Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA TANGAN DIATAS KERTAS
Suara gesekan pulpen di atas kertas terdengar nyaring di keheningan ruang tamu. Itu adalah satu-satunya suara yang memecah ketegangan selama lima menit terakhir. Fadli duduk membungkuk di sofa, bahunya naik turun seiring tarikan napasnya yang berat dan tidak teratur. Di tangannya, folder hitam itu terbuka lebar, menampilkan deretan klausul pra-cerai yang telah aku susun dengan bantuan tim hukum Arya semalam.
Aku duduk di kursi tunggal di hadapannya, dan memegang secangkir teh hangat yang sudah mulai dingin. Aku tidak mendesaknya. Aku tidak berteriak. Aku hanya menunggu. karna Kesabaran adalah senjata termahal yang kini kumiliki, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya untuk pria yang sedang hancur lebur di depan mataku.
"Aku... aku sudah selesai menandatanganinya" ucap Fadli akhirnya. Suaranya serak, parau, seperti orang yang baru saja menelan pecahan kaca. Ia meletakkan pulpen di atas meja kopi dengan tangan gemetar. Tinta biru masih basah di tanda tangannya.
"Ren... ini gila. Kamu meminta delapan puluh persen aset likuid, rumah ini, saham perusahaan, bahkan mobil pribadiku. Apa yang tersisa untukku?"
Aku menatap tanda tangan itu. Tulisan tangannya miring, tekanan pulennya terlalu kuat hingga kertasnya sedikit sobek di ujung. Tanda tangan seorang pria yang dipaksa, bukan yang rela. Tapi itu tidak masalah. Yang penting adalah tinta itu ada di sana. Sah secara hukum. Mengikat.
"Yang tersisa untukmu adalah kebebasan dari utang tersembunyi yang kamu sembunyikan dariku selama tiga tahun terakhir," jawabku tenang, meletakkan cangkir teh kembali ke tatakan.
"Dan yang tersisa untukmu adalah kesempatan untuk tidak masuk penjara karena kasus penggelapan dana perusahaan yang akan segera dilaporkan oleh auditor independen minggu depan."
Fadli mendongak tajam, matanya merah dan berkaca-kaca.
"Kamu bohong! Tidak ada penggelapan! Semua keuangan perusahaan bersih!"
"Benarkah?" tanyaku, nada suaraku datar tanpa emosi.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan transfer senilai dua miliar rupiah ke rekening offshore atas nama 'PT Mitra Sejahtera' bulan lalu? Perusahaan fiktif yang ternyata dimiliki oleh Nia Tanjung melalui perantara kakaknya? Aku punya salinan bukti transfernya, Fadli. Dan aku juga punya rekaman percakapanmu dengan Nia saat kalian merencanakan cara mencuci uang itu di kamar hotel Grand Mercure, kamar 1208, tanggal 14 Agustus lalu."
Wajah Fadli seketika kehilangan sisa-sisa warna yang masih tersisa. Bibirnya bergetar. Napasnya tercekat. Ia menatapku seolah melihat hantu. Dan dalam banyak hal, memang begitulah adanya. Baginya, aku adalah hantu dari masa lalu yang ia kira sudah mati—istri penurut yang bisa dimanipulasi, dikontrol, dan dibuang kapan saja.
"Kamu... kamu merekam kami?" bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.
"Aku tidak perlu merekam," balasku, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Tatapanku terkunci pada matanya, tidak berkedip.
"Nia sendiri yang merekamnya. Dia paranoid, Fadli. Dia takut kamu suatu hari akan menyalahkannya sendirian jika sesuatu terjadi. Jadi dia menyimpan semua bukti sebagai asuransi. Dan tadi pagi sebelum datang ke sini, aku sudah menerima salinan lengkap dari ponsel lamanya yang kamu kira sudah dia hapus permanen."
Itu adalah kebohongan. Nia tidak pernah merekam apa pun. Bukti-bukti itu berasal dari server intelijen Arya yang berhasil meretas cloud storage pribadi Nia enam jam yang lalu. Tapi Fadli tidak perlu tahu itu. Ketakutan adalah alat yang lebih efektif daripada kebenaran mutlak. Dan saat ini, ketakutan adalah sekutu terbaikku.
Fadli menunduk lagi. Bahunya runtuh sepenuhnya. Seluruh tubuhnya tampak menyusut, mengecil, seolah gravitasi ruangan tiba-tiba menjadi sepuluh kali lipat lebih berat. Ia meraih folder hitam itu, memeluknya ke dada seperti anak kecil yang kehilangan mainan favorit.
"Apa... apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya, suaranya pecah. Bukan pertanyaan seorang suami kepada istri. Tapi pertanyaan seorang tawanan kepada penjaga penjara.
