Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Bayang-Bayang Kertas dan Tatapan yang Tercuri
"Beneran, Mom?" tanya Clyrine, suaranya sedikit tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya menatap wajah sang mommy.
Sepanjang enam belas tahun hidupnya di rumah megah ini, Charles Rexander adalah sosok raja yang sabdanya mutlak dan tak pernah tunduk pada kata maaf—apalagi kepada dirinya, anak yang selama ini dicap pembangkang. Mendengar ayahnya mengakui kesalahan secara tak langsung dan bahkan berniat turun tangan sendiri ke sekolah besok pagi terasa seperti mimpi di siang bolong.
Runica tersenyum haru, matanya yang lembut memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam sebagai seorang ibu yang kerap terlambat menyadari kebenaran. Ia melangkah mendekat, mengusap puncak kepala Clyrine dengan kasih sayang yang tulus.
"Iya, Cly. Beneran," bisik Runica pelan, suaranya sarat kehangatan. "Mommy keluar dulu ya, kalian lanjut belajarnya. Jangan sampai larut malam."
"Siap, Tante," sahut Damien sopan dengan suara baritonnya yang tenang. Pria itu sedikit menundukkan kepala memberi gestur hormat saat Runica berbalik dan melangkah keluar, menutup kembali pintu perpustakaan berkayu jati tersebut hingga menyisakan bunyi klik pelan.
Keheningan yang nyaman kembali merayapi ruang perpustakaan. Aroma teh kamomil yang mengepul dari cangkir berbaur dengan wangi maskulin khas jaket Damien yang masih membungkus tubuh Clyrine.
Damien menarik kembali kursinya, duduk di sebelah gadis itu dengan binder terbuka di hadapannya. Ia meraih pena hitam, lalu mengetuk-ngetukkan ujungnya ke buku catatan Clyrine untuk mengembalikan atensi gadis itu.
"Urusan besok pagi biar dipikirkan besok," ujar Damien datar, nada suaranya kembali berubah menjadi sosok tutor yang menuntut kepatuhan. "Sekarang buka halaman berikutnya. Kita bahas studi kasus tentang pengaruh inflasi terhadap regulasi perdagangan bebas. Coba baca paragraf pertama dan rangkum inti masalahnya."
Damien mulai menjelaskan. Suaranya yang berat mengalir teratur, menguraikan alur logika materi yang rumit menjadi konsep-konsep sederhana yang mudah dicerna. Jemari tangannya yang kokoh dan berurat tegas sesekali menggoreskan skema bagan di sudut kertas.
Namun, alih-alih menyimak deretan kalimat di atas kertas, fokus Clyrine perlahan-lahan buyar.
Pandangan gadis itu bergeser dari buku, naik ke arah jemari tangan Damien yang memegang pulpen, lalu perlahan menatap sisi wajah pria di sampingnya.
Dari jarak sedekat ini, Clyrine bisa melihat garis rahang Damien yang begitu tegas dan sempurna saat sedang berbicara. Kening pria itu sedikit berkerut ketika menjelaskan bagian yang rumit, dan manik mata gelapnya tampak begitu tajam di balik pendar lampu meja yang keemasan. Jaket bombernya yang sudah dilepas menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang terlatih oleh latihan sasana bertahun-tahun.
Ada getaran aneh yang kembali merayapi dada Clyrine. Di kepalanya, bayangan pria yang berani berdiri tegak menghadapi Pak Antonio di ruang BK, pria yang menarik rekaman CCTV demi membuktikan ketidakbersalahannya, dan pria yang menolak Claire mentah-mentah di depan Charles terus berputar tanpa henti.
Kenapa dia bisa sekeren ini? batin Clyrine melamun, dagunya bertumpu di atas telapak tangan kirinya tanpa ia sadari. Matanya terpaku mengagumi bibir Damien yang bergerak mengucapkan penjelasan rumus bisnis.
"Jadi kesimpulannya, kalau pasar kehilangan keseimbangan suplai..." Damien menghentikan kalimatnya di tengah jalan.
Damien menyadari ada yang tidak beres. Tidak ada sanggahan sarkas, tidak ada goresan pena dari gadis di sampingnya.
Damien menoleh ke samping.
Pandangan mereka seketika bertubrukan dalam jarak yang sangat dekat. Netra gelap Damien yang dingin menghujam tepat ke dalam manik mata oranye-tembaga Clyrine yang masih menatapnya tanpa kedip dengan tatapan terpesona.
Damien mengangkat sebelah alisnya, raut wajahnya tetap tenang meski ia tahu betul apa yang sedang terjadi di kepala muridnya itu.
"Clyrine," panggil Damien pelan, suaranya begitu rendah dan dalam, memecah lamunan gadis itu seketika. "Kertas materinya ada di atas meja, bukan di muka gue."
Clyrine tersentak kaget seolah baru saja disiram air es. Tubuhnya mendadak menegak kaku di kursi, dan semburat merah padam langsung menjalar cepat membakar kedua pipinya hingga ke ujung telinga.
