Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹⁴
Satu minggu berlalu sejak Naura resmi bergabung dengan Ardynata Group. Dalam rentang waktu yang terasa singkat itu, banyak hal berubah. Rutinitas yang disusun Alaska benar-benar mengubah hidupnya. Setiap pagi sebelum matahari terbit, pria itu sudah berdiri di halaman mansion keluarga Ardynata dengan pakaian olahraga lengkap, siap mengawasi pasien paling keras kepala yang pernah ia tangani.
Pagi itu pun tak berbeda.
Naura baru saja menyelesaikan putaran terakhirnya di taman kota. Napasnya masih sedikit memburu, sementara keringat membasahi pelipis dan tengkuknya. Begitu berhenti, ia langsung mengambil botol minum dari bangku taman, lalu meneguk air panjang-panjang sebelum mengembuskan napas lega.
"Aku mulai curiga," gumamnya sambil melirik Alaska yang masih tampak segar tanpa sedikit pun kelelahan. "Sebenarnya kau ini dokter atau mantan pelatih pasukan khusus?"
Alaska tersenyum kecil. "Bedanya memang apa?"
"Kalau pelatih pasukan khusus menyiksa orang demi negara. Kalau kau..." Naura menunjuk dirinya sendiri dengan wajah datar. "Menyiksa pasien sepertiku demi hobi."
"Itu fitnah."
Naura mendecak pelan. "Ayam saja mungkin masih protes kalau disuruh bangun sepagi ini."
Alaska terkekeh lirih. Jarang sekali ia tertawa, tetapi setiap kali melihat Naura mulai mengomel seperti itu, suasana selalu terasa lebih ringan.
"Kalau terus konsisten, sebentar lagi kamu tidak akan mengeluh saat naik tangga."
Naura langsung menyipitkan mata. "Kau yakin sedang memotivasiku, bukan mengejek?"
"Aku sedang memuji kemajuanmu."
"Mulutmu aneh, memuji saja terdengar seperti sedang mengkritik."
“Yang penting hasilnya nyata." Alaska hanya mengangkat bahu
Ucapan pria itu membuat Naura tanpa sadar menunduk memperhatikan tubuhnya sendiri. Celana olahraga yang dikenakannya memang sudah tidak lagi seketat dulu. Dalam satu minggu terakhir, timbangan kembali bergerak turun hingga total berat badannya berkurang lima belas kilogram sejak memulai program bersama Alaska.
Ia memang belum kembali selangsing saat masih kuliah, tetapi kini tak ada lagi kesan wanita gemuk yang dulu sering dihina orang. Tubuhnya terlihat jauh lebih proporsional, wajahnya lebih tirus, dan langkahnya pun semakin ringan.
Alaska menyerahkan handuk kecil kepadanya. "Hari ini tidak ada tambahan latihan, jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke pengadilan."
Naura menerima handuk itu sambil mengangkat sebelah alis. "Tumben baik."
"Hari ini kamu butuh tenaga."
Naura memahami maksud pria itu, karena hari ini adalah hari sidang pertamanya melawan Erwin.
Beberapa jam kemudian, sebuah mobil hitam memasuki halaman Pengadilan Negeri. Langit tampak cerah, tetapi suasana di depan gedung sudah dipenuhi para wartawan dan pengunjung yang datang silih berganti.
Pintu mobil terbuka.
Naura turun lebih dahulu dengan langkah tenang. Ia mengenakan setelan jas berwarna putih gading yang dipadukan dengan blus krem sederhana serta sepatu hak rendah berwarna senada. Riasan tipis di wajahnya hanya semakin menonjolkan kecantikan alaminya. Penampilannya memancarkan kesan elegan, anggun, sekaligus berwibawa.
Di sisi lain, Kakek Guntur berjalan mendampinginya bersama tim kuasa hukum keluarga Ardynata. Begitu mereka memasuki halaman pengadilan, sebuah mobil mewah lain berhenti tak jauh dari sana.
Erwin keluar dari dalam mobil sambil merapikan jas hitamnya. Davina menyusul di belakang dengan gaun formal yang sengaja dipilih semewah mungkin. Langkah Erwin mendadak terhenti, tatapannya membeku pada sosok wanita yang berdiri beberapa meter di depannya.
"Naura...?"
Untuk beberapa saat, pria itu hanya memandang tanpa berkedip. Ia benar-benar hampir tidak mengenali mantan istrinya sendiri.
