NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: Palu Hakim

Tiga minggu kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri Waringin penuh sebelum majelis hakim masuk.

Ruang sidang tidak seramai pasar. Kepadatannya terasa seperti ruangan yang semua orang tahu akan menjadi contoh. Di bangku belakang ada wartawan lokal, beberapa warga Waringin, mahasiswa yang mengikuti kasus ini dari media sosial, dan wajah-wajah yang dulu berani menghina Bima kini duduk dengan leher kaku.

Bima duduk di barisan pelapor bersama Pak Harto, Bu Sri, dan Ratna. Pak Harto memakai batik yang sama dengan saat restoran, tetapi hari ini bahunya lebih tegak. Bu Sri menggenggam tas kecil, membaca doa pelan tanpa suara. Ratna menatap lurus ke depan.

Siska duduk di kursi terdakwa. Melati dan Fifi di sebelahnya. Ketiganya tidak lagi memakai gaya media sosial. Tidak ada filter. Tidak ada caption. Tidak ada musik sedih. Yang ada hanya meja, jaksa, hakim, dan berkas.

Sebelum putusan dibacakan, panitera memeriksa kehadiran. Nama Bima disebut sebagai pelapor. Nama Ratna disebut sebagai saksi korban terdampak. Saat nama itu terdengar, Ratna menarik napas dalam. Bima menoleh sebentar.

"Tidak apa-apa," bisiknya.

Ratna mengangguk. "Aku tahu. Aku cuma ingin mereka dengar namaku bukan sebagai bahan gosip."

Kalimat itu membuat dada Bu Sri naik turun. Pak Harto meletakkan tangan di bahu putrinya. Keluarga mereka datang agar apa yang terjadi tidak hilang menjadi kabar kemarin.

Hakim Soeharto memasuki ruang sidang dengan wajah tenang. Palu kecil di depannya tampak sederhana. Bima tahu benda itu punya suara yang tidak bisa dilawan komentar netizen.

Sidang hari itu adalah pembacaan putusan setelah rangkaian pemeriksaan saksi dan ahli digital forensik. Berkas yang Bima susun sejak Bab 010 telah diuji: metadata cocok, perangkat Fifi menyimpan jejak ekspor, akun palsu terhubung ke nomor cadangan Siska, dan chat perencanaan dipulihkan dari perangkat Melati melalui prosedur penyitaan.

Pengacara Siska masih mencoba satu jalan terakhir.

"Yang Mulia, para terdakwa masih muda. Mereka menyesal. Perbuatan ini berawal dari konflik keluarga dan emosi sesaat. Kami mohon majelis mempertimbangkan perdamaian keluarga dan masa depan para terdakwa."

Siska langsung menangis. Kali ini tangisnya tampak spontan, meski tetap mencari penonton.

Hakim Soeharto menatap berkas, lalu mengangkat kepala. "Menyesal setelah bukti terkunci berbeda dengan menyesal sebelum korban hancur."

Ruangan hening.

Jaksa membacakan kembali akibat perbuatan mereka: video palsu viral, alamat keluarga tersebar, intimidasi fisik ke rumah, tekanan terhadap adik pelapor di lingkungan kampus, dan kerusakan reputasi keluarga. Ahli digital menegaskan video tersebut dimanipulasi dengan menghilangkan konteks penting.

Bima tidak tersenyum. Ruang itu ruang sidang; ia menahan dorongan untuk merasa lucu. Di dadanya ada kepuasan dingin yang sangat bersih: semua yang mereka sembunyikan kini dibaca keras di ruang negara.

Majelis juga mencatat sikap para terdakwa setelah kejadian. Siska tidak segera menghapus konten saat alamat rumah mulai menyebar. Melati membiarkan komentar ancaman berkembang karena, menurut chat yang dipulihkan, "algoritma lagi bagus". Fifi sempat menghapus file proyek setelah video mulai dipersoalkan.

Setiap kalimat pertimbangan hakim seperti mengembalikan pisau ke tangan pemiliknya. Satu per satu alasan mereka terpotong: bercanda, emosi, tidak sengaja, tidak tahu akan viral. Semua runtuh di bawah urutan waktu.

Hakim Soeharto mulai membacakan pertimbangan.

"Terdakwa Siska Kurniawan terbukti secara sah dan meyakinkan menjadi penggagas pembuatan serta penyebaran konten manipulatif yang menyerang kehormatan pelapor dan keluarganya. Terdakwa Melati terbukti membantu penyusunan narasi dan distribusi awal. Terdakwa Fifi terbukti melakukan penyuntingan konten dengan kesadaran bahwa konteks asli dihilangkan."

