NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ancaman dari Utara

Kabar yang dibawa Zaki dari markas Gus Hanif membuat suasana di Karangtengah berubah drastis. Kiai Wahid segera mengumpulkan para ustaz dan ustazah senior untuk rapat darurat, sementara para santri diminta untuk bersiap dengan rencana evakuasi lanjutan jika keadaan benar-benar memburuk.

"Kita perlu titik pengungsian cadangan," kata Kiai dalam rapat itu, suaranya tegas meski wajahnya menyimpan kelelahan yang mendalam. "Kalau Belanda benar-benar mendekat ke arah sini, kita tidak boleh terjebak tanpa rencana."

Ustaz Malik mengusulkan sebuah gua besar di lereng bukit yang lebih tinggi, sekitar satu jam perjalanan dari Karangtengah, yang selama ini digunakan penduduk sebagai tempat berlindung dari bencana alam. "Gua itu cukup luas untuk menampung seluruh rombongan sementara waktu, dan posisinya tersembunyi dari jalur utama."

"Baik," putus Kiai. "Kita mulai persiapan dari sekarang. Simpan bekal darurat di sana, dan pastikan semua santri tahu jalur menuju ke sana kalau sewaktu-waktu harus mengungsi mendadak."

Zaki, yang turut hadir dalam rapat sebagai salah satu kurir kepercayaan, mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail dalam ingatannya. Ia tahu, sebagai kurir, kemungkinan besar dialah yang akan ditugaskan untuk menjadi penunjuk jalan atau membawa kabar jika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Beberapa hari berikutnya diisi dengan persiapan yang intensif namun berusaha dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan di antara santri-santri yang lebih muda. Bekal makanan kering, obat-obatan seadanya, dan beberapa kitab penting mulai dipindahkan secara bertahap ke gua yang telah ditentukan, dibawa oleh santri-santri yang lebih besar dalam perjalanan bolak-balik yang melelahkan.

Zaki turut serta dalam beberapa perjalanan itu, dan dalam salah satu kesempatan, ia berpapasan dengan Nafisah yang juga ditugaskan membawa sebagian bekal bersama beberapa santriwati lain.

Meski kesepakatan menahan diri masih mereka jaga, keadaan darurat membuat interaksi singkat menjadi tidak terhindarkan.

"Kang Zaki," sapa Nafisah, berhenti sejenak dengan jarak yang aman, napasnya sedikit terengah karena beban yang dibawanya. "Saya dengar Kang baru kembali dari markas Gus Hanif."

"Iya, Mbak. Kemarin." Zaki menimbang sejenak, lalu memutuskan untuk menyampaikan pesan yang dititipkan. "Gus Hanif titip salam untuk Mbak."

Wajah Nafisah sedikit berubah, campuran antara terkejut dan sesuatu yang sulit ditebak. "Oh. Bagaimana keadaan beliau?"

"Sehat, meski terlihat lelah. Beliau sedang mempersiapkan pertahanan untuk daerah sini." Zaki ragu sejenak, lalu menambahkan dengan hati-hati, "Beliau juga bicara jujur dengan saya, Mbak. Tentang banyak hal."

Mata Nafisah menatapnya penuh tanya, tapi sebelum Zaki bisa menjelaskan lebih lanjut, salah satu ustazah memanggil rombongan santriwati untuk melanjutkan perjalanan, mengingatkan bahwa waktu terbatas dan pekerjaan masih banyak.

"Nanti, kalau ada kesempatan, saya akan cerita lebih lengkap, Mbak," kata Zaki cepat, sebelum Nafisah harus pergi.

"Baik, Kang. Saya tunggu," jawab Nafisah, tersenyum tipis sebelum bergegas menyusul rombongannya, meninggalkan Zaki dengan harapan baru yang mulai tumbuh di dadanya.

Malam harinya, ketika seluruh rombongan berkumpul untuk salat isya berjamaah, sebuah kabar mengejutkan datang lewat seorang pelari yang tergesa memasuki area perkemahan, napasnya terengah dan wajahnya penuh keringat.

"Kiai!" serunya, suaranya panik. "Ada pergerakan pasukan Belanda, sekitar dua jam dari sini, menuju arah utara! Mereka membawa kendaraan lapis baja!"

Seluruh jamaah yang sedang bersiap salat langsung gempar. Kiai Wahid segera bangkit, wajahnya berusaha tenang meski matanya menyimpan kekhawatiran yang mendalam.

"Tenang, semuanya. Tenang." Suaranya menggema, berusaha meredakan kepanikan yang mulai menjalar. "Kita sudah punya rencana untuk situasi seperti ini. Ustaz Malik, mulai koordinasikan evakuasi ke gua sesuai rencana. Bergerak dengan tenang, tapi cepat."

Kepanikan sempat melanda sesaat, tapi latihan dan persiapan yang telah dilakukan beberapa hari terakhir mulai menunjukkan hasilnya. Para santri, meski dengan wajah tegang, mulai bergerak dengan lebih terorganisir dibanding kepanikan yang mungkin terjadi tanpa persiapan sama sekali.

Zaki segera bergerak membantu mengarahkan santri-santri yang lebih muda, mengingat setiap detail jalur menuju gua yang telah ia pelajari selama beberapa hari terakhir. Di tengah kekacauan yang terkendali itu, ia sempat melihat sosok Nafisah membantu Bu Nyai mengumpulkan santriwati yang lebih kecil, wajahnya tegang tapi gerakannya tetap sigap dan terarah.

"Semua bergerak ke arah gua!" teriak Ustaz Malik, suaranya menggema di antara kegelapan malam yang mulai dipenuhi suara langkah kaki tergesa dan napas yang memburu. "Jangan bawa barang yang tidak penting! Keselamatan lebih utama!"

Rombongan besar itu mulai bergerak dalam kegelapan, diterangi hanya oleh beberapa obor kecil yang dijaga agar tidak terlalu terang, menghindari kemungkinan terlihat dari kejauhan. Zaki berjalan di barisan tengah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal, sambil hatinya terus berdoa agar seluruh rombongan, termasuk Nafisah dan semua orang yang ia sayangi, bisa selamat melewati malam yang penuh ketegangan ini.

Di kejauhan, samar-samar, mulai terdengar suara gemuruh yang berbeda dari guntur biasa, sebuah pertanda bahwa perang yang selama ini hanya menjadi kabar dari kejauhan, kini benar-benar telah tiba di ambang pintu mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!