Wanita yang dulu selalu mengenakan pakaian longgar untuk menyembunyikan tubuh gemuknya, kini berdiri tegak dengan aura yang sama sekali berbeda. Berat badan Naura memang belum kembali seperti dulu, tetapi perubahan itu begitu nyata hingga sulit dipercaya. Wajahnya tampak lebih segar, garis rahangnya mulai terlihat, dan sorot matanya memancarkan kepercayaan diri yang selama ini tak pernah ia lihat.
Davina yang menyadari perubahan ekspresi Erwin segera mengikuti arah pandang pria itu, senyumnya seketika memudar.
"I-itu... Naura?"
Rasa tidak nyaman perlahan menyelinap ke dalam hatinya, wanita gendut yang ia ejek habis-habisan justru tampak semakin menarik setelah berpisah dari Erwin.
Sementara itu, Naura juga melihat mereka. Tatapannya hanya singgah sesaat sebelum kembali lurus ke depan, seolah Erwin dan Davina hanyalah orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama. Sikapnya justru membuat dada Erwin terasa sedikit sesak.
Davina berusaha mengembalikan rasa percaya dirinya, Ia melangkah maju mendekati Naura sambil tersenyum sinis.
"Hebat juga kau, turun berat badan saja sudah berani tampil sok percaya diri. Memangnya... kau pikir sekarang kau sudah cantik?"
Naura menoleh perlahan pada Davina, alih-alih marah dia malah tersenyum menyeringai. "Aku nggak pernah berusaha menjadi cantik untuk diakui siapapun, aku melakukannya untuk diriku sendiri.“
Ucapan Naura membuat Erwin terdiam. Selama delapan tahun pernikahan mereka, Naura selalu mengutamakan dia dan anak-anak. Wanita itu bangun paling pagi, tidur paling malam, mengurus rumah, memasak, merawat anak-anak, bahkan rela mengabaikan dirinya sendiri. Namun kini, wanita itu mengatakan semuanya demi dirinya sendiri.
Erwin akhirnya melangkah mendekat, sorot matanya masih tertuju pada Naura.
"Naura, ada yang ingin kubicarakan."
Wanita itu berbalik menatap Erwin dengan ekspresi dingin. "Kalau soal sidang, bicaralah melalui pengacara."
"Bukan itu." Erwin menarik napas pelan. "Laura dan Lionel... apa mereka baik-baik saja?"
"Tentu saja mereka baik. Setidaknya, selama bersamaku mereka tidak perlu hidup dalam ketakutan." Sindir Naura.
"Aku ingin bertemu mereka."
"Mereka juga pernah ingin bertemu ayahnya, tapi aku memilih tak membawa mereka untuk menemuimu. Setiap kali mengingat putriku ditampar dan putraku didorong oleh wanita simpananmu, sementara kau masih melindungi wanita itu... aku tidak sanggup. Sejak hari itu, anak-anakku harus mulai belajar bahwa ayah mereka tidak memilih mereka."
"Aku sudah memarahi Davina!“ Rahang Erwin mengeras.
"Apa kau pikir hati Laura baik-baik saja setelah ditampar, dan satu teguran darimu pada Davina bisa menghapus trauma putriku?! Atau membuat Lionel melupakan ketakutan yang dia rasakan hari itu?"
Erwin hanya terpaku. Bibirnya terbuka beberapa kali, namun suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
Naura menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu selama beberapa detik. Dulu, ia mungkin akan menangis saat mengucapkan kalimat-kalimat itu. Kini tidak lagi.
"Aku tidak pernah melarangmu menjadi ayah mereka, Erwin! Tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun melukai mereka."
Keheningan menyelimuti di antara keduanya.
"Oh ya, satu lagi. Kapan aku bisa mengambil akta cerai kita?" tanya Naura dengan wajah tegas.
Sebelum Erwin sempat mengatakan sesuatu, pintu ruang sidang terbuka. Seorang panitera melangkah keluar sambil membawa berkas perkara.
"Para pihak dipersilakan memasuki ruang sidang."
Semua orang mulai bergerak masuk. Naura berjalan berdampingan dengan tim kuasa hukumnya tanpa menoleh lagi ke belakang. Erwin berdiri beberapa saat di tempatnya sebelum akhirnya mengikuti dari arah berlawanan.
Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. Seluruh hadirin berdiri, lalu kembali duduk setelah dipersilakan.
Ketua majelis hakim membuka map perkara di hadapannya, kemudian mengetukkan palu kayu satu kali.
"Sidang perkara hak asuh anak, atas nama Erwin Gentala melawan Naura Anjani Ardynata dinyatakan dibuka."
Mata Erwin menyipit sejenak, nama lengkap Naura terdengar begitu familiar di telinganya.
Ardynata...?
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