NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi-pagi sekali Angga berendam di bath up merendam diri dengan air hangat ditemani oleh sopir pribadinya di depan pintu kamar mandi, suasana di lantai bawah sudah mulai berisik lantaran Laluna dan Steven tengah bersiap menuju lokasi acara pertunangannya dengannya Arni tengah hari nanti.

"Pak, apa anda tidak ikut ke acara pertunangan Pak Steven?" Tanya sopir itu tanpa mengubah posisinya berdiri.

"Aku tidak tahu, aku sangat malas bertemu dengan orang-orang munafik itu. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus pergi atau tidak?" Angga kembali bertanya sembari menggosok badannya dengan tangan kosong.

"Ayo, bantu aku ketempat tidur!" Serunya lagi mencoba bangkit perlahan dari bak mandinya.

Lelaki yang bekerja sebagai sopir pribadinya itu meraih handuk tebal berwarna putih dari tempat tidur dan segera melilitkan pada pinggang majikannya, tak segan ia menggendong tubuh besar Angga ke tempat tidur lalu menyiapkan pakaiannya dengan cepat sembari berbincang mengajak Angga sedikit bercanda gurau.

"Menurut saya Pak Angga harus menghadiri acara pertunangan Pak Steven, tapi mengingat istri anda belum kembali sebaiknya kita datang saat acara akan dimulai, jadi jika ada yang bertanya tentang istri anda, kita bilang saja kurang enak badan dan tengah melakukan perawatan diluar kota!" Usul lelaki tersebut.

"Heummm, kamu pintar juga!" Ucap Angga memuji sopir pribadinya tersebut hingga lelaki itu tersipu malu.

"Gajimu saya potong bulan ini!"

"HAH?" Lelaki itu terkejut serta matanya membulat sempurna dengan kening mengerut.

"Berani sekali kamu mengajari saya untuk berbohong ya!"

"Berbohong untuk kebaikan kan tidak ada salahnya, Pak!"

"Tidak ada yang seperti itu, berbohong ya tetap saja berbohong!"

"Tidakkk!"

"Iyaaaa!"

Kedua saling bersahut-sahutan sembari berjalan meninggalkan kamar menuju lift agar mereka turun kelantai bawah. Begitu pintu lift terbuka mereka disambut dengan keadaan rumah yang berantakan sebab beberapa makanan untuk tamu undangan dimasak disana.

"Bi, apa Mama saya sudah berangkat?" Tanya Angga pada salah satu pembantu rumah tangga mereka yang tengah menyusun kotak-kotak besar berisi makanan itu di ruang tamu.

"Belum, Pak. Ibu masih membantu Pak Angga bersiap-siap!"

Angga mengangguk pelan kemudian mereka kembali berjalan keluar dari rumah, Angga menunjuk salah satu mobil yang paling bagus untuk ia kenakan dan sopirnya segera menurutinya.

"Aku ingin kita menjemput Raisa sekarang!" Titahnya lalu menelfon kembali Raisa untuk menanyakan keberadaannya.

Ponsel milik Nisa yang semula digunakan Raisa kini berdering, nomor yang sangat dikenal oleh wanita itu terpampang jelas disana. Ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut dan menghentikan aktifitasnya yang mana sebelumnya ia dan Nisa tengah berada di dapur membuat makanan ringan untuk cemilan.

"Halo, Angga apa itu kau?" Tanyanya penuh semangat.

"Heummm, sopirku akan menjemputmu kesana, jadi kirimkan alamatmu sekarang juga!" Jawabnya dari seberang telepon.

"Eumm, baiklah!"

Angga segera menutup telfon lalu naik ke dalam mobil dibantu oleh sopir pribadinya tadi, beberapa menit kemudian Raisa sudah membagikan lokasi dan alamat lengkap rumah yang disinggahinya saat ini pada Angga. Pesan itu kemudian diteruskan oleh Angga pada sang sopir, pada peta di ponsel tertera waktu yang akan mereka tempuh menuju tempat dimana saat ini Raisa berada.

"Delapan jam? Bapak serius?" Tanya sopir itu menatap Angga yang duduk disampingnya dengan serius.

