NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

My First Survival Rule

Darah di dalam tubuh Ye Xinyue serasa berhenti mengalir. Dalam kegelapan kamar yang hanya disinari pendar remang cahaya bulan, bayangan tinggi besar Zhao Fengting mengurung tubuh kecilnya. Jari-jari bertulang tegas milik sang Kaisar bertengger tepat di atas lembaran kertas beras yang berisi catatan alur kematian klan bangsawan dan takdir istana.

Sialan! Ini pelanggaran privasi tingkat berat! jerit Xinyue histeris di dalam hatinya, panik luar biasa. Kalau dia sampai membaca nama-nama klan dan tulisan 'eksekusi mati' di kertas ini, aku bukan cuma dituduh melakukan pengkhianatan, tapi bisa langsung dipenggal malam ini juga tanpa proses peradilan!

Dalam hitungan milidetik, otak hukum Xinyue bekerja pada kapasitas maksimum. Panik hanya akan menghancurkan argumen pembelaan. Ia harus bertindak seolah-olah catatan ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak berbahaya.

Sebelum mata tajam Zhao Fengting sempat meneliti deretan aksara di bawah pendar sinar bulan, Xinyue secara sengaja menyenggol cangkir teh dingin di sampingnya dengan siku.

Prak! Byur!

Cangkir porselen itu terguling, menyiramkan sisa teh hitam tepat di atas lembaran kertas beras tersebut. Tinta hitam yang baru saja ditulis Xinyue langsung luntur seketika, meleleh menjadi bercak-bercak hitam yang tak bertentuk dan mustahil untuk dibaca.

"Ampun, Yang Mulia! Hamba sangat ceroboh! Ampuni hamba!"

Xinyue langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai batu yang dingin, bersimpuh dengan tubuh bergetar hebat. Ia dengan tergesa-gesa menggunakan lengan gaunnya untuk mengusap tumpahan teh dan meremas kertas beras yang sudah basah kuyup itu hingga menjadi gumpalan hancur, menyembunyikan seluruh tulisan di dalamnya.

Zhao Fengting berdiri tegap, menatap dingin pada gumpalan kertas basah di tangan Xinyue dan gaun gadis itu yang kini ternoda tinta. Pria itu memicingkan matanya, mengamati setiap mikro-ekspresi dari selir di hadapannya.

"Kamu sengaja menyiramnya, Selir ke-20?" suara Zhao Fengting terdengar begitu datar, namun sarat akan ancaman yang mematikan.

Xinyue mengangkat wajahnya yang pucat pasi, menatap ke arah dada sang Kaisar dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi rasa takut murni. "Hamba... hamba sangat terkejut atas kedatangan Yang Mulia yang tiba-tiba. Tanganku gemetar dan tidak sengaja menyenggol cangkir teh... Hamba tidak bermaksud merusak catatan hamba di hadapan Yang Mulia."

"Catatan apa yang seorang selir tulis di tengah malam yang buta begini?" tanya Zhao Fengting seraya melangkah satu jengkal lebih dekat. Aura dominasinya begitu menekan hingga Xinyue merasa sulit untuk sekadar bernapas.

Xinyue menelan ludah gatal di tenggorokannya. Gunakan ilmu hukum: buat kebohongan yang masuk akal dan memanfaatkan kelemahan lawan!

"Menjawab Yang Mulia..." tutur Xinyue dengan suara lirih dan patah-patah. "Hamba... hamba hanya sedang menuliskan doa-doa keselamatan dan resep obat-obatan herbal dari kampung halaman hamba di selatan. Setelah peristiwa tenggelam kemarin, hamba merasa ingatan hamba sering kabur. Hamba takut lupa akan cara menyeduh jamu penenang jiwa, jadi hamba mencoba mencatatnya di kertas..."

Ia sengaja menundukkan kepala lebih dalam, menambahkan aksen menyedihkan pada kalimatnya. "Hamba tahu tulisan hamba sangat buruk dan tidak pantas dilihat oleh mata Yang Mulia yang agung."

Zhao Fengting menatap gumpalan kertas yang hancur di jemari Xinyue. Bercak tinta yang meleleh memang menyulitkan siapa pun untuk membaca isinya. Namun, yang membuat sang Kaisar merasa heran bukanlah isi kertas itu, melainkan fakta bahwa selir ini selalu berhasil memberikan alasan yang terdengar sangat masuk akal di tengah ketakutannya.

