Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Perlindungan?!" Marquis Ardent tertawa merendahkan. "Dia mendorong gadis yatim piatu! Dia mencoba bunuh diri! Dia adalah aib!"
"Dia adalah wanita yang lehernya berdarah karena dia lebih memilih menyayat nadinya sendiri daripada menghadapi dunia ini," balas Adrian dingin, langkahnya maju satu langkah, memaksa Marquis Ardent untuk mundur. "Dan aku bertanya-tanya, Marquis... apakah ada hubungannya dengan cara kau menatapnya? Dengan cara kau berbicara padanya?"
Mata Marquis Ardent membelalak. "Kau... kau menuduhku?!"
"Aku tidak menuduh. Aku menyimpulkan," Adrian menatap tajam ke arah pria yang lebih tua itu. "Keluar dari kamarku. Sebelum aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan ini dan menyatakan bahwa House Ardent tidak layak lagi berdiri di istanaku karena gagal mendidik anak sendiri."
Ancaman itu terdengar sangat nyata. Marquis Ardent memucat. Ia menatap Adrian, lalu menatap Kayna dengan tatapan penuh racun.
"Kau akan menyesal, Kayla," desis Marquis Ardent pada Kayna. "Kau akan menyesal karena telah lahir ke dunia ini."
"Aku sudah menyesal sejak dua puluh tahun lalu, Ayah," jawab Kayna datar, tanpa sedikit pun emosi di suaranya. "Tolong tutup pintunya saat keluar. Anginnya dingin."
Marquis Ardent menggeram, lalu berbalik dan membanting pintu di belakangnya. Suaranya bergema di sepanjang koridor.
Keheningan kembali menyelimuti kamar batu pualam itu.
Kayna menghembuskan napas panjang, bahunya yang tadinya tegang tiba-tiba terasa sangat lelah. Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar sedikit.
Sial.. Ternyata tubuh ini masih menyimpan memori otot dari rasa takut pada pria itu.
"Kau..."
Suara Adrian terdengar di belakangnya. Kayna menoleh. Duke Adrian sedang menatapnya. Tatapan pria itu... berbeda. Tidak ada lagi kebingungan. Tidak ada lagi frustrasi karena reputasinya terancam.
Yang ada di mata Adrian kini adalah sesuatu yang membuat Kayna merasa tidak nyaman. Rasa iba? Tidak. Adrian tidak akan mengiba. Itu adalah... kemarahan. Kemarahan yang bukan untuk Kayna, tapi *untuk* Kayna.
"Semua yang dia katakan..." Adrian memulai, suaranya terdengar serak. "Tentang ibumu. Tentang kau menjadi kutukan. Itu benar?"
Kayna menelan ludah. Ia mengalihkan pandangannya ke lantai. "Itu bukan urusanmu, Tuan Duke. Lagipula, itu kehidupan 'Kayla'. Aku hanya menumpang di tubuh ini."
"Aku tidak peduli tentang Kayla!"
Kayna tersentak. Ia mendongak, menatap Adrian yang kini berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka sangat dekat. Adrian menatap matanya, mencari sesuatu di kedalaman jiwa yang ia tahu ada di sana.
"Aku peduli padamu," ucap Adrian pelan, kata-kata itu terdengar seperti pengakuan yang baru saja ia sadari sendiri. "Wanita yang ada di dalam tubuh ini. Wanita yang lebih memilih mati daripada hidup di dunia yang memperlakukannya seperti sampah."
Kayna merasa napasnya tercekat. Ini bukan bagian dari skrip. Ini sama sekali tidak ada di novel. Pahlawan pria yang seharusnya membenci Kayla sampai mati, kini sedang menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang berharga di ruangan ini.
"Tuan Duke..." bisik Kayna, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. "Kau tidak boleh mengatakan itu. Aku ini penjahat. Aku harus mati."
Adrian mengangkat tangannya, dan dengan sangat lembut, jemarinya menyentuh perban di leher Kayna. Sentuhan itu begitu hangat, begitu hati-hati, seolah Kayna adalah kaca yang retak dan bisa hancur kapan saja.
"Kau tidak akan mati," bisik Adrian, matanya mengunci mata Kayna. "Dulu, aku membiarkanmu dihancurkan karena aku pikir kau memang sejahat yang mereka katakan. Tapi aku salah. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku akan memastikan kau hidup, Kayna. Bahkan jika aku harus mengurungmu seumur hidup."
Kayna menatap pria itu. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, seseorang menatapnya bukan dengan kebencian, bukan dengan rasa jijik, melainkan dengan... kehangatan.
Dan itu sangat, sangat merepotkan rencana kematiannya.
..gagal terus🤣