"Memangnya wajahku kelihatan sedang bercanda? Sudah lakukan saja!"

"Tapi acara pertunangannya akan dilakukan beberapa jam lagi, Pak!"

Angga menggelengkan kepalanya sambil memasang sabuk pengaman ditubuhnya.

"Aku tidak ingin menghadiri acara itu, bahkan jika mereka menikah nanti lebih baik aku pergi keluar kota, atau sekalian saja keluar negeri!" Jawabnya kesal.

Tak ingin berlama-lama disana, sang sopir akhirnya menyalakan mobil lalu mereka pergi meninggalkan kota tersebut menuju kota dimana saat ini Raisa berada, kota yang berada sangat jauh dari tempat pertama kali Raisa terjatuh. Sebab sudah terombang-ambing selama tiga hari dan akhirnya ia sampai di seberang pulau.

"Apa istri anda baik-baik saja, Pak?" Tanya sang sopir membuka pembicaraan.

"Heummm"

Angga yang tengah asik bermain ponsel hanya bergumam namun beberapa menit kemudian ia kembali menjawab pertanyaan sopirnya tersebut.

"Kalau masih bisa berbicara itu tandanya dia masih baik-baik saja!"

"Bapak ini sok cuek saja, padahal Bapak tidak pandai menyembunyikan eksresi!"

"Maksud mu apa?" Tanya Angga menoleh.

"Aduhhh, Pak Angga. Sebenarnya Bapak peduli dan sayang pada Bu Raisa, tapi Bapak gengsi menunjukkan dan mengakuinya, jadinya yang keluar dari mulut Bapak hanya kemarahan!"

"Kamu, sebaiknya kamu jangan bicara lagi!" Seru Angga menunjuk-nunjuk sopir pribadinya itu.

"Kenapa?"

"Kenapa? Kalau kamu bicara hal yang tidak-tidak lagi, kamu tidak akan gajian bulan ini!"

"Aduhh, baru saja dibilang. Baiklah-baiklah"

***

Pak RT juga istrinya kini membantu Raisa menyiapkan dirinya, karena masih pagi Nisa menyuruh Raisa untuk duduk dihalaman rumah sambil berjemur, beruntung infus ditangan Raisa sudah habis dan boleh dilepas hari itu juga. Kini Raisa terlihat lebih segar, kulitnya juga kembali putih meski masih banyak perban di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu pak RT dan istrinya kembali masuk kedalam rumah untuk bersih-bersih dibantu oleh Nisa yang baru saja selesai mencuci pakaian dan akan menjamurnya dihalaman belakang rumah.

Saat Raisa tengah sibuk menyisir rambutnya yang tampak kusut, Indra datang membawa beberapa macam buah dalam satu kantong plastik, tanpa Raisa sadari kini Indra sudah berada di sampingnya dan memperhatikan wanita itu tengah kesusahan menyisir rambut bagian belakang kepalanya sebab kedua tangannya masih terasa sakit.

"Perlu bantuan?"

"Hah?" Raisa terkejut dan langsung menoleh pada Indra.

Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya pada Raisa sambil tersenyum.

"Kita belum berkenalan sebelumnya, namaku Indra. Aku dan ayahku lah yang sudah menolong mu kemarin!"

Raisa segera menjabat tangan Indra sambil menyebutkan namanya, seperkian detik tatapannya membuat detak jantung Indra berdebar kencang, terlebih lagi saat kebetulan angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya membuat rambut Raisa berayun-ayun menambah kesan kecantikannya.

"Terimakasih sudah menolongku!" Ucap Raisa.

Indra bergumam sambil tersenyum, ia meraih sisir ditangan Raisa dan menukarnya dengan kantong plastik bawaannya.

"Wahh, banyak sekali buahnya. Apa aku boleh memakannya?" Raisa bertanya dengan girang saat matanya menemukan beberapa buah segar ditangannya.

"Ohh, tentu, kau boleh memakannya. Itu buah segar, baru dipetik dari ladang" jawab Indra dengan gugup.

Indra lalu membantu Raisa menyisir rambutnya, setelahnya mereka duduk bersama sambil menunggu Nisa yang baru saja kembali dari halaman belakang.