Siska menangis lebih keras. Lina yang duduk di bangku keluarga terdakwa menutup wajah. Darmawan menatap lantai.

Hakim melanjutkan, "Alasan bercanda, emosi keluarga, dan usia muda tidak menghapus akibat hukum. Media sosial bukan ruang tanpa tanggung jawab."

Palu belum diketuk. Vonis sudah terasa di udara.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Siska Kurniawan selama lima tahun. Kepada terdakwa Melati selama tiga tahun. Kepada terdakwa Fifi selama tiga tahun."

Tangis pecah.

Bu Sri menangis saat palu diketuk. Akhirnya ada orang berseragam negara yang mengatakan bahwa luka keluarganya nyata. Pak Harto tidak menenangkan dengan kata-kata. Ia hanya memegang tangan istrinya lebih kuat.

Lina menoleh ke bangku pelapor. Matanya memohon, lalu berubah marah ketika Bima tidak menunduk. Permohonan yang datang setelah vonis bukan permohonan. Itu hanya penyesalan karena pintu sudah tertutup.

Fifi langsung lemas. Melati menutup mulutnya. Siska berdiri setengah, berteriak, "Ini tidak adil! Bima yang mulai! Dia mempermalukan kami dulu!"

Hakim mengetuk palu sekali.

"Terdakwa, jaga sikap di ruang sidang."

Bima menatap Siska tanpa berkedip. Ia tidak perlu menjawab. Untuk pertama kalinya, Siska berteriak di tempat yang tidak bisa ia potong menjadi video korban.

Di luar gedung, wartawan mengejar keluarga Bima.

"Mas Bima, apakah Anda merasa hukuman ini terlalu berat untuk keluarga sendiri?"

Bima berhenti. Mikrofon kecil dan ponsel terangkat. Pak Harto terlihat tegang. Bu Sri menggenggam lengan Ratna.

Bima sebenarnya bisa menjawab lebih panjang. Ia bisa membuka semua penghinaan restoran, amplop merah, Karso yang duduk di pagar, dan pesan kampus Ratna. Ia memilih pendek. Ia sudah belajar bahwa di depan kamera, kalimat panjang memberi orang lebih banyak bagian untuk dipotong.

Maka ia memberi kalimat yang utuh, keras, dan sulit dipelintir.

Bima menjawab tenang, "Hukuman hari ini belum seberat malam ketika keluarga saya dituduh, alamat rumah kami disebar, adik saya diserang di kampus, dan ibu saya menangis karena video palsu. Kalau orang menyebut konsekuensi sebagai kekejaman, berarti mereka terlalu lama menganggap korban wajib diam."

Wartawan lain bertanya, "Apakah Anda akan memaafkan Siska?"

"Saya tidak menghalangi dia bertobat. Tapi memaafkan tidak mencabut akibat hukum."

Pak Harto menatap Bima. Ada sedih di matanya, karena Lina tetap adiknya. Kali ini sedih itu tidak mematahkan punggungnya.

Saat mereka berjalan ke parkiran, panel SBE muncul di samping pandangan Bima.

[Jalur Hukum - Kasus Siska selesai]

[Peringkat: SSS]

[Hadiah: Poin +5.000]

[Hadiah: Ensiklopedia Hukum Hidup - Epik/Ungu]

[Level Tuan Rumah: 5 -> 8]

[Efek baru: pemahaman pasal, prosedur, strategi pembuktian, dan risiko hukum meningkat drastis.]

Bima berhenti sebentar. Pengetahuan baru masuk bertahap, seperti ruangan gelap yang lampunya menyala satu per satu. KUHP, UU ITE, prosedur barang bukti, gugatan perdata, somasi, hak jawab, penyitaan, saksi ahli. Jalur-jalur itu muncul rapi di kepalanya.

Lalu panel kedua muncul.

[Analisis lanjutan: 1.317 akun terdeteksi ikut menyebarkan, menambah fitnah, mengancam, atau membocorkan alamat.]

[Misi berikutnya tersedia: Satu Pun Tidak Lolos]

[Hadiah: tersembunyi]

Bima menatap angka itu lama.

Ratna melihat wajah kakaknya berubah. "Mas?"

Bima menyimpan ponsel, lalu melihat ke arah kerumunan wartawan dan warga yang masih menunggu drama tambahan.

"Kasus Siska selesai," katanya pelan. "Tapi orang-orang yang ikut melempar batu dari balik layar belum."

Pak Harto menarik napas. "Bima... sebanyak apa?"

Bima tersenyum tipis.

"Seribu tiga ratus tujuh belas. Dan tidak satu pun akan saya biarkan bersembunyi di kata ikut-ikutan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!