"S-siapa juga yang ngeliatin muka Kakak?!" sangkal Clyrine spontan. Suaranya melengking setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya, membuat suasananya justru kian kentara canggung.
Gadis itu buru-buru memalingkan wajah ke arah tumpukan kertas, jemarinya meraba meja dengan panik mencari pena hitam miliknya yang sempat tergeletak. "Gue tadi... gue tadi lagi mikirin rumus inflasi yang Kakak omongin barusan! Kebetulan aja arah mata gue ke situ, ge-er banget sih jadi orang!"
Damien tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap Clyrine dengan seringai tipis yang sarat akan ledekan. Manik mata gelapnya meneliti rona merah padam yang kini merambat sempurna dari pipi hingga ke leher jenjang murid bimbingannya itu.
"Oh, jadi lagi mikirin inflasi?" gumam Damien dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar santai. Ia mencondongkan tubuhnya kembali ke atas meja, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma segar kayu manis dari tubuhnya kembali memenuhi indra penciuman Clyrine. "Hebat juga ya. Baru tahu gue kalau rumus inflasi perdagangan bebas bentuknya ada di hidung sama bibir gue."
"Kak Damien!" pekik Clyrine tertahan, makin salah tingkah.
Ia berniat memundurkan kursinya untuk menjaga jarak aman, namun pergelangan tangannya sudah lebih dulu dicekal lembut oleh tangan kokoh Damien. Sentuhan hangat itu seketika mengunci gerakannya, membuat debaran di dada Clyrine berdegup kian tak keruan.
Sebelum Clyrine sempat menyusun alasan konyol berikutnya, tangan kiri Damien yang bebas terangkat perlahan ke udara.
Sentik!
"Aduh! Sakit, tahu!" ringis Clyrine sambil memegangi dahinya yang memerah akibat sentilan telunjuk pria itu. Ia melotot sebal, meski ada kilat malu yang tak bisa disembunyikan dari matanya. "Hobi banget sih nyentil dahi orang! Lama-lama jidat gue jenong gara-gara Kakak!"
Damien menurunkan tangannya seraya terkekeh rendah—tawa renyah yang terdengar begitu tenang dan hangat, sangat kontras dengan kepribadian dinginnya saat menghadapi orang lain.
"Biar otak lo balik ke jalurnya," ujar Damien santai, lalu menunjuk lembaran esai di meja dengan ujung penanya. "Fokus, Clyrine. Gue bela-belain pasang badan di depan Pak Antonio, debat sama Om Charles, terus nolak murid teladan kayak Claire, bukan buat jadi pajangan di depan meja lo."
Mendengar nama Claire disebut kembali dengan nada remeh seperti itu, Clyrine mendengus pelan, meski bibirnya tak bisa menahan senyum tipis yang perlahan merekah.
"Iya, iya, ampun, Tuan Mentor," cicit Clyrine, mengusap sisa rasa ngilu di dahinya sebelum menunduk menatap buku catatan. "Lagian siapa suruh duduknya deket-deket banget, kan bikin nggak fokus..." gumamnya teramat pelan, berharap pria di sampingnya tidak mendengar.
Namun tentu saja pendengaran Damien terlalu tajam untuk melewatkan gerutuan itu. Sudut bibir Damien terangkat makin tinggi.
"Gue dengar, Cly," bisik Damien tepat di samping telinganya dengan nada menggoda yang tajam. "Sekarang baca paragraf dua, atau gue sentil sekali lagi."
Clyrine langsung menarik napas panjang, mengeratkan pegangan penanya, dan memusatkan seluruh pandangannya ke lembar materi—berusaha mati-matian meredakan gemuruh di dadanya yang kian liar setiap kali berada di dekat pria itu.
Sisa waktu dua jam di perpustakaan keluarga Rexander berlalu dengan tenang. Di bawah bimbingan Damien yang lugas dan terarah, Clyrine benar-benar membenamkan dirinya dalam materi pelajaran. Daya tangkap gadis itu memang di atas rata-rata jika ia berniat menggunakannya; analisis kasus, penjabaran logika, hingga ringkasan konsep tata negara mampu ia selesaikan lembar demi lembar dengan rapi.
Dentingan jarum jam dinding berbunyi delapan kali, menandakan waktu telah tepat menunjukkan pukul delapan malam.
Damien menutup bindernya dengan bunyi krak pelan, lalu merapikan tumpukan kertas soal di hadapan Clyrine.
"Ingat ya apa yang dipelajari tadi," ujar Damien mengingatkan dengan suara beratnya yang tenang. "Pola logikanya jangan sampai lupa waktu lo ngerjain soal susulan besok."
Clyrine menghembuskan napas panjang sembari meregangkan otot-otot lengannya yang kaku. "Iya, Kak. Aman, udah nyangkut semua di kepala."
Damien melirik jam di pergelangan tangannya. "Udah jam delapan, udah selesai untuk hari ini. Minggu nanti lagi."
Mendengar kata 'Minggu', kening Clyrine mendadak berkerut samar. Gadis itu menoleh menatap Damien dengan bibir sedikit mengerucut.
