Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Di Maladewa
Setelah ciuman di tepi kolam tadi, matahari sudah jingga keemasan. Brayen menggendongku masuk ke kamar mandi. Bukan menggendong nakal, tapi menggendong seperti menggendong anak kecil yang kakinya masih ngilu.
"Mandi air hangat dulu, Berlian. Biar kram nya tidak balik lagi," bisiknya sambil menyalakan shower hujan yang hangat di kamar mandi kaca yang menghadap laut.
Aku mandi, keramas, dan memakai dress malam yang sudah Brayen siapkan di atas tempat tidur. Dress satin warna champagne, panjang, dengan punggung terbuka halus. Kalung bulan sabit 1,2 Miliar itu tetap melingkar di leherku. Berkilau.
Saat aku keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah kering, meja makan di tepi kolam sudah tertata.
Brayen sudah ganti baju. Kemeja putihnya digulung sampai siku, celana linen krem. Di meja ada dua piring steak wagyu, pasta, dan lilin-lilin kecil yang ditiup angin laut. Lampu-lampu gantung kuning temaram. Suara ombak jadi musiknya.
"Wow, Mas masak?" tanyaku.
Brayen tertawa, menarikkan kursi untukku. "Mas pesan, tapi Mas yang tata. Chef nya sudah Mas suruh pulang. Malam ini Mas mau makan berdua saja sama istri Mas. Tidak ada yang ganggu."
Kami makan malam di bawah bintang Maladewa. Sesekali Brayen menyuapiku. Sesekali aku menyuapi dia. Kami cerita, tertawa, mengingat kejadian kocak di airport tadi pagi.
Sampai piring kami kosong dan hanya tersisa wine untuk Brayen dan jus mangga untukku.
Angin malam mulai agak dingin. Brayen berdiri, mengulurkan tangannya.
"Isyana, sini."
Aku menyambut tangannya. Ia membawaku masuk ke kamar.
Kamar itu... sudah berubah.
Tempat tidur king size sudah ditaburi kelopak mawar putih dan merah membentuk hati. Di sekeliling tempat tidur ada lilin-lilin kecil yang menyala. AC sudah hangat. Selimut sutra sudah terbuka sedikit. Dari jendela kaca yang besar, terlihat bulan purnama Maladewa yang bulat sempurna memantulkan cahaya di laut. Ombak terdengar pelan, seperti lagu pengantar tidur.
Jantungku langsung berdebar kencang. _Deg. Deg. Deg._
Ini... malam pertama kami yang sebenarnya. Bukan karena kontrak. Tapi karena kami mau.
Brayen menutup pintu kaca pelan, menguncinya. Lalu ia berbalik menatapku.
Ia berjalan mendekat, sangat pelan. Tangannya mengangkat, mengelus pipi ku yang masih basah karena habis mandi. Ibu jarinya mengusap lembut.
"Isyana..." suaranya pelan, serak, tapi penuh cinta.
Aku mendongak. Mataku berkaca-kaca.
Brayen menatapku lekat, lama, seolah ingin memastikan.
"Sayang... boleh Mas tanya sesuatu?" bisiknya.
Aku mengangguk. "Boleh Mas..."
Ia menarik napas panjang, seperti mengumpulkan keberanian. Brayen Alkantara yang ditakuti dewan direksi, yang berani menampar orang di airport, ternyata gugup di depan istrinya sendiri.
"Apa... apa kini kamu sudah mencintai ku, Isyana?"
Air mataku langsung jatuh.
"Apa kini kita sudah menjadi suami istri beneran? Bukan karena kontrak, bukan karena hutang Ayah... tapi karena kamu mau?"
Aku mengangguk sambil menangis.
"Apa... apa kini kamu siap menjadi ibu dari anak ku? Memberikan ku penerus... dan cicit untuk Kakek?" Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Kakeknya memang sudah tua dan sakit-sakitan, ingin sekali melihat cicit.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku mengangguk dengan air mata yang semakin deras, tapi dengan senyuman paling tulus yang pernah aku buat seumur hidupku.
"Ya, Mas... aku siap..."
Aku menggenggam tangannya yang sedang mengelus pipiku.
"Aku mencintai Mas. Sudah lama. Sejak Mas menjahit gaun ku yang dirobek Lalita dulu. Sejak Mas menghapus air mata ku di sofa. Aku siap menjadi istri Mas beneran. Aku siap menjadi ibu dari anak-anak Mas..."
_Deg._
Brayen terdiam. Matanya yang biasanya dingin kini merah, berkaca-kaca. Ia tidak pernah menangis. Tapi malam ini, di bawah bulan Maladewa, di kamar mawar ini, air matanya jatuh satu tetes.
"Isyana..."
Dengan senyuman haru yang pelan dan gemetar, Brayen pun mengelus pipi ku lebih lembut, lalu menunduk dan mencium kening ku lama. Ciuman yang sangat dalam, sangat hormat, sangat mencintai.
"Terima kasih, Berlian ku... terima kasih sudah mau mencintai laki-laki sedingin Mas..."
Lalu ia mencium pipi ku yang basah air mata, menghapus air mata ku dengan bibirnya.
Dan malam itu, di kamar yang romantis dengan suara ombak yang indah dan cahaya bulan yang masuk dari jendela, di atas tempat tidur bertabur mawar...
Terjadi penyatuan cinta kami yang pertama.
Bukan penyatuan karena kewajiban. Bukan karena kontrak.
Tapi penyatuan dua hati yang sudah lama saling menunggu. Penyatuan cinta Isyana dan Brayen yang disaksikan bulan, ombak, dan bintang-bintang Maladewa.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar menjadi miliknya. Dan dia benar-benar menjadi milikku. Seutuhnya.
----Bersambung----