Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Ancaman Sang Pemenang
Langit sore itu menggantung rendah, memancarkan warna kelabu pekat yang seolah mencerminkan matinya seluruh harapan di dada Clara. Angin musim penghujan berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering yang berguguran di sepanjang jalan tua yang dahulu begitu akrab baginya.
Clara menyeret langkah kakinya yang terasa berat. Perutnya yang semakin membesar memaksanya berjalan lebih lambat, namun ia tidak terburu-buru. Tujuannya hari ini bukanlah untuk melarikan diri, melainkan untuk mengubur sebuah nisan tak kasatmata. Ia datang ke taman kecil di ujung kompleks perumahan lama mereka. Tempat ini dulunya adalah dunia kecil bagi Clara dan Vera. Dunia yang hanya terdiri dari dua anak perempuan berseragam sekolah putih-abu-abu, yang sering duduk di bawah pohon beringin besar sambil berbagi sebungkus roti murahan dan berjanji bahwa mereka tidak akan pernah saling meninggalkan.
Clara duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas parah, termakan oleh cuaca dan waktu. Ia meletakkan tas kainnya di pangkuannya yang bergetar. Tangannya merogoh ke dalam, mengeluarkan beberapa benda yang selama sebelas tahun ini ia simpan layaknya harta karun paling berharga.
Sebuah foto usang yang mulai menguning. Di sana, Clara dan Vera tersenyum lebar ke arah kamera, merangkul bahu satu sama lain dengan tulus. Lalu, seutas gelang persahabatan dari benang wol berwarna merah yang sudah pudar dan hampir putus. Benda-benda ini dulunya adalah jangkar kewarasan Clara saat ia merasa sendirian di dunia. Kini, benda-benda ini terasa seperti duri beracun yang mengoyak tangannya.
"Janji anak-anak..." bisik Clara pada angin yang berembus kosong. "Hanya kebohongan manis untuk menutupi kebusukan manusia."
Ia mengusap wajah Vera di foto itu. Kebenaran yang ia dengar di balik rak swalayan kemarin masih terngiang jelas di telinganya. Vera tidak pernah mencintainya. Vera hanya memeliharanya untuk memuaskan rasa superioritasnya.
Clara berniat merobek foto itu dan membuang gelangnya ke tanah. Ia ingin menyelesaikan ritual perpisahan ini dalam keheningan, lalu pulang dan bersiap menghadapi takdirnya yang baru.
Namun, sebelum tangannya sempat mengoyak kertas usang itu, suara decit rem mobil mewah yang berhenti mendadak di tepi taman memecah kesunyian.
Clara tidak menoleh. Ia pikir itu hanya kebetulan. Namun, suara pintu mobil yang dibanting keras dan ketukan hak sepatu yang mendekat dengan tergesa-gesa memaksanya mengangkat kepala.
Jantung Clara serasa berhenti berdetak.
Di sana, hanya berjarak lima langkah darinya, berdiri Vera.
Vera mengenakan gaun hamil berwarna persik yang elegan, dibalut mantel kasmir yang mahal. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum ramah buatan kini kaku dan tegang. Mata Vera terpaku pada Clara, seolah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang bangkit dari kuburnya.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada yang bersuara. Suara angin yang menggesek dedaunan menjadi satu-satunya latar belakang ketegangan yang mencekik itu.
Lalu, pandangan Vera perlahan turun. Dari wajah Clara yang tirus dan pucat, turun melewati jaket tipisnya yang kebesaran, dan berhenti tepat pada tonjolan di perut Clara yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Warna di wajah Vera memudar seketika. Matanya membelalak lebar, dipenuhi oleh keterkejutan, horor, dan perhitungan matematis yang langsung bekerja di otaknya yang licik. Tiga bulan sejak pembatalan pertunangan. Ukuran perut Clara. Semuanya terhubung dengan satu kesimpulan yang tak terbantahkan.
"Kau..." Suara Vera keluar berupa bisikan yang bergetar hebat. Ia melangkah maju, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Berapa bulan, Clara?"