"Hari Minggu kan sebenarnya buat libur, Kak," protes Clyrine santai, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Masa akhir pekan dipakai buat pusing-pusingan lagi."
Damien mengangkat sebelah alisnya, menyampirkan tali tas jinjingnya ke bahu. "Jadi mau hari apa?"
Clyrine mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu, pura-pura berpikir serius sebelum tersenyum tipis. "Hmm... hari Sabtu aja, Kak. Biar Minggunya gue bisa santai."
Damien terdiam sejenak menatap wajah murid bimbingannya itu, lalu mendengus pelan dengan senyum tipis yang sarat pertimbangan. "Hmm, lihat nanti. Nanti gue kabarin jadwal gue."
"Oke, sepakat!" seru Clyrine riang seraya ikut berdiri dan merapikan buku-bukunya.
Keduanya melangkah keluar dari ruang perpustakaan, lalu menuruni anak tangga marmer berputar menuju lantai bawah. Suasana ruang keluarga kini jauh lebih tenang dibandingkan sore tadi; Claire sudah tidak terlihat di mana pun, kemungkinan besar masih mengurung diri di kamarnya menanggung malu.
Di ruang tengah, Charles Rexander dan Runica masih duduk bersantai menikmati teh malam. Begitu mendengar derap langkah sepatu di lantai, Charles menengadah dan meletakkan tablet kerjanya.
"Sudah belajarnya?" tanya Charles membuka suara.
"Udah, Dad," jawab Clyrine singkat namun ramah, berdiri di dekat anak tangga terakhir.
Pandangan Charles beralih menatap pemuda di samping putrinya. "Gimana, Dam? Ada perkembangan dari anak ini?"
Damien melangkah maju sedikit, berdiri tegak dengan wibawanya yang selalu tampak tenang di hadapan sang kepala keluarga. "Clyrine belajarnya cepat nangkap, Om. Pola pikirnya tajam, jadi saya yakin dia pasti dapat nilai bagus di ujian susulan besok."
Mendengar penilaian positif yang meluncur langsung dari bibir Damien, raut wajah Charles melembut. Ada binar kelegaan dan rasa bangga yang samar terpancar dari mata pria paruh baya itu—sesuatu yang selama ini teramat langka ia berikan pada Clyrine.
"Bagus kalau begitu," ucap Charles mengangguk puas. "Terima kasih banyak, Nak Damien, sudah mau meluangkan waktu membimbingnya."
"Sama-sama, Om," balas Damien sopan seraya menundukkan kepala sedikit. "Kalau begitu, permisi Om, Tante. Saya pamit pulang dulu karena sudah malam."
Runica tersenyum hangat dari sofa, menatap Damien dengan penuh terima kasih atas ketenangan yang pria itu bawa ke rumah mereka hari ini. "Iya, hati-hati ya, Nak Damien."
"Iya, Tante."
Runica kemudian menoleh ke arah putri bungsunya yang masih berdiri di samping tangga. "Clyrine, antar Damien ke depan ya."
"Baik, Mom," sahut Clyrine patuh.
Clyrine berjalan beriringan mendampingi Damien melintasi lorong depan hingga melewati pintu ganda utama. Udara malam yang dingin langsung menyambut kulit mereka di pelataran rumah yang luas, diterangi temaram lampu taman bergaya Eropa.
Langkah kaki mereka berhenti tepat di samping pintu pengemudi sedan hitam milik Damien.
Clyrine menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, menatap pria 21 tahun di hadapannya dengan senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Makasih ya, Kak... buat hari ini," bisik Clyrine pelan, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Damien. "Dan... jangan kapok ngajarin gue."
Damien menatap gadis itu selama beberapa detik. Tatapan matanya yang biasanya sedingin baja tampak jauh lebih teduh malam ini.
"Hmm," gumam Damien singkat, nada suaranya terdengar lembut di bawah deru angin malam. Ia membuka pintu mobilnya, lalu menoleh sekilas sebelum masuk ke balik kemudi. "Gue pulang dulu."
"Hati-hati di jalan ya, Kak," balas Clyrine mengingatkan. "Kalau udah sampai rumah, kabari ya."
Damien tidak langsung menyalakan mesin. Dari balik pintu yang terbuka, ia menatap Clyrine yang berdiri hanya berbalut kaus tipis—setelah jaket bomber pria itu tadi dikembalikan di perpustakaan.
"Sana masuk," titah Damien dengan nada suara berat yang sarat perhatian tersirat. "Di luar dingin."
Clyrine tersenyum kecil melihat sikap protektif pria itu. "Iya, iya, ini mau masuk kok."
Damien baru menutup pintu mobilnya setelah memastikan Clyrine berbalik dan melangkah aman menuju teras rumah. Suara deru mesin mobil sedan hitam itu terdengar halus saat perlahan bergerak meninggalkan halaman kediaman Rexander, membelah keheningan malam kota, meninggalkan rasa hangat yang tak kunjung padam di dada Clyrine.