NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkah yang di Taburkan

Pagi yang cerah diiringi suara bising benturan palu dan gesekan gergaji dari Bang Rahmat.

Sementara itu, di ruang tengah galeri, terlihat Chandra sedang memeriksa buku keuangan milik keluarga kecilnya.

"Hah, untung saja jumlah nol dari uangku masih banyak. Tapi sebanyak apa pun uang, kalau cara menghabiskannya begitu impulsif, aku tidak bisa pensiun di usia empat puluhan," gumam Chandra, lalu menatap istrinya yang sedang bersenandung sambil mengelap meja-meja tamu.

Yueji yang sadar sedang diperhatikan Chandra segera berlari jinjit menghampiri suaminya.

"Sayang, jadi kan kita ke Jepang?" tanya Yueji dengan mata berkedip-kedip manja.

"Tidak!" Chandra memalingkan wajahnya.

"Paket sepuluh orang saja, hmm?" kembali Yueji merajuk.

"Tidak!" jawab Chandra semakin ketus.

"Ihh, pelit! Ya sudah, aku tidak mau membersihkan ruangan ini lagi!" ancam Yueji sambil melipat tangan di dada.

"Ada Sisi..." singkat Chandra menjawab.

"Hehh, kamu..." geram Yueji seakan mau meremas suaminya itu. "Huhh!" Dia lalu berjalan menuju dapur dengan hentakan kaki.

Chandra melirik ke arah istrinya.

"Maafkan aku, Sayang. Bukan aku pelit, tapi kamu memang seharusnya kuberi pelajaran soal pengelolaan uang rumah tangga," batin Chandra berkata.

"Sisi!" teriak Yueji di dapur.

"Ada apa, Nyonya-ku yang paling cantik? Sisi di sini, tidak usah berteriak," jawab Sisi dengan begitu anggun.

"Suamiku menyebalkan! Uang banyak tapi tidak mau memodali aku ke Jepang!" Yueji berkata dengan penuh kekesalan.

Sisi menghampiri Yueji, lalu merangkulnya lembut.

"Tidak boleh begitu, Nyonya. Mungkin Tuan punya alasan lain. Bukan dalam arti sebenarnya tidak membolehkan," ucap Sisi dengan bijaksana.

"Benarkah?" tanya Yueji dengan wajah berbinar.

"Emm, betul, Nyonya," Sisi tersenyum.

"Tapi aku masih kesal, huaa..."

"Uhh, cup cup... Sudah Nyonya, jangan menangis. Sisi buatkan makanan, ya?"

"Hehehe, kamu memang pelayanku yang paling cantik dan pengertian!" Yueji lalu memeluk erat Sisi.

Kakek Lubis berjalan perlahan masuk ke tempat ruangan yang sedang di renovasi

"Mamat, gimana Mat? Aman?" Kakek Lubis kini tiba di galeri.

"Eh, Kakek. Aman, Kek. Tuan Chandra kasih gambarnya detail, jadi Rahmat tidak begitu kesusahan, Kek."

"Ahh, syukurlah. Ya sudah, segera selesaikan."

"Siap, Kek!"

Dengan langkah yang tertatih-tatih, Kakek Lubis mendekati Chandra.

"Chandra..."

"Iya, Paman?"

"Kenapa kamu murung begitu?" tanya Kakek Lubis yang kini duduk di samping Chandra.

"Aku cuma lagi bimbang saja, Paman. Yueji ingin ke Jepang," ucap Chandra dengan senyum tipis.

"Apa? Leluhur mau liburan? Baguslah! Kalian liburan saja sana, galeri ada aku kok," ucap Kakek Lubis dengan penuh pengertian.

"Tapi bukan itu masalahnya..."

"Lantas apa?" tanya Kakek Lubis keheranan.

"Dia mau mengajak gathering semua fansnya ke Jepang, pakai uangku!" Wajah Chandra begitu lemas, lalu membaringkan kepalanya di atas meja.

"Hehehe, kalau soal itu aku tidak berani berbicara lagi, Chandra," Kakek Lubis tertawa canggung setelah mendengar penjelasan tersebut.

"Leluhur benar-benar sedang star syndrome rupanya," batin Kakek Lubis sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh iya, bagaimana anak kemarin? Apa sudah ketemu keluarganya?" tanya Chandra yang kini menegakkan kembali badannya.

"Aku juga heran perihal anak itu. Semua jajaran aparat sudah kuminta bantuannya. Kata mereka, dari semua turis yang tersisa, tidak ada yang mengaku bahwa mereka adalah keluarga anak tersebut. Sungguh penuh misteri sekali anak itu, Chandra," Kakek Lubis memegang janggutnya dengan wajah berpikir keras.

"Paman mau kopi?"

"Sedikit saja gulanya, ya?" jawab Kakek Lubis.

"Sisi, ke sini!"

"Siap, Tuan..." Sisi berlarian menuju Chandra.

"Buatkan kopi dengan takaran gula sedikit."

"Baik, Tuan."

***

Sabrina duduk anggun bersama Anya di kantor kepolisian untuk mencari kepastian di mana sebenarnya orang tua Anya berada.

"Ayolah, Pak. Masa belum ketemu juga? Kasihan anak ini kalau jauh terus dari orang tuanya," iba Sabrina kepada komandan polisi di tempat tersebut.

