NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Sumpah di Bawah Langit Malam

Kabut tipis masih menyelimuti lembah tempat desa tersembunyi itu bernaung. Cahaya fajar menyelinap pelan, menyentuh atap-atap jerami yang berjejer rapi, seolah membangunkan tempat yang selama ini terlupakan oleh dunia.

Ling Yue berdiri di tepi sumur tua di tengah desa, menatap pantulan dirinya di air yang tenang. Wajahnya masih memakai pakaian sederhana milik gadis desa, namun matanya—sepasang mata yang selalu menyembunyikan begitu banyak rahasia—kini tampak lebih jernih, lebih teguh dari sebelumnya. Di belakangnya, langkah kaki berat terdengar mendekat.

"Kau belum tidur?"

Suara Li An terdengar rendah, namun sarat kelembutan. Ling Yue menoleh perlahan. Pria itu berdiri di sana, jubahnya masih berdebu, peluh belum kering di pelipisnya—bukti perjalanan panjang yang baru saja mereka tempuh. Namun tatapannya tidak pernah lelah setiap kali jatuh padanya.

"Matahari baru saja terbit," jawab Ling Yue pelan, lalu tersenyum tipis. "Dan aku tidak ingin melewatkan pagi pertama yang aman."

Li An melangkah mendekat, berdiri di sampingnya. Pandangannya menyapu pemandangan desa yang mulai hidup—warga keluar membawa keranjang, anak-anak berlari kecil menuju ladang, suara tawa yang terdengar begitu biasa, namun bagi mereka terdengar seperti musik yang tak ternilai.

"Mereka percaya padamu," ucap Li An pelan. "Sejak kau berbicara kemarin, semangat mereka bangkit kembali."

Ling Yue menunduk, jari-jarinya menyentuh pinggiran sumur yang dingin. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memberi mereka harapan. Tapi harapan tanpa pedang di tangan tidak akan bertahan lama."

Li An mengangkat tangannya, menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. "Kau meremehkan dirimu. Kau bukan sekadar memberi harapan. Kau adalah harapan itu sendiri."

Ling Yue menatapnya, napasnya tertahan sejenak. Di tempat tersembunyi ini, jauh dari intrik istana, jauh dari ancaman kematian yang mengintai di setiap sudut ibu kota, mereka tidak perlu berpura-pura lagi. Tidak ada pernikahan yang disusun, tidak ada identitas yang disembunyikan—hanya dia dan dia.

"Li An..." bisiknya. "Jika musuh datang ke sini, aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian."

Li An mengangguk pelan, ibu jarinya mengusap sudut bibir gadis itu. "Aku tahu. Dan aku tidak akan membiarkanmu berdiri di belakangku lagi. Mulai sekarang, kita berdiri berdampingan. Seperti yang seharusnya sejak awal."

Angin pagi berhembus lembut, mengibai rambut hitam Ling Yue. Ia meraih tangan pria itu, meremasnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini akan lenyap seperti mimpi.

"Kau berjanji?" tanyanya, suaranya bergetar sedikit.

"Berjanji," jawab Li An tegas. Ia menatap lurus ke manik mata gadis itu, seolah sumpah itu ditujukan bukan hanya padanya, tapi kepada langit itu sendiri. "Selama napas ini masih ada di tubuhku, kita tidak akan terpisah lagi. Apa pun yang terjadi—badai, pedang, atau takdir yang paling kejam—kita menghadapinya bersama."

Ling Yue tersenyum, kali ini tulus, tanpa beban yang menyembunyikan rasa takut. Ia mendekatkan wajahnya, menyentuh dahi mereka, menyatu dalam keheningan yang hangat.

 

Sementara itu, di ujung desa yang lain, Rouran berdiri di balik pohon besar, menatap mereka berdua dari kejauhan. Di tangannya, selembar kain lusuh yang berisi peta tua tergenggam erat. Matanya tidak lagi menyimpan kesedihan seperti dulu, melainkan ketegasan yang baru tumbuh.

"Kau yakin tidak memberitahu mereka sekarang?"

Suara tua terdengar dari belakangnya. Kepala desa, lelaki berambut perak yang telah menyambut mereka kemarin, berdiri dengan tongkat kayu di tangan, pandangannya juga tertuju pada pasangan itu.

