NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Babak Penyisihan yang Hancur

Lampu studio menyala tepat ketika Presenter Rendy mengangkat kartu pertama.

"Selamat datang di Kompetisi Pengetahuan Provinsi!" suaranya memenuhi ruangan dengan semangat yang cukup untuk membuat Rizky ingin mengecilkan volume dunia. "Delapan sekolah terbaik akan bertanding. Babak pertama, pertanyaan cepat. Seratus soal. Waktu terbatas. Nilai benar sepuluh, salah minus lima. Siap?"

Tim Garuda Cendekia duduk lurus. Dimas menjaga wajah kaptennya. Putri menaruh jari dekat tombol konfirmasi. Raka dan Melati menarik napas. Arya membaca pola lampu indikator di meja dan menyadari sistem tombol studio memiliki jeda nol koma tiga detik setelah pertanyaan muncul di layar. Tidak penting bagi orang lain. Sangat penting bagi Arya.

Soal pertama muncul: deret angka sederhana.

Fadlan dari SMA Negeri Satu Buana menekan tombol cepat. "Dua ratus sepuluh."

Benar. Penonton bersorak. Tim Buana tersenyum.

Soal kedua muncul. Arya menekan tombol sebelum Presenter Rendy selesai membaca pilihan. "Empat puluh dua."

Rendy berkedip. "Benar."

Soal ketiga. Arya lagi. "Kloroplas."

Benar.

Soal keempat. "Perjanjian Renville."

Benar.

Soal kelima. "Elastisitas permintaan lebih besar dari satu."

Benar.

Pada soal kesepuluh, penonton tidak lagi bersorak setiap kali. Mereka mulai menghitung. Pada soal kelima belas, tim lain berhenti menatap layar dan mulai menatap Arya. Pada soal kedua puluh, Fadlan menekan tombol terlalu cepat dan salah menjawab. Minus lima muncul di papan Buana.

Rizky di bangku cadangan berbisik, "Ini bukan lomba. Ini Arya sedang mengetik jawaban pakai mulut."

Pak Surya tidak menegur. Ia terlalu sibuk menahan senyum.

Presenter Rendy mencoba menjaga drama. "Garuda Cendekia memimpin sementara, tetapi perjalanan masih panjang. Soal berikutnya bidang fisika. Sebuah benda jatuh bebas dari ketinggian..."

"Akar dua h per g," kata Arya.

Rendy menatap kartu. "Pertanyaan belum selesai."

"Itu bentuk umum waktunya. Kalau angka di pilihan mengikuti ketinggian dua puluh meter dan g sepuluh, jawabannya dua detik."

Rendy melihat juri. Juri utama, Bu Mariska, mengangguk kaku. "Benar."

Tepuk tangan meledak lebih keras dari sebelumnya. Fadlan memandang Arya dengan wajah yang mulai kehilangan warna. Ia sudah berlatih setahun untuk kompetisi ini. Ia hafal bank soal, simulasi tombol, bahkan gaya presenter. Namun ia tidak menyiapkan diri untuk lawan yang menjawab sebelum soal menjadi kalimat lengkap.

Putri menyadari sesuatu yang membuatnya merinding. Kecepatan Arya datang dari kemampuannya membaca arah pertanyaan sejak susunan kata pertama. Ketika Rendy berkata sebuah benda jatuh bebas, opsi yang mungkin sudah berbaris di kepala Arya. Ketika Rendy menyebut sejarah diplomasi, Arya sudah memisahkan masa, tokoh, dan jebakan istilah.

Babak pertama berakhir dengan angka yang membuat studio diam: Garuda Cendekia 620, Buana 185, sekolah lain di bawah 150.

Rendy tertawa terlalu keras. "Wah, kejutan besar! Sepertinya Garuda Cendekia datang dengan persiapan matang."

Dimas menunduk sedikit kepada kamera. Ia ingin terlihat tenang, tetapi tangannya gemetar oleh adrenalin. Melati menutup mulut, takut tertawa. Raka menyikut Rizky dari kejauhan. Rizky mengangkat dua jempol.

Fadlan meminta waktu bicara kepada juri. "Bu, ada kemungkinan tombol tim Garuda bermasalah? Mereka menekan sebelum pertanyaan selesai."

Studio langsung gaduh. Tuduhan itu terdengar sopan, tetapi isinya jelas: curang.

Pak Surya berdiri setengah. Putri menahan bahu Arya. Ia tidak khawatir Arya marah; ia khawatir jawabannya terlalu menusuk.

Arya tetap duduk. "Silakan tukar tombol."