"Kamu tahu, Ye Xinyue..." Zhao Fengting merendahkan tubuhnya, berjongkok tepat di depan Xinyue hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa inci. Aroma kayu gaharu dan hawa dingin malam menguar kuat dari tubuh sang tiran. "Menyusup masuk ke kediaman selir tanpa pengawal adalah hal yang mudah bagiku. Dan membunuh seorang selir yang bertindak mencurigakan di tengah malam... juga hal yang sangat mudah bagiku."

Jantung Xinyue berdegup begitu kencang hingga ia takut Kaisar bisa mendengarnya. Kontak mata di jarak sedekat ini menegaskan fakta mengerikan: pria di hadapannya ini benar-benar seorang pembunuh berdarah dingin.

"Mengapa kamu sangat takut padaku?" bisik Zhao Fengting, tangannya yang dingin menyentuh leher ramping Xinyue, merasakan denyut nadi gadis itu yang bertabrakan liar. "Selir-selir lain di istana ini bertaruh nyawa demi mendapatkan perhatianku. Tapi kamu... setiap kali melihatku, kamu bertindak seolah-olah sedang melihat pencabut nyawa."

Karena kau MEMANG pencabut nyawa dalam cerita ini, Tiran gila! jerit Xinyue dalam hati.

Namun, di luar, Xinyue hanya membiarkan air matanya menetes pelan melewati pipinya, menyentuh jemari Zhao Fengting yang berada di lehernya.

"Yang Mulia adalah penguasa tertinggi Tianyu," panggil Xinyue dengan nada kepasrahan yang luar biasa murni. "Rakyat kecil dan selir lemah seperti hamba... alami jika merasa gentar di hadapan keagungan dan wibawa Yang Mulia. Hamba tidak berani mengharapkan perhatian, hamba hanya ingin hidup tenang di Kediaman Fenghua tanpa menyusahkan siapa pun."

Jawaban itu jujur dari sudut pandang tertentu, dan Zhao Fengting bisa merasakannya melalui denyut nadi Xinyue yang tidak berbohong. Gadis ini benar-benar tidak menginginkan kekuasaan. Ia benar-benar hanya ingin menjauh.

Zhao Fengting menarik tangannya kembali dari leher Xinyue. Pria itu berdiri tegak, memandangi selir ke-20 itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di istana yang dipenuhi oleh wanita-wanita berwajah dua yang haus akan takhta dan kemewahan, keberadaan Ye Xinyue yang terang-terangan menolak untuk terlibat adalah sebuah anomali.

"Ginseng salju yang kuberikan tadi siang... kamu serahkan kepada Selir Liang, bukan?" tanya Zhao Fengting tiba-tiba, mengubah topik percakapan.

Xinyue tertegun sejenak. Dia sudah tahu?! Tentu saja dia tahu, mata-matanya ada di mana-mana!

"Hamba... hamba merasa tubuh hamba tidak pantas menerima barang seberharga itu, Yang Mulia," jawab Xinyue jujur namun hati-hati. "Kakak Selir Liang lebih membutuhkan dan lebih berhak menyimpannya."

Sebuah sunggingan tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat terukir di sudut bibir Zhao Fengting. Pria itu mengerti permainan diplomasi murahan yang dilakukan Xinyue untuk menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman Selir Liang. Gadis ini ternyata tidak sebodoh yang terlihat.

"Pikiran yang cerdik untuk seorang selir dari perbatasan," ujar Zhao Fengting datar. Ia kemudian berbalik, melangkah menuju jendela kamar yang terbuka.

Sebelum melompat keluar menuju kegelapan malam, Zhao Fengting menoleh sekilas ke arah Xinyue yang masih bersimpuh di lantai. "Bersihkan dirimu, Selir ke-20. Istana ini tidak menyukai orang yang terlalu lemah... tapi istana ini juga akan menghancurkan orang yang berpura-pura bodoh."

Dalam sekejap mata, bayangan jubah hitam itu melesat hilang ditelan malam, meninggalkan kamar kembali sunyi senyap.

Xinyue terduduk lemas di atas lantai batu, menyandarkan punggungnya ke kaki meja. Tubuhnya basah oleh keringat dingin dan noda teh hitam.

Ia memandangi gumpalan kertas basah di tangannya, lalu memejamkan mata erat-erat. Malam ini, ia baru saja melewati pintu kematian untuk yang kesekian kalinya. Kesadaran itu membuat satu aturan baru terpahat makin dalam dan menjadi hukum absolut di dalam kepalanya.

Aturan Bertahan Hidup Nomor Satu: Jangan Pernah Menarik Perhatian Kaisar.

"Sebab sekali pria itu melirik padamu," gumam Xinyue pada kegelapan malam, "kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dari catur kematiannya."

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!