"Kamu tidur," jawabku singkat. "Kamu istirahat. Besok pagi pukul sembilan, mobil jemputan dari kantor hukum akan menjemputmu untuk proses notarisasi resmi. Setelah itu, kamu punya waktu empat puluh delapan jam untuk mengosongkan barang-barang pribadimu dari rumah ini. Selebihnya, semua aset akan diblokir dan dialihkan sesuai perjanjian."
"Empat puluh delapan jam?" ulangnya, panik.
"Itu terlalu cepat! Aku butuh waktu untuk mencari tempat tinggal, untuk—"
"Kamu punya empat puluh delapan jam karena itu adalah batas maksimal kesabaranku," potongku, suaraku tetap lembut tapi mengandung baja.
"Jika setelah empat puluh delapan jam masih ada barangmu di rumah ini, barang-barang itu akan dianggap sampah dan dibuang ke tempat pembuangan akhir tanpa pemberitahuan. Jika kamu menolak menghadiri proses notarisasi besok, aku akan mengajukan permohonan eksekusi paksa melalui pengadilan. Dan percayalah, Fadli, hakim tidak akan bersimpati pada pria yang tertangkap basah berselingkuh sambil menggelapkan uang perusahaan."
Fadli menelan ludah keras. Ia mengangguk pelan, gerakan mekanis tanpa jiwa. Lalu ia berdiri dengan langkah goyah, berjalan menuju tangga menuju kamar tidur utama—kamar yang besok pagi bukan lagi miliknya.
Di tengah tangga, ia berhenti. Menoleh padaku. Matanya mencari sesuatu. Mungkin belas kasihan. Mungkin kemarahan. Mungkin sekadar pengakuan bahwa aku masih manusia yang bisa merasakan sakit.
"Ren..." gumamnya, suaranya hampir hilang.
"Apakah... apakah kamu pernah mencintaiku? Sedikit saja?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Berat. Tajam. Penuh luka yang ia buat sendiri.
Aku menatap punggungnya. Mengingat lima tahun pernikahan. Mengingat malam-malam menangis di kamar mandi. Mengingat harapan-harapan yang ia hancurkan satu per satu dengan senyum palsu dan kata-kata manis. Mengingat kematianku di lantai kamar mandi yang dingin, sementara ia tertawa di luar sana.
"Tidak, Fadli," jawabku akhirnya. Suaraku jelas. Jujur. Tanpa keraguan.
"Aku pernah mencintai bayangan dirimu. Bayangan yang kau ciptakan agar aku tetap patuh. Tapi pria yang sebenarnya? Pria yang berdiri di hadapanku sekarang? Aku tidak pernah mencintainya. Dan aku tidak akan pernah menyesali fakta itu."
Fadli terpaku. Beberapa detik. Lalu ia melanjutkan langkahnya naik, menghilang ke kegelapan lantai atas. Pintu kamar tertutup. Kunci diputar. Suara langkah kaki berat terdengar di atas kepala, lalu hening.
Aku tinggal sendirian di ruang tamu. Lilin-lilin aromaterapi masih menyala, tapi cahayanya terasa berbeda sekarang. Bukan lagi romantisme palsu. Tapi cahaya kemenangan. Cahaya kebebasan.
Ponsel di tanganku bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Dokumen sudah ditandatangani?" — Arya Wijaya.
Aku tersenyum. Senyum yang asli. Yang tidak perlu disembunyikan. Yang tidak perlu dipalsukan.
"Sudah. Empat puluh delapan jam untuk pengosongan. Notarisasi besok pagi sembilan." — Balasku.
"Bagus. Tim hukum saya akan standby. Jangan lupa makan malam. Kemenangan butuh energi."
Aku menatap pesan itu lama. Kalimat terakhirnya... sederhana. Tapi maknanya dalam. Dia tidak bertanya tentang strategi berikutnya. Tidak meminta update data. Dia mengingatkan aku untuk makan. Untuk merawat diri. Karena baginya, aku bukan sekadar aset bisnis. Aku adalah mitra. Manusia. Wanita yang layak dijaga, bahkan di tengah perang.
"Terima kasih, Tuan Arya. Saya akan makan setelah memastikan semuanya aman." — Balasku.
"Siren." — Pesannya muncul lagi, kali ini tanpa gelar formal.
"Anda sudah aman. Malam ini, izinkan diri Anda bernapas."
Aku meletakkan ponsel di atas meja. Menatap api lilin yang berkedip pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun—baik kehidupan pertama maupun kedua—aku benar-benar bernapas. Napas yang dalam. Napas yang bebas. Napas milikku sendiri.
Permainan baru saja memasuki babak keempat. Dan aku tidak intend untuk berhenti sampai papan catur ini sepenuhnya milikku.