6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28.TIM SAR DATANG
Kabar hilangnya tiga mahasiswa KKN di Desa Mati akhirnya sampai ke universitas di Jambi setelah 7 hari tanpa kontak.
Awalnya kampus mengira mereka hanya tidak ada sinyal, karena Desa Mati memang terkenal blank spot dan angker, tidak ada mahasiswa yang mau KKN di sana selama 10 tahun terakhir. Tapi setelah orang tua Sinta melapor karena anaknya tidak bisa dihubungi selama seminggu dan nomor HP nya tidak aktif, pihak kampus langsung panik.
Rektor menghubungi BPBD, BPBD menghubungi SAR, dan SAR langsung menerjunkan satu tim rescue besar pada hari ke-8 pagi-pagi sekali.
Tim SAR itu terdiri dari 12 orang dengan seragam orange menyala, membawa tandu, drone, anjing pelacak, dan peralatan lengkap untuk medan longsor dan hutan. Mereka dipimpin oleh Pak Hendra, SAR senior yang sudah 20 tahun keluar masuk hutan Jambi.
Bersama mereka, ikut juga satu dosen pembimbing KKN, Pak Dosen Wahyu, yang wajahnya pucat dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengizinkan mahasiswanya KKN di desa terkutuk itu.
Perjalanan menuju Desa Mati tidak mudah. Meskipun jalan longsor yang menutup desa sudah terbuka secara ajaib malam sebelumnya setelah Sinta dan Bima mengubur surat Mbok Darmi, jalan itu masih becek, licin, dan penuh lumpur hitam yang aneh. Lumpur itu tidak seperti lumpur biasa, baunya anyir dan lengket seperti lem, membuat sepatu boots Tim SAR beberapa kali hampir terlepas.
Anjing pelacak yang dibawa, seekor anjing herder bernama Rocky, terus menerus menggonggong dan menolak berjalan saat sudah 1 kilometer mendekati Desa Mati. Bulunya berdiri, ekornya turun, dia terus menarik tali ke belakang, seolah ada sesuatu yang sangat menakutkan di depan.
"Anjingnya kenapa, Pak?" tanya salah satu anggota SAR muda.
Pak Hendra yang sudah berpengalaman mengerutkan kening. "Hewan bisa ngerasain hal yang gak bisa kita rasa. Di depan pasti ada yang gak beres. Semua hati-hati, jangan pisah."
Jam 10 pagi, mereka akhirnya sampai di gerbang Desa Mati. Gerbang bambu yang sudah lapuk dengan tulisan selamat datang yang catnya sudah pudar.
Desa itu sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada suara warga, tidak ada asap dari dapur. Hanya kabut tipis yang menggantung rendah di atas atap-atap rumah.
"Selamat siang! Warga Desa Mati! Kami Tim SAR! Mencari mahasiswa KKN!" Pak Hendra berteriak dengan pengeras suara.
Tidak ada jawaban. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Jendela-jendela ditutup kain hitam.
Tim SAR mulai menyebar, mengetuk pintu rumah satu persatu. Sebagian besar rumah kosong, ditinggalkan penghuninya yang sudah mengungsi ke desa sebelah sejak malam ritual terakhir karena takut sumur itu akan meledak.
Hanya rumah Pak Lurah yang terbuka. Pak Lurah duduk di teras, menatap kosong ke arah sumur di belakang rumah Mbok Darmi. Wajahnya terlihat 10 tahun lebih tua, rambutnya memutih semua dalam waktu 3 hari.
Saat Tim SAR datang, Pak Lurah tidak terkejut. Dia seolah sudah menunggu mereka datang.
"Kalian terlambat," kata Pak Lurah pelan. "Mereka sudah selesai KKN nya."
Pak Dosen Wahyu langsung maju dan memegang tangan Pak Lurah. "Pak Lurah, dimana mahasiswa saya? Sinta, Bima, dan Selpi? Dimana mereka? Mereka hilang 7 hari!"
Pak Lurah menunjuk ke arah balai desa. "Dua orang ada di balai desa. Satu orang... sudah jadi warga sini."
Tim SAR berlari ke balai desa. Pintu balai desa terbuka.
Di dalamnya, Sinta dan Bima sedang duduk berpelukan di sudut ruangan, tertidur karena kelelahan setelah 3 hari tidak tidur nyenyak. Wajah mereka pucat, kurus, penuh lumpur kering, dan mata mereka bengkak karena menangis. Tas mereka masih utuh di samping mereka.
