"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengakui pernikahan
Heppy Reading
❄️❄️❄️
Kedua pasangan paru baya itu menatap kearah Arkanza dan juga Azkia saat Arkanza menarik gadis itu masuk kedalam ruangan VIP itu.
Sejak tadi mereka penasaran dengan apa yang ingin Arkanza katakan, tapi saat melihat Arkanza keluar dan membawa gadis itu masuk. Mereka yakin kalau apa yang ingin Arkanza bicarakan, ada kaitannya dengan gadis yang sekarang sedang menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap ke arah kedua pasangan paruh baya itu.
Anugraha maupun Zafina tentu mengenal siapa Azkia. Gadis itu adalah gadis yang sering diceritakan oleh kedua cucunya, bahkan mereka memanggil gadis itu dengan panggilan bunda. Anugraha maupun Zafina tidak mempermasalahkan kedua cucunya memanggil Azkia dengan panggilan bunda, karena selama mengenal gadis itu. Mereka tau kalau Azkia adalah gadis yang baik.
"Arkanza, apa yang ingin kamu katakan tadi?" Tanya Zafina membuka suara, lantaran melihat sang putra hanya diam tidak berniat menjelaskan apa yang ingin pria itu bicarakan.
"Arkanza sudah menikah." Dengan santainya pria itu berkata seperti itu tanpa memperlihatkan keraguan atau gugup sama sekali. Seakan-akan perkataan nya sangat tidak penting untuk dia katakan.
Berbeda dengan Arkanza yang terlihat biasa saja. Kedua orang tuanya malah syok dengan pengakuan pria itu. Bahkan kedua pasangan paruh baya itu langsung menatap wajah Arkanza dengan intens, mencari kebohongan di sana. Tapi apa yang pria itu perlihatkan hanyalah wajah santai seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal dia baru saja mengakui pernikahannya di depan kedua orang tuanya.
"Menikah?" Ucap keduanya terlihat sangat syok sampai mengulang ucapan pria itu."Apa yang kamu katakan Arkanza? Kamu menikah? Menikah dengan siapa?" Lanjut Zafina memberikan begitu banyak pertanyaan pada putra sulungnya itu, lantaran Zafina terkejut dengan jawaban Arkanza yang mengatakan kalau dia sudah menikah.
Apakah Arkanza sedang bercanda? Sepertinya tidak, karena pria itu tidak suka dengan candaan yang menurut nya terlalu aneh untuk dia yang selalu serius.
"Apa yang kamu katakan, Arkanza! Bukannya tadi kamu menolak untuk menikah? Tapi sekarang kenapa kamu malah mendadak mengatakan kalau kamu sudah menikah?" Sambung Anugraha ikut memberikan pertanyaan pada putranya itu, karena ia tidak kalah terkejutnya dari sang istri.
Bagaimana tidak terkejut coba. Pria yang tadi pergi dengan emosi, karena mereka membahas mengenai pernikahan. Tapi saat kembali, malah mendadak mengatakan kalau pria itu sudah menikah?
Apa jangan-jangan putranya ketahuan bersama seorang wanita? Ah, tidak-tidak! Putranya tidak sebrengsek itu.
Arkanza hanya bisa memejamkan matanya sesaat, karena pusing dengan banyaknya pertanyaan dari kedua orang tuanya. Arkanza tidak berpikir sebelum nya kalau dia akan mendapatkan ribuan pertanyaan seperti ini.
Sungguh menyebalkan! Jika dia tau akan seperti ini. Dia tidak akan menikah tadi. Seharusnya kedua orangtuanya bersyukur, karena ia mengabulkan permintaan mereka. Bukan malah menginterogasi nya.
"Seperti yang ibu dan ayah inginkan tadi. Arkanza, hanya memenuhinya saja." Jawab Arkanza berusaha untuk santai, walaupun sebenarnya dia jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Tatapannya menatap kedua orang tuanya secara bergantian."Jika ibu dan ayah ingin tau dengan siapa Arkanza menikah. Lihatlah dia. Dialah wanita yang Arkanza nikahi." Lanjut Arkanza kembali, sambil menoleh ke arah Azkia yang sekarang sedang menundukkan kepalanya, sambil meremas gaun nya dengan gugup.
