat pemandangan indah di malam hari
"ini terlalu pendek mas... kayak aku ndak pake celana" ucap Olivia sambil melihat kaki pahanya yang terbuka
"ya maaf... habis sudah jam segini toko baju di seberang sudah tutup. yang ada ya cuma itu"
"kenapa juga aku tadi ndak langsung pulang"
"salah kamu sendiri kenapa kamu ndak pulang dulu trus mandi baru kesini"
"ndak keburu mas"
"sampai kapan kamu berdiri disitu?"
"kalau pakai baju ini, bagaimana aku bisa ke pangung mas"
"naik aja ke pangung sana... aku yakin kamu akan di tawar orang"
"ah... apaan sih mas" ucap Olivia beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi ruang dimas
"sudah jam berapa ini vi... vi... ndak usah ke stage"
"tapi mas"
"ndak usah ngeyel"
"tapi mely?"
"ya jelas marah lah... rasain kamu pasti di omelin Mely"
"ayo lah mas... tolong aku. ini kan 100 hari kedua orang tuanku mas. pliss" ucap Olivia merajuk sambil tangannya memohon
dimas senang melihat Olivia seimut itu, dengan balutan baju yang kebesaran, celana pendek dan rambut basah membuat gairah dimas memuncak
"aku kasih ampun sekali ini saja"
"beneran mas?" ucap Olivia girang
"ehhh... jangan kira kamu ndak di hukum ya"
"dihukum?"
"iya... kok enak kamu sudah melakukan kesalahan trus langsung aku ampuni begitu aja. besok kamu datang lebih awal. kamu besok full, Mely datang jam 8"
"aku full mulai sore mas?"
"iya.. kenapa? ndak mau?"
"iya mas.. mau gimana lagi"
dimas menahan tawa melihat ekspresi Olivia, ingin sekali mencubit hidung gadis cantik itu
Pintu ruangan dimas diketuk oleh seorang
"masuk"
Mely membuka handle pintu ruangan dimas.
"ada apa Mel" ucap dimas
mely masuk tak melihat Olivia tengah duduk di kursi tamu ruang kerja dimas
"aku mau pulang mas"
"sudah selesai?"
"sudah mas" Mely menoleh ke arah Olivia yang mengenakan baju dimas
"lho via.. mas ini kan baju yang aku belikan untuk kamu mas"
"iya Mel... belum aku pakai, biar di pakai via dulu. kasihan belum mandi" ucap dimas
"tapi mas... itu kan aku beli untuk kamu bukan untuk orang lain"
"sudah jangan di perpanjang. oh ya Mel... besok kamu datang jam 8. via mulai awal sampai tutup. itu punishment untuk dia" ucap dimas sambil melirik Olivia yang tertunda
"iya mas"
"siapa yang perfome sekarang?"
"Widi mas"
"oke.. Hati-hati dijalan ya mel... vi.. kamu ndak minta maaf ke Mely?" tegur dimas
Olivia beranjak dari duduknya, pakaiannya yang di kenakan semakin membuat Mely naik darah
"Mel... maaf" Olivia mengulurkan tangganya
"serahhh... " Mely menepis tangan Olivia lalu pergi meninggalkan ruang kerja dimas
dimas beranjak dari duduknya dan menutup pintu yang di biarkan terbuka oleh Mely
"Mely marah mas"
"ya jelas... kalau aku di posisi Mely pasti juga marah"
Olivia kembali duduk dan menunduk
"bayangkan, dia perfome mulai jam 5 sampai jam 1. apa ndak serak itu suaranya" dimas duduk di sandaran kursi
"apa aku berhenti aja mas?"
"ngomong apa kamu vi... "
Olivia diam
"ayo bilang sekali lagi... bilang apa kamu barusan?" kini dimas duduk di atas meja menghadap tepat ke wajah Olivia membuat Olivia semakin menunduk
"lihat aku... angkat kepalamu" perintah dimas
Olivia tak berani mengangkat kepalanya masih tertunduk
"lihat aku" dimas mengangkat dagu Olivia
"lihat aku... lihat!!!"
Olivia memejamkan matanya, wajahnya menghadap sempurna ke arah dimas tapi matanya masih menutup
"lihat aku... buka matamu"
Olivia membuka matanya, melihat wajah dimas tepat di hadapannya
"kamu bilang apa tadi? mau berhenti?"
Olivia diam
"kamu mau berhenti? kenapa? hanya masalah seperti ini kamu mau berhenti?" ucap dimas menatap tajam mata indah Olivia. jantung dimas kini berdegup kencang, semakin menatap dalam mata indah itu, semakin jatuh cinta
Olivia masih tetap diam
"apa karena kamu ndak di maafkan Mely? sampai kamu mau keluar? jawab vi... " dimas berkacak pinggang tatapannya tak lepas dari mata Olivia
Olivia memandang wajah tampan di hadapannya itu, jantungnya tiba-tiba berdegup dan Olivia kembali menurunkan wajahnya
"ehh... siapa suruh nunduk" dimas kembali mengangkat dagu Olivia
beradu pandang dan merasakan hal yang sama