"SINTA! BIMA!" Pak Dosen Wahyu berteriak dan memeluk mereka berdua.
Sinta terbangun dan langsung menangis histeris saat melihat dosennya. "Pak... Pak Wahyu... Selpi... Selpi hilang, Pak... Selpi diambil sumur, Pak..."
Bima yang lebih tenang, tapi suaranya serak, mencoba menjelaskan dengan terbata-bata.
Tim SAR langsung melakukan pemeriksaan medis cepat. Sinta dan Bima dehidrasi berat, luka-luka kecil di kaki karena lumpur hitam, dan trauma berat. Tapi mereka hidup.
"Lalu satu lagi mana? Selpi? Mahasiswa atas nama Selpi?" Pak Hendra bertanya sambil melihat daftar nama.
Sinta menunjuk ke arah belakang rumah Mbok Darmi, ke arah sumur. "Dia di sana, Pak... dia jadi penunggu sumur... dia anak Mbok Darmi..."
Tim SAR tentu saja tidak percaya cerita hantu. Mereka berpikir Sinta dan Bima halusinasi karena trauma. Mereka adalah tim profesional, mereka butuh bukti fisik.
Pak Hendra memimpin 6 orang anggotanya menuju sumur di belakang rumah Mbok Darmi yang ditunjuk Pak Lurah.
Sumur itu sudah tertutup rapat. Di atasnya ada lapisan semen baru yang masih basah, dan di atas semen itu ada batu besar. Di atas batu itu, masih menancap keris berkarat yang kemarin dipakai untuk ritual. Di sekeliling sumur, masih ada sisa taburan kembang tujuh rupa dan garam yang sudah menghitam.
"Ini sumur apa, Pak Lurah?" tanya Pak Hendra.
"Sumur tumbal. Sudah ditutup. Jangan dibuka lagi. Kalau dibuka, yang di dalam akan keluar lagi," jawab Pak Lurah dengan suara datar.
Tentu saja Tim SAR tidak mendengarkan larangan klenik. Prosedur SAR adalah harus memeriksa setiap titik yang dicurigai sebagai lokasi korban hilang, termasuk sumur.
Dua anggota SAR memakai harness dan helm dengan senter, bersiap turun untuk memeriksa dasar sumur.
"Jangan!" Pak Lurah berteriak. "Jangan buka!"
Tapi terlambat. Salah satu anggota SAR sudah mencabut keris tumbal itu dari batu penutup sumur untuk bisa menggeser batunya.
Saat keris itu tercabut...
DUNIA BERGETAR.
Batu penutup sumur bergetar hebat. Semen baru yang menutupnya retak seribu. Dari dalam retakan itu, keluar asap putih tebal yang berbau melati dan anyir, bukan asap hitam seperti sebelumnya. Asap putih itu membentuk pusaran di atas sumur.
Dan dari dalam pusaran asap putih itu, terdengar suara perempuan tertawa lembut. Bukan tawa jahat, tapi tawa bahagia.
Lalu asap itu perlahan-lahan membentuk wujud.
Tiga sosok perempuan berdiri di atas sumur yang tertutup itu, melayang beberapa senti di atas batu. Mereka transparan, bercahaya putih keemasan, seperti terbuat dari kabut dan cahaya bulan.
Sosok pertama adalah perempuan tua, Mbok Darmi. Wajahnya sudah tidak keriput, terlihat cantik dan muda, tersenyum damai.
Sosok kedua adalah perempuan muda cantik dengan kebaya hitam, Selvi. Dia menggendong bayi kecil yang juga bercahaya.
Dan sosok ketiga, yang berdiri di tengah, memegang tangan Mbok Darmi dan Selvi, adalah Selpi.
Selpi terlihat berbeda. Dia tidak lagi memakai baju KKN. Dia memakai kebaya putih bersih, rambutnya panjang tergerai, wajahnya pucat tapi berseri-seri, cantik sekali. Di tangannya, dia tidak memegang kain kafan, tapi memegang gelang bayi dari benang hitam yang dulu ada di kotak kayu Mbok Darmi.
Selpi menatap Tim SAR, menatap Pak Dosen Wahyu, menatap Sinta dan Bima yang sudah digendong keluar dari balai desa.
Dia tersenyum. Senyum yang Sinta dan Bima kenal betul. Senyum Selpi yang manis dan jahil.