"Owhh iya, nomor yang kamu hubungi semalam sepertinya tidak melihatnya pesan dan panggilan teleponnya!" Indra memulai kembali pembicaraan agar mereka tak merasa canggung.

Belum sempat menjawab tiba-tiba Nisa kembali dengan ember kain ditangannya.

"Suaminya sudah menyuruh seseorang untuk menjemputnya, jadi kamu tidak usah genit!" Goda Nida mencubit pelan lengan Indra.

Pipinya tiba-tiba memerah, tak dapat menyembunyikan ketertarikannya pada wanita bersuami yang ditolongnya itu.

"Aku tidak menggodanya, kamu jangan bicara sembarangan dong!"

Nisa tertawa menutup mulutnya, "bercanda" ucapnya sembari menyimpan kembali ember ditangannya.

Ketiganya kemudian berjalan ke arah pohon mangga dihalaman rumah, Nisa menggelar sebuah karpet plastik untuk mereka duduk sambil menikmati matahari pagi juga kicauan burung-burung kecil yang hinggap pada ranting-ranting pohon mangga tersebut.

Sambil berbagi cerita tanpa sadar Indra menatap lekat wajah Raisa yang tertawa bersama Nisa, tiba-tiba Indra mengingat dimana ia melihat Raisa sebelumnya, yakni di sebuah spanduk perusahaan pada perayaan hari ulang tahun kantornya.

"Hahhh, tidak mungkin!" Batinnya terkejut saat mengingat siapa wanita yang tengah berada di hadapannya kini.

"Raisa ini kan mantan pacarnya CEO ditempatku kerja, yang sekarang menjadi istri kakaknya, pemilik perusahaan itu. Tapi bagaimana bisa? Ini mencurigakan" batinnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dikeluarkannya ponselnya dari dalam saku dan mulai mencari tahu tentang data diri pemilik perusahaan tempat ia bekerja, guna memastikan apakah Raisa yang duduk di hadapannya kini adalah Raisa yang sama dengan yang ia pikirkan.

Beberapa menit membaca biodata Angga, tiba-tiba sebuah nama yang ia cari-cari itu terpampang disana, "Raisa Kalila" sebagai istri pendiri perusahaan tersebut, sudah menikah sejak tahun tahun 2018 hingga kini yang terhitung sudah lima tahun. Indra terkejut bukan main, tak pernah menyangka ia akan memiliki kesempatan bertemu dengan wanita yang selalu menjadi perbincangan dikantornya.

"Dia, sama persis dengan yang diceritakan orang-orang selama ini. Cantik, kalem dan ramah, juga sederhana!" Batinnya menatap Raisa sambil tersenyum.

Nisa yang sejak tadi memperhatikan Indra menutup mulutnya dengan salah satu tangannya saat melihat Indra senyum-senyum sendiri menatap Raisa yang sama sekali tak memperhatikannya.

"Astaga, si lajang tua ini sepertinya naksir Raisa" Batin Nisa menahan tawa.

"Kasihan sekali, sukanya perempuan yang sudah bersuami, bagusan juga dia melirikku yang masih jomblo ini"

Tak lama kemudian anak-anak kecil di kampung tersebut menghampiri mereka karena penasaran untuk melihat Raisa yang kata beberapa penduduk kampung "orang kota itu".

"Kak, benar Kakak yang hanyut di pantai kemarin?" Tanya salah seorang anak laki-laki yang mungkin masih berusia empat atau lima tahun itu.

"Emmmm, iya!" Jawab Raisa tersenyum malu sambil menatap Nisa dan Indra silih berganti.

"Wahhh, ternyata benar kata Bapakku, Kakak cantik sekali!" Timpal anak laki-laki yang lain.

"Iya"

"Iya, benar sekali!" Sahut yang lainnya.

Raisa hanya tersenyum menggaruk lehernya karena malu sekaligus senang karena sudah lama tak seorang memujinya cantik.

"Kalau aku sudah besar nanti, aku akan mencari mu Kak!" Seru anak yang pertama tadi.

"Untuk apa?" Tanya Raisa.

"Untuk ku nikahi?"

"Hahhhh?" Raisa, Nisa dan Indra berteriak bersamaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!