"Belum saatnya," jawab Rouran pelan, tidak menoleh. "Jika mereka tahu apa yang tertulis di peta ini sekarang, kekhawatiran mereka akan membutakan pertimbangan. Biarkan mereka menikmati kedamaian ini sebentar lagi."

"Namun musuh tidak akan menunggu," kata kepala desa dengan nada berat. "Pasukan Kekaisaran telah bergerak ke arah pegunungan. Mereka mendekat lebih cepat dari yang diperkirakan."

Rouran menghela napas panjang, lalu melipat peta itu kembali dan menyimpannya di balik jubahnya. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku akan pergi sebelum fajar kedua menyingsing."

Kepala desa menoleh cepat. "Sendirian?"

"Aku bukan anak kecil lagi," jawab Rouran, kini menatap lelaki tua itu dengan mata yang berkilau teguh. "Dan aku punya utang yang harus diselesaikan. Bukan untuk siapa-siapa—untuk diriku sendiri."

Ia berbalik perlahan, menatap arah Ling Yue dan Li An sekali lagi, sebelum melangkah pergi ke arah hutan yang masih berkabut.

"Jangan beri tahu mereka aku pergi," pesannya tertinggal di udara, samar terbawa angin. "Biarkan mereka berpikir aku hanya mencari jejak lama."

 

Siang berganti sore. Cahaya keemasan menyelimuti desa, mengubah ladang gandum menjadi lautan emas yang bergoyang ditiup angin. Ling Yue dan Li An berjalan menyusuri jalan setapak menuju perbukitan, tempat mereka bisa melihat seluruh lembah sekaligus.

"Mereka sudah mulai berlatih," kata Ling Yue sambil menunjuk ke arah lapangan terbuka di pinggir desa. Puluhan pemuda dan pemudi bergerak mengikuti arahan prajurit yang selamat dari benteng—gerakan mereka belum sempurna, namun semangat mereka tak bisa disembunyikan.

Li An mengangguk. "Mereka bukan prajurit terlatih. Tapi mereka bertarung untuk rumah mereka sendiri. Itu senjata yang tak bisa dikalahkan hanya dengan jumlah pasukan." Ia berhenti sejenak, lalu menatap gadis di sampingnya. "Namun itu belum cukup. Kita butuh sekutu."

Ling Yue terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Kau bermaksud pergi ke Suku Awan Putih?"

"Mereka telah menutup diri dari dunia selama puluhan tahun," kata Li An. "Tapi nenek moyangku pernah bersumpah setia kepada pemimpin mereka. Mungkin janin itu masih ada."

"Dan jika tidak?"

Li An menatap ke arah cakrawala, di mana awan gelap perlahan mulai berkumpul di kejauhan. "Maka kita mencari jalan lain. Tapi kita tidak akan menyerah." Ia berbalik, menatap Ling Yue dalam-dalam. "Dan kita pergi bersama."

Ling Yue tersenyum, merangkul lengan pria itu erat. "Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Bahkan jika jalannya menuju jurang."

Li An tertawa pelan, suara yang begitu jarang terdengar. Ia mengusap rambut panjang gadis itu. "Kalau begitu pastikan kau tidak melepaskan tanganku."

Matahari perlahan terbenam, meninggalkan langit yang berwarna ungu kemerahan. Di bukit itu, di bawah langit yang menyaksikan lahir dan hancurnya banyak kerajaan, mereka berdiri berdekatan, berjanji tanpa suara—bahwa apa pun yang datang, mereka tidak akan terpisah.

Namun di kejauhan, di balik kabut tebal yang menyelimuti jalur pegunungan, sosok Rouran berjalan sendirian. Angin malam menerpa wajahnya, namun ia tidak menoleh ke belakang. Di tangannya, peta tua itu terbuka kembali, menunjuk ke arah sebuah tempat yang tidak tertulis di peta mana pun—sebuah tempat yang dikatakan hanya muncul bagi mereka yang berani menukar segalanya.

Dan di langit di atasnya, bintang-bintang bersinar redup, seolah turut menahan napas menyaksikan langkah yang tak bisa diambil kembali.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!