"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Liam Jeren Sebenarnya?
Asap dari cerutu yang membara di asbak kristal terasa menyesakkan, tetapi tidak ada satu pun orang di dalam ruang rapat Wijaya Group yang berani membuka jendela. Suasana di ruangan lantai teratas gedung pencakar langit itu begitu mencekam. Di ujung meja, Gaizka Wijaya duduk dengan wajah yang memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol kasar saat ia menatap laporan kerugian dari Pelabuhan Utara.
"Dua ratus lima puluh miliar, Leo! Terbakar habis menjadi abu di dasar laut!" Gaizka menghantamkan tinjunya ke atas meja kaca hingga retakan halus menjalar di permukaannya. "Kapal itu tidak mungkin meledak sendiri karena korsleting! Jendra menjamin bahwa jalur hijaunya aman. Siapa yang membocorkan jadwal bongkar muatan ini?!"
Semua kepala staf keamanan menunduk dalam diam, tidak berani menatap mata sang bos yang sedang kalap. Hanya Leo yang tetap berdiri tegak di sisi kanan Gaizka. Pria bermata rubah itu tidak menampakkan kepanikan. Ia hanya menatap sisa-sisa lembaran laporan dengan tatapan yang dingin dan penuh perhitungan.
"Pihak bea cukai dan internal pelabuhan sudah saya periksa secara personal, Tuan Gaizka," Leo bersuara, suaranya datar, tenang, namun memiliki ketajaman yang menuntut perhatian. "Semua orang kita di dermaga barat tetap bungkam. Tidak ada kebocoran dari jalur logistik lama. Tapi..." Leo menjeda kalimatnya, matanya menyipit saat sebuah benang merah mendadak melintas di dalam kepalanya. "Apakah Anda tidak merasa ada yang janggal dengan lini masa kejadian ini?"
Gaizka mendongak, napasnya masih memburu kasar. "Janggal ? apa maksudmu?!"
"Kerugian kita bermula sejak malam lelang amal," Leo melangkah maju, meletakkan selembar foto di atas meja. Foto itu menampilkan siluet Liam Jeren yang sedang berjalan dengan keanggunan seorang bangsawan, diambil dari tangkapan kamera tersembunyi malam itu. "Pria ini datang entah dari mana, menawar vas Ming Anda hingga tiga puluh, lalu di malam yang sama dia mendadak menjadi pahlawan yang menyelamatkan Nona Bellatrix di jalan sepi. Dua hari kemudian, dia diundang ke rumah Anda, dan malam berikutnya... seluruh pasokan senjata kita meledak di pelabuhan."
Gaizka mengerutkan keningnya, menatap foto Liam. "Ahhhh, dia hanya anak manja konglomerat Eropa yang punya terlalu banyak uang tunai, Leo. Latar belakang Jeren Corp bersih. Firma hukum di Panama mengonfirmasi legalitas modalnya. Dia bahkan berniat menyuntikkan dana segar untuk proyek reklamasi kita."
"Justru karena dia terlalu bersih, Tuan," desis Leo, senyum tipis yang licik terukir di sudut birirnya. "Di dunia bisnis kita, tidak ada orang yang benar-benar bersih tanpa cela, kecuali jika seseorang telah menghapus jejaknya dengan sangat rapi. Ada hawa tidak wajar di sekitar pria bernama Liam Jeren ini. Insting saya mengatakan, kedatangannya ke Jakarta bukan untuk berbisnis... tapi untuk memburu kita."
Gaizka terdiam sesaat, akan tetapi sisa-sisa amarah akibat kehilangan uang membuatnya menepis analisis tangan kanannya. "Jangan paranoid, Leo! Fokus saja cari siapa bajingan di pelabuhan yang lalai menjaga tangki solar. Keluar kalian semua!"
Leo menunduk hormat, mengundurkan diri dari ruang rapat tanpa membantah lebih jauh. Tetapi, begitu pintu kayu jati ruang rapat tertutup di belakangnya, wajah patuh Leo langsung berganti dengan ekspresi dingin yang penuh kedengkian. Ia tahu Gaizka mulai dibutakan oleh keserakahan dan pesona modal Jeren Corp. Jika Gaizka menolak untuk melihat bahaya, maka Leo yang harus bergerak di balik punggung bosnya demi melindungi dinasti mereka.
Dua jam kemudian, Leo sudah berada di dalam kabin sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di area basement terbengkalai di kawasan bisnis Sudirman. Di kursi pengemudi di sampingnya, seorang pria kurus berpakaian serba hitam dengan topi bisbol yang diturunkan rendah sedang sibuk mengunyah permen karet. Pria itu adalah Viper, kepala jaringan intelijen swasta bayaran yang paling berbahaya di pasar gelap Jakarta.
"Aku butuh kamu mengorek semua hal tentang pria ini," Leo menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal berisi cetakan foto Liam Jeren dan data Jeren Corporation yang mereka miliki.
Viper mengambil amplop itu, melirik isinya sekilas melalui kegelapan kabin mobil, lalu terkekeh pelan. "Liam Jeren? Si hiu baru dari Eropa? Dokumen legalitasnya sudah beredar di kalangan kolektor data, Leo. Semuanya sah dari Harvard hingga Panama. Apa lagi yang mau kamu cari?"
"Bukan dokumen yang dibuat di atas kertas," Leo mencengkeram dasbor dengan erat, matanya berkilat penuh selidik yang tajam. "Aku butuh kamu melacak jejak fisiknya yang riil. Cari tahu rumah sakit mana yang melakukan operasi plastik padanya karena kulit wajahnya terlalu sempurna untuk ukuran pria berumur dua puluh sekian tahun. Lacak penerbangan pribadinya dari Eropa tiga bulan lalu. Periksa semua saksi mata, pembantu, atau siapa pun yang pernah melihatnya sebelum dia menginjakkan kaki di Jakarta."
Viper menghentikan kunyahannya, menyadari keseriusan di nada suara tangan kanan Gaizka tersebut. "Ini bakal butuh biaya besar, Leo. Melacak orang dengan profil seperti dia artinya kita harus meretas server sekunder di beberapa negara."
"Uang bukan masalah," Leo mengeluarkan sebuah koper kecil dari kursi belakang, membukanya sedikit untuk memperlihatkan tumpukan lembaran dolar AS yang rapi. "Akan ku bayar separuh. Separuhnya lagi setelah kamu membawakanku nama asli dari pria yang bersembunyi di balik topeng pualam itu."
Viper tersenyum lebar, menyambar koper itu dengan cepat. "Deal. Beri aku waktu tiga hari. Jika ada orang yang bersembunyi di balik nama Liam Jeren, aku akan menyeretnya keluar ke bawah terik matahari untukmu."
Leo bersandar di jok mobilnya saat SUV tersebut mulai bergerak keluar dari basement. Matanya nampak menatap tajam ke luar jendela, memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan Jakarta. Di dalam kepalanya, bayangan wajah tenang dan angkuh Liam Jeren saat memandang rendah dirinya di ruang kerja Gaizka kembali berputar.
Siapa pun kau sebenarnya, bajingan, batin Leo dengan seringai rubahnya yang paling kejam. Begitu aku menemukan retakan di topeng tampanmu itu, aku sendiri yang akan memastikan kamu memohon kematian di depan kakiku.