Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Suasana di dalam unit apartemen mewah itu kini tidak ubahnya bagaikan neraka berdinding kaca. Udara dingin dari pendingin ruangan yang berembus konstan sama sekali tak sanggup mendinginkan kepala Gibran yang serasa hendak meledak.
"Mas... Mas Gibran, tolong angkat telfonnya! Bicaralah pada media atau suruh tim kamu menghapus postingan-postingan netizen itu!" jerit Melani histeris. Wanita itu duduk meringkuk di atas sofa dengan wajah sembab. Air mata mengalir deras merusak riasan cantiknya, sementara jemarinya yang gemetar terus menggeser layar ponsel, membaca jutaan cemoohan, sumpah serapah, serta label pelakor yang ditujukan padanya.
Gibran berbalik cepat, menatap Melani dengan pendar mata yang menyala merah akibat amarah yang tak tertahankan.
"Menghapus postingan?! Kamu pikir internet itu milik nenek moyangmu?!" bentak Gibran dengan suara menggelegar hingga membuat Melani tersentak ketakutan. "Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu perbuat, Mel?! Aku sudah memperingatkanmu untuk diam! Tapi kamu malah nekat mengunggah tulisan sok puitis yang bodoh itu."
"Aku cuma mau membela diri, Mas!" bela Melani tak mau kalah, suaranya melengking tinggi menahan panik. "Aku tidak terima dituduh pelakor murahan! Aku cuma mau meluruskan kalau aku ada di saat kamu diusir dan terlunta-lunta! Aku mau lindungi nama baikku, Mas!"
"Nama baik?!" Gibran tertawa sumbang, sebuah tawa frustrasi yang terdengar teramat kejam. Pria itu melangkah maju, mencengkeram bahu Melani dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan. "Tulisanmu itu bukan membela diri, Mel, tapi secara tidak langsung mengonfirmasi kalau kamu adalah wanita simpananku! Kamu merusak seluruh strategi hukum yang sudah kusiapkan! Karena tulisan sok puitis dan tanpa otakmu itu, opini publik makin berbalik menghancurkanku."
Melani gemetar hebat. "Tapi Mas... kamu kan janji mau lindungi aku! Kamu janji mau jadikan aku istri sahmu! Sekarang semua orang nyerang aku, Mas... Tolong aku! Suruh pengacara kamu bersihkan namaku."
"Tutup mulutmu!" sergah Gibran seraya menepis cengkeramannya kasar hingga Melani terdorong ke sofa. "Jangan menambah beban kepalaku dengan kepanikan murahanmu itu."
Tak ingin berlama-lama terjebak dalam histeria Melani, Gibran melangkah lebar menuju ruang kerja pribadi di dalam apartemen tersebut. Ia langsung menggelar rapat darurat secara online bersama Pak Hendra pengacara papan atas yang disewanya dengan bayaran fantastis beserta tim hukumnya.
Di layar monitor laptop, Pak Hendra tampak menghela napas panjang seraya memeriksa berkas gugatan balik (rekonvensi) dari Kirana yang telah mereka terima.
"Pak Gibran," buka Pak Hendra dengan intonasi profesional yang berat. "Tuntutan dari Ibu Kirana sangat tidak main-main. Beliau menuntut hak asuh penuh untuk kedua anak, nafkah satu miliar rupiah per bulan untuk anak-anak, serta pembagian harta gono-gini sebesar 85 persen termasuk saham di NexTech Group dan properti ini."
"Gila!" potong Gibran seraya mengetukkan jarinya keras ke meja. "85 persen?! Kirana itu cuma ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan! NexTech Group itu berdiri dan berkembang sampai sebesar ini karena keringat dan kepemimpinanku sebagai CEO! Dia tidak berhak atas 85 persen harta saya."
"Kami memahami emosi Bapak," balas Pak Hendra tenang. "Namun, pihak Ibu Kirana melampirkan berkas bukti kepemilikan modal awal dan dokumen pendirian yang menunjukkan kontribusi finansial beliau di masa lalu. Meski begitu, kita akan menolak seluruh tuntutan fantastis ini di persidangan."
Gibran membusungkan dadanya, ego dan keangkuhannya kembali membakar. "Bagus! Tolak semuanya tanpa sisa! Saya tidak akan memberikan satu rupiah pun dari saham NexTech Group untuk Kirana. Soal uang nafkah anak satu miliar per bulan itu juga sangat tidak masuk akal! Saya mau kamu merancang gugatan tangkapan (eksepsi) untuk memotong tuntutan itu sampai angka paling minimal."
"Baik, Pak Gibran. Kami akan menyusun draf penolakan resmi atas tuntutan 85 persen tersebut dan membuktikan di hadapan hakim bahwa Bapakkah yang memegang kendali penuh atas operasional dan pertumbuhan NexTech Group. Kita akan bertarung habis-habisan di sidang pertama Pengadilan Agama nanti."
Pernyataan dari tim hukumnya sedikit mengembalikan rasa percaya diri Gibran. Sebagai pemilik dan CEO NexTech Group, ia yakin kekuatan finansial dan jajaran pengacaranya sanggup meremukkan tuntutan Kirana di pengadilan.
