Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aku terkejut saat mendapati mataku membengkak akibat menangis semalam. Setiap kali memejamkan mata, ancaman dingin Dikta tentang keselamatan Bagas terus terngiang seperti kutukan. Karena mataku sulit terpejam, aku memilih menghabiskan malam dengan berjaga di samping Arkan untuk memastikan ia tetap hangat, menyusuinya setiap kali ia menggeliat, dan berusaha membuang jauh-jauh rasa sesak yang mengganggu pikiran semata ingin menjaga kualitas Asi untuknya.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ketika terdengar suara ketukan dari luar, jantungku berdegup kencang.
"Neng Arin, ini Bi Ina," suara lembut dari luar pintu sedikit memberikan ruang di dadaku.
"Masuk, Bi," jawabku sedikit serak. Aku bersegera merapikan pakaian Arkan dan duduk di tepi ranjang besar.
Pintu terbuka, Bi Ina tersenyum hangat, diikuti di belakangnya oleh tiga orang yang mengenakan seragam medis berwarna putih bersih. Dua di antaranya adalah perawat, dan satu orang lagi adalah dokter spesialis anak paruh baya yang memiliki gurat wajah tegas namun ramah. Di tangan mereka, terdapat tas peralatan medis dan sebuah timbangan digital khusus bayi yang tampak sangat canggih.
"Selamat pagi, Ibu Arini. Saya Dokter Gunawan," sapa dokter itu dengan nada profesional. "Sesuai jadwal harian yang diminta oleh Pak Dikta, pagi ini kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap asupan nutrisi, suhu tubuh, serta perkembangan berat badan Den Arkan."
Aku menelan ludah pahit yang menyumbat tenggorokanku, lalu melirik ke arah boks bayi, di mana Arkan baru saja menggeliat. "P-pagi, Dok. Silakan," jawabku dengan senyum yang dipaksakan. Tanganku bersembunyi di balik lipatan kain, meremas jari-jari yang mulai dingin.
Kedua perawat itu dengan cekatan mulai mempersiapkan alat. Salah satu dari mereka mengeluarkan timbangan digital dan meletakkannya di atas meja. Bagiku, timbangan itu bukan sekadar alat pengukur berat badan, melainkan sebuah juri yang akan menentukan nasib Bagas di sana.
"Bisa tolong dibantu angkat Den Arkan, Bu? Lepas dulu pakaian luar dan popoknya agar hasilnya akurat," pinta sang perawat dengan sopan.
Aku bangkit dengan lutut yang masih lemas, melangkah ke arah boks bayi, dan mengangkat tubuh mungil Arkan yang hangat ke dalam pelukan. Aroma khas bayi sedikit mengurangi kepanikanku. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menanggalkan pakaian Arkan hingga yang terlihat hanya tubuh mungilnya yang polos.
Saat tubuh Arkan diletakkan di atas timbangan, ia langsung menangis kencang. Suara tangisannya yang melengking seolah menyayat dadaku yang tak rela melihat kejadian itu.
"Cup, cup, sayang... sebentar ya anak pintar," bisikku. Aku membungkuk dan mengelus dadanya, mencoba memberikan ketenangan. Mataku tidak lepas dari layar digital timbangan yang angkanya masih bergerak naik turun, mencari titik stabil.
Bip.
Alat itu berbunyi pendek, mengunci angka final. Kedua perawat segera mencatatnya ke dalam tablet digital mereka. Aku tidak berani mengintip angka itu. Aku menahan napas, menatap wajah Dokter Gunawan yang kini tengah memeriksa grafik pertumbuhan di tabletnya. Wajah dokter itu tampak datar, membuat dada ini semakin ketakutan.
Tepat pada saat pemeriksaan sudah selesai, pintu kamar terbuka lebar tanpa ketukan. Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di atas lantai. Tanpa perlu menoleh pun, aku sudah bisa menebak orangnya. Aroma parfum mahalnya seketika mendominasi ruangan.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Dikta langsung pada inti masalah. Suaranya yang berat membuat suasana kamar yang sudah tegang menjadi semakin mencekam. Ia berdiri di dekatku, menatap tajam ke arah timbangan, lalu beralih menatapku yang langsung menundukkan kepala karena takut.
Dokter Gunawan berbalik dan membungkuk sedikit penuh hormat pada sang pemilik rumah. "Selamat pagi, Pak Dikta. Proses pemeriksaan baru saja selesai. Secara keseluruhan, kondisi fisik Den Arkan sangat baik. Detak jantung normal, suhu tubuhnya tiga puluh enam koma lima derajat, yang berarti tidak ada tanda-tanda demam atau infeksi."
Aku mengembuskan napas panjang setelah mendengar penjelasan dokter barusan. Namun, hati ini masih tak tenang karena belum mendengar hasil timbangan barusan.
"Lalu berat badannya?" kejar Dikta, matanya menyipit, menuntut jawaban cepat.
Dokter Gunawan tersenyum tipis, "Ada kabar baik, Pak. Berat badan Den Arkan pagi ini mengalami kenaikan sebanyak empat puluh gram dari pengukuran kemarin sore. Ini adalah grafik yang sangat positif untuk bayi seusianya. Kualitas dan kuantitas ASI yang diberikan Ibu Arini tampaknya bekerja dengan sangat baik. Nutrisinya terserap sempurna."
Mendengar penjelasan dokter, lututku yang semula lemas kini bertenaga. Saat ini Bagas masih dalam keadaan aman. Untuk hari ini, suamiku tidak akan menderita di dalam sana. Semua pengorbananku semalam—menelan paksa vitamin-vitamin besar yang membuat perutku mual, serta menahan tangis agar tidak memengaruhi ASI-ku—ternyata membuahkan hasil yang luar biasa.
"Bagus," ucap Dikta singkat. "Pastikan grafik ini terus naik setiap harinya. Jika ada penurunan satu gram saja, segera laporkan langsung kepada saya."
"Baik, Pak Dikta. Kami akan terus memantau perkembangannya dengan ketat. Kalau begitu, kami mohon izin untuk pamit," ujar Dokter Gunawan. Kedua perawat dengan cepat mengemas peralatan mereka dan melangkah keluar kamar diikuti oleh Bi Ina yang membawa pakaian kotor Arkan, meninggalkan Dikta dan aku dalam ruangan yang penuh ketegangan ini.
Aku segera memakaikan kembali baju hangat ke tubuh Arkan yang kini sudah mereda tangisnya. Demi tak ingin berinteraksi dengannya, aku pun memilih menimang Arkan.
"Kau mendengar apa yang dikatakan dokter tadi, bukan?" suara Dikta memecah keheningan, terdengar begitu dekat.
Aku berbalik, masih memeluk Arkan di dada sebagai perisai pelindung. "I-iya, Pak. Saya mendengarnya," jawabku lirih.
"Pertahankan itu, Arini," bisik Dikta, nadanya merendah namun penuh dengan ancaman tersembunyi. "Patuhi semua perintahku, habiskan makananmu, dan minum suplemen itu tanpa membantah. Selama kau bisa menjadi ibu yang berguna untuk putraku, aku tidak akan menyentuh suamimu di dalam sana. Anggap saja ini adalah upah atas kepatuhanmu."
Aku memejamkan mata dengan rapat, merasakan hati ini seperti diremas. Sikapnya benar-benar di luar kewajaran. Menjadikan aku budak yang harus mematuhi perintahnya.