Wanita itu yang dari tadi berada di sana, seakan kehilangan Vital suaranya sampai tidak berani berbicara. Apalagi mendengar pertanyaan-pertanyaan yang kedua orang tuanya Arkanza lontarkan untuk, suaminya.
Sebentar. Suami?
Seharusnya kata itu tidak keluar dari pikiran Azkia, karena jelas-jelas Arkanza bukan suami nya. Mereka bukanlah pasangan suami istri seperti pasangan lainnya. Mereka menikah karena kesepakatan.
Ya, kesepakatan. Azkia membutuhkan Arkanza untuk mendonorkan darahnya dan juga membantu pengobatan sang papa. Sementara pria itu. Azkia tidak tau rencana apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.
Azkia sadar apa yang dia lakukan akan membawa nya pada masalah besar. Mengorbankan kebahagiaan nya hanya untuk orang yang dia panggil papa.
Tapi Azkia tidak mempermasalahkan kehidupan selanjutnya akan seperti apa. Selama sang papa masih hidup, dia masih punya rumah untuk pulang.
Anugraha maupun Zafina sama-sama melihat ke arah gadis yang Arkanza akui sudah dia dinikahi. Keduanya bisa melihat dari penampilan gadis itu yang terlihat berbeda.
"Sekarang dia istrinya, Arkanza, Yah, bu. Jadi jangan mendesak Arkanza untuk menikah lagi."
Zafina menatap Azkia dengan diam, seakan bingung mengekspresikan dirinya seperti apa setelah mendengar semua jawaban putranya itu. Gadis yang biasanya dipanggil bunda oleh cucunya, kini benar-benar menjadi bunda untuk mereka.
"Apakah tuhan mengabulkan doa kedua cucuku, dengan menjadikan gadis ini menjadi bunda Vatha dan Khilva sungguhan. Karena keinginan mereka." Batin Zafina menatap wajah Azkia dengan intens. Apalagi wajah itu terlihat cantik dari sebelumnya saat dandanan natural menghiasi wajahnya.
Zafina bingung ingin mengatakan sesuatu yang ada dalam pikirannya saat ini, di hadapan gadis yang sekarang sudah menjadi istri dari putranya. Jika dibilang Zafina setuju? Tentu Zafina sangat setuju. Karena Azkia, gadis yang baik dan memiliki kriteria seperti yang diinginkan sebagai menantu nya. Tapi dalam pikirannya mempertanyakan, kenapa Arkanza bisa menikahi gadis itu? Apakah ada alasan yang bisa dijelaskan, mengingat kedua orang itu sangatlah tidak akrab?
Sepertinya nyonya Zafina butuh jawaban dari Azkia. Kenapa gadis itu mau menikah dengan Arkanza.
Sementara Anugraha, hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pusing. Putranya itu termasuk pria yang susah ditebak jalan pikirannya. Padahal baru saja beberapa jam yang lalu Arkanza emosi karena tidak ingin menikah, lalu apa ini? Dia membawa seorang gadis dan mengakuinya sebagai istrinya?
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, Arkanza." Batin Anugraha menatap kearah putranya yang sekarang sedang diam tidak berkata apa-apa lagi, tapi senyuman kecil terukir di bibirnya dengan mata yang tertuju ke arah nya.
Itu bukanlah senyuman kebahagiaan, tapi senyuman yang Anugraha yakini. Kalau ada rencana didalam senyuman itu.
"Ayah bingung, ingin mengatakan apa lagi Ar. Sebaiknya kita bicarakan di luar." Tanpa berbicara apapun lagi setelah pengakuan Arkanza tadi. Pria paruh baya itu memutuskan untuk keluar. Tapi sebelum ia benar-benar keluar, Anugraha menatap kearah putranya yang masih berada pada posisinya.
"Ayah menunggumu di kantin, Arkanza. Datanglah cepat, karena ada hal yang ingin ayah bicarakan."
Orang-orang yang berada di ruangan itu, hanya menatap kepergian Anugraha. Setelah kepergian Anugraha, ruangan itu tiba-tiba saja hening, karena Zafina, Arkanza maupun Azkia memilih diam dan berada di dalam pikiran mereka masing-masing.