Namun, belum sempat Gibran bernapas lega usai mengakhiri panggilan video bersama pengacaranya, ponsel pribadinya mendadak berdering nyaring.
Layar ponselnya menampilkan panggilan dari nomor asing. Dengan kening berkerut dan emosi yang masih tersulut, Gibran menyambar ponsel itu dan mengangkatnya kasar.
"Halo! Siapa ini?!" bentak Gibran tanpa basa-basi.
Dari seberang telepon, terdengar suara wanita paruh baya yang terbatuk-batuk kecil dan gemetar suara yang teramat dihafal oleh Gibran.
"Gibran... ini Mama, Nak..."
Gibran tersentak. Raut wajah garangnya seketika menyusut. "Mama? Kok Mama telfon pakai nomor orang? Ada apa, Ma?"
"Gibran... jawab jujur sama Mama," bisik sang ibu dari seberang telfon dengan nada suara yang pecah menahan tangis. "Berita apa yang rame di grup WhatsApp keluarga dan TV hari ini, Nak? Kenapa... kenapa ada foto kamu sama perempuan lain di apartemen? Kenapa orang-orang pada bilang kamu selingkuh dan mau dibuang sama Kirana?."
Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapt. Dadanya bergemuruh. "Ma... Mama nonton berita apa?! Jangan dengarkan omongan orang-orang di grup! Itu semua cuma fitnah dari Kirana untuk menjatuhkan Gibran."
"Tapi Mama lihat sendiri fotonya, Gibran!" tangis ibunya makin pecah, napasnya terdengar memburu dan sesak. "Mama pinjam HP suster yang jaga Mama buat telfon kamu... Kirana itu istri yang baik, Nak. Dia yang ngerawat Mama selama ini! Kenapa kamu tega buang Kirana demi perempuan itu?! Dada Mama sesak banget bacanya, Gibran..."
Mendengar sang ibu mulai merasa sesak dada dan menyebut nama Kirana, bukannya merasa bersalah, amarah Gibran justru meledak liar. Namun, karena tidak berani memarahi ibunya yang sedang sakit, Gibran meluapkan seluruh murkanya pada sasaran lain.
"Ma, kasih telfonnya ke suster sekarang!" perintah Gibran dengan nada tinggi dan dingin.
Dengar bunyi kresek singkat di seberang, sebelum suara suster penjaga yang ketakutan terdengar. "Ha.... halo, Pak Gibran..."
"SUSTER! KAMU PUNYA OTAK TIDAK, HAH?!" bentak Gibran menggelegar, suaranya melengking hingga memantul di dinding ruangan.
Suster di seberang telfon terperanjat hebat. "Ma... maaf, Pak Gibran... Ibu tadi yang minta pinjam HP saya buat"
"TUTUP MULUTMU!" potong Gibran tanpa ampun, napasnya memburu kasar. "Saya bayar kamu mahal-mahal setiap bulan itu untuk MENJAGA dan MERAWAT kesehatan Mama saya! Bukan untuk memberikan ponsel kamu sembarangan dan memperlihatkan berita-berita sampah seperti itu ke Mama."
"Tapi Pak... Ibu tadi menangis memaksa mau telfon"
"Saya tidak mau tahu alasan murahanmu!" amuk Gibran, urat-urat lehernya menegang menonjol. "Tugasmu itu menyaring apa yang boleh dan tidak boleh dilihat oleh Mama! Kalau kondisi jantung Mama saya sampai drop atau memburuk gara-gara tontonan dan berita yang kamu kasih lihat, saya pastikan kamu saya pecat hari ini juga dan saya tuntut kamu ke jalur hukum! Paham?."
"Pah... paham, Pak... Maafkan saya, Pak... Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," cicit suster itu ketakutan seraya menahan tangis.
"Cabut semua saluran TV dan jangan biarkan Mama memegang HP atau melihat berita apa pun lagi! Kalau sampai terjadi lagi, kamu tahu konsekuensinya."
Klik!
Gibran mematikan panggilan itu secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas meja kerja hingga berderit keras. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, terengah-engah dengan dada yang naik turun ditelan amarah yang makin tak terkendali.
Dunia seolah sedang berkonspirasi untuk menekannya dari segala arah. Namun, dalam benak Gibran yang diselimuti kesombongan, ia menolak untuk tunduk. Sebagai pemilik kekuasaan di NexTech Group, ia bersumpah akan menggunakan seluruh uang dan pengaruhnya untuk memenangkan persidangan, membungkam media, dan membuktikan pada Kirana bahwa dirinya tidak akan pernah bisa dihancurkan.
tp biarin aja lh,yg dungu sm yg dungu....😛😛😛
yx seperti Gibran ni ,, dg ikhlas lahir batin dy mengakui semua kebusukan ny bersama nyai lampir ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
slmt buat kirana,krna udh brhsil bkin mreka malu plus kismin....mngkn abs ni mreka bkln jd rakyat jelata....😛😛😛
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