Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TUTOR VS PELATIH
Pak Hendra menghela napas panjang, bersandar di kursinya sambil menatap Raina lekat-lekat. "Kamu mempertaruhkan nama baikmu sebagai pengurus OSIS demi dia, Raina?"
"Saya mempertaruhkan reputasi saya untuk siswa yang mau berjuang, Pak," jawab Raina jujur.
Sementara itu, di bawah pohon beringin pinggir lapangan basket, Devan duduk sendirian sambil menatap jersi nomor 07 milik keranjang sampahnya. Matanya redup dan hampa.
"Nih," suara lembut mendadak memecah keheningan.
Devan mendongak kaget. Raina berdiri di sampingnya sambil menyodorkan selembar surat berkop resmi sekolah. Devan mengambilnya dengan enggan, namun matanya mendadak terbelalak lebar saat membaca baris demi baris keputusan di dalam surat tersebut.
Pengurangan Poin Kompensasi Tugas Khusus Kedisiplinan: Devan Adhitama dialihkan menjadi petugas kebersihan lapangan basket pasca-kejurnas dan pemutihan 5 poin atas rekomendasi OSIS dan Tim Bimbingan Belajar.
Poin Devan resmi turun menjadi 47 poin—di bawah batas maksimal. Izin bertandingnya kembali aktif.
"R-Raina... ini..." Devan mendongak, suaranya tercekat dan gemetar. "Kamu... kamu yang ngurus ini semua?"
Raina melipat tangannya di dada, mencoba bersikap dingin walau hembusan napas lega lolos dari bibirnya. "Aku gak suka lihat orang menyerah sebelum bertanding. Dan ingat, kamu masih punya ulangan Fisika besok pagi. Kalau nilai Fisikamu di bawah KKM, surat itu gak ada gunanya."
Devan berdiri seketika, menatap Raina dengan tatapan yang dipenuhi rasa haru dan kekaguman yang tak bisa dilukiskan kata-kata. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Devan menarik Raina ke dalam pelukan hangat yang erat.
"Makasih, Raina... makasih banyak," bisik Devan tulus tepat di samping telinga Raina.
Raina membeku di dalam pelukan Devan. Wajahnya menempel di dada Devan, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang. Kali ini, Raina tidak mendorongnya menjauh. Ia perlahan mengangkat tangannya dan menepuk pelan punggung Devan, membiarkan hangatnya perasaan asing itu mengalir di antara mereka.
BAB 20: HARI PENENTUAN DAN SEBUAH JANJI
Pagi itu, suasana kelas 11 IPA 2 diselimuti ketegangan yang pekat. Kertas soal Ulangan Harian Fisika gabungan sudah dibagikan oleh Pak Bambang. Bau kertas baru dan ketukan pulpen memenuhi ruangan.
Di barisan depan, Raina mengerjakan soal dengan tenang dan lancar. Namun, pandangannya sesekali melirik ke arah sudut belakang, tempat Devan duduk.
Devan tidak lagi menatap kertas soal seperti menatap tulisan alien. Dengan penuh konsentrasi, Devan menguraikan rumus-rumus rumit itu menjadi bentuk diagram warna-warni seperti yang diajarkan Raina. Pensilnya bergerak mantap, mencoret setiap garis gaya dan variabel angka tanpa ragu. Tidak ada lagi cengiran konyol atau sikap acuh tak acuh.
Saat bel berbunyi menandakan waktu habis, Pak Bambang mengumpulkan semua lembar jawaban. "Hasilnya akan langsung saya umumkan sore ini sebelum jam pulang sekolah," tegas Pak Bambang.
Pukul tiga sore, seluruh siswa kelas 11 IPA 2 berkumpul di depan papan pengumuman kelas. Pak Bambang menempelkan selembar kertas berisi daftar nilai ulangan Fisika.
Devan berdiri di barisan belakang kerumunan, menahan napasnya. Tangannya meremas kuat tali ranselnya. Raina berdiri tak jauh dari Devan, ikut menatap papan pengumuman dengan jantung berdebar.
Siswa-siswa di depan mulai riuh. "Wah, Devan dapet berapa tuh?!"
Devan membulatkan matanya, melangkah pelan membelah kerumunan hingga berdiri di depan papan. Di samping namanya—Devan Adhitama—tertera angka bercat hitam tegas: 85.
Nilai yang jauh melampaui KKM.
"Gua... gua lulus?" gumam Devan tak percaya, menatap angka itu berulang kali.
"Selamat, Devan," suara Pak Bambang terdengar dari arah pintu. Guru killer itu menepuk pundak Devan pelan dengan senyum tipis yang amat jarang terlihat. "Usaha kamu dan bimbingan tutor pribadi kamu benar-benar terbukti."