Rendy tampak panik. Juri berunding singkat. Karena siaran langsung, mereka tidak bisa mengabaikan keberatan. Teknisi datang, menukar perangkat Garuda dengan perangkat Buana. Kamera menangkap semua proses. Penonton berbisik.

Fadlan menarik napas lega, seolah ia baru saja menemukan penjelasan untuk kehancurannya.

Soal berikutnya muncul di layar cadangan untuk uji ulang. Arya menekan tombol baru.

"Jawabannya Hindia Belanda. Dan kalau pertanyaan dilanjutkan, konteksnya perubahan administrasi kolonial setelah kebijakan tanam paksa."

Rendy membaca kartu sampai habis, lalu menatap juri. "Benar."

Teknisi belum sempat mundur dari panggung. Fadlan menatap tombolnya sendiri seperti benda itu mengkhianatinya.

Arya akhirnya menoleh ke arah tim Buana. "Perangkatnya tidak memihak. Soalnya hanya lambat."

Penonton bersorak. Pak Surya memejamkan mata sebentar, tidak tahu harus bersyukur atau memikirkan surat permintaan maaf kepada panitia. Putri menunduk, menyembunyikan senyum. Rizky sudah tidak sanggup menyembunyikan apa pun.

Babak penyisihan dilanjutkan, tetapi sejak tuduhan tombol itu gagal, keberanian lawan jatuh. Mereka ragu menekan karena takut salah. Arya tidak ragu. Ia mengambil poin seperti mengambil barang dari rak yang sudah ia hafal letaknya.

Ketika bel akhir berbunyi, papan skor menunjukkan Garuda Cendekia lolos peringkat pertama dengan selisih lebih dari lima ratus poin.

Presenter Rendy mendekat dengan mikrofon. "Arya, apa rahasia kecepatanmu?"

Arya menjawab, "Mendengarkan pertanyaan."

Kesalahan Fadlan membuat tim lain mencoba membaca Arya, tetapi semakin mereka memperhatikan, semakin mereka salah tempo. Arya sengaja membiarkan dua soal mudah dijawab Raka dan Melati, lalu mengambil soal yang memiliki jebakan kata. Ia mengumpulkan poin sambil merusak keberanian lawan untuk masuk.

Pada soal geografi tentang aliran sungai, tim Pelita menekan lebih dulu dan salah karena mengira pertanyaan menanyakan muara. Arya segera mengambil pantulan, menjawab daerah hulu, dan menjelaskan bahwa kata kunci "erosi awal" sudah muncul di kalimat pertama. Pada soal bahasa Inggris, tim Buana ragu karena idiom terdengar asing. Arya menjawab sekaligus menyebut padanan terjemahan yang lebih tepat. Rendy sampai lupa memberi komentar karena sibuk melihat kartu kunci.

Di kursi pendamping, Pak Surya mencatat pola baru: Arya tidak selalu menjawab tercepat. Ia menjawab ketika jawaban lawan akan merusak ritme mereka sendiri. Itu lebih kejam daripada sekadar cepat. Ia memaksa semua tim merasa bahwa bahkan diam pun bisa menjadi kesalahan.

Soal terakhir babak itu menjadi pukulan penutup. Rendy membacakan soal logika dengan tiga pernyataan yang tampak saling bertentangan. Tim lain sibuk menulis tabel benar-salah. Arya tidak menulis. Ia hanya berkata, "Pernyataan kedua tidak independen. Jika yang pertama benar, yang kedua otomatis mengikuti, jadi pilihan yang menyebut kontradiksi penuh salah. Jawabannya C."

Bu Mariska mengangkat kartu kunci, lalu berhenti karena penjelasan Arya lebih cepat daripada gerakan tangannya. "Benar."

Fadlan menunduk. Kehilangan satu soal masih bisa ditahan. Kesadaran berikutnya jauh lebih berat: kecepatan Arya bukan keberuntungan yang bisa habis. Setiap kategori hanya menjadi pintu berbeda menuju ruangan yang sama, tempat Arya sudah menunggu.

Setelah itu, tidak ada lagi yang meminta tombol ditukar. Tuduhan curang berubah menjadi bukti bahwa jaraknya berasal dari isi kepala.

Di meja peserta, Fadlan mencoba mengejar dengan menekan dua kali beruntun. Dua-duanya salah. Arya tidak mengejek. Ia cukup menatap papan skor sampai Fadlan sadar bahwa kecepatan tanpa membaca soal hanya mempercepat jatuhnya tim sendiri.

Rendy tertawa karena mengira itu lelucon. Tidak ada yang berani memberitahunya bahwa Arya serius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!