"Bukannya kami tidak mencari, Nona Sabrina. Tapi dari data imigrasi, tidak ada orang asing yang datang ke sini bertepatan dengan tanggal anak tersebut ditemukan. Kami saja jadi kebingungan, apa kemungkinan ada penjualan manusia di sekitar sini? Dilihat dari wajahnya, anak ini kemungkinan warga Eropa Barat," jelas Pak Polisi sambil memandang Anya.

Anya hanya menatap polos wajah Pak Polisi tersebut.

"Lucu sekali anak ini," batin Pak Polisi menatap Anya.

"Begini saja, Nona Sabrina. Untuk sementara waktu, adopsi dulu saja anak ini. Kalau kita simpan di tempat penampungan pemerintah, meskipun banyak teman, takutnya justru semakin tidak terawat. Mengingat status keluarga Nona Sabrina sangat terpandang, mengurus anak lucu ini saya rasa masih bisa," ucap Pak Polisi memberi solusi.

"Bukannya tidak mau, saya hanya ingin memastikannya dulu saja, Pak. Tapi kalau Bapak sudah bilang begitu, setidaknya tidak akan ada yang menganggap kami terlibat penculikan."

"Tentu saja tidak. Kami justru senang kalau Nona Sabrina sudah memikirkan hal tersebut dan berkonsultasi dengan kami terlebih dahulu."

"Baik kalau begitu. Terima kasih banyak, Pak Polisi!" Senyum Sabrina merekah penuh kegembiraan.

"Ayo Sayang, ikut Mama pulang ya sekarang," ucap Sabrina yang kini kembali memangku Anya.

"Mama..." ucap Anya sambil memegang kedua pipi Sabrina.

Tiba-tiba Anya mengepak-ngepakkan lengan kecilnya. Dari semua polisi di ruangan itu, hanya komandan tersebut yang bisa melihat manik-manik emas berterbangan dari tangan Anya.

"Apa itu yang berjatuhan?" batin Pak Polisi dengan wajah tercengang.

"Ayo pulang, hihihi!" ucap Sabrina sambil berlari kecil keluar dari kantor polisi.

Belum lima menit Anya dan Sabrina pergi, tiba-tiba ponsel Pak Polisi berbunyi nyaring.

Kringg! Kringg! Kringg!

"Iya, ada apa?"

"APA!?"

PRAK!

Ponsel Pak Polisi tersebut terlepas dan jatuh dari genggamannya. Para anak buahnya panik lalu mendekat.

"Komandan, ada apa?"

"Apa ada masalah besar?"

Dengan gerakan kaku dan mata berkaca-kaca, Pak Polisi tersebut memandang para bawahannya.

"Aku... akan jadi Kapolda," ucap Pak Polisi tersebut dengan suara bergetar penuh haru.

Berita tersebut membuat semua bawahannya bersorak gembira.

"Wahh, selamat, Komandan!"

"Baru seminggu menjabat sudah dapat promosi! Sungguh luar biasa prestasi Komandan!"

"Karena ini begitu dadakan, baiklah semuanya... Hari ini kita syukuran! Kalian semua saya traktir makan. Kita berangkat ke restoran di pusat kota. Sisakan yang piket, catat namanya buat nanti dibungkuskan!"

"Siap!" serempak para anggota menjawab kompak sambil berdiri tegap dan memberi hormat.

***

Mobil Sabrina berjalan perlahan di area pusat kota karena sedang mencari sesuatu untuk diberikan kepada Anya.

"Sayang, kamu mau makanan?"

"Makanyan? Makanyan?" jawab Anya polos sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Hihi, lucunya anak Mama. Kita berhenti dulu di sana, ya."

Terlihat banyak pedagang makanan olahan dan jajanan anak di pinggir jalan.

"Anya sayang, coba kamu pilih mau beli apa?" Sabrina menunjuk ke arah para pedagang.

Anya menatap satu per satu pedagang tersebut, hingga matanya tertuju pada seorang nenek tua yang berjualan permen kapas. Anya langsung berlari kecil mendekat ke arah pedagang tersebut.

"Sayang, tunggu!" teriak Sabrina panik mengejar Anya.

"Sayang, kamu mau permen?" tanya Nenek pedagang tersebut dengan begitu ramah.

Anya hanya menatap permen berwarna-warni itu dengan wajah ngiler.

"Ini buat kamu, Sayang," tanpa basa-basi, Nenek tersebut memberikan satu permen kapas secara cuma-cuma.

Anya begitu riang gembira mendapat permen tersebut. Tak lama, Sabrina tiba sambil terengah-engah.

"Aduh, cepat sekali kamu berlari, Sayang! Kalau sudah besar nanti, Mama masukkan ke klub atlet lari ya!"

"Mama..." ucap Anya tersenyum manis memegangi permen kapasnya.

"Nenek, permennya berapa?" tanya Sabrina.

"Hanya sepuluh ribu saja, Nyonya," jawab Nenek tersebut.

Setelah membayar, Anya semakin girang. Tangannya kembali mengibas-ngibas riang. Seperti halnya Pak Polisi tadi, di sini pun hanya Nenek pedagang yang bisa melihat manik-manik emas berkilauan berjatuhan dari arah tangan Anya.

"Apa itu? Berkilauan..." batin Nenek pedagang keheranan.

"Ayo Sayang, kita ke Kakek," ucap Sabrina sambil tersenyum, lalu memangku Anya kembali.

Baru dua langkah Sabrina berjalan, tiba-tiba terdengar suara riuh orang-orang berteriak dari arah belakang.

Sabrina pun membalikkan badannya.

"APA!?"

1
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!