"Pak Dosen... Sinta... Bima... aku sudah selesai KKN nya..." suara Selpi terdengar jelas, tidak menggema, tapi lembut masuk ke telinga semua orang di sana. "KKN ku di sini sudah selesai. Aku lulus. Aku sekarang jaga desa ini. Biar desa ini aman."
Semua anggota Tim SAR terdiam, membeku, tidak bisa bergerak. Bahkan anjing pelacak Rocky yang tadi menggonggong, sekarang duduk diam dan menunduk, seperti menghormati.
Pak Dosen Wahyu menangis, lututnya lemas. "Selpi... kamu..."
Selpi mengangguk. "Jangan cari aku lagi, Pak. Tulis saja di laporan, mahasiswa atas nama Selpi mengundurkan diri dari KKN dan memilih menjadi warga Desa Mati. Biar orang tuaku di Jambi tidak sedih. Bilang saja aku bahagia di sini bersama ibu dan kakak kandungku."
Lalu Selpi menatap Sinta dan Bima.
"Sin, Bim, makasih ya sudah jadi teman KKN terbaik. Jaga skripsi kita. Wisuda tanpa aku ya. Aku titip foto wisuda kalian nanti taruh di sumur ini biar aku bisa lihat."
Sinta menangis keras, "Selpi jangan tinggalin kami..."
Selpi tersenyum lagi, lalu perlahan-lahan, bersama Mbok Darmi dan Selvi, tubuh mereka yang bercahaya itu perlahan-lahan turun kembali ke dalam sumur, masuk melalui retakan semen yang tadi terbuka, dan menghilang.
Saat mereka menghilang, batu penutup sumur kembali menutup dengan sendirinya dengan suara ceklek yang pelan tapi mantap. Keris tumbal yang tadi dicabut, sekarang sudah kembali menancap di atas batu dengan sendirinya, bahkan lebih dalam dan lebih kokoh dari sebelumnya. Semen yang retak tadi, sekarang sudah mulus kembali seperti baru disemen.
Asap putih hilang. Bau melati hilang. Yang tertinggal hanya bau tanah basah setelah hujan dan wangi kembang tujuh rupa.
Semua anggota Tim SAR saling pandang, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Beberapa dari mereka merekam dengan HP, tapi saat dicek rekamannya, hanya ada asap putih saja, tidak ada wujud tiga perempuan itu. Hanya Sinta, Bima, Pak Lurah, dan Pak Dosen yang bisa melihat jelas wujud mereka karena mereka sudah terikat dengan desa itu.
Pak Hendra, komandan SAR yang paling senior dan paling tidak percaya hantu, akhirnya melepas helmnya dan menundukkan kepalanya di depan sumur itu sebagai tanda hormat.
Dia paham, tidak semua orang hilang harus dicari untuk dibawa pulang. Ada orang hilang yang memang sudah pulang ke rumahnya yang sebenarnya.
Hari itu, Tim SAR mengevakuasi Sinta dan Bima keluar dari Desa Mati dengan tandu. Pak Lurah ikut keluar juga, karena dia sudah tidak sanggup tinggal di desa itu lagi sendirian.
Sebelum meninggalkan desa, Sinta meminta izin untuk menaruh sesuatu di atas sumur. Dia menaruh foto wisuda kecil mereka bertiga yang dicetak dari file HP. Foto Sinta, Bima, dan Selpi saat masih ospek dulu, masih polos, masih tertawa lepas belum tahu akan KKN di desa angker.
Foto itu ditaruh di atas batu penutup sumur, ditindih keris tumbal agar tidak terbang tertiup angin.
"Selpi, ini foto kita. Kami janji bakal balik lagi wisuda kesini," bisik Sinta.
Dari dalam sumur yang tertutup rapat itu, terdengar jawaban pelan, hanya bisa didengar Sinta dan Bima.
"Aku tunggu..."
Tim SAR meninggalkan Desa Mati sore itu. Jalan yang tadinya becek dan penuh lumpur hitam, sekarang sudah kering dan ditumbuhi bunga-bunga kecil putih yang tidak pernah ada sebelumnya. Bunga itu tumbuh mengikuti jejak langkah kaki Tim SAR keluar dari desa, seolah mengantar mereka pulang.
Desa Mati kembali sunyi. Tapi sunyinya bukan sunyi yang menakutkan lagi.
Sunyinya adalah sunyi yang dijaga.
Dijaga oleh tiga perempuan yang akhirnya berkumpul.
Mbok Darmi, Selvi, dan Selpi.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