Clara tetap duduk, menatap lurus ke mata wanita yang telah menghancurkan hidupnya. Ia tidak menjawab, tidak juga berniat menyembunyikan perutnya lagi. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
"Aku tanya, berapa bulan?!" suara Vera mendadak meninggi, pecah oleh kepanikan yang luar biasa. "Anak siapa itu, Clara? Jawab aku!"
"Kau tahu pasti anak siapa ini, Vera," jawab Clara dengan suara yang sangat tenang, sedingin es di kutub utara. Ketenangannya justru membuat Vera semakin kehilangan kendali.
Vera terhuyung mundur satu langkah. Napasnya memburu. Tangan wanita itu beralih memegangi perutnya sendiri, seolah sedang melindungi posisinya yang mendadak terancam. Bayangan tentang Daniel yang mengetahui hal ini, tentang keluarga Daniel yang mungkin akan membatalkan hak waris atau mempertanyakan status Elena, membuat mata Vera berkilat dipenuhi ketakutan dan kemarahan yang biadab.
"Kau jalang murahan," desis Vera, membuang seluruh topeng persahabatannya. Wajahnya berubah menjadi sangat kejam, memperlihatkan monster egois yang selama ini bersembunyi di balik senyum manisnya. "Kau sengaja hamil untuk menjebaknya? Kau sengaja menyimpan anak itu untuk memeras kami dan menghancurkan pernikahanku?!"
Clara tertawa kecil. Tawa yang hambar dan penuh kepedihan. "Menjebaknya? Menghancurkan pernikahanmu? Kau merampas calon suamiku, Vera. Kau yang menghancurkan hidupku, bukan sebaliknya. Dan asal kau tahu, aku tidak pernah berniat memberitahukan hal ini pada Daniel. Daniel tidak pantas mengetahui keberadaan anak ini."
"Bohong!" teriak Vera, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Wajahnya merah padam. "Kau selalu merasa dirimu lebih suci dariku! Kau pasti sedang menyusun rencana untuk datang ke keluarga Daniel, menangis memelas, dan merebut posisiku! Dengarkan aku baik-baik, Clara. Daniel sudah membuangmu. Dia memilihku. Dia mencintaiku!"
"Lalu kenapa kau begitu ketakutan, Vera?" potong Clara tajam, menatap tepat ke dasar jiwa Vera yang rapuh. "Jika kau yakin dia mencintaimu, kenapa melihat perutku saja membuatmu gemetar seperti pengecut?"
Vera membeku. Kata-kata Clara tepat mengenai titik terlemahnya. Kemarahannya kini bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Rasa takut seorang pemenang yang terancam kehilangan takhtanya.
Vera menenangkan dirinya. Ia menarik napas panjang, merapikan mantel kasmirnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menatap Clara dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah. Pandangan seorang penguasa kepada serangga yang mengganggunya.
"Kau tidak punya bukti apa-apa, Clara," ucap Vera dengan nada yang sangat pelan, namun setiap silabelnya meneteskan bisa. "Dan bahkan jika kau punya... siapa yang akan mempercayaimu? Lihat dirimu. Kau gembel. Kau miskin. Kau tidak punya keluarga, tidak punya pekerjaan, tidak punya apa-apa."
Clara tidak bergeming, meskipun hatinya terasa diiris mendengar kenyataan itu.
"Di dunia ini, kebenaran bukan milik orang yang benar, Clara," lanjut Vera, melangkah selangkah lebih dekat, membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Clara. "Kebenaran adalah milik mereka yang bisa membayarnya. Keluarga Daniel memiliki segalanya. Keluargaku memiliki segalanya. Kalau kau berani membuka mulutmu... kalau kau berani muncul di depan suamiku atau keluarganya, aku bersumpah demi nyawaku, aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan."
Vera menunjuk tepat ke arah perut Clara dengan telunjuknya yang dihiasi cincin berlian raksasa.