"Arkanza keluar bu, untuk menemui ayah." Ucap Arkanza membuka suaranya, membuat Zafina beralih menatap putra nya setelah itu dia menganggukkan kepalanya mengerti.
Arkanza melangkah begitu saja, tanpa berpamitan dengan gadis di sebelahnya. Padahal jelas-jelas sekarang gadis itu adalah istrinya.
"Ar, kamu tidak berpamitan dengan istrimu?" Tegur Zafina, saat melihat putra nya hanya melewati Azkia tanpa mengucapkan satu katapun.
"Dia punya telinga Bu, pasti dia tau kalau Arkanza akan keluar. Jadi untuk apa Arkanza berbicara dengan nya." Balas Arkanza setelah itu dia benar-benar keluar dari ruangan sang ibu.
Zafina yang tadi ingin protes dengan jawaban putranya, tapi pria itu sudah hilang dari ruangan itu.
"Benar-benar anak itu, tidak bisa menghargai istrinya!" Decak Zafina kesal.
Setelah kepergian Arkanza dan Anugraha. ruangan itu berubah menjadi hening, karena hanya ada Zafina dan juga Azkia. Sementara Khilva masih betah dalam tidur nya sehingga tidak terganggu dengan obrolan mereka.
Vatha juga tidak berada di ruangan itu, karena sebelum mereka memulai obrolan. Vatha meminta keluar, yang di temani oleh asisten ayah nya.
Di ruangan itu. Azkia hanya bisa diam lantaran merasa canggung dan tidak berani untuk menatap kearah lain termasuk kearah ibu mertua nya.
Zafina yang melihat kecanggungan Azkia hanya tersenyum."Azkia kenapa kamu berada di sana, nak? Kemari duduklah disini, ibu ingin berbicara dengan mu." Ucap Zafina sambil tersenyum.
Azkia yang tadi tidak berani menatap Zafina, mengalihkan tatapan matanya yang sejak tadi menatap kearah lantai untuk menatap kearah Zafina.
Senyuman tulus wanita paruh baya itu berhasil membuat Azkia berdiri dengan kaku seakan kaki nya tidak bisa melangkah mendekati wanita berumur itu.
"Kemari lah. Ibu ingin berbicara denganmu."
Walaupun ragu, tapi Azkia tetap menurut dan melangkahkan kakinya ke arah mertuanya. Entah apa yang akan terjadi setelah berhadapan langsung dengan wanita paruh baya itu. Azkia akan menerima nya.
Zafina meminta Azkia untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Setelah gadis itu duduk, tangannya terulur menggenggam tangan Azkia yang terasa dingin lantaran terlalu gugup.
"Azkia, ibu ingin bertanya sesuatu pada mu? Apakah kamu mau menjawabnya dengan jujur."
"Bo-leh bu."
"Apakah pernikahan ini karena kemauan kalian berdua karena saling mencintai? Atau kamu di paksa oleh Arkanza untuk menikah dengan nya?
Tubuh Azkia semakin di buat menegang saat mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Ibu mertuanya seperti tau kalau pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan. Tapi bagaimana wanita paruh baya itu tau, sementara pernikahan mereka sangat tertutup dan yang menyaksikan nya hanya asisten Arkanza.
"Azkia." Panggil Zafina saat melihat gadis itu hanya diam dengan tangan yang semakin dingin. Zafina yang melihat itu, tentu tau jawabannya walaupun Azkia belum menjawabnya. Jika dilihat dari perilaku gadis itu.
"Ibu tau, Azkia. Pasti Arkanza memaksa mu untuk menikah, mengingat kalian tidak sedekah itu."
Tentu Zafina mengenal bagaimana sifat sang anak, jika ingin mendapatkan sesuatu yang ingin dia dapatkan. Arkanza tidak akan melepaskan apa yang dia inginkan dengan cara apapun, sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
Tapi setelah keinginannya berhasil dia dapatkan dan tidak sesuai dengan keinginannya. Maka Arkanza tidak akan segan-segan merusaknya.
******