"Orang miskin sepertimu sangat mudah untuk dihilangkan, Clara," desis Vera dengan kekejaman yang absolut. "Satu panggilan telepon, beberapa lembar uang, dan kau bisa menghilang dari kota ini tanpa ada satu pun polisi yang peduli untuk mencarimu. Kau mungkin akan berakhir di selokan, dan anak harammu itu tidak akan pernah melihat dunia. Kau mengerti? Aku bisa membeli nyawamu dan nyawa anakmu dengan uang jajanku sehari."
Dunia di sekeliling Clara seolah berhenti berputar.
Ia tidak merasakan kemarahan yang meledak. Ia tidak merasa ingin menangis atau menjambak rambut Vera. Yang ia rasakan adalah sebuah pencerahan yang sangat mengerikan, sedingin es yang membekukan aliran darahnya.
Vera benar.
Vera sama sekali tidak melebih-lebihkan ancamannya. Di mata orang-orang seperti Vera dan Daniel, nyawa Clara tidak lebih berharga dari sehelai rumput kering. Orang miskin tidak memiliki ruang untuk membela diri. Keadilan adalah barang mewah yang tidak mampu dibeli oleh Clara. Jika ia tetap bersikeras membawa Maya bersamanya, jika suatu hari Vera merasa terancam, Vera tidak akan ragu untuk menghancurkan mereka berdua.
Maya tidak akan pernah aman selama ia hidup sebagai anak dari seorang Clara. Maya akan diburu, direndahkan, dan mungkin dihabisi jika keberadaannya mengancam takhta anak Vera di keluarga Daniel.
Clara menatap mata Vera yang dipenuhi ancaman mematikan itu. Tidak ada lagi ilusi. Persahabatan mereka benar-benar telah mati, membusuk, dan menjadi bangkai yang tidak berharga.
Clara bangkit berdiri. Ia merobek foto lama itu menjadi dua bagian tepat di depan wajah Vera, membiarkan potongan kertas itu jatuh tertiup angin. Lalu ia menjatuhkan gelang persahabatannya ke tanah, dan menginjaknya dengan ujung sepatunya yang kusam.
"Aku tidak akan pernah mencari suamimu, Vera," ucap Clara dengan suara yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang menyembunyikan badai terdahsyat di dalam jiwanya. "Kau boleh menyimpan pria pengkhianat itu. Kalian pantas untuk satu sama lain."
Vera mendengus sinis, merasa ancamannya telah berhasil membuat Clara tunduk. "Pilihan yang pintar. Pergilah yang jauh. Dan pastikan anak itu membusuk bersamamu di tempat sampah, di mana kalian seharusnya berada."
Vera berbalik, berjalan anggun kembali ke mobil mewahnya tanpa menoleh lagi. Suara mesin menderu, lalu mobil itu melaju pergi, meninggalkan Clara sendirian di tengah taman yang mulai digelapkan oleh senja.
Clara tetap berdiri mematung. Matanya menatap ke arah hilangnya mobil Vera. Tangannya perlahan meraba perutnya, melindungi janin yang baru saja diancam akan dibunuh oleh wanita yang pernah ia anggap sebagai saudara.
Ancaman sang pemenang itu tidak membuat Clara gentar atau berniat melarikan diri ke kampung halaman. Sebaliknya, ancaman itu menjadi palu godam terakhir yang mengunci keputusannya.
"Kau benar, Vera," bisik Clara pada keheningan senja. "Anakku tidak akan pernah aman selama ia berada di pelukanku. Mereka akan menghancurkannya jika ia miskin. Maka dari itu... anakku tidak akan miskin. Anakku akan mewarisi semua kekuasaanmu, dan anakmu lah yang akan membusuk di tempat sampah bersamaku, Dan semoga kamu tidak akan benar benar membunuh anak kandungmu sendiri sesuai ancamanmu padaku hari ini."
Ritual perpisahan ini telah selesai. Clara berbalik melangkah pulang ke kamarnya yang gelap, membawa sebuah sumpah berdarah yang kelak akan menghancurkan